Menulis

Edo on June 3rd, 2011

sebenarnya ada beberapa alasan yang membuat aku malas menulis hal-hal yang tidak substansial. Apa lagi di blog, status facebook, twitter.

selain kadang suka merasa lebay, apa-apa kok diceritain. Hal lainnya adalah : apa yang gw tulis membuat orang jadi mengerti siapa gw :)

Norak? ya, kedengerannya sepertinya norak. tapi kadang gw suka salut sama orang-orang yang jarang berbagi di publik. Dimata gw, mereka seperti orang yang sangat terkendali. Meletakkan masalah padapada tempatnya, mampu menghadapi berbagai problematika yang mereka hadapi, kegelisahan yang mereka rasakan. To be honest, gw suka ngeri dan hormat (tergantung kontekstualnya) terhadap orang-orang yang sulit dibaca. Singkatnya : terlihat seperti orang yang tidak punya masalah. Read the rest of this entry »

Subscribe to this blog's RSS feed

Prasasti

Edo on June 1st, 2011

Hari ini aku marah. MARAH! marah semarah-marahnya. Marah yang tak mampu ku lukiskan. dan kemarahan ini akhirnya yang memecah didinding rumah ini untuk diisi. Karena aku ingin kemarahan ini tercatat. Menjadi prasasti. Agar aku selalu ingat. Karena hari ini, sebuah misi telah tergores.

Continue Reading...

KangenMenulis (kembali)

Edo on February 8th, 2011

Sungguh. Rindu kembali punya waktu untuk menulis. Ups, sepertinya bukan waktu yang perlu di salahkan. Tapi lebih pada ketidakberdayaan mengelola waktu. Selalu ada dan banyak peristiwa yang memancing diri untuk kembali menulis. Tapi sampai saat ini masaih tak berdaya. Semoga ini bisa jadi pancingan. Ayo! kembali menulis!

Continue Reading...

Ruma Maida : Recommanded Movie

Edo on October 30th, 2009

Minggu ini sungguh minggu yang sangat menyenangkan bagiku. Melihat video tentang Menjadi Indonesia hasil karya teman-teman Tempo Institute dan mitra kolaborasinya (katanya sih salah satu pemicu dasarnya buku “Menjadi Indonesia“, cmiiw), menonton trailer game Nusantara Online yang sebentar lagi benar-benar launching, dan malam ini, menonton film karya Ayu Utami : Ruma Maida.

Continue Reading...

Kosong

Edo on September 19th, 2009

Lebaran tengah menjelang. Ramadhan mencapai akhirnya. Apa yang kita dapatkan di Ramadhan kali ini? Bertahun-tahun lebaran saya isi dengan sebuah kekecewaan tentang makna puasa dan lebaran itu sendiri. Selalu apatis terhadap orang yang pulang kampung yang menghabiskan jutaan rupiah sebagai bentuk ke-ria-an (bukan riya) meski membuat roda ekonomi bergulir cepat. Selalu sinis ketika orang berduyun-duyun […]

Continue Reading...

Momentum

Edo on April 13th, 2009

Hiruk pikuk Pesta Demokrasi di Indonesia masih berada dititik awal. Tak ayal lagi seluruh mata, tenaga, energi, terpusat pada perhelatan ini. Semua orang sibuk membicarakan hasil quick count yang dimata sebagian orang memberikan hasil yang mengejutkan. Suara Partai Demokrat yang melonjak tajam, merosotnya suara Parta Golkar secara drastis setelah menjadi jawara di Pemilu 2004 lalu, […]

Continue Reading...

Saya tertarik dengan tulisan mbak Upik beberapa waktu yang lalu. Menurut saya yang berfikiran seperti seperti itu tidak cuma beliau. Tapi sebagaimana komentar orang-orang ditulisan tersebut, ya inilah efek kebebasan demokrasi. Ujung-ujungnya akan berakhir pada fatwa standard kebebasan itu sendiri : kalau suka ya baca, kalau ngga suka ya jangan baca, jika ingin menciptakan keseimbangan […]

Continue Reading...

Pagi ini saya salah perhitungan. Meski sudah mengkalkulasi tingkat kemacetan dimasa kampanye seperti ini, tapi kali ini saya kecele. Saya tidak pernah membayangkan bis-bis patas AC akan mangkal di jalan kecil di Tegal Parang yang tanpa mereka setiap pagi pasti macet oleh orang-orang yang berangkat ke kantor. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan membayangkan saya […]

Continue Reading...

Sebagian dari Iman

Edo on April 7th, 2009

Lagi asik-asiknya bermain car madness di Facebook, diselingi membaca tulisan-tulisan bernas di blog ini, seorang teman yang baru saya kenal 2 hari lalu menyapa. Dan sebuah kalimat terlontar darinya. “Bro, gue masih kepikiran omonganlu kemaren…”

Continue Reading...

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah acara di salah satu stasiun televisi bertajuk “kontrak politik”. Hampir sama seperti beberapa acara reality show yang berkonsep “bantuan instan” namun mengambil momentum politik. Ceritanya, tim kreatif stasiun TV tersebut mencari salah seorang anak jalanan yang tidak bisa melanjutkan sekolah dengan alasan klasik: masalah ekonomi. Lalu mereka mencari […]

Continue Reading...