berdamai dengan diri sendiri
‘many people suffer all their lives because they do not accept and come to terms with the feelings of anger, frustration, resentment, fear, despair…which they experience‘.
ini adalah sebuah statement dari Iris Barrow dalam Make Peace With Yourself, yang saya kutip dari tulisan Gede Prama disebuah blog. qoute ini sangat menarik, karena fenomena ini ngga sedikit saya temui disekeliling saya, terutama dalam kisah percintaan
dalam bahasa yang lain, sering ingin tak sesuai dengan realita, dan tidak sedikit yang “keukeuh”, “ngeyel”. mungkin dalam perspektif positifnya, saya menganggap, tengah berikhtiar. tapi kadang ada yang kita lupa tentang batasan ikhtiar itu sendiri.
saya jadi inget waktu jatuh cinta dulu (sebelum menjalani ama yang sekarang hehehe). waktu pacaran saja, saya sudah menganggap mereka adalah calon istri buat saya. saya sangat konsisten akan itu. bener-bener hidup saya dedikasikan bagi mereka. istilah lain, udah pake kaca mata kuda :). tapi realitanya, ngga ada yang benar-benar saya nikahi :p
benar, agar usaha kita tidak cukup dengan sekedar usaha. dalam istilah orang arab, usaha itu artinya muammalah (katanya sih berasal dari kata “amal”, yang artinya usaha). sementara umat muslim itu dimintanya berikhtiar. sejauh pemahaman saya, perbedaan muammalah dan ikhtiar ada di kata-kata “Sepenuh hati”. jika muammalah hanya berarti berusaha, maka ikhtiar adalah “berusaha sekuat tenaga, sepenuh hati, semaksimal mungkin”.
namun, ada 1 hal yang berada diluar kekuasaan kita sebagai manusia. makanya, setelah beriktiar, yang diiringi dengan doa, manusia disuruh untuk pasrah. in my opinion, pasrah hanya milik orang yang sudah benar-benar berusaha, orang yang beriktiar, bukan sekedar bermuammalah. dan buat saya, pasrah ada di area hasil.
nah, celakanya, kita sering “kemaruk”, karena ingin hasil juga berada dalam kendali kita. disinilah kadang kita tidak siap untuk pasrah kepada zat yang menciptakan kita. sering saya guyon “kalo mo ngatur sampe ke hasilnya ya jadi Tuhan aja sekalian ehiuehiuehiue”. padahal Dia hanya minta kita tidak mengganggu gugat 4 hal : hidup, mati, rejeki, dan jodoh..
tidak sekali dua kali Tuhan memberikan “pertanda-Nya” pada kita. hampir setiap detik malah. tapi kadang kita tidak mau mendengarkannya. lebih parah lagi, kita justru tidak pernah tau, yang mana yang pertanda, yang mana yang pembenaran diri sendiri
our mind is a wonderful gift. Use it to work for us, not against us. and it will work more powerfull when mind and soul work in the same frequencies…
ya..
buat saya, kata hati saya tidak pernah bohong. saya yang sering membohongi kata hati. dan hidup itu indah jika antara hati dan fikir serta seluruh indera kita bekerja dalam frekuensi yang sama
dan kita baru bisa mendengarkan kata hati, jika kita sudah mengenal diri kita sendiri..
so?
know our self, listen to our heart, used our mind, synchronize heart and mind, never ending endeavor, praying, then let God do Gods job …:)
Popularity: 3% [?]
seperti katamu ..kita tidak pernah merasakan nikmatnya sehat sebelum sakit ….
dan kita tidak pernah tau bagaimana pasrah kalau kamu belum pernah berhenti pada saat kamu sedang melaju maksimal. karena pada dasarnya materi itu melakukan kecenderungan …
E = mv2 + mv2
Naik mobil terus ngelempar apapun tegak lurus 90 derajat pasti barang yang dilempar akan membentuk sudut tidak 90 derajat tetapi diantara 0 - 90 derajat … kekekekeke
Saat melaju kecenderungan adalah maju. kalau dipaksa berhenti pasti akan menimbulkan energi tinggi. Pada saat berhenti ..maka kecenderungannya adalah berhenti … dan untuk memulai melaju …uaangell … dan puasti memerlukan mind set + energi + soul yang sempurna .. :D..
opo aee sehh nguss nguss kok nulis di blog e orang kekekeke
heheheh….
setubuh gus. e memang sama dengan mv2. dan hukum kelembamam memang berlaku. pasrah sendiri memang harus disadari akan timbul jika sudah maksimal.
tapi
ada kalimat mendasar seperti yang lu bilang, yaitu MAKSIMAL. i mention it di poin muammalah dan ikhtiar. masalahe, wes ngetokno maksimal tha? (gw lebih seneng pake kalimat optimal sih…).
otherwise, antara ikhtiar dan ngueyel itu 2 hal yang berbeda menurut gw :p. orang yang memanfaatkan energinya dengan maksimal (atau orang bisa memanfaatkan energinya dengan maksimal) jika seluruh potensi dirinya (hati, fikir, seluruh organ tubuh plus doa/pengharapan/dzikir, or gabungan IQ, EQ, dan SQ) berjalan kearah yang sama . nah, sementara ngeyel menurut gw ada yang ngga sinkron antara ketiganya, tapi tetep aja dikerjain huehiuehiue… kesadaran akan sinkronisasi ini yang dibutuhkan, agar mesin bisa bekerja dalam torsi yang maksimum pula.
btw, jadi kepikiran. teori enstain tentang e=mv2 itu berlaku untuk Tuhan ngga ya gus? hihihihi
karena kalo ngga, maka teori ini ngga bisa dipake saklek di diskusi ini. karena salah satu area diskusinya adalah tentang area Dia, untuk memutuskan 4 urusan dalam hidup manusia. jika kita setuju tentang ini, maka teori kekekalan energi jadi bubar :p
Ini kaya’nya masalah yang terlalu sensitif untuk gue comment tanpa ngerti konteksnya, tapi moga2 ini membantu.
Pada benda fisik, energi memang jelas ada inisiasi, momentum, dampak dan perpindahannya. Di jiwa, perpindahan energi itu lebih banyak di reaksi kimia wi garam di selaput luar otak. Maksud gue, lebih banyak masalah mengenai semangat, motivasi, self-awareness dan self-respect ada di persepsi.
Elu lihat aja support dari teman-teman lu banyak gini, jadi nggak ada reason buat elu merasa secluded, Ed.
peace my self. i’ll forgive you. please forgive me!
#benbego : you got it ben