keberhasilan dan kesuksesan bukan sekedar angka
beberapa waktu lalu aku menonton tayangan kick andy. kali ini tokoh yang ditampilkan adalah Anwar Ibrahim (AI), seorang tokoh Malaysia, mantan menteri keuangan, mantan anak kesayangan Perdana Menteri Mahathir Muhammad. Seorang putra mahkota yang dipersiapkan sebagai pengganti, tapi akhirnya memiliki frame yang berbeda, dan berakhir dengan konfrontasi besar, yang berakhir dengan masuknya AI di penjara. (fyi, AI juga punya blog di alamat ini).
yah, menonton AI mengingatkanku pada berbagai kasus yang memanas belakangan ini antara Indonesia dan Malaysia. Mulai dari yang paling hangat tentang lagu Rasa Sayange, kasus istri diplomat kita yang “dicokok” ditangah jalan, mess mahasiswa indonesia yang di gerebeg, kasus pemukulan terhadap delegasi karate Indonesia, pemukulan, penyiksaan TKI, dan lain sebagainya.(bisa dibaca, disini, dan disini. beberapa blogger kita yang populer seperti priyadi, kang kombor, antobilang, tikabanget, dudi, (eh eh.. kl blogger ngetop yang satu ini saya kenal lo…;p). indra, (yang ini juga!) juga mengangkat topik-topik sekitar Malaysia ini). belum berbagai kasus lama seperti ambalat dll. berbagai petisi online diangkat oleh komunitas IT kita.
btw, sebelum ngebahas sesuai topik judul, aku tertawa geli ketika AI diminta komentarnya tentang kondisi yang memanas antara Indonesia-Malaysia belakangan ini, tentang trend “kekerasan”. simplenya inilah komentarnya:
…”Ini yang selalu saya kritisi. Sebab kalau pejabat tinggi seperti saya saja dipukuli, apalagi TKI…”
hihihi… jawaban yang jujur, tepat sasaran.
But, saya tertarik mengomentari penjelasan dia yang lain, ketika Andy bertanya mengenai perekonomian Malaysia. Sebagai mantan mentri Keuangan, jelas AI paham betul area ini. Secara gentle AI mengakui, kepemimpinan Mahathir Muhammad telah membawa pertumbuhan yang luar biasa bagi Malaysia. tapi AI punya komentar lain tentang ini. Menurut dia, keberhasilan pembangunan itu tidak bisa dilihat dari angka-angka statistik belaka. Tidak dapat ditentukan hanya dari prosentase peningkatan kapita, stabilitas mata uang, dan sebagainya. Keberhasilan sebuah pembangunan harus terlihat jelas dalam terbentuknya suatu struktur masyarakat yang madani, sejahtera, termerdeka-kan hak-haknya.
Tiba-tiba saya ingat salah satu kutipan dari buku Endesor-nya Andrea Hirata. Di salah satu bagian, Andrea bercerita tentang profesor-profesornya yang menganut paham Keynesian, yang sangat anti dengan aliran klasik Adam Smith. Dalam ceritanya, Andrea menyatakan ketidaksenangannya dengan para penganut Keynesian, atau sering juga disebut sebagai penganut aliran moneterian, yang mengukur segala sesuatunya dalam perhitungan capital, hitung-hitungan moneter. Andrea lebih menyenangi Adam Smith yang dimana dia menetapkan sebuah keberhasilan ekonomi dengan menetapkan pondasi ekonomi pada pembangunan real/fisik.
Saya bukanlah seorang ahli ekonomi. So, aku tidak memahami kebenaran analisa Andrea. Ketika secara tidak sengaja saya berkunjung ke blog seorang teman, arcon, (yang menurut mas anjar priandoyo adalah satu diantara live auditor terbaik di Indonesia)., saya menemukan bantahan arcon terhadap tulisan Andrea tentang Keynesian dan Adam Smith. Sebagai orang ekonomi, wajar saja menurut saya. Toh, dalam konteks adanya kiblat atau keberpihakan, sedikit banyaknya ini dipengaruhi oleh selera, basic ilmu, dan aliran atau kiblat hidup setiap individu.
Akan tetapi, inilah menariknya blog dan dunia internet :). Secara alami saya jadi melakukan eksplorasi mengenai kiblat ilmu ekonomi tersebut. Di beberapa media, terutama di wiki, saya menemukan beberapa ulasan tentang sejarah ilmu ekonomi tersebut. Tanpa mengurangi maknanya, saya mencoba mengutip beberapa ulasan tersebut :
John Adam Smith …. adalah pelopor ilmu ekonomi modern. Karyanya yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem ekonomi Kapitalisme. Smith adalah salah satu tokoh dalam era Classical Economics….
