sebuah kesadaran
04.27 pagi
pagi ini aku berdikusi dengan seorang rekan. yang secara tidak sengaja membuatku berfikir tentang topik yang ingin ku bicarakan sekarang, yang membuatku flash back terhadap perjalanan hidupku, dan diskusi-diskusi sejenis yang pernah kulakukan. tentang kesadaran.
mari kita mulai dengan beberapa pertanyaan, karena bertanya adalah sebuah proses pembelajaran, akar dari segala akar. Ilmu filsafat, anak emasnya ilmu pengetahuan juga bicara, bahwa apa, mengapa dan bagaimana adalah 3 hal mendasar dalam filsafat ilmu. saya termasuk orang yang senang bertanya pada diri sendiri. dan dalam perjalanan hidupku, akudalam mencari siapa aku, dan hal lainnya (termasuk mencari siapa Tuhanku), aku belajar bahwa pertanyaan apa dan mengapa sering menjadi masalah, dan menjadi beban dalam hidup kita, karena kita tidak menuntaskannya dengan pertanyaan berikutnya yang paling penting : bagaimana. bagaimana adalah sebuah pertanyaan untuk mencari jawaban atau solusi atas “apa” dan “mengapa”. saya sendiri pernah merasakan, berlarut-larutnya sebuah masalah ternyata dalam masa pencarianku, sering aku protes. bertahun-tahun aku memilih untuk tidak menjalankan sholat dengan sebuah alasan, karena aku ingin sholat dengan khusu’, ikhlas, dan penuh kesadaran. karena sholat adalah ritual privasi dengan Tuhan, dan ketika dalam menjalankan ritual itu aku masih memikirkan yang lain, aku merasa munafik, telah menduakannya, membohonginya. aku tidak iklas “berdiskusi” dengan Nya. Aku ingin melakukan ritual itu dengan kesadaranku sendiri, tidak disuruh, dengan ikhlas, bukan karena iming-iming pahala, atau sorgaNya.
Seorang “guru” yang juga temanku juga pernah protes tentang azan. kenapa harus ada azan? untuk mengajak dan mengingatkan kita untuk beribadah? itu kan tanggungjawab dan urusan pribadi? kalau memang mau ibadah, kenapa harus diingatkan dulu? bukankah ibadah harus dilakukan dengan kesadaran? bagaimana dengan orang yang sedang tidak ingin beribadah? atau orang yang keyakinannya berbeda dengan kita? bukankah untuk mereka azan bisa jadi sangat mengganggu? berisik tau!
disebuah milis, dalam sebuah diskusi tentang puasa, seorang rekan juga bicara, bahwa pada prinsipnya, ritual puasa itu bukanlah yang utama, karena ritual tersebut adalah untuk “mengajarkan” kita tentang suatu hal yang esensial. jadi puasa itu tidak lagi berguna ketika kita sudah menemukan esensi, kenapa kita diminta oleh Tuhan untuk berpuasa.
Saya sendiri juta dulu pernah protes tentang topik pengajian. kenapa bolak balik yang dibahas adalah topik yang sama? dirikanlah sholat, jalankanlah puasa, berbuat baiklah kepada orang lain dan sejenisnya. saya dulu seing muak mendengarkannya, bosan. Aku sudah tau, ngga usah diingatkan lagi. kenapa ngga sesekali khotbah membahas tentang kondisi umat saat ini yang penuh kemunafikan, korupsi meraja lela dan topik-topik aktual lainnya?. atau ada teman yang berpendapat bahwa minum bir atau minuman keras lainnya itu tidak haram. yang haram adalah kejadian mabuknya. jika kita sudah mampu mengendalikan diri, sehingga minuman keras tidak lagi merusak kesadaran kita, tidak membuat kita mabuk, maka itu adalah sah sah saja. sebuah buku best seller favoritku, sang alchemist, si pengarang, paulo coelho juga bicara bahwa apa yang “keluar” dari mulut kita jauh lebih berbahaya daripada apa yang “masuk” kemulut kita.
terus terang, tidak sedikit saya terjebak dalam paradok seperti ini.
