Tak perlu dipertanyakan lagi, Teknologi Informasi telah memberi warna dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Terlepas segala perdebatan tentang penting atau tidaknya Teknologi Informasi bagi kita, sulit disangkal bahwa perkembangan teknologi yang satu ini mampu memberikan perubahan yang cukup dahsyat. Tidak bisa dipungkiri pula memang, Teknologi Informasi yang merupakan hasil sebuah evolusi teknologi, mau tidak mau harus diakui telah menciptakan tidak saja sebuah kecepatan, tapi percepatan dalam pola hidup manusia.Terlalu banyak contoh yang membuat kita tidak dapat menyangkal pentingnya Teknologi Informasi. Tidak usah bicara tentang negara adidaya Amerika, atau kelompotan negara Eropa dan Jepang. Sebuah negara seperti India yang mungkin tingkat ekonominya tidak jauh berbeda dengan Indonesia mampu memberikan devisa yang sangat besar. Lihat saja raksasa software Microsoft, yang mayoritas pembuat softwarenya banyak dikuasai oleh orang-orang India.

Teknologi Informasi membuat kita dapat belajar dan mendapatkan apa yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dari siapa saja. The world in your fingertip, itulah filosofi Teknologi Informasi. Jika reformasi berbicara tentang transparansi, TI telah membuktikannya. Kalau sekarang kita ditakutkan oleh kesiapan kita terhadap kondisi globalisasi, yang menuntut sebuah standarisasi, TI memberikan peluang-peluang tersebut.

TI mampu membuat ulang atau membuat balik manusia. Sebagaimana sudah terjadi sejak lama, IT berpengaruh jauh lebih besar dari sekadar fungsi pendukung dan pembantu. Kehadiran barang-barang seperti komputer kecil, internet, telepon seluler dan sejenisnya, telah merubah banyak sekali kehidupan.

Dulu, ketika pengaruh IT belum dahsyat, orang muda belajar ke orang tua. Dalam dunia yang IT intensive, berlaku hukum terbalik : ‘orang tua belajar dari anak muda’. Atau sebut saja dunia kerja (termasuk pemerintahan) yang dulu indentik dengan absensi. Sekarang, ada banyak sekali eksekutif yang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan lebih efektif, tanpa perlu hadir dan mengabsenkan diri di kantor. Dunia pendidikan juga berubah, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau akan ada virtual university.

Kegiatan berbisnis apa lagi, sekarang memang masih di persimpangan jalan antara ekonomi baru dan ekonomi lama. Sudah menjadi ciri IT sejak awal, perubahan agak lambat di awal, tetapi begitu perubahan datang, ia lebih cepat dan dahsyat dari air bah manapun. Kegiatan pemerintahan juga tidak luput dari pengaruh IT. Sudah menjadi rahasia umum, kalau sejumlah negara yang fundamen ekonominya keropos, kemudian dipermainkan spekulan uang, hanya melalui sejumlah tekanan di key board komputer. Sayapun tidak kaget jika Jepang atau Amerika lebih mengetahui potnsi kekayaan alam yang kita miliki daripada kita sendiri sebagai pemiliknya.

Begitu pula halnya dalam sektor pemerintahan. Pemerintah sebenarnya tidak dapat menolak kehadiran teknologi ini. Justru sebenarnya penerintah akan dapat banyak terbantukan.Sayangnya, saat ini Indonesia masih belum sampai ditahap itu. Ada beberapa paradigma yang saat ini masih berkembang di Indonesia tentang Teknologi Informasi :

  1. Teknologi Informasi merupakan teknologi yang sangat membutuhkan dana. Ditengah keterpurukan ekonomi Indonesia, Teknologi Informasi sebenarnya masih menjadi anak tiri.
  2. Investasi pengembangan TI masih dianggap belum seimbang dengan hasil dan manfaat yang diterima.
  3. Indonesia masih memiliki banyak masalah besar yang perlu penanganan serius.

Pendapat ini bisa dianggap benar, bisa juga kurang tepat. Tidak selalu pengembangan TI itu mahal. Seorang Onno W Purbo, pakar TI kita yang notabene bermain TI setiap harinya, ternyata hanya menghabiskan uang Rp. 300.000,- setiap bulannya untuk koneksi Internet. Jadi, hal ini hanya masalah pemahaman kita tentang apa dan bagaimana TI itu, perencanaan yang matang tentang prioritas mana yang lebih dahulu dibutuhkan, apa yang dibutuhkan masyarakat, dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.

