naga bonar (jadi) 2 : FULLY RECOMMENDED!
week end kemaren gw ngga sengaja nonton. awalnya sih ngga niat, tapi lewat sih. sempet ragu karena eforia perfileman indonesia yang terkadang disatu sisi bikin orang terpacu untuk bikin film asal, karena masyarakat lagi demen. sempet bingung mo nonton bean holiday apa nagabonar2. tapi inget2 pilm ini jaman gw SD dulu akhirnya gw nonton juga.
kesimpulan? TE O PE BE GE TE!setelah daun di atas bantal dan rindu kami padamu-nya garin, lalu kiamat sudah dekat, baru ini lagi ada film indonesia yang mampu membuat hati dan fikir gw tergetar (hallah hihih). bukannya yang laen pada jelek. gw suka pas nonton film JOMBLO (ini keren nih :p) arisan, janji joni, heart, or AADC etc. tapi tetep aja beda dengan 3 film yang gw tulis diawal.
tapi serius. ini pilm keren. jelas, denger nama naga bonar pasti identik dengan komedi. tapi film ini juga sarat dengan pesan moral (untuk sutradaranya benar2 mampu merangkai pesan2 modalnya dengan baik, kl ngga bisa jadi ky sinetron2 keagamaan kita, yang relatif mirip pilm bokep, dimana cerita hanya seperti penyambung pesan moral yang satu ke pesan moral berikutnya, sehingga ngga jelas alur ceritanya..), sangat menghibur, tak lupa dilengkapi dengan cerita tentang kasih, cinta dan sayang, tanpa adegan cium2an yang sekarang seperti udah mulai jadi bumbu wajib perfileman kita (gw mah ngga anti. aslinya demen kekekke.. tapi buat gw nonton pilm ya pilem, dimana dia harus punya karakter dan mampu membius kita untuk selalu memasang indera kita selama film itu diputar. yang 1 hal penting lainnya : ada “value” yang bisa gw bawa pulang mampu membuat gw tercenung ketika meninggalkan bioskop ). film ini seharusnya memukul rasa orang yang menontonnya yang menyadarkan kita tentang patriotisme, nasionalisme, kasih dan sayang yang sesungguhnya.
cuma, buat gw tokoh utama di film ini tetap dedi “naga bonar” mizwar, bukan si tora sudiro. sori tora, honestly gw kudu ngomong kl tora masih harus belajar banyak dari rekan maennya (hihihi, sok deket deh gw :p). yang laen (wulan guritno, darius, uli etc) terlihat “jauh”. wulan ok, tapi mungkin karena karakter perannya ngga terlalu sulit buat gw. justru malah karakter umar, si supir bajaj yang lumayan keren. bukannya tora, darius etc ngga berperan keren. tapi kelihatan banget “kebanting”nya sama bang dedi mizwar. kelihatan jam terbang emang ngga bohong
film ini benar2 menghibur, sarat pesan yang ngga norak, dan yang hebat dia bisa bikin penonton antara ketawa dan terpukul, ngakak dan ingin menangis dalam waktu singkat.
finally, film ini sangat layak tonton. layak dapat piala citra. dan yang jelas, bang dedi mizwar benar2 classy. kl sampe ngga masuk kategori aktor terbaik mah kebangetan jurinya. he just like sean connery (idola gw selain robert de niro, al pacino dan tom hank) indonesia for me :p
semoga bang dedi, bang garin, melahirnya dedi mizwar - dedi mizwar dan garin - garin baru di dunia perfileman indonesia. semoga sineas sineas baru kayak nia dinata, mas hanung,
kesimpulan? this movie FULLY RECOMMENDED !
Popularity: 5% [?]
gue setuju 100% ga kurang sama sekali.. apa yang ditulis sang penulis benar benar sesuai dengan apa yang gue lait n rasakan…. aplouse buat filem NBJ2
keren TE OP PE banget jarang film indonesia yang mampu bicara seperti film NBJ2 ini …
ini baru film berkualitas
pantas mendapat sandang juara
semoga ada yang bisa menyampaikan pesan moran bahkan lebih dari NBJ2 ini…
Yg baru (Nagabonar Jadi 2) masih belom sempat nonton. Tapi aku percaya karya2 Dedy Mizwar selalu layak tonton. Jadi kangen nonton film Nagabonar (1) lagi. Ada yg punya VCD-nya? Bagi dong…
bee : nah… sama aja. kl ketemu bilang2 gw yak, cd nagabonar1. tolong di burningin hihihi
abub : setubuh ama komentar bro abub
anyway, thank for visiting 
@edo: ya udah, cepet2-an nyari kalo gitu. yg dapet duluan, harus burningin. deal?
