Happy Valentine!
Kebanyakan orang kemaren merayakan hari valentine. Hari kasih sayang. Saya tidak ingin berdebat soal itu. Cuma ingin berbagi satu sudut pandang tentang cinta, kasih, dan sayang.
Sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah berdikusi dengan seorang sahabat, di malang. Seperti biasa, diskusi topik-topik yang ngga normal. Saat itu, ada kegundahan luar biasa yang menghantui saya, (biasa, apalagi kalo bukan wanita. haduh! *mumet set mode on). tengah mencoba melewati salah satu fasa gelap dalam hidup saya. Dan sepertinya teman saya mulai lelah untuk menyadarkan saya dari tidur panjang. Setelah mendengarkan sampah dari mulut saya, dia memilih untuk mendengarkan saja. Diakhir diskusi, dia memberikan pertanyaan aneh :
“do, aku punya pertanyaan yang kalau kamu bisa menemukan jawabannya, maka kau akan menemukan jawaban atas pertanyaan panjang yang selalu kau diskusikan dengan ku”
“paan?”
“kalau kau diminta memilih, diminta oleh Tuhan yang kau yakini saat ini untuk memilih siapa yang kau relakan untuk mati terlebih dahulu : anak, istri atau perempuan yang kau cintai, kedua orang tuamu lalu kedua mertuamu?”
Aku tertegun. Benar-benar pertanyaan aneh. Personally, aku tidak ingin jawab. Sebuah pertanyaan bodoh buat saya. Karena harus menjawab, spontan jaya bilang
”gw aja deh yang mati duluan. Boleh ngga?”
(sekarang kl inget statement itu, saya cuma bisa malu :p)
Temanku tertawa. Sambil bersiap2 pulang dia ngomong
” itu jawaban paling pengecut yang pernah tak denger.”
Sambil masang sendal, dia ngomong lagi
” kalo kamu bisa jawab pertanyaan ini, masalah lu ntar kejawab sendiri”
Dan dia ngeloyor pergi..
Pasca diskusi itu saya mencoba memahami. Dan yah, harus saya akui statement dia benar. Jawaban saya adalah jawaban paling pengecut. Kesannya aja heroik. Saya baru sadar, betapa bodohnya saya. Lha kalo saya mati, siapa yang ngasih menafkahi anak istri saya? Lalu siapa yang akan mengurusi hari tua orang tua saya?
2 minggu pasca diskusi itu kita nongkrong lagi. Biasa, ngopi2 tengah malem. Lalu diskusi kembali mengarah ke topik ini
” Pren, soal yang kemaren. Aku punya jawaban baru”
”Apa itu?”
”Tergantung situasi terus terang”
”ketika gw masih jadi anak, maka orang yang paling gw cintai adalah orang tua gw. So, orang yang gw harapkan dipanggil oleh Tuhan adalah beliau. Bagaimanapun juga waktu yang akan gw habiskan untuk membahagiakan mereka tetap tidak akan seimbang dengan kasih sayang yang sudah mereka kasih buat gw. Begitu pula ketika gw udah punya istri. Maka orang yang paling gw cintai adalah istri gw. Lagi pula, secara tanggungjawab, ketika gw sudah menikah, dia lah yang jadi tanggungjawab gw untuk gw hidupi. Dan ketika gw udah punya anak, maka orang yang paling gw cintai adalah anak gw. Selain dia memang tanggungjawab gw, dia punya ”umur” yang lebih panjang secara default. Toh ketika gw punya anak gw sudah menjalani hidup ini bertahun-tahun. Waktunya anak gw untuk menjalani hidupnya dibawah bimbingan gw”
Temen saya senyum. Dari senyumnya saya bisa tau kalau bukan jawaban itu yang paling tepat. Tapi itulah pemahaman saya sampai detik itu.
”yah, jawaban standard manusia pada umumnya. gak apa apa sih do. Tapi terus terang, pemahaman itulah yang membuat dirimu terjebak dengan masalahmu saat ini”
Lama saya mencoba memahaminya, tapi tetap belum menemukan jawabannya. Life still go on. Dan saya kembali sibuk berdunia dan melupakan pembicaraan itu. Sampai pada suatu waktu (saya sudah dijakarta sejak 2 tahunan yang lalu), sekitar 6 bulan setelah permbicaraan terakhir saya dengan sang sahabat, saya berkunjung ke malang, untuk mengurusi ijasah saya (yang sampai saat ini tetap belum saya miliki) sekaligus mengurusi pasport (siapa tau ada kesempatan jalan jalan
). Salah seorang rekan kerja saya dulu (saya selalu memanggilnya ”om”) mengundang saya berkunjung ke rumahnya. Persis malam terakhir saya di Malang, saya berkunjung.
Kita berdiskusi banyak hal. Lalu saya bercerita tentang diskusi saya dengan sang sahabat. Kebetulan, mantan rekan kerja saya ini buat saya salah satu guru saya. Seorang yang memang matang tidak saja secara umur, tapi juga pemahaman.
”mau tau jawabannya?” kata dia
”ya, tentu saja. Saya sudah menghabiskan 6 bulan lebih dan belum menemukan jawaban yang pas”
”masih ingat cerita soal nabi ibrahim?. Masih inget sejarah tentang peristiwa qurban?”
”rada-rada sih om. kayaknya masih. Kenapa?”
”itulah jawabannya…”
Saya terdiam. Lamat-lamat saya mendapatkan sketsa tertentu. Tapi masih dalam bentuk siluet. Belum jelas betul. Saya membiarkan seluruh organ berfikir saya : otak, hati, nurani, indera, bekerja dengan sendirinya. Melihat saya masih belum bicara, sang teman melanjutkan sendiri omongannya
”do, lu bilang tentang kecintaanku. Nah, justru, siapa yang paling elu cintai, dialah yang harus lu iklasin untuk pergi menghadap sang ilahi”
Hati saya tergetar. Gamang rasanya. Saya mulai mengakui kebenaran itu tapi sisi manusia saya belum mampu menerimanya dengan baik. Ada penolakan untuk membenarkan. Tanpa berusaha memberikan saya waktu untuk menerima ucapannya, dia meneruskan
”karena kecintaan kita kepada mahkluk, dan apapun itu di buka bumi ini : orang tua, istri, anak, harta, kekayaan, dan apapun itu, akan menyebabkan kecintaan kita kepada Tuhan menjadi pupus. Hanya Dia lah yang layak kita cintai sepenuh hati…”
Sampai hari ini, saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menolak kebenaran itu, meskipun sepertinya sampai detik ini saya belum mampu menjalankannya, dan masih ada kemanusiaan (baca : ke-aku-an saya) yang belum menerima utuh. Maaf ya Tuhan. Im still try to loving You
jadi inget omongan beberapa teman :
“Tuhan itu pencemburu do”
“kesalahan Tuhan yang terbesar atas kecintaanku pada-Nya adalah menciptakan makhluk bernama perempuan…”
“Tuhaaaaaannn tuhan” (sambil geleng-geleng)
“piss…
Happy Valentine Tuhan…
maafin gue ya belum bisa mencintai-Mu sepenuh hati..
Popularity: 5% [?]
Happy valentine juga do, gw maafin kok lu :p
Kesalahan Tuhan terbesar yang kedua adalah menciptakan makhluk yang bernama wanita…
Kesalahan Tuhan terbesar yang pertama adalah…. mau tau? ah kayaknya lu dah tau n sadar diri kok kekeke
Selamat hari bersayang-sayangan bro, always play safe plz! (sponsored by: fiesta rasa dodol, sutra rasa kapas dan durexin untuk dibawah umur)
thank pe…wes dimaafkan…
gue pernah diskusi ini juga dengan temen. hasil diskusi gila itu :
rasa, logika dan cinta muaranya akan menuju ke satu titik yaitu keyakinan tentang Tuhan. medianya bisa beda-beda, ada yang karena wanita, ada yang karena musibah, ada yang karena lagi happy. depends on situation.
*halah.. halah.. ngomong opo ae seh aku iki*
To dudi : tak pikir yen awakmu apapun itu muaranya ke selangkangan hahaha enak yo dud? halah…
dudi ternyata bisa serius juga
dan tape tetap seperti tape yang gw kenal
wakakkakaka