katanya orang IT
“katanya orang IT”…
kata-kata ini sejak 2 tahun terakhir sering keluar dalam urusan bisnis yang sama dan teman-teman tengah jalani. ya, 4 tahun yang lalu saya dan seorang sahabat, sambil nongkrong di balkom SCS-UPPTI, seraya menyanyikan lagu-lagu patah hati, berkhayal punya usaha sendiri. dan ide ini lalu disambut oleh 2 rekan lain, seorang programmer dan system & networking. Namun setelah hijrah ke jakarta tahun 2004, dan tahun 2005 mendirikan usaha, baru tahun 2006 kita benar-benar memulainya dengan serius. dan sesuai dengan keahlian yang saya dalami sejak tahun 1997.
jalan menuju cita-citapun dimulai. dan ternyata memulai usaha itu ngga gampang hueiheiuhie..dimulai dengan hanya 4 orang, lalu mulai berani merekrut 2 staf untuk back office. dalam perkembangannya, technical yang hanya di handle oleh 3 orang sahabat ini lama-lama mulai kewalahan dan mabok. mulailah kita berfikir, to find a solution. bukannya apa-apa. kita belum cukup mampu menambah rekan kerja dengan alasan klasik : finansial. kita belum cukup confidence untuk hire dedicated partner.
Solution?. beberapa kita selesaikan dengan cara outsourcing. 2 web designer yang masih dalam lingkungan teman-teman sendiri dilibatkan. lalu kita juga menambahkan beberapa siswa magang, baik untuk teknis maupun non teknis. marketer? rata-rata menggunakan teman-teman sendiri, yang sudah cukup mempercayai skill teman-teman. saya, dan ditemani seorang rekan kerja yang melakukan fungsi tersebut. belakangan, pak direktur terpaksa turun tangan karena tidak lagi mampu kia handle berdua :).
nah, terkait tentang outsourcing ini, awalnya baik-baik saja. tapi dalam kondisi dilapangannya, tidak semudah yang kita bayangkan. keterbatasan team yang dedicated di kantor, menyebabkan kita melihat, oursourcing tidak selalu bisa menjadi solusi bagi kita. setelah saya analisa kenapa? saya menemukan beberapa permasalahan
1. business still need face to face communication. tidak bisa dipungkiri, sebagai institusi yang untuk sementara ini memutuskan sebagai tailor made content and services, proses information gathering sangat berpengaruh. ketika client bertambah, client lama harus tetap di maintain, sementara waktu tetap consist. efeknya, dibutuhkan orang-orang teknis yang terlibat dalam komunikasi dengan client, agar mampu melihat sudut pandang si client itu sendiri. Diluar itu, sebagian pengguna layanan IT kita masih mutuh melihat sendiri orang-orang yang membangun system mereka, berapa kekuatan SDMnya, track recordnya,, kredibilitasnya dan lain-lain. Dalam bisnis virtual ini, sesuatu yang real dan terlihat nyata ternyata masih berpengaruh.
2. indonesian culture. kultur kita masih belum mampu membangun trust secara virtual. andaikan ada ya belum banyak lah. secara umum masyarakat indonesia masih terkungkung oleh simbol-simbol. level pendidikan masih sangat digadang-gadangkan (yang penting S2 or S3 dari institusi hebat tertentu. masalah punya track record atau tidak, itu nomor berikutnya ). belanja kl ngga liat barangnya ngga percaya dan ngga puas. lebih memilih percaya pada figur daripada institusinya. saya merasakan betapa tidak gampang meyakinkan orang, bahwa kalau anda percaya saya, anda harus percaya team saya. kalau sudah dengan saya, maunya dengan saya terus. dan beberapa hal lainnya. intinya, kultur kita masih belum kondusif untuk sebuah komunikasi virtual. hal ini juga bisa jadi sebagai efek beberapa pemain IT yang nakal, yang memanfaatkan eforia IT, lalu bikin bisnis, yang memang niatnya cuma untuk menipu orang :(.
3. Rata-rata development belum mengacu pada framework tertentu, sehingga hasil development sangat tergantung kepada “agama” dan “gaya” pemrogramannya sendiri. akibatnya, bukan hal yang gampang untuk dapat mentransform logika pemikirannya kepada orang lain, sehingga ujung-ujungnya, keterlibatan sang developer itu sendiri berpengaruh besar.
4. keterbatasan kualitas SDM. terkait dengan point 3, rata-rata perusahaan kecil masih fokus pada production process, belum dilengkapi dengan dokumentasi (Dan kemampuan mendokumentasi) yang baik. sehingga delivery knowledge, tidak hanya kepada client, tapi kepada bagian technical support atau internal system lainnya juga tidak gampang.
