psikologi kematian
setelah lama ngga jalan-jalan ke toko buku, kemaren iseng jalan-jalan. ada 3 buku yang gw beli kali ini. genius marketing-nya peter fisk, buku mastro bisnis warrent buffett yang ditulis robert heller dan psikologi kematian yang ditulis sama komaruddin hidayat.
kata-kata psikologi kematian pertama kali saya denger dari kakanda tercinta, adriano rusfi, seorang konsultan SDM. he’s one of my mentor in life. waktu itu topiknya kita lagi bicara menyikapi bencana yang beruntun menghampiri bangsa ini.
ceritanya berawal waktu gempa di sumatera barat beberapa waktu lalu. persis waktu gempa saya ada di bandara, dan emang lagi mau pulang kampung. gara-gara gempa tersebut, saya tertunda 3 jam karena bandara minang kabau tidak bisa didarati. selama 3 jam tersebut banyak orang menelepon. mungkin karena beberapa orang menganggap saya tau sesuatu, karena aktifitas saya di Yayasan AirPutih emang ngga jauh-jauh dari urusan bencana. semua bercerita tentang efek kerusakan yang dahsyat, dan ketakutan akan hadirnya gempa susulan.
singkat cerita sore mendekati malam saya sampai juga dirumah, bukittinggi. didepan rumah sudah ada terpal, dan banyak orang tiduran disana. ternyata lagi pada ketakutan ama gempa. persis seperti yang saya lihat sepanjang jalan dari padang ke bukittinggi. malamnya, saya berdikusi sampai pagi dengan keluarga. semua orang tidur di luar. takut. kita diskusi di ruang tengah. bukannya sok jago atau ngga takut. tapi ada beberapa alasan kenapa kita tetap didalam rumah. dari jam 11 malem - 6 pagi, ada 5 kali gempa besar yang saya rasakan. mungkin karena waktu di aceh dulu agak terbiasa, saya udah ngga terlalu kaget sama goyangannya.
esok hari saya menyempatkan diri berkeliling mencari informasi. malemnya juga sih. sekalian melaporkannya ke portal bencana www.mediacenter.or.id yang dikelola teman-teman yayasan. beberapa fenomena selama dikampung saya lihat, dan saya menjadi miris.
gempa tersebut memang cukup besar. tapi tidak merusak seluruh daerah. rumah saya sendiri dan seputarnya baik-baik saja. beberapa daerah seperti solok, padang panjang, tanah datar dan daerah sekitar ngarai sianok di kab. agam rusak parah. tapi seperti halnya di daerah bencana lainnya : Aceh, Jogja, pangandaran etc, meminjam istilah kakak saya, ada yang lebih panjang dari bencana yang menghampiri bangsa ini, yaitu dramatisasi bencana. semua orang merasa sebagai korban. aktifitas ekonomi lumpuh, meski toko mereka baik-baik saja. setiap ada telepon dari rantau, tidak ada yang memberikan optimisme dan berita positif, semua bercerita tentang kesedihan, kehancuran, etc. yang lebih konyol lagi, malam-nya penduduk desa mengadakan rapat darurat, ingin memecat pak RT, karena pak RT tidak dapat mengusahakan bantuan (beras etc) untuk masyarakat di sekitar rumah saya.
sungguh, saya trenyuh. mereka sebenarnya malu mengaku sebagai korban. wong rumah mereka baik-baik saja. toko mereka masih aman-aman saja. mereka harusnya ikut mengeluarkan sedikit kocek mereka untuk daerah yang benar-benar hancur, seperti daerah koto gadang yang berada di pinggir ngarai sianok yang hancur berat. benar diskusi-diskusi yang sering kami lakukan di yayasan. akan hadir masalah yang lebih berat daripada masalah infrastruktur di daerah bencana, yaitu membangun mentalitas dan psikologi masyarakat.
sedihnya lagi, tidak sedikit yang take opportunity dalam situasi seperti itu. lagi-lagi orang-orang di kampung menelepon saya apa benar akan ada gempa yang besarnya 2 kali lebih besar. saya tertawa. 2 kali lebih besar? itu artinya 13.9 skala richter! gila aja. tapi ya ada aja yang nyebar isu, lalu datang layaknya sinterclass ke kampung-kampung, belagak membantu masyarakat, membeli aset seperti sapi dengan harga gak masuk akal (masa sapi dijual 500rb-1jt?) karena penduduk ketakutan dan pengen pergi meninggalkan rumah.
balik ke topik psikologi kematian, disinilah saya mendengar sebuah statement yang cukup unik. awalnya sih sebel, karena selalu ketika saya pulang, hal yang jadi agenda saya adalah makan-makan hehehe.. dan waktu itu ngga ada yang buka!. padahal sudah 3 hari pasca gempa.
bencana adalah bentuk kecil dari kematian. dan kecenderungannya, ketika kita terkena bencana, kita cenderung semakin tidak produktif. padahal, seharusnya, semakin dekat kita kepada kematian, maka seharusnya makin progresif kita berusaha.
pertama kali saya mendengar statement ini saya sih sedikit komplain. setau saya, Tuhan pernah bilang bahwa beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati esok, dan bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya. tapi saya jadi malu sendiri. itu kan jika saya memandang ibadah secara sempit. ibadah bukan cuma aktifitas seperti sholat, membaca alquran etc. bekerja, juga ibadah, selama kita meniatkannya untuk Nya. waktu itulah kakak saya bicara soal psikologi kematian. bahwa hakekatnya, semakin waktu bertambah usia kita, semakin mendekati kematian, seharusnya hidup kita semakin progresif, semakin agresif, untuk mengisi pundi-pundi kita baik didunia maupun di akhirat
dan sekarang buku ini sudah saya miliki. saya yakin isinya lebih dapat daripada itu ![]()
Popularity: 4% [?]
Waduh benar seali bung Edo… seharusnya memang setiap bencana (besar/kecil) adalah trigger (pemicu) kata bang Ersis. Di sini menurut bung Edo adalah sebagai patokan untuk memacu produktivitas bergelayut. Sebab dalam konsep njnenengan karya dunia + akhirat = jangansekarat.
sipp!
#kurt : hehehe.. mungkin juga perlu dilihat historis kenapa tulisan ini turun kang kartubi. latar belakangnya adalah bencana. itu yang menyedihkan. seperti yagn saya tulis, selama kita menjalankan peran muammalah, di dunia, maka terhadap situasi apapun, kita seharusnya berfikir bahwa kita akan hidup selamanya, untuk berkarya tentunya. tapi ketika sholat, fikirkanlah bahwa kita akan mati esok. dengan begitu saya fikir akan balance lah hidup kita :). cuma pendapat lo kang hehehhe
btw, bang ersis teh siapa?