love your enemy

Edo on August 18th, 2007

belakangan ada 2 acara TV yang menjadi tontonan rutin saya. pertama acaranya mario teguh di o-channel dan yang kedua masih di ranah management dan marketing, di jakTV, yang dipandu oleh seorang tokoh marketing indonesia. dengan pendekatan yang berbeda, hermawan kertajaya. 2 pakar management ini telah mengajari saya banyak hal.

tapi ada yang mengganjal saya di salah satu acara ini. layaknya acara talkshow, setiap acara menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu. beberapa diantaranya yang cukup menempel di ingatan saya adalah hadirnya country manager managing director cisco indonesia, uda irfan yang kalau tidak salah waktu itu bicara tentang teknologi yang humanis dan based on community, serta konsep marketing cisco, dan ade ray (kapan-kapan saya pengen nulis tentang hal-hal menarik di kedua tokoh ini). biasanya, sebuah acara dipandu oleh host yang lebih kepada bagaimana mengarahkan diskusi. tapi 2 acara ini kan beda. yang memandu adalah seorang tokoh management itu sendiri. disatu sisi, IMHO, yang namanya nara sumber ya orang yang dianggap berkompeten dibidangnya. seseorang yang *jika meminjam istilah salah seorang pakar komunikas kita* “quotable”. dan buat saya sih yang hadir sebagai nara sumber cukup quotable. mereka competen dan profesional dibidangnya. meskipun pada prinsipnya, saya termasuk orang yang berprinsip, “dalam sebuah diskusi, maka tidak ada yang lebih pintar atau lebih tinggi. semua sejajar. kl ada yang ditinggikan, itu namanya bukan diskusi, tapi seminar” huiehiuehiue. but thats ok. toh bangsa ini masih sangat menjunjung tinggi ketokohan (jadi inget iklan a-mind : “yang muda ngga dipercaya” kekekkeke).
nah, yang mengganjal saya adalah, saya tidak melihat nara sumber berada dalam posisi “nara sumber”. yang saya lihat adalah, si pakar management dan marketing tersebut hanya memposisikan sang nara sumber yang berasal dari berbagai bidang ilmu tersebut sebagai “bahan bedah”. sang pakar cenderung “mengarahkan” si nara sumber, yang ujung-ujungnya dia menjelaskan teori/postulat marketing yang sudah menjadi “trade mark” nya tentang marketing, sebuah konsep marketing yang (mungkin) dia ciptakan, yang sering disebut dengan istilah 4C (Company, Customer, Competitor and Change).

ngga salah juga sih sebenarnya. toh beliau memang ahli, seorang pakar. to be honest saya sendiri cukup mengagumi beliau dan banyak membaca tulisan-tulisannya. tapi saya tidak bisa menutupi perasaan “kurang nyaman” atas caranya. buat saya, dia akan jauh lebih “classy” jika sedikit bisa memberikan penghargaan dan porsi bagi para nara sumbernya.

jadi inget petuah seorang guru, tentang “merawat” musuh. sebuah kalimat yang sebelumnya pernah saya “lihat” ketika jatuh cinta sama figure don corleone di film god fathers.

“love your enemy”…

kapitalisme itu akan mati oleh kapitalisme itu sendiri…
dan sadar atau tidak, terkadang seorang ahli berpotensi jatuh oleh keahliannya sendiri

disinilah pentingnya merawat “musuh”. pengertian musuh ini bukan berarti musuh beneran :). yang dimaksud disini adalah orang-orang yang berbeda jalur dengan kita, sering berbeda pendapat, menentang pendapat kita, yang melihat dari perspektif lain. agar kita tetap waspada, arif, dan jauh dari rasa sombong. terkadang, kepakaran seseorang, keyakinan bahwa kita telah melihat dunia dari seluruh sudut perspektif, sering membuat kita lupa bahwa kita tetap manusia :). bahkan, keyakinan atas kearifan itu sendiri bisa membuat kita justru menjadi tidak arif, sehingga cenderung menganggap semua perspektif orang lain menjadi tidak tepat…

so, maintain your enemy..

karena indahnya bulan purnama dimalam hari ada karena sebelumnya kita pernah merasakan teriknya matahari

karena kita bisa merasakan nikmatnya sehat karena pernah merasakan sakit

ketika kita dalam sebuah institusi sudah mulai membuang satu persatu orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita, karena kita anggap yang bersangkutan sudah “out of path”, sebenarnya secara alamiah kita sudah menceburkan diri kita kedalam dosa paling besar dari 7 dosa besar (seven sin, tujuh dosa besar yang setau saya ada di katolik) seperti yang pernah saya tonton di film seven (diperankan dengan sangat baik oleh brat pitt), yaitu :

SOMBONG

moga-moga banyak gambar itu selalu mengingatkan saya untuk selalu menjaga hati agar tetap tunduk, dan bersahaja, tanpa lupa mensyukuri kelebihan dan bakat yang telah diberikan-Nya kepada saya..

moga-moga pesen guru saya dulu kepada saya tetap bisa saya jaga ada di hati dan pikiran..

dan moga-moga pesan itu juga didengarkan oleh para guru-guru lainnya..

NB : tulisan ini hanya sebuah opini. tidak ada sedikitpun keinginan untuk melakukan character assassin,..hehehhehe… peace

Popularity: 3% [?]

2 Responses to “love your enemy”

  1. perasaan yang bener itu enemy, bukan anemy. demikian koreksinya. mohon dijadikan periksa :D

  2. wah… siyap pak.. maap.
    pelajaran bahasa inggris bolos aku mbiyen

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>