hari ini aku berdiskusi dengan seorang rekan. aku memintanya untuk melakukan sesuatu, untukku. akan tetapi pembicaraan ku awali dengan sebuah kalimat bahwa pada prinsipnya ini cuma sebuah permintaan. bahwa masalah permintaanku itu bagaimanapun juga terserah dia, ingin dikabulkan atau tidak. dan pada akhirnya dia mengiyakan keinginanku, namun dengan sebuah catatan bahwa apapun itu terserah dirinya, dan bahwa bagaimanapun juga segala sesuatu itu lebih menyenangkan jika dilakukan dengan iklas, dorongan dari dalam diri sendiri, bukan karena permintaan orang lain.
saya tercenung atas komentarnya. ada ganjalan, tapi tidak bisa menyalahkan karena apa yagn disampaikannya adalah benar. kembali, sebuah paradok terjadi.
apa yang mengganjal? saya mencoba memahami, sebagai bahan perenungan, sebagai bahan evaluasi bagi saya sendiri, agar saya bisa lebih “paham” memahami sesuatu, agar saya lebih bijak dalam bersikap
pertama adalah tentang kesadaran, yang memancing saya membuat tulisan ini. dari beberapa uraianku diatas, aku mendapatkan beberapa kesimpulan. bahwa ya, memang, segala sesuatu itu sangat indah jika dijalankan dengan kemauan sendiri, dengan sebuah dorongan dari dalam, dengan sebuah keiklasan. tapi inilah menariknya makhluk yang namanya manusia. karena apapun yang terjadi bisa benar bisa salah, bisa mendapatkan sebuah perspektif yang berbeda-beda, tergantung sudut pandang. benar segala sesuatu itu harus dijalankan dengan ikhlas. tapi saya berfikir, manusia adalah makhluk yang “nakal”. saya sendiri sering merasakan terjebak, menjadikan pernyataan ikhlas itu untuk membenarkan tindakan diri sendiri. inilah jebakan berbahayanya. kenapa kita masih perlu diingatkan dengan azan untuk sholat? kenapa ritual puasa perlu tetap dilakukan padahal kita sudah paham maksudnya? kenapa khotbah berulang-ulang memberikan pesan sama untuk menjalankan perintahNya? ya, karena manusia adalah makhluk yang “pintar” sekaligus culas, karena manusia adalah makhluk yang pelupa dan berpotensi untuk membuat salah, manusia berpotensi untuk alpa, dan manusia dengan segala kelebihannya dan perjalanan hidupnya mengalami naik dan turun. itulah kenapa kita tetap perlu diingatkan. karena kita tidak selalu sadar. sehingga kita tetap perlu diingatkan, untuk mengingatkan kita kembali kepada dasar, makna, filosofi atas kenapa kita melakukan sesuatu. penolakan kita akan proses pengingatan, mungkin bentuk kesombongan kita, ketidaksadaran kita, keangkuhan kita, dan keegoisan kita. itulah kenapa kita harus saling mengingatkan. melakukan segala sesuatu dengan kesadaran adalah indah, tapi ketika ada yang mengingatkan kita, entah itu dalam bentuk wujud manusia, tuhan, suara azan dan sebagainya, tidak ada salahnyajika kita lebih bijak menyikapinya. Jika sesama manusia saja kita cukup angkuh untuk menerima pesan kebaikan, apalagi jika pesan Tuhan? jika kita bahkan tidak melihat pesan yang tersirat dari yang tersurat, pesan terselubung dari sebuah ucapan yang disampaikan oleh manusia, apalagi terhadap pesan Tuhan dan alam semesta? karena menurut saya, Tuhan cenderung memberikan hidayah, petunjuk, pesan, melalui cara yang tidak kita duga. Kenapa? karena dalam kitab suci agama dijelaskan karena kita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan “pikiran” dan “nurani”, agar kita “berfikir”, karena berfikirlah yang membedakan kita dengan makhluk lain.