5. proses maintenance adalah faktor penting bagi client yang menjadikan IT sebagai supporting system. sementara disatu sisi, tidak semua client yang butuh IT, terkoneksi dengan internet yang memungkinkan proses maintenance terjadi secara virtual. sehingga dibutuhkan maintenance secara langsung.
6. keterbatasan infrastruktur. Beda dengan infrastruktur di luar negeri yang sudah bagus, sehingga distribusi data besar sangat memungkinkan terjadi sempurna, infrastruktur di Indonesia masih cukup mahal dan terbatas. Ini akan menjadi masalah tersendiri untuk tersedianya environtment development yang virtual.
7. Faktor sosial ; perbedaan pola pikir, kultur, ritme dll di lingkungan masyarakat kita. orang yang tinggal di Jakarta jelas tidak sama dengan masyarakat di aceh misalnya. ini juga berpengaruh kepada pendekatan system yang ingin dikembangkan.
ini hanya beberapa analisa dasar. Tidak bisa dipungkiri, dibutuhkan sebuah capital dan environtment yang tidak sedikit, yang didukung oleh mekanisme institusi usaha profesional yang memungkinkan proses virtual office itu sendiri berjalan dengan baik. Sehingga tidak gampang bagi perusahaan yang baru berkembang untuk menerapkan konsep virtual.
jargon di dunia internet yang menyebutkan bahwa IT dan Internet menembus batas waktu, jarak dan tempat tidak semutlak itu untuk dijalankan. banyak realita yang perlu dipertimbangkan. karena disisi lain, IT menurut saya tidak berada dalam posisi menggantikan, tapi memberikan nilai tambah.
point dari tulisan ini bukan sebuah kondisi menyerah atas realita. bukan juga menolak nvirtual office sebagai sesuatu yang tidak mungkin dilakukan sangat mungkin malah. but saat ini, (tidak dalam tema virtual office saja sebenarnya), idealisme tentang IT perlu diseimbangkan dengan realita yang ada, dan untuk membangun kesadaran bahwa IT juga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata orang-orang IT itu sendiri, tapi justru yang lebih penting dari kacamata market itu sendiri
now, business not drive by the industry anymore, but drive by community…
Popularity: 3% [?]
gw lagi gw lagi …kayaknya tiap hari gw mantengin blog e edo yakk .. hehehe
Kultur … kultur … kultur …. kultur …no comment Do .. “lagi capek” …wakakakakakaka
hihihi..
lha mbuh yo gus
kl gw kan idup ama manusia, di dunia manusia. jadi ya mau ngga mau gw harus memahami dunia gw. dan manusia itu suka bikin aturan dan kesepakatan sndiri yang dinamakan norma, etc, yang akhirnya membentuk kultur secara komunal
kl dunia elu ya ngga tau gw
hihihi
Ini tulisan bagus euy, Mas Edo.
Jadi inget tulisannya Pak Budi (BR) bahwa IT Indonesia, yaa melihatnya selalu ke arah pasar. Terobosan-terobosan baru atau inovasi, selalu ke arah menyenangkan pasar.
Tidak salah.
Tapi jadi salah, ketika di lapangan, gontok-gontokan antar vendor. Perang harga. Bajak-membajak SDM yang baik. Hasilnya, menyebalkan.
Anehnya, ini tidak terjadi di RI saja. Beberapa anak Indonesia yang bergiat di bidang IT, tinggal di luar negeri, juga mengalami hal yang sama.
Beberapa hari lalu, saya ketemu mereka. Untuk membahas dokumentasi project aplikasi web dan virtual office untuk KBRI dan konjen kita di Eropa. Mereka suka sekali. Namun anehnya, ketika saya mengusulkan agar dokumentasi itu dilakukan melalui basis aplikasi wiki, mereka menolak.
Aneh.
Mereka bilang, sebaiknya kalau ketemuan, tatap muka saja. Gila. Itukan ngabisin duit negara doang. Bukankah sudah ada wiki. Ada email. Ada internet. Ada teleconfrence.
Menyedihkan. Hubungan kepercayaannya harus dibangun melalui tatap muka non-virtual. Benar-benar menghabiskan uang negara.
