Connecting unconnecting…

Edo on October 3rd, 2006

Sekelumit cerita dari ujung negeri Indonesia yang luluh lantak oleh kemurkaan Sang Alam,, Naggroe Aceh Darussalam. Dan ini bukan fiksi, bukan mimpi, tapi sesuatu yang telah dan mungkin terjadi…..

Chapter 1
Alfian, seorang wartawan freelance dari Pena Indonesia memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri daerah tak terjangkau bersama seorang wartawan Washington Post dari Banda Aceh menuju area West Coast NAD yang paling rusak dihantam Tsunami, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Banda Aceh, 29 Desember 2004 bersama Anjar Ari Nugroho, anggota tim AirPutih. Tanpa tujuan yang jelas, Alfian yang berniat berjalan kaki menuju Meulaboh, melewati camp pengungsi di daerah Lamno, yang sampai saat itu belum mendapatkan bantuan apapun. Melalui handphone satelit yang dibeli patungan, Alfian mengirimkan kabar terkini melalui Farid Gaban, Pimpinan Pena Indonesia dan Achmad Suwandi dari Tim AirPutih. Situasi terkini tentang Lamno langsung menjadi bahan tulisan pertama di website AirPutih. 2 jam setelah tulisan tersebut naik tayang, 2 hercules Australia menjatuhkan bantuan di Lamno, dan panduan tentang bahan-bahan yang dibutuhkan oleh pengungsi (seperti himbauan untuk mengirimkan makanan siap makan, karena pengungsi tidak memiliki bahan baker untuk memasak) menjadi acuan dari beberapa lembaga kemanusiaan yang beroperasi di NAD .

Chapter 2
17 April 2005
Captain Tim McCully, U.S. Navy
Commodore, Task Group MERCY
USNS MERCY (T-AH-19)
FPO AP 96672-4090
Tel: 1-619-545-4227 (Option #1, then #2)
E-mail: mccullytv@mercy.navy.mil
AirPutih Internet Services
Jakarta, Indonesia

Subject: Request for Continuation of Wireless Internet Services on Nias Island
I am mission commander for Task Group MERCY, a three-ship mission
providing medical support to the victims of the March 28 earthquake
on Nias Island……..
…….. The coordination required between our doctors ashore who receive and
screen these patients, and our doctors afloat who prepare the
operating rooms and coordinate patient arrivals is, as you can
guess, both extensive and highly technical medically……
…… Prior to the initiation of Air Putih`s wireless Internet service
at the Public Health Authority in Gunung Sitoli (the location of our
primary shore coordination team), detailed patient medical data was
being passed over tenuous communications links: Iridium cellphones,
local cell networks and UHF/VHF radios (when MERCY was within line-
of-sight range of the island - there are times when ship operations
require extended distances). This voice coordination was often
difficult with its broken or garbled connections, and the need
to spell out unfamiliar patient names and complex medical terms.
Those difficulties were resolved by your wireless Internet
capability……..

Very respectfully,
Tim McCully

*Potongan Surat permohonan dari Kapten Kapal USNS Mercy kepada AirPutih untuk tidak menghentikan aktifitas menyediakan koneksi internet karena sangat dibutuhkan oleh kapten floating hospital tersebut untuk melakukan respon cepat penanganan pasien di Pulau Nias.

Chapter 3
Dear All
Saya gembira sekali waktu ‘menemukan’ data Jessica yang sesuai alamatnya di Banda Aceh.Seluruh keluarga Jessica meninggal, bila data dari posko AP betul, berarti Jessica masih ada harapan hidup.

Pada tanggal 4/2/2005 saya akan balik ke Medan dan 5/2/2005 akan trus ke Banda Aceh untuk terus menjejaki keluarga saya yang hilang. Kami ucapkan terima kasih banyak kepada bantuan Bu Lisa (INTI), Bp Wandi (AirPutih) dan rekan2 yang lain.