Kedua, dalam tataran hubungan antar manusia. saya sering relatif diam mendengarkan pendapat orang lain, dan cenderung tidak secara langsung menyikapi atau menanggapi, karena sering dalam perjalanan hidup kita, ada pesan tersirat dari apa yang disampaikan lawan bicara kita. saya belajar untuk mencoba memahami dan memengerti pesan terselubung tersebut, agar saya tidak salah “membaca”. manusia adlaha makhluk yang berbudaya, memiliki rasa, etika, sehingga sering atas nama sopan santun tujuan sebenarnya disampaikan dengan tidak langsung. kebijaksanaan seseoranglah yang membedakan cara kita menyikapi pendapat tersebut, dengan mengendalikan emosi dan rasa lainnya yang mempengaruhi. sehingga, sering ketika kita bicara “A”, tapi didalam kata-kata tersebut kita “menitipkan pesan “B”. lagi-lagi, sifat dasar kita yang cenderung tidak mau dan tidak suka disalahkan, emosi, rasa kita, sering “membutakan” kita untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain. padahal, ketika kita sudah mencoba “tuma’ninah”, berhenti sejenak, untuk mencari makna sebenarnya, itupun masih berpotensi besar untuk “salah tangkap”. apalagi jika kita tidak mau “mendengarkan”. dan kita terjebak pada sesuatu yang sering dinamakan egoisme.
Ketiga, tentang perspektif. saya belajar dari hidup saya sendiri. sebagai anak yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja, (baca:relatif susah dari segi materi), dan melihat bagaimana orang tua banting tulang untuk memenuhi kebutuhan saya, saya selalu punya keinginan besar untuk suatu saat membalas kerja keras orang tua. ketika saya sedikit banyaknya memiliki yang namanya materi, adalah kebanggaan tersendiri mengajak orang tua saya untuk “bersenang-senang”, menginap di hotel mewah, makan di rumah mahal elit, dan sebagainya, atas nama keinginan menyenangkan orang tua. senangkah ia? ternyata, tidak. orang tua saya yang mungkin kolot, justru merasa sedih. karena menurut beliau, mending uang foya foya tersebut ditabung. orang tua saya malah berfikir, bahwa uang yang saya keluarkan untuk 1 kali makan mewah tersebut, bisa membeli berapa karung beras?. apa yang ternyata membuat orang tua saya bahagia? ternyata hanya sesuatu yagn namanya perhatian. menelefon secara rutin, dan mengetahui bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja, sesuatu yang jarang saya lakukan, karena saya sibuk mencari uang, yang “menurut” saya salah satu tujuannya adalah untuk membahagiakan orang tua saya. ternyata yang membahagiakan beliau adalah mengetahui bahwa saya bahagia.
saya juga ingat cerita seorang rekan yang memprotes keras cerita malin kundang. menurutnya, cerita itu adalah cerita yang sangat tidak mendidik. karena cerita itu memperlihatkan tentang figur orangtua yang mengutuk anaknya. orang tua macam apa itu yang mengutuk anaknya? sangat tidak pantas!. karena orang tua seharusnya tulus, tidak menuntut pamrih atas jasanya membesarkan si anak. orang tua justru harusnya introspeksi diri, bukannya malah mengutuk si anak, karena bagaimanapun juga si anak menjadi seperti itu adalah peran didikan orang tua.
dari satu perspektif, saya setuju. tapi saya juga tidak sepakat jika cerita ini dianggap sebagai cerita yang tidak mendidik. kenapa? kembali tergantung sebagai siapa kita memandang cerita ini. menurut saya, cerita ini memang bukan untuk konsumsi orang tua, tapi adalah untuk anak. bahwa sebagai anak kita tidak boleh durhaka sebagai orang tua, kita harus berbakti, dan banyak nilai positif lainnya. jika lalu ada orang tua yang memandang cerita ini lalu melakukan hal yang sama, mengutuk anaknya, jelas ini salah kaprah, karena seperti yang diungkapkan sebelumnya, orang tua tidak pantas mengutuk anaknya. tapi jika terjadi seperti ini, bukan cerita ini yang salah, tapi kita, dalam posisi sebagai orang tua, yang salah kaprah melihat dan memaknai cerita ini.
so, apa intinya? kesimpulannya adalah, jika kita berinteraksi dengan orang lain, gunakanlah sudut pandang yang tepat. jika ingin bisa memahami orang lain, gunakan parameter yang mereka gunakan, bukan parameter kita sendiri. terus terang, dalam kasus saya tadi, sudah seharusnya saya menyerahkan sepenuhnya pada rekan saya untuk memutuskan, akan memenuhi keinginan saya atau tidak. tapi, andai saya berada diposisi rekan saya, saya akan memandangnya bahwa keinginan lawan bicara saya ingin saya memenuhi permintaannya, walaupun kita tau semuanya kembali pada diri sendiri. ketika kita salah dalam memaknainya, disinilah kita menjadi “tidak mampu memahami satu sama lain”, tidak bisa mengerti perasaan orang lain, tidak sensitif terhadap pesan yang disampaikan, dan kurang tepat dalam menepatkan diri. dan kembali, kita akan terjebak dengan “keakuan” kita.