Hasilnya, saya menolak bergabung dan menjalani proyek tersebut. Bukan karena tidak nasionalis. Tapi, karena takut, perut jadi buncit gara-gara makan uang rakyat. Huehehe.
katanya orang it, masak pasrah .. hehehehe
seringkali kita hanya konsen nyari solusi berbasis it unt orang lain (client), padahal kita punya masalah yg sebenernya bisa dipermudah penyelesaiannya dg bantuan it jg
masalah dg dokumentasi ? kebanyakan developer emang males nulis dokumen, cari aja orang yg dedicated buat ngurusin ini. sdm terbatas ? ya bisa diakali dg model kolaborasi. lu mulai aja tulis kerangkanya plus dg mambo jambo kata-kata berbuih, lewati bagian detail teknisnya, nanti biar dilengkapi ama developer (kadang mereka butuh triger). pake alat bantu seperti apa yg dibilang mas bangaiptop, wiki.
pake jg alat bantu unt versioning code macem cvs/svn.
toh alat bantu ini jg bisa dipake unt ngukur kinerja developer (asal lu tau cara makenya), progres project hari ini apa aja ya, developer lu udah ngerjain apa aja, dsb dst (tentunya msh banyak alat bantu lainnya)
infrastruktur unt distribusi data terbatas ? ya jgn nekat maksain donlot file 600M pake link 56kbps, perasaan lebih cepet itu file diburning ke cd trus dikirim pake tiki ons .. hahhahaha
client gak terkoneksi internet ? tancepin aja modem di tempet client, tinggal dicall langsung tu modem dr kantor lu. ato berpartner dg orang disekitar lokasi client, gak perlu hrs bisa ini itu, minimal mereka bisa jd perpanjangan tangan+mata, bisa dipandu lwt telp.
(jelas troubleshoot model gini butuh imajinasi yg lebih tinggi dibandingin kalo ngeliat sendiri barangnya, but it doable)
keterbatasan itu kan anugrah, kita bisa lebih kreatif.
yg pasti, ini lebih gampang ngomong (eh nulis) nya dibandingin ngerjainnya (tapi itu kan masalah elu, bukan masalah gw)
biasanya yg paling berat tu ngubah kebiasaan. kalo biasa coding jebrat jebret sendirian, begitu disuruh pake cvs, ato disuruh kolaborasi dg programmer yg laen, biasanya males. ato kalo biasa coding from the scratch, biasanya jg males kalo disuruh pake model framework or using reusable component, males melajarin code orang, gitu biasanya.
*pensiunan calon programer yg lebih milih jadi gamer*
gw baca komennya dheche ngakak. itu kan masalah elo, bukan masalah gw =)).
btw, che. elo itu programer atau progamer
kayaknya sih karena belum terbiasa che … dan malas membiasakan diri … lagian enakan dengan kebiasaan yang udah biasa dilakukan jadi udah terbiasa …dan juga karena biasanya kecenderungannya adalah yang biasa dilakukan kebiasaannya, dan mencoba menularkan kebiasaan dirinya menjadi kebiasaan orang lain agar sama sama terbiasa melakukan kebiasaan yang biasa dilakukanku secara terbiasa.
mboh lah, kau kan juga manusia biasa yang terbiasa melakukan kegiatan yang biasa biasa saja.
tapi… gw emang rada salut ama seorang dheche yang terbiasa melakukan kerja remote, serasa ruangan server dheche yang berserakan dimana mana di beda kota, serasa ada disamping meja kerjanya.
terjadi kesalahan sekali.. biasa ..karena belum terbiasa .. dua kali pun masih biasa .. karena masih mencoba coba … tiga kali masih dimaklumi kok … empat kali juga gak pa pa kan masih belum sempurna .. lima kali emang kenapa, kan dalam tahap persamaan kebiasaan … enam kali ..tujuh kali .. dan upss pasti lebih baik dari pada kesalahan yang pertama walau masih belum sempurna…
ayo dooo …. kamu bisa :p
–
ps: ngomong emang gampang … apalagi ngomporin … kekekeke
whew..
gw dikunjungi bang aip n om dc euy.. i feel honored. kl agus mah dh biasa hihi
bangaiptop :
“Jadi inget tulisannya Pak Budi (BR) bahwa IT Indonesia, yaa melihatnya selalu ke arah pasar. Terobosan-terobosan baru atau inovasi, selalu ke arah menyenangkan pasar.
Tidak salah.”
saya setuju ama om BR. toh emang industry drive by community. wong mereka yang beli :). masalahnya terkadang, di pasar indonesia yang pemahaman tentang IT (atau knowledge secara lebih umum?) nya secara general masih terbatas, sometimes they dont know why they need something. sometimes we dont want to be transparant, efficient, bla bla bla. even kemauan untuk hidup lebih baik. masih butuh proses edukasi panjang untuk menyadarkan kita hehehhe.. just like what om dc do di diknas. emang sebaiknya disitu pendidikan IT dimulai hiueheiu..
