ijab
kali ini sengaja saya memulai tulisan dengan judul yang mungkin terkonotasi. Tapi bukan. saya tidak dalam rangka membahas tentang pernikahan. hanya ingin sedikit nakal, mengingat sekeliling saya sepertinya tengah ber-eforia dengan tema ini. Sengaja ataupun tidak (ya ngga bro? heuiheiehieh).
Saya bukan ahli bahasa arab. dan jelas bukan orang arab, walaupun katanya saya ini keturunan adam. tapi emang adam orang arab yah? ah… sutra lah. sayapun tidak paham…
dalam pemahaman saya, ijab adalah sebuah formalisasi janji atau komitmen. saya mencoba mencari padanannya di wikipedia. sayang, wikipedia tidak memberikan saya padanannya.
Ketika seseorang berpacaran, mereka menyatakan ijabnya dengan kata-kata “mau nggak lu jadi pacar gue?” dan sejenisnya. ketika ada kerjasama pekerjaan, maka dinyatakanlah ijab kerjasama tersebut dalam bentuk kontrak atau Surat Perjanjian Kerjasama, atau Memorandum of Undestranding dan sebagainya. Ketika seseorang memutuskan menghabiskan seumur hidupnya dalam ikatan pernikahan, maka dimintalah sang penganten laki2 mengucap janji dan komitmennya untuk hidup bersama dihadapan wali dan saksi. Ketika seseorang menyatakan dirinya muslim, maka kemuslimannya harus dinyatakan dengan mengucap ijab 2 kalimah syahadat. dan sepertinya hal ini juga berlaku di agama lain.
sepertinya ijab ini sangatlah penting. ijab menjadi tanda ikatan, janji, komitmen. tanda sah. tanda jadi. sepertinya tanpa ijab maka tak afdol lah ikatan tersebut. atau bahkan tidak sah. tidak diakui.
Pemikiran nakal tiba-tiba menggelitik diujung hati. Mengetuk ulir ulir syaraf. Menggoda kelumit pemikiran. Benarkah? Mampukah ijab menjawab sebuah komitmen? Janji? Mampu kah ijab menjamin bahwa ketika saya mengucap ”mau ngga lu jadi pacar gw” maka benar benar hanya dia lah yang ada di hati?. Mampukah sebuah perjanjian hitam diatas putih, bermaterai, didepan notaris, bla bla bla menjamin bahwa janji dagang itu akan terpenuhi? Pastikah seseorang yang mengucap janji sehidup semati tidak akan berpaling? (kl yang godain siti nurhaliza, atau dian sastro gmana? Ups…).
Yah.. pertanyaan ini bisa saja dijawab ”udah nyebut ijab aja masih bisa mungkir. Apalagi ngga?”
Saya sendiri termasuk orang yang sangat menyadari betapa mahal harga sebuah kepercayaan. Janji. Komitmen. Saya menulis ini juga tidak dalam rangka menggugat keberadaan ijab. Sama sekali tidak. Kalau sekelas Tuhan saja entah secara langsung ataupun tidak menyatakan pentingnya ijab, tentu ini hal penting. Hanya mencoba menrangkai pertanyaan nakal yang tiba-tiba hadir di pikiran.
Hanya saja, toh masih ada orang cerai setelah berijab. Tidak sedikit kontrak kerjasama yang diingkari. Pasangan yang putus setelah mengucap janji mesra bertahun-tahun lamanya. Meski tentu saja tetap lebih banyak yang rumahtangganya langgeng sampai cucu cicit. Genggaman tangan nan erat atas keberhasilan kerjasama usaha. Hubungan pacaran yang sampai ke pelaminan. Penyembah Tuhan yang duduk disisi-Nya.