Regards,
Yosephine Fadjar - Kuala Lumpur

Dikirim tanggal 3 Maret 2005, seorang anak berumur 5 tahun 5 bulan 12 hari ditemukan dari database yang ada di website AirPutih, mempertemukannya dengan satu-satunya keluarga yang ia miliki di Malaysia.

Chapter 4
Para nelayan di Meulaboh tertunduk lunglai. Sebuah LSM yang datang pada mereka, memberikan berbagai janji untuk memberikan kapal untuk menggantikan kapal mereka yang telah musnah. Namun sayang, apa yang mereka terima tidak seperti yang dijanjikan. Dari 100 unit kapal yang dijanjikan, hanya ada 30 yang berlabuh di dermaga darurat. Itupun sebuah kapal fiber, bukan kapal kayu seperti yang dijanjikan karena kontur pantai di Meulaboh yang tidak cocok dengan jenis kapal fiber. Sementara si LSM telah berkoar-koar di media tentang success story mereka membantu nelayan, demi mendapatkan dana yang lebih besar, untuk operasional mereka sendiri. Melalui handphone seorang relawan yang bertugas di sana, sang Panglima Laot mengirimkan komplain melalui layanan pesan singkat (SMS) partisipasi masyarakat “9731” yang disediakan AirPutih. Duniapun tahu, kasus diusut, class action diajukan, para manipulator di tindak, dan tak lama kemudian, para nelayan mendapatkan apa yang telah dijanjikan.

Chapter 5
Jl Teuku Umar 31, Kantor AirPutih Banda Aceh, pukul 11.03 am, Indah, Bendahara AirPutih tengah sibuk memproses data laporan keuangan yayasan melalui website. Ya, setiap akhir bulan Indah wajib memasukkan data keuangan AirPutih agar bisa dilihat oleh siapa saja, lembaga donor, auditor, masyarakat. Setiap rupiah, peralatan dan hal-hal yang terkait dengan bantuan para pihak melalui AirPutih dicantumkan secara online. Ade, coordinator audit internal AirPutihpun secara khusus datang ke Banda Aceh untuk melakukan audit secara internal terhadap proses keuangan dan program kegiatan yayasan.

Kampus Unsyah, Banda Aceh, Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pukul 13.30 WIB, tengah mengecek data awal pendanaan AirPutih untuk memastikan tidak ada korupsi yang terjadi dalam kegiatan mereka.

Di selatan Jakarta, Kantor HiVOS, lembaga donor dari Belanda, pukul 13.45 siang, Wina, salah seorang coordinator bantuan yang ikut membantu pendanaan kegiatan AirPutih tengah mengecek laporan yang dikirimkan melalui e-mail oleh AirPutih, dan melakukan verifikasi dengan data yang tercantum di website www.acehmediacenter.or.id. Tiba-tiba teleponnya berdering. Terdengar suara Direktur Keuangan HiVOS di Belanda sana menyapa, menyanyakan program-program bantuan organisasi tersebut terhadap penanganan Aceh. Wina menjelaskan secara singkat, men-forward-kan laporan AirPutih dan menginformasikan kepada bossnya bahwa laporan tersebut tersedia secara online di website. Sambil tetap berkomunikasi via telepon, sang direktur pun membuka laptopnya…

Chapter 6 (Dream…)
Valens, Didin, Roim dan Lukman tengah bersiap-siap dalam kebisingan suara pesawat Hercules. Ya, konflik berkepanjangan di Poso yang telah menghancurkan berbagai fasilitas publik meminta mereka meninggalkan kota asal mereka. Tak lama kemudian herculespun mendarat. Valens menghidupkan mesin EMTU, Emergency Mobile Telecommunication Unit, mobil four while drive hasil modifikasi beberapa rekan, yang dilengkapi dengan berbagai teknologi komunikasi, mini computer yang dilengkapi dengan GIS System, touch screen, WIMAX, VSAT, lengkap dengan teknologi untuk komunikasi data, suara dan multimedia, beberapa unit laptop dan perangkat komunikasi sejenis Handphone yang mampu menjangkau daerah dalam radius 10-27 km, dan memacunya menuju area konflik. Meski belum pernah ke Poso, GIS System yang terpasang cukup membantu untuk mengenali medan. 4 jam kemudian, mereka sampai, disambut oleh wajah lega beberapa rekan wartawan dan relawan kemanusiaan yang telah lebih dahulu berada disana. Perangkat komunikasi dan laptop dibagikan, rekan-rekan wartawan TV pun meminta ijin untuk mengirimkan data siaran langsung. Dan dalam sekejab, informasi terkini tentang kondisi di Poso dinikmati oleh jutaan masyarakat Indonesia diseluruh penjuru Nusantara.