“Menyedihkan. Hubungan kepercayaannya harus dibangun melalui tatap muka non-virtual. Benar-benar menghabiskan uang negara.”
btw, kepercayaan virtual? ama yang keliatan aja susah percaya apalagi yang ngga keliatan heiuheiuiue.. tapi paradox juga sih. katanya orang indonesia mayoritas muslim, yang notabene sesuatu yang dinyatakan sebagai parameter keimanan semuanya ngga keliatan. tapi tetep aja ngga yakin ama yang ngga kaliatan. udah peristiwa standard kl beli sesuatu harus kelihatan. so jangan heran kl di goverment, kl minta dibikinin software tertentu kudu keliatan ama server2nya (yang diliat servernya duang kekek), ngga mau colo karena takut data dan barang ilang, boro2 punya NOC :p.
ngabisin duit negara? wah.. bukannya ini sudah jadi kultur dan identitas bangsa? :p
to om dheche :
“katanya orang it, masak pasrah .. hehehehe”
hehehe… jelas ngga pasrah lah che. paragraf terakhir on mine mention it. anggep aja tulisan ini gw buat sebagai “media membuat “alasan” agar gw n temen2 segera besar, punya capital besar, organisasi yang profesional dan bisa mudah menjalankan konsep virtual dengan lebih baik :p. excuse aja kok che kekekke… pendorong semangadh.
“seringkali kita hanya konsen nyari solusi berbasis it unt orang lain (client), padahal kita punya masalah yg sebenernya bisa dipermudah penyelesaiannya dg bantuan it jg”
dan agree!. orang IT sering koar2 pentingnya IT padahal kadang kita sendiri ngga make hiuehiehie.. *gw cm bisa complain, “rumah” gw yang sering koar2 tentang pentingnya mengelola website dengan baik, harus up to date bla bla bla, websitenya sendiri ngga up to date wakakakka
soal documentasi gw setuju agus. pointnya lebih ke males kok:). sebuah kebiasaan yang sudah membudaya. boro2 dokumentasi, nulis aja udah males.
“keterbatasan itu kan anugrah, kita bisa lebih kreatif.”
kl soal keterbatasan, dari jaman kita2 dulu di UPPTI kan udah terlatih ce heuiheiuuie.. jadi emang dh biasa:p. tinggal gmana agar tetep menjaga agar keterbatasan itu tetap membuat kita kreatif.
anyway, thank for advice broer..
to agus :
elu masih rada salut gus? gw mah salut beneran. kadang gw heran, ini teman kita ini sebenarnya seorang programmer, system and networking, analyst, consultant, seorang technician, or managerial, writer, gamer, or apa yah? dulu gw masih punya dasar buat nyela dengan kejorokan dan jarang mandinya (ups..). lha sekarang udah ada yang ngurusin juga udah mulai beda. kekekkekeke. peace che!
nah gus. lu ngomong panjang2, tapi yang paling bener yang terakhir gus. ngomporin emang paling gampang. wakakakka…
Hallo Edo, kapan ke Malang lagi? Fotomu di website UB belum hilang-hilang tuh…EKO TT gimana kabarnya? Saya saat ini sedang menempuh program doktoral bidang bisnis di Sloan MIT, Cambridge Massachusetts. Beruntung aku dapat beasiswa dengan total 875.000 dollar Amerika.
wheeeeeee…
jalan2 thok ae mas iki rek :p. masa sih masih ada foto gw di UB? hihihi
eko TT ngga pernah kontak lagi euy.. ngga tau dimana anaknya..
anyway, good luck yo sam dengan studynya..
kapan balik ke ind?
Pertengahan 2009. Ada job nggak nih buat jebolan MIT?
# ari : whaaaaaa…. abot reeek… jebolan MIT? Malang Institute of technology? hihihhi guyon cak :p sing genak ae tha, moso master IT dari MIT gawean neng nggon ku :p mending sampeyan nggolekke penggawen kanggo konco2 neng indonesia ae cak, ben IT indonesia bisa dipandang di luar sana. sambil ngajari kene2 standard2 pengembangan IT nya
Nah Lo,dengan kondisi bangsa kita yang sekarang memang outsourcing IT masih dibutuhkan. Namun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun kedepan outsourcing IT ini dapat jauh berkurang