Tapi karena ijab kah? Pikiran sederhana saya seakan kurang mampu menerimanya. Sepertinya kok tidak sesederhana itu. Mereka langgeng, awet, berhasil, sukses, karena sebuah kesadaran. Kesadaran untuk bertanggungjawab, berkomitmen, memenuhi janji, berkasih-sayang, dalam berusaha, bekerjasama, berpasangan, dan berbahtera. Janji yang terucap didepan para saksi, yang ditandai dengan tanda tangan diatas materai, yang diucap atas nama Tuhan, adalah kepanjangan dari janji yang lebih mendalam dan mendasar, yaitu terhadap diri sendiri. Dan mereka membuktikannya tidak hanya dalam kata, tapi juga dalam tindakan, dan niat baik.
Buat saya menjalani tanggungjawab dengan sebuah kesadaran adalah sebuah cara hidup. Bertanggungjawab adalah salah satu ciri sebagai manusia selain berfikir. Tanggungjawab sebagai anak, sebagai karyawan, sebagai atasan, sebagai laki-laki, sebagai (calon) suami, (calon) ayah, sebagai pemimpin, sebagai makhluk Tuhan.
Jelas saya bukan penganut anti komitmen. Saya justru sangat ingin untuk selalu berkomitmen. Saya hanya tengah belajar untuk tidak terjebak dalam kata-kata. Seperti ucapan seorang sahabat, mulut adalah benda yang paling saya takuti, sekaligus aset yang harus saya rawat. Saya hanya ingin belajar untuk selalu memenuhi janji, meski tanpa harus berjanji. Ketika saya menjadi karyawan yang tengah menjalankan tugas dari atasan, saya hanya ingin belajar untuk menjalankannya bukan karena takut atau ingin dipuji. Ketika saya harus memenuhi tenggat waktu sebuah perjanjian kerja bukan karena gengsi atau sekedar kredibilitas. Ketika akhirnya memutuskan menikah, bukan karena sudah tidak enak dengan omongan teman-teman, atau karena umur yang terus bertambah. Tapi karena sebuah kesadaran dan kesiapan untuk bertanggungjawab. Dan keinginan untuk tetap sadar itu semakin berat ujiannya ketika seluruh pihak; rekan kerja, atasan, bawahan, teman, keluarga, dan sebagainya menuntut hal yang sama diwaktu yang sama pula : ijab atas komitmen.
Kalimat ini memang memiliki banyak jebakan. Seorang rekan mengatakan “siap itu tidak akan pernah datang dengan sendirinya. kesiapan itu ada karena dicari dan diupayakan”.
Saya setuju dengan point diatas. So, tulisan tentang ijab ini bukan penolakan, anti, atau upaya pembenaran. tidak, sama sekali tidak. apapun tetap hasil akhir ada pada pemahaman kita masing masing.
Semoga keinginan untuk tetap berkesadaran dan kesiapan untuk bertanggungjawab tetap terus terjaga…
Popularity: 8% [?]
arek e gurung kate di ijabi wong liyo iku kan do?
hehehehe… eling yoh.. opo tak eling-eling..?
ngomong sopo kie?
awakmu tha?
kalo baca tulisan elo berarti orang kumpul kebo itu SAH do. gak perlu ijab. gak perlu 2 kalimat syahadat. cukup kesadaran dari diri sendiri. Kekeke, so elo mau kumpul kebo sama sapa?
ama elu dud…
yuk yuk..
nih tulisan org yg kseringan ditipu yaaa….
hihihihi….
tau aje..
makanya bay
ternyata niat baik saja tidak cukup
Terlempar kemari oleh link dari dudi!
Hmm.. menurut saya IJAB itu hanya sekali, Insya Allah. Dan kita harus menjaga apa yang harus di-ijab kan..
Halah.. jadi teringet sert-IJAB. Dikantor lagi musim “serah terima jabatan”, beda yah?
thank for visit abe…
as i said, saya bukan anti ijab. justru ijab itu wajib hukumnya. hanya ingin mawas diri agar tidak terjebak menjadikan ijab sebagai dasar, tapi mau menggali hal mendasar tentang ijab itu sendiri. anggep aja lg introspeksi diri om :p