deal!
di intense audio peunayong ada tuh… ada nyang mo nitip??? :-”
MAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU……
yang pertama kan?
wah pul, lu kl ngga beliin durhaka lu ma gw :p
wis tak titipin ke indah & pak tengik
minta sendiri yak
meski top, tapi masih ada keanehan di nagabonar 2, hehehe..
hehehe.. gpp lagi bos. namanya film ya ngga ada yang 100% real. wong film kok :p lagian toh ada perspektif yang bermain
yang penting inside dari sebuah film
Setuju!
)
Nagabonar 2 top abis! (komentarnya pendek karena udah nulis review habis-habisan di blog
waks kok ketulis dua kali (tiga kali sama ini).. diapusin deh om yang dobel2, rada eror nih browsernya. sori ngrepotin :p
heheheh.. you fidz. sante aja. btw, thank to visiting me :p
Betul bet………….
jiwa Nasionalais dan cinta keluarga bener-bener ditampilin, terlebih dimasa sekarang jiwa Nasionalis kita yng bener-bener dah luntur…..
Bagi yang cinta bangsa, wajib nonton!!
bet? sapa tuh bet? hehehhe
Ed, udah dapet Nagabonar(1)-nya? Durhaka loe kalo gak forward ke gw!
hehehe… ada di bininya hengkie tuh
blon sampe ke ane
bos… ikutan dong pengen nagabonar ke 1.
kasih kabar yah…! Thanx.
Banyak orang Batak yang sangat senang film Naga Bonar ditayangkan bioskop 21 di seluruh Indonesia tahun ini. Banyak yang mengatakan film itu mengingatkan orang akan sentimen dan nostalgia ke-Batak-an Indonesia. Banyak yang senang karena akhirnya kalimat: “pamanmu si Bujang sudah kularang bertempur. Bertempur pulak lagi dia. Matilah dia sekarang dimakan cacing!”. Banyak juga yang senang karena akhirnya melihat Tora Sudiro main film dengan—the legend—Dedy Mizwar setelah sekian lama hanya muncul di sinetron. Bagi saya sendiri semuanya itu campur dari satu. Tiga-tiganya adalah alasan saya. Antusiasme yang muncul seminggu setelah film itu keluar, langsung membuncah. Sehari setelah rombongan Pak Yusuf Kalla menontonnya massal di bioskop di Jakarta, saya dan teman-teman sekantor sigap berencana menontonya besok harinya.
Sepanjang minggu setelah film itu saya tonton, di dalam komunitas Batak banyak diskusi sebagai bentuk apresiasi film dan seni. Karena ini film sangat laris dan pasti banyak yang nonton. Orang Batak merasa ada hal janggal yang harus dijelaskan. Sebagai orang Batak, saya sendiri banyak pertanyaan di dalam hati tentang setting budaya yang dipakai Bang Mizwar dalam filmnya ini. Perdebatan tentang film ini saya pikir sangat baik untuk menumbuhkan apresiasi seni dan kritik sosial masyarakat kita. Mulai dari mereka yang membicarakan film ini melalui mailing-list sampai di sekolahan, kantor, sampai di warung jajan pun akan ramai kita temukan di Kota Medan saat ini.
Film dimulai dengan adegan Dedy (atau Dedi, saya kurang jelas. Mohon maaf kalau salah) Mizwar menangis meminta izin di depan makam istrinya, ibunya, dan si Bujang tadi. Bagi masyarakat Batak, nama “Bujang” tidak akan diberikan kepada anak siapa pun. Apalagi laki-laki. Sehingga banyak yang merasa nama ini adalah penghinaan terhadap orang Batak, karena arti dari kata itu sangat kasar. Saya sendiri tak sanggup menulisnya disini. Kata itu hanya dipakai untuk penghinaan tingkat tinggi kepada manusia. Nilai ke-kasarannya sama dengan menyebut “mati Kau!”. Mungkin saja si Bujang bukanlah Sumatera Utara atau lahir di Sumatera Utara, apalagi lahir di tanah Batak. Premis saya, mungkin dia orang Melayu (non Sumatera Utara), atau Padang, atau Aceh. Karena semua orang di Sumatera Utara dari etnis manapun tidak akan lupa atau pura-pura lupa apa arti kata itu. Dengan demikian, diragukan Naga Bonar adalah benar orang Batak karena dia harusnya tahu betul kata ‘bujang’ itu artinya tidak sopan.