Berikutnya perlu dipahami bahwa implementasi TI akan memberikan hasil yang optimal jika diimbangi dengan pemahaman SDM kita, baik pimpinan pemerintahan maupun staf, mengenai IT itu sendiri. Harus kita akui, Indonesia masih belum berada dalam posisi yang membanggakan. Jangankan bicara TI, dalam sebuah presentasi yang disampaikan oleh 5 pembicara di 3 tempat yang berbeda ; Maryland-USA, Tokyo, Jepang, dan Bangkok Thailand, (sedangkan saya mengikutinya dari Malang, Indonesia), Salah seorang pembicara, Prof. Lawrence Klien dan Prof Gerald Adams, 2 pakar ekonomi penerima hadiah nobel ekonomi tahun 1999, secara statistik dari hasil survei World Bank, per –1000 orang, hanya 8.2 rakyat Indonesia yang mengerti tentang komputer, dan hanya 1 orang yang mengerti tentang TI. Bandingkan dengan Singapura dengan 458.4 orang yang bisa mengoperasikan komputer dan 452.2-nya telah biasa menggunakan TI.

Dan point penting berikutnya, adalah adanya dukungan policy yang kuat dari pucuk pimpinan pemerintahan. Perlu disadari, bahwa dalam implementasi TI, ketiga komponen tersebut ; perencanaan yang matang, pemahaman dan pendidikan serta pelatihan SDM tentang TI serta dukungan policy yang kuat untuk menerapkan TI harus dijalankan secara simultan. Bayangkan jika sebuah layanan yang baik telah dibuat, tapi SDM-yang menjalankannya tidak mengerti. Atau karena pimpinan tidak memberikan policy yang kuat, sehingga walaupun SDM-nya sudah dilatih, tetapi ilmunya tidak diterapkan, tentu saja tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Diluar komunitas bisnis, sepertinya Teknologi Informasi masih sebatas sebuah komoditas dan eforia. Akibatnya teknologi ini dipertanyakan manfaatnya. Seharusnya dalam sebuah investasi TI untuk Indonesia biaya paling mahal seharusnya dialokasikan untuk peningkatan kualitas SDM. Apapun alasannya, nyawa sebuah teknologi tetap pada penggunanya. Disinilah faktor pendidikan dan pelatihan menjadi sangat penting.

Tulisan ini bukan sebuah pendapat pesimistis, tapi lebih kepada sebuah harapan agar kita dapat mempelajari dari realita yang ada. Akhir kata, saya ingin mengutip sebuah tulisan yang sangat berkesan bagi saya dari sebuah tulisan seorang konsultan publik Gede Prana, yang pernah disampaikan dalam sebuah pelatihan bagi High Level Management perusahaan-perusahaan besar sekelas Citibank dan Pertamina. Tulisan inipun saya dapatkan dari internet.

“…. Lebih dari sekadar lari kurang kencang, bahasa-bahasa yang dihadirkan IT juga teramat berbeda. Siapa saja yang sekarang ini tidak memiliki alamat e-mail, entah ia tinggal di London atau di Jakarta, serupa dengan monyet yang tinggal dan hidup di tengah hutan. Saya yang membawa note book kemana-mana saja sudah ditertawakan sebagai menggendong monyet ke mana-mana. Sebab, sebagian teman sudah ditemani personal digital assistant. Digabung menjadi satu, tidak berlebihan kalau saya katakan, bahwa teknologi sedang membuat balik kita semua. Bila betul pengandaian ‘If you give peanut, you get monkey’, maka siapa saja yang pelit mengeluarkan uang di sektor IT, atau malas belajar IT, maka secara tidak langsung sedang membuat diri jadi monyet. Bagaimana tidak jadi monyet, kalau orang lain lari kencang menunggangi kendaraan IT yang berjalan cepat, sementara kita masih berjalan lambat dengan kendaraan lama. Oleh karena alasan terakhirlah, saya sering mengemukakan bahwa the future belongs to the friends of technology. Pilihannya memang agak sulit, bersahabat dengan teknologi, atau membuat diri jadi ‘monyet’. Terserah Anda. Seorang sahabat secara setengah bercanda mengomentari ide ini dengan : ‘Ah ini sih cerita monyet yang baru keluar dari hutan !’. Kalau saya monyet baru keluar dari hutan, lantas Anda yang membaca tulisan ini sampai habis jadi apa ? “

Malang, 9 Oktober 2002


[1] Disampaikan dalam acara seminar “Internet Gathering on Government”, Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya tanggal 10 Oktober 2002.

Popularity: 4% [?]

2 Responses to “Sebuah Pandangan tentang kondisi TI di Indonesia; sebelum bicara tentang E-Government”

  1. saya ga mau jadi monyet, tapi supaya saya ga jadi monyet perlu dana yang tidak sedikit ( untuk membeli berbagai perangkat IT ). Jadi mau ga mau saya saat ini hanya bisa menjadi monyet

Trackbacks/Pingbacks

  1. Weblog Aquino | Penting Teknologi Informasi

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>