Ramadhan telah usai, syawal datang menjelang. semua orang, terutama umat muslim tentunya bersuka ria. bulan pensucian telah berakhir, idul fitri membawa kita menjadi lembar-lembar kertas yang bersih kembali. bagi yang menjalankan ibadah puasa dengan baik tentunya :)

bersama ini saya juga ingin mengucapkan

“selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin….”

Ada banyak sekali makna mengenai ramadhan dan idul fitri ini. dalam perspektif yang berbeda, saya pernah menulis tentang hal ini (ramadhan). meski terlihat satir, tapi saya memang cenderung terbiasa untuk melakukan introspeksi terhadap sebuah peristiwa. sebuah aktifitas, yang lalu memiliki kecenderungan untuk dilakukan secara berulang-ulang, konsisten, meskipun jelas memiliki value baik untuk melatih konsistensi kita. tapi jebakan batman-nya, juga memiliki kecenderungan untuk kehilangan kedalaman makna dan kepekaan untuk terus menggali makna-makna baru.
Idul fitri memang telah menjadi sebuah budaya bagi kita, sebagai bentuk selebrasi, perayaan setelah 1 bulan puasa. sebenernya agak membingungkan juga sih. katanya ramadhan itu bulan yang sangat baik. tapi kok berpisah dengan bulan yang sangat baik kok kita happy banget yah? kok bukannya malah sedih? seakan-akan ramadhan itu sebuah beban dan sesuatu yang sesegera mungkin ingin ditinggalkan :)
persis H-2 sebelum Idul Fitri, aku berdiskusi dengan kakak-kakakku di kebon jeruk. Beda dengan diriku yang rada-rada ngga jelas, 3 dari 4 kakakku adalah para agamawan :) . sempat aku menceritakan tentang keherananku tentang efek puasa yang justru relatif menurunkan kinerja. Puasa yang katanya kita diminta prihatin, sepertinya hanya jargon. Dalam hal yang paling primitif dan mendasar seperti kebutuhan pangan, paling-paling pengeluaran malah makin besar. Apalagi kebutuhan lainnya. Kakakku yang tertua hanya tersenyum, dan disana aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang Ramadhan dan puasanya.

Hal yang banyak disebut tentang Ramadhan memang hanya Shiyamu Ramadhan, berpuasa di bulan Ramadhan. Sehingga inilah yang sering didengung-dengungkan. Padahal ramadhan juga memiliki nama/makna lain, yaitu Qiyamu Ramadhan, yaitu Menegakkan Ramadhan. Nah, di point menegakkan inilah yang jarang diangkat. Seperti apakah menegakkan puasa itu?

Beliau menjelaskan Ramadhan adalah bulan dimana kita harus MENINGKATKAN SEGALA HAL. mulai dari ibadah dalam pemahaman awam kita selama ini sebagai kegiatan “menyembah” Tuhan, sampai kepada makna sesungguhnya, yaitu menjalankan peran sebagai ummat manusia, menjalankan peran sebagai makhluk Tuhan, Dunia Akhirat. Rasullullah sendiri dikenal selama di bulan Ramadhan seperti Singa di siang hari dan Rahib di malam hari. Hikayatnya, perang-perang di jaman rasulullah sering terjadi di Bulan Ramadhan. Siang beliau berjihad, dan malam beliau “beribadah”, bersujud dihadapan-Nya. Dibulan ini jugalah banyak terjadi peristiwa-peristiwa agung, mulai dari turunnya AlQuran dan sebagainya.

Oh iya. puasa sebenarnya juga sebuah prosesi yang ada di agama lain. Bahkan lebih ekstrim. Karena di agama Islam, puasa ada peristiwa makan sahur, sedangkan di agama lain (katanya.. CMIIW) tidak ada. So, memang tidak ada alasan untuk lemes sebenarnya selama bulan puasa. Wong paginya tetep makan kok :)
Dibulan Ramadhan Tuhan telah menjanjikan pelipatgandaan rewards nya. Dan ini berlaku umum. Tuhan tidak pernah bilang bahwa pelipatgandaan itu hanya berlaku untuk ibadah akhirat, tapi juga termasuk dunia. Saya sempat terfikir malah, asik juga yah jika recruitment dilakukan selama bulan Ramadhan. Artinya saja akan mempekerjakan orang, dan itu akan mendapatkan Reward dari Allah :)

Masuk ke Syawal. Idul Fitri kali ini disambut suka cita. Dan semakin bersuka citalah kita ketika Menteri Agama menyampaikan bahwa liburan di Hari Raya kali ini diperpanjang sampai tanggal 22. Alasannya? Karena kecenderungannya jika ditetapkan seperti sebelumnya, libur sampai tanggal 17, akan ada 2 hari “kejepit” Nasional. Dan biasanya akan banyak orang bolos. So, dari pada bolos, libur diperpanjang saja.

