agamaku versi sinetron
Kemaren aku menerima sebuah surat dalam mailboxku
Sama sepertiku, Juga berisikan luapan hati yang tertuju padaMu
Yang mencoba merobek tatanan orang tentangMu
Dia bilang Kau juga bisa fanky
Kau juga bisa lucu, iseng
Bahwa Kau juga maha sombong lagi maha angkuh
Dan bahwa betapa selama bulanMu ini banyak orang menjadi eksibionist
Berpamer-pamer dan sok dekat denganMu
Semua tiba tiba menjadi sok suci, semua menggosipkanMu
Semua mendendangkanMu
Semua merasa sangat mengenalMu
Padahal Kau kan tak bisa di bohongi kan Tuhan?
Itu sekelumit kalimat yang pernah kurangkai, dulu, 2 tahun lalu, terdorong oleh sebuah e-mail nakal yang kuterima dari seorang rekan, yang mendorongku untuk “menulis surat” kepada Tuhan. Masa-masa menarik dalam perjalanan hidupku mencari-Nya. Kalimat ini banyak menuai protes. Tidak sedikit yang bilang bahwa kalimat tersebut bentuk kekurangajaran manusia terhadap sang Khalik.
Ramadhan kali ini sebenarnya aku memiliki beberapa perspektif tambahan tentang hubungan manusia dan Tuhan. Hari ini, aku hanya ingin membahas sebuah topik kecil saja.
Di TV, terutama selama ramadhan ini, sangat banyak tayangan bernuansa Islam. Dan saya tidak dalam rangka ingin membahas tentang polemik tontonan Islam yang bernuansa mistik. Hanya sedikit kesedihan saya tentang bagaimana orang Islam memperspektifkan Islam itu sendiri. Omong-omong, saya bukan ustadz, bukan ahli kitab, bukan ahli agama. Hanya sewujud manusia yang mencoba dan belajar untuk memahami bahasa-Nya. So, kalau ada yang protes dengan pemahaman saya, ya sah sah saja
Hari ini saya menonton tentang seorang anak yang (ceritanya) durhaka sama orang tua. Ibunya hanya pembantu rumah tangga, sementara dia disekolah dicekoki dimana teman-temannya semua membawa HP. Si anak yang tidak tahan dengan kondisi tersebut, tergoda untuk menjadi “ayam”. Dan film ini diakhiri dengan datangnya seorang “ustadz” yang mengingatkan si ibu untuk berserah diri pada Tuhan, dan sianak bertobat. Kemaren, saya menonton tentang keluarga miskin yang anaknya terkena narkoba. Karena kemiskinannya, si anak sampai mencuri cincin kakaknya untuk drugs. Si ibu karena tidak kuat sampai meninggal, dan meninggalnya si ibu tidak membuat si anak tobat, tapi malah mencuri uang takziah untuk “ngobat” sampai akhirnya si anak over dosis, dan dalam kondisi itu dia bermimpi ketemu si ibu dan akhirnya bertobat. Dan sebelumnya, sama lah, cume beda topik saja, dengan bentuk visualisasi, penggambaran yang sama saja.
Saya tidak dalam rangka berbicara benar dan salah. Semuanya hanyalah sebuah perspektif. Hanya saja, saya juga ingin menyampaikan perspektif saya.
Saya hanya sedih. Perasaan di tayangan TV, orang Islam selalu diidentikan dengan orang yang miskin. Lalu orang yang beriman adalah orang yang berpeci, bicara dengan lembut, dengan tanda dikepalanya, membawa tasbih yang lagi-lagi juga cuma orang miskin. Orang Islam selalu digambarkan sebagai masyarakat yang lemah, isinya cuma pasrah. Solusi masalah sepertinya hanya dengan berdoa saja. Saya jadi kasihan sama Tuhan. Kok ya sepertinya Tuhan cuma dijadikan zat yang seperti itu. Yah, saya fikir ini cuma perspektif saya aja. Boleh dong?
Dengan sedikit keterbatasan saya tentang ilmu Tuhan (oh ya, kenapa juga yah yang dianggap ilmu agama, Ilmu Tuhan cuma apa yang ada pada kitab aja ya? Apa ilmu berusaha bukan ilmu Tuhan? Apa ilmu marketing, kalkulus, fisika, itu bukan ilmu Tuhan?, apakah kalau ingin berdakwah tentang Kebesaran-Nya harus dan wajib pakai ayat Alquran dan hadist? Memangnya tidak boleh berdakwah dengan menggunakan teori Fisika?), saya juga pernah membaca sebuah *saya lupa ini Hadist atau Ayat Alqur,an, dan maaf juga kalo ada kata yagn salah. Saya cuma ingin mengangkat intinya saja* yang menyebutkan bahwa Tuhan lebih menyukai hambanya yang kuat. Dalam pemahaman saya, kuat disini bisa berarti berkuasa, kaya, dan sejenisnya. Saya juga pernah baca bahwa jika kita melihat kemungkaran, jika kita mampu berbuat untuk menghadangnya, maka berbuatlah, jika tidak mampu, sampaikan dengan kata, dan jika tidak mampu juga, minimal jangan ikut melakukan. Tapi kalimat ini diikuti dengan “dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. Artinya, lagi lagi dalam pemahaman saya, yang cuma bisa berbuat untuk dirinya sendiri, tidak berkemampuan untuk berbuat, adalah orang yang imannya rendah.