Chapter 7 (Dream…)
Seorang Guru di Sorong, tengah memberikan pelajaran ilmu Fisika kepada siswa-siswa yang duduk dengan serius di camp-camp pengungsian, bersamaan dengan waktu dia melakukan tugasnya sebagai guru ditempatnya mengajar. Rona bahagia terpancar diwajahnya. Ya, ternyata dia tidak perlu harus berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk menyalurkan keinginannya yang sangat kuat untuk ikut membantu memberikan pendidikan bagi anak-anak di Yogja dan Jawa Tengah. Dia tetap di Sorong, mengajar melalui layar besar yang terpasang di camp pengungsian di sana. Dia tidak perlu mengeluarkan biaya, tidak perlu meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru di Sorong, dan tidak perlu meninggalkan keluarga dan membebani pemerintah untuk menyediakan fasilitas bagi dirinya jika dia harus berangkat ke Jogja dan Jateng. Adanya layanan Distance Learning yang terselenggara melalui internet membuat dirinya, dan banyak guru diseluruh pelosok nusantara yang ingin terlibat membantu dapat menjalankan niat suci mereka.

Epilog…
Itulah beberapa cerita, peristiwa yang benar-benar terjadi, ilustrasi, sampai mimpi yang ada dipikiran sederhana kami, sekelompok rekan-rekan yang secara tidak sengaja menamakan dirinya “AirPutih”. Beberapa kami bahkan tidak saling kenal, belum pernah tatap muka dan hanya pernah bertemu di dunia maya. Musibah Tsunami di NAD telah mempersatukan kami dalam satu wadah yang sama, dengan tujuan yang sederhana : Ingin terlibat membantu bencana yang menimpa saudara-saudara kita di sana, sesuai dengan kemampuan yang dipunyai.

Berawal dari chatting atas undangan seorang rekan jam 9 pagi, berdiskusi tentang “Apa yang kita bisa perbuat untuk membantu bencana di NAD”, mulailah niatan yang tidak terencana itu berjalan. Dimulai dengan membangun website sederhana yang hanya dibuat dalam waktu 15 menit, di sebuah computer rakitan, lalu seorang rekan memaksa diupayakan untuk bisa berangkat ke Aceh, dan dimulailah bola itu bergulir. Beberapa rekan dari Malang dan Yogya hari itu juga berangkat ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan masing-masing, berkumpul dengan rekan-rekan yang ada di sini. Permintaan dukungan kepada komunitas, asosiasi-asosiasi profesi ICT dan pemerintah diajukan. Topipun di buka, sebagai simbolisasi untuk menyerahkan secara sukarela gaji akhir tahun yang baru saja diterima. Setelah 3 hari 3 malam nongkrong di Bandara, akhirnya rekan-rekan AirPutih berangkat dengan peralatan seadanya.

Ya. Rekan-rekan kami benar-benar berangkat seadanya. Bahkan GPS (Global Positioning System) yang sangat dibutuhkan untuk bisa melakukan setting dan pointing jaringan tidak kami miliki. Pohon, kekayuan yang terbawa oleh arus tsunamipun dijadikan sebagai tower alternative. 1 unit VSAT di pasang di pendopo, sehingga rekan-rekan media, LSM asing dan local, masyarakat, bisa mengirimkan informasi terkini tentang Aceh melalui internet. Website AirPutihpun berkali-kali kolaps dan harus diganti karena tidak mampu menampung akses informasi yang sangat tinggi. Setidaknya hampir 30 LSM secara konsisten mengisi berita di website AirPutih, lebih dari 70 translator dari berbagai Negara membantu kami melakukan alih bahasa. Rekan-rekan dari berbagai kota ; Balikpapan, Bandung, Padang, meninggalkan pekerjaan mereka untuk bergabung dengan relawan AirPutih lainnya.

Dan cerita mengalir cepat. Niatan yang awalnya berada di Banda Aceh hanya sampai dana yang ada dikantong habis (cukup untuk bertahan sekitar 3 minggu), berubah menjadi 1 bulan, 3 bulan, sampai akhirnya saat ini tetap beraktifitas meskipun beberapa kali nyaris kolaps karena kehabisan sumber daya. Dukunganpun terus mengalir, terutama dukungan peralatan yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur komunikasi darurat, media center yang bisa digunakan siapa saja, website yang semakin besar berkat dukungan banyak pihak.

Masih segar dalam ingatan saya ketika rekan-rekan AirPutih berangkat di Bandara, dan hampir semua orang heran, kenapa kami berangkat ke Aceh membawa perangkat komunikasi seperti VSAT, antenna wireless dan sebagainya, bukannya malah membawa makanan, obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh korban keganasan alam. Sangat bisa dipahami, jika informasi dan teknologinya tidak menjadi prioritas dalam penanganan bencana. Karena makanan, obat-obatan, perumahan, air bersih, dan sebagainya masih lebih penting daripada menyediakan koneksi internet. Bahkan diantara komunitas kami sendiri, sering timbul candaan ringan “Teknologi Informasi memang penting, tapi listrik lebih penting. Apalagi makanan, penting banget!”

Celoteh-celoteh nakal diatas pada prinsipnya bukanlah mimpi. Semua itu sangat mungkin untuk diwujudkan, bagaimana informasi memegang peranan yang tidak kecil dalam berbagai hal, terutama dalam penanganan bencana. Memang, adanya media dan sumber daya informasi tidak secara langsung memberikan kontribusi dalam penanganan bencana, tapi sebenarnya sangat berpengaruh kepada banyak pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung, pendistribusian informasi secara cepat, tepat dan akurat, pembentukan dan distribusi opini serta informasi secara luas keseluruh penjuru dunia, memberikan alternative model fungsi control masyarakat agar proses berjalan dengan efektif dan efisien, , transparansi public, mendukung akselerasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi di berbagai bidang, kesempatan terhadap adanya pemerataan, dan sebagainya. Visi untuk menjadi ICT Emergency Respond Team, Connecting Unconnected, komunitas swadaya masyarakat yang membantu terselenggaranya infrastruktur dan layanan ICT dalam kondisi bencana (bencana alam, perang, keterbelakangan, etc) mengebumi. Sehingga penanganan bencana dimanapun dapat dihadapi dengan lebih responsive dan tepat sasaran.

Misi tim ArPutih pada prinsipnya sangat sederhana, yaitu mendukung akselerasi distribusi informasi dan memediasikan pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan musibah di Aceh agar dapat melakukan penanganan dengan lebih cepat. Tim AirPutih memandang bahwa salah satu kunci penting dalam penanganan masalah Aceh adalah informasi. Dengan informasi yang cepat, tepat dan akurat, pengambilan keputusan dan penanganan Aceh dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan efisien.

Ini mungkin hanya mimpi. Tapi bukankah mimpi yang telah membuat kita bertahan hidup, bergairah, bersemangat dan terus berjuang untuk mencapai mimpi itu sendiri?.

Tulisan ini dikutip dari buku ”AirPutih, Connecting unconnected” mengenai aktifitas Tim AirPutih sebagai ICT Emergency Respond Team

Popularity: 2% [?]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>