Ini salah satu hal yang unik menurut saya. Syawal sendiri bermakna bulan pembuktian. Ketika di bulan Ramadhan kita diminta meningkatkan segala hal, maka Tuhan meminta pembuktiannya di Bulan Syawal. Bukti bahwa kita telah menjadi lebih baik, lebih suci, lebih produktif.

So? seharusnya justru, libur di Bulan Syawal itu harusnya lebih sedikit. karena kita harus segera membuktikan kepada Tuhan bahwa we got better than. Memang sih, ada pemahaman yang agak berbeda di kita. Dari diskusi saya waktu itu, saya juga baru mengerti bahwa prinsipnya Hari Raya yang besar itu bukan Idul Fitri, tapi Idul Adha. Itulah kenapa, di bulan Syawal, hari yang haram untuk berpuasa hanya 1 hari di hari H saja, sedangkan di Bulan Syawal ditambah 4 hari, yang dikenal dengan Hari Tasyrik. Karena Idul Adha adalah “celebrating day”, hari bersenang-senang. Makanya kalau Idul Fitri kita cuma membayar zakat Fitrah yang dinilai dengan beras, di Idul Adha dinilai dengan potong kambing atau sapi. Dan kalau mau dibanding-bandingkan, Idul Adha terjadi di Bulan Zulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Arab, yang dalam dunia bisnis, akhir tahun adalah masa tutup buku, tutup anggaran. Bulan melakukan evaluasi dan perencanaan untuk tahun berikutnya, yang dilanjutkan dengan perayaan Tahun Baru. Peristiwa ini kita rayakan juga tapi mengikuti hitungan Masehi, bukan hijriah. Lucu juga ternyata kita malah merayakan perhitungan yang sudah ditentukan oleh pihak lain :)

Saya jelas bukan ahli kitab. tapi sedih juga mendengar seorang mentri agama melakukan legitimasi atas budaya ummat yang jelas-jelas salah (kebiasaan bolos kalau hari kejepit) sebagai salah satu dasar memperpanjang liburan, disaat bahkan seharusnya H+1 setelah Idul Fitri kita sudah harus kembali beraktifitas, sebagaimana pembuktian yang diminta oleh Allah. Maka berkuranglah sudah waktu kita untuk menunjukkan ketaatan kita terhadap perintah-Nya…

Btw, jadi ingat tradisi boxing day di Inggris, dimana H+1 kompetisi sepak bola sudah dimulai. Jika mengacu pada realita bahwa itu artinya adalah 1 hari setelah merayakan Natal, jangan-jangan orang Inggris lebih ngerti dari kita yah soal ini? hihihihih *getir….*

Tapi ya sudah lah. Telat sudah untuk dibahas. Lagian, toh ummat relatif hanya mengikuti statement dari orang-orang yang jelas-jelas dianggap lebih memahami daripada kita. At least, hari ini adalah hari pertama bekerja, yang biasanya lagi lagi kita punya alasan untuk tidak penuh bekerja. Kan masih silaturrahmi :) . Sungguh hebat kita melakukan excuse.

But, mari kita isi hari yang tersisa di Bulan Syawal ini dengan melakukan pembuktian kepada Allah, bahwa kita memang telah lebih baik setelah ditempa selama Bulan Ramadhan.

Selamat Bekerja!

2 Responses to “selamat hari raya : mari tingkatkan ikhtiar dibulan Pembuktian (Syawal)!”

  1. Koyone gak pantes lu nulis yang beginian deh do, buktinya gak ada yang kasih koment kecuali koment gw ini kekekeke

  2. #epat : ngono yah? wedhi paling komen :p

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>