Film terus berjalan dan di tengah jalan saya baru sadar bahwa cara mengucapkan kata atau bahasa Inggrisnya “pronounciation” dari semua tokoh Batak di film ini sangat janggal. Semua kata atau hampir semuanya diucapkan/dilafalkan dengan ke-Batak-Batak-an. Penekanan berlebihan pada huruf “a”, “e”, “o”, dan nada bicara. Kalau Anda pernah ke Medan, pasti tahu bahwa orang Medan tidak separah itu mengucapkan hampir semua huruf vokal, dan setinggi itu dalam pelafalan kata tertentu. Menarik sekali.
Di tengah film, ada kata yang lucu sekali diucapkan Naga Bonar dan Bonaga yakni: “BENGAK!”. Bagi orang Batak asli dan lahir di luar kota Medan, “bengak” sepertinya tidak ada artinya. Tetapi bagi orang Medan yang umurnya 20-40 tahun saat ini, mungkin tahu apa artinya. Kata itu jarang diketahui orang yang lahir zaman tahun 2000-an dan tidak akan diketahun artinya bagi orang di luar kota Medan. Kata itu “asli” milik orang Medan. Artinya hampir sama dengan “bloon, goblok, dungu” . Kalau kata itu diucapkan oleh mereka yang umurnya 50 tahun ke atas terdengar sangat menghina dan merendahkan, tetapi oleh Tora, terdengar sangat lucu dan menggelikan.
Terakhir, nama Naga Bonar sendiri. Di tengah masyarakat Batak, marga “Naga” adalah singkatan bagi Sinaga, yakni marga saya sendiri. Tetapi marga “Bonar” dibelakang “Naga”, tidak dikenal sama sekali. Yang ada hanya satu di bumi, yakni: Sinaga Bonor. Dan sekali lagi, itulah marga saya sepenuhnya. Nah, apakah Naga Bonar sebenarnya berarti Sinaga Bonor, atau sebenarnya plesetan dari Bonar Sinaga? Kita tidak tahu. Nah, kalau memang abang Mizwar memang sebenarnya ingin menyebutkan Sinaga Bonor seperti yang lazimnya, maka saya mengucapkan selamat datang dalam keluarga Sinaga Bonar! Sama nya kita ternyata!! (dengan logat Batak).
wah.. senangnya ada orang asli sumatera utara sana yang memberikan perspektif baru soal film naga bonar..
), bujang adalah panggilan untuk anak laki2, layaknya panggilan ucok (cmiiw) bagi orang batak. jadi *mungkin* bujang disini tidak mengacu pada bahasa batak, tapi untuk orang minang.
anyway, kl dalam pendapat sayah, kita tetap harus mengacu pada kondisi bahwa its just a movie, not a documentary movie. so, memang tidak ada kewajiban untuk melakukan penelaahan yang dalam tentang hal-hal yang terkait dengan itu. tapi memang akan lebih bijak jika melibatkan seorang ahli yang memang mengerti atas cerita yang akan diangkat (Dalam hal ini tentang masyarakat batak).
ini sama hal nya tentang indro warkop yang sering menggunakan logat batak dalam film warkop, toh saya yakin beliau juga sering kepeleset (tapi setau saya, toh akhirnya indro diberi penghargaan oleh masyarakat batak, cmiiw). apakah seorang dedi mizwar justru layak di protes, atau justru dihargai oleh masyarakat batak, ya itu kembali kepada penilaian masing2.
tentang tokoh bujang, seinget saya (dalam naga bonar 1 banyak dijelaskan historynya) dia aslinya adalah orang padang/orang minang yang berteman dengan naga bonar. dan disumatera barat (kebetulan saya asli minang
lainnya, no comment, abis ngga ngerti kekekke
thank for visiting and buat penjelasannnya yang panjang lebar
Bujang dalam filem tersebut, dikatakan berasal dari padang panjang, sumatera barat.
Jadi wajarlah, si naga bonar memanggil nama sebutan Bujang. Kalau di minang, panggilan bujang itu, untuk memanggil nama seorang yang laki-laki muda belum berkeluarga. Dalam bahasa dan budaya batak tentu saja memeliki makna yang berbeda.
Salam hangat,