Hal lainnya adalah, menurut saya, pasrah dan hanya “pantas” dilakukan oleh orang yang berusaha. Karena antara Usaha, Doa, dan Berserah Diri adalah sebuah runutan. Heran aja, di TV isinya kok ketika dapat musibah isinya cuma berdoa sebagai solusi. Kesannya kok orang Islam adalah orang yang ngga punya etos kerja. Yang isinya cuma bisa minta sama Tuhan. Bukankah Tuhan sudah memberikan akal, fikir, hati, tenaga, fisik yang kuat dan berbagai “alat” lainnya agar kita sebagai manusia berusaha?. Buat saya, berserah diri, hanya pantas dilakukan oleh orang yang berusaha dan menyertai usahanya dengan doa. Dan doa buat saya tidak indentik dengan melas.
Saya jadi inget omongan seorang “guru” sekaligus teman diskusi saya. Rekan saya pernah bilang “orang miskin baik mah wajar, emang harusnya begitu. Kalo orang miskin sombong mah namanya nggak tau diri. Begitupula halnya dengan orang kaya. Kalo ada orang kaya yang belagu, ya wajar aja. Orang kaya itu punya pilihan untuk jadi orang kaya yang jahat atau orang kaya baik hati. Dan yang luar biasa adalah orang kaya dan berkuasa yang rencah hati dan baik hati”.
Sebuah pepatah dari kampung halaman berkata “Alam Takambang Jadi Guru”. Saya mencoba memahami kalimat ini sebagai bentuk, bahwa ilmu Tuhan itu dapat kita peroleh dari seluruh apa yang ada di alam semesta ini. Mengaji buat saya bukan berarti hanya “membaca AlQuran”. Membaca koranpun sah-sah saja diperspektifkan sebagai bentuk “mengkaji” ilmu Tuhan. Pengertian “mengkaji” atau “membaca” buat saya juga bukan sekadar membaca rangkaian huruf demi huruf. Ada lagi pepatah yang menyatakan “Adat bersandi syara’ syara’ bersandi Kitabullah”. Saya memahami, bahwa berbagai norma, aturan, hukum dan apapun aturan yang masih berupa produk manusia, tidak boleh berseberangan dengan Kitabullah, cuma kok kayaknya nggak gitu ya?
Ini cuma celoteh nakal saja. Pengen melihat di TV, figur seorang muslim yang beriman yang isinya orang kaya dan berkuasa. Dengan kekuasaannya, dia mengajari kita menjadi khalifah yang baik. Ingin orang orang tahu, bahwa Islam itu tidak identik dengan kemiskinan, kepasrahan, kelemahan, ketidakberkuasaan, teroris, mistik, etc. Yang cuma dengan berdoa saja Tuhan menunjukkan ke-Tuhan-annya. Pengen melihat di TV seorang muslim yang baik diidentikkan dengan seorang businessman yang handal, pengusaha yang sukses. Bahwa tidak selalu keimanan seseorang itu diterjemahkan dengan baju koko, atau baju gamis, jenggot yang panjang, berpeci. Orang yang beriman nggak haram kok pake jeans, baju gaul, sepatu boot. Kalau begini caranya, pantas saja kita dianggap orang seperti itu. Jadi, orang islam ya jangan protes :). Bumi itu bundar. Hidup inipun adalah sebuah paradoks, karena banyak perspektif yang bisa kita ciptakan, tergantung dari sudut pandang. Sayang saja jika kita hanya memperlihatkan satu perspektif saja. Menurut saya, ini semakin membuat kita bodoh. Dan sepertinya kita bangga memperbodoh diri sendiri. Saya fikir tidak ada salahnya jika kita mau memandang dari berbagai macam perspektif, sehingga kita bisa menemukan sesuatu yang hakiki.
Btw, kalau ada waktu, saya juga ingin mengangkat topik “iman”, “islam” dan berbagai jargon ini dalam perspektif hubungan dengan orang yang kita cintai :). Moga-moga saya diberi kesempatan untuk menulis lebih banyak
Popularity: 7% [?]
hal yang sama pernah saya rasakan makanya saya paling males nonton sinetron. pernah ga coba denger lagunya greenday, yang judulnya American Idiot. Well, kalo bisa gue cipatin jiplakannya dalam bahasa indo gue namain Indonesian Idiot.
Over 40 years under the rule of Soeharto kita terkungkung dan dicuci otak melalui media. jadi wajar aja setelah reformasi (atau kalo istilah gue “repotmasi”) praktek cuci otak lewat medianya masih ada.
Sekarang yang dipake tuh sasarannya emang para muslim.
we’re undercontrolled by America, actually THE JEWISH.
ini perang salib nya Jewish dengan cara gerilya. mulai dari masukin budaya Valentine dan Hallowen,pacaran de-el-el. semua cuma satu menghancurkan islam karena umat islam kita ini gampang banget dipengaruhi, (ya kalo ga gampang dipengaruhi ga mungkin kan ada kasus POso, dukun santet, jilbab gara-gara, whatever deh).
Dan ga cuma itu mereka pun menyusup dengan aliran-aliran agama yang sudah dibelokkan, contoh konkrit N11, dan LDII, I’d been there, n they still looking for me. gue juga bukan ustadjah atau apalah gue cuma mencoba memahami agama dari panca indera dan hati gue tinggal dikonversi antara hadits dan AlQuran dengan akal gue. gue ga mau lagi seperti dulu nelen mentah2 sesuatu tanpa berfikir… hehehe kokk jadi curhat, but anyway, ternyata gue bisa nemu orang ygpny pemikiran yang agak sama sama gue.