saya sadar saya orang yang tidak gampang puas, dan cenderung menjadi tidak nyaman jika sesuatu tidak tuntas. sehingga ketika pikiran tersebut tidak tuntas, maka saya akan mencarinya terus, dan terus, sampai menemukan jawabannya, walaupun jawaban itu masih bersifat sementara. dan saya sadar kadang sifat ini menjengkelkan untuk sebagian orang. karena menurut saya, itulah tugas saya sebagai manusia, terus berusaha dan berusaha, sampai ada jawabannya. dan jawaban itu dicari, bukan ditunggu. menurut saya kita diminta Tuhan untuk menjadi makhluk yang aktif, bukan pasif. karena “mem”beri lebih baik daripada “di”beri. “ber”buat lebih baik daripada “di”perbuat. tentang hasil? baru ini diserahkan pada Tuhan. Memang ada waktunya kita harus menyerahkan semuanya pada waktu, membiarkan waktu menyelesaikan sendiri masalahnya. tapi jangan sampai kita terjebak untuk menjadi selalu berserah diri terhadap waktu.
inilah yang saya fahami tentang manusia. seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, hidup secara sedehana hanya menyelesaikan 3 pertanyaan : apa, mengapa, bagaimana. seringkali keraguan timbul, masalah tidak selesai, tidak tuntas, lalu kita menjadi stress, dan masalah berlarut-larut, tidak mampu menemukan jawabannya. kenapa? karena kita tidak secara utuh menjawab 3 pertanyaan mendasar tersebut, tersangkut sampai pada pertanyaa “apa” dan “mengapa”. padahal kuncinya ada pada pertanyaan “bagaimana”, sehingga jawabannya bisa kita temukan, dan masalah bisa kita urai. Yang lebih menyedihkan lagi buat saya, jika saya merasa bahkan malas bertanya, apa lagi malas mempertanyakan diri sendiri. karena bertanya adalah akar dari proses berfikir, dan berfikir adalah awal dari lahirnya ilmu dan pengetahuan, dan berfikir (berfikir yang saya maksud tidak cuma berfikir menggunakan otak, tapi juga hati dan alat ukur lainnya yang telah diberikan oleh Tuhan) adalah hal yang membedakan dengan makhluk lain. padahal berfikir, hak untuk memilih dan bersikap, adalah hal yang menurut saya meninggikan harkat manusia, bahkan dibandingkan dengan setan dan malaikat sekalipun. malas berfikir, hanya akan merendahkan diri kita sendiri dimata siapa dan apa saja.
so, tulisan ini akan kembali saya tutup dengan sebuah paradoks. Buat saya pribadi, ini adalah proses evaluasi diri, pembelajaran, dan semoga suatu saat bisa saya baca kembali supaya saya tidak kehilangan arah. buat anda yang membaca? terserah, adalah hak anda untuk setuju atau tidak. itu tidak penting buat saya.
21 okt 05, jam 06.03
Popularity: 2% [?]
assalamu’alaikum mas edo,
subhanallah… jujur mas, aq terharu… walaupun artikel ini sudah sangat lama tapi ketika aq membaca artikel ini perasaanqu sama seperti mas edo, ini adalah proses evaluasi diri dan pembelajaran. So… jangan pernah ragu untuk selalu memperdalam tentang agama qt, krn jarak qt dgn Sang Pencipta sngat dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi qt.. selangkah qt menghampiri Dia, seribu langkah Dia akan menuju qt… Akhirul kalam semoga qt mnjdi ummatNya yg Terbaik dimata Sang Khaliq.
wassalamu’alaikum wr. wb
sialan loe ha!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
#ika : semoga kita terus belajar
#pji : wah saya si edo, bukan si alan
http://www.unidayan.ac.id/blog/rauda_jpmi