“…..Macroeconomics mulai dipisahkan dari microeconomics oleh John Maynard Keynes pada 1920s, dan menjadi kesepakatan bersama pada 1930s oleh Keynes dan lainnya, terutama John Hicks. Mereka mendapat ketenaran karena gagasannya dalam mengatasi Great Depression. Keynes adalah tokoh penting dalam gagasan pentingnya keberadaaan central banking dan campur tangan pemerintah dalam hubungan ekonomi. Karyanya “General Theory of Employment, Interest and Money” menyampaikan kritik terhadap ekonomi klasik dan juga mengusulkan metode untuk management of aggregate demand…..”
“…..Keynesianisme, atau ekonomi Keynesian atau Teori Keynesian, adalah suatu teori ekonomi yang didasarkan pada ide ekonom Inggris abad ke-20, John Maynard Keynes. Teori ini mempromosikan suatu ekonomi campuran, di mana baik negara maupun sektor swasta memegang peranan penting. Kebangkitan ekonomi Keynesianisme menandai berakhirnya ekonomi laissez-faire, suatu teori ekonomi yang berdasarkan pada keyakinan bahwa pasar dan sektor swasta dapat berjalan sendiri tanpa campur tangan negara…..”
“…..Kesimpulan utama dari teori ini adalah bahwa tidak ada kecenderungan otomatis untuk menggerakan output dan lapangan pekerjaan ke kondisi full employment (lapangan kerja penuh). Kesimpulan ini bertentangan dengan prinsip ekonomi klasik seperti ekonomi supply-side yang menganjurkan untuk tidak menambah peredaran uang di masyarakat untuk menjaga titik keseimbangan di titik yang ideal…..”
hayoo.. dengan senang hati saya menerima penjelasan dari teman-teman yang memahami hal ini, untuk berbagi ilmu tentang ini
kembali ke topik yang ingin saya angkat tadi, tentang Anwar Ibrahim dan perspektifnya tentang pembangunan dan parameter keberhasilannya.
Saya sepakat dengan pemahaman AI tadi. Walaupun, saya melihat ada proses dalam hal ini. Dalam konteks membangun, mengawali sesuatu, terkadang pendekatan yang radikal, mercusuar, tangan besi, sangat dibutuhkan untuk meletakkan pondasi yang kuat. Sebuah kepemimpinan memang sulit untuk dipisahkan dengan sebuah kondisi doktrinisasi. Tanpa pendekatan tersebut, maka akan tercipta suatu chaos yang berkepanjangan.
Namun, hal yang berbeda ketika kita dalam kondisi mengisi pembangunan itu sendiri. Ibaratnya, jika mengacu pada teori lawasnya Maslow tentang kebutuhan. Dalam kondisi mengawali kehidupan, maka memang kesejahteraan itu akan identik dengan ketersediaan kebutuhan pokok; pangan, sandang, papan. Akan tetapi, ketika pelan-pelan kehidupan tersebut berjalan, maka manusia membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang berbeda. Manusia membutuhkan rasa aman, kebebasan berekspresi dan berpendapat, dan sebagainya. Disini, perspektif tentang kemakmuran dan kesejahteraan akan bergeser.
Nah, menurut saya, inilah yang menjadi pemahaman Anwar Ibrahim. AI mungkin melihat, dan menganggap, bahwa setelah pondasi itu terbentuk, proses pendekatan kekuasaan masih berlaku. Lalu kecenderungan untuk menjadi insan kapitalis tumbuh berkembang. AI sendiri cukup dikenal sebagai orang yang sangat menentang masalah korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang menurutnya marak belakangan ini hadir di Malaysia. Disisi lain, kemerdekaan berpendapat dipasung, pendekatan ala militerisme semakin kuat. Pihak-pihak minoritas tak bisa berbicara, dan keberhasilan bangsa diselimuri dengan statement-statemen tentang keberhasilan pembangunan melalui angka-angka.
Saya sendiri melihat, kondisi ini hampir terjadi di seluruh kasus dimana seorang pemimpin mempimpin terlalu lama. Lihat Indonesia, Filipina, dan sebagainya, yang pernah dipimpin oleh seorang tokoh yang puluhan tahun berkuasa. Lalu ketika orang-orang mulai berani bicara, maka terjadilah sesuatu yang sering disebut “Power Syndrome”.
Efek lain adalah, sebagai pihak yang memiliki banyak success story, timbullah sebuah penyakit klasik seperti sindirannya iklan A-Mild “belum tua belum boleh bicara” atau syndrome “lebih berpengalaman”, dan berbagai jargon jargon seperti :
“lu tau apa soal ini?”,
“gue udah berurusan sama urusan ini puluhan tahun. berani-beraninya lu nasehatin gue?”,
“lu belum lahir gw udah ngurusin ini negara”,
“gue menghabiskan waktu puluhan tahun sekolah sampai berhasil bergelar doktor, tau apa lu yang S1 aja ngga lulus?”
“Gue yang ngajarin lu dulu…”
dan syndrome ini terjadi dari lapisan paling bawah sampai paling atas :). Syndrome pengalaman. Padahal disatu sisi, menurut saya pengalaman akan menumpulkan kreatifitas. Pengalaman perlu diposisikan sebagai komparator, tapi pengalaman perlu dibuang ketika pertama kali kita ingin memikirkan sesuatu.
So, mungkin karena itulah, seseorang perlu di mutasi, tidak boleh berlama-lama menjabat, harus mengalami penyegaran.
Penyakit lain yang bisa hadir adalah penyakit kemapanan, penyakit yang oleh Paul G Stoltz dalam buku Adversity Quotient . AQ sendiri didefinisikan sebagai “kecerdasan seseorang dalam menghadapi tantangan, rintangan dan aral yang menghadangnya dengan keuletan, kedisiplinan, kesabaran, kekonsistenan dan kekonsekwensian”. Dibuku tersebut, dinyatakan dalam kontesks kecerdasan menghadapi tantangan, orang akan terkategori menjadi 3 karakter : seorang Climber, seorang Camper, atau seorang Chicken. Ketika berada di area kemapanan, maka seseorang akan berada di titik nyaman, menjadi seorang camper , tidak lagi mau terus maju (climber), karena sudah kadung nyaman di area tersebut.
So, bagaimana dengan Indonesia?
* 271007 : ps : update. saya mendapatkan sebuah penjelasan yang menurut saya sangat bermutu tentang konflik Indonesia-Malaysia dari blon mas Imam Brotoseno. Sangat bagus untuk dibaca..
Popularity: 7% [?]
Bicara ttg ekonomi, ya bicaralah ttg ekonomi. Jgn dicampuradukkan dgn hal lain. Biar gak rancu. Ekonomi tentu berurusan dgn angka dan sangat bisa diukur (kuantitatif). Menafikan angka2 tsb dgn alasan2 kualitatif (gak bisa diukur dgn angka, kemerdekaan berpendapat misalnya) rasanya kurang fair. Apa AI sekedar mencari alasan untuk menjelekkan Mahathir? Mudah2-an gak begitu.
Dalam ekonomi Islam, ada satu hal yg bisa dijadikan indikator keberhasilan ekonomi. Tidak hanya dalam skala makro, tapi juga dalam skala mikro. Bahkan, sedikit banyak bisa juga jadi masukan penilaian akhlak dan keberagamaan suatu bangsa. Hal tsb adalah zakat.
Jika pemerintah (Islam) hanya sedikit mengumpulkan zakat, berarti rakyatnya kurang sejahtera, demikian pula sebaliknya. Suatu negara yg benar2 sejahtera, maka pemerintahnya mengumpulkan banyak zakat tapi gak bisa memberikannya kembali pada rakyatnya krn seluruh rakyatnya sudah gak pantas menerima zakat (krn sudah makmur). Ini yg pernah terjadi di jaman pemerintahan Umar Abdul Azis, yg “mengekspor” zakat rakyatnya untuk memakmurkan negara tetangga (yg masih miskin).
Ah, kapan kita bisa punya pemimpin seperti Umar bin Abdul Azis ya?
#bee : heheheh.. gw bukan pro AI, dan juga bukan Mahathir. gw masih lebih cinta tokoh2 dalam negeri kita.
bahwa AI sebel ama MM, gw mah ngga terlalu perduli. lagian bukan negara gw :). i just try to get the point, hikmahnya
perspektif gw begini bee. jelas, penentuan indikator harus bisa diangkakan. kualitatif. bisa diukur. nah, yang jadi masalah, ukuran kesuksesan dan kemakmuran itu apa?
apakah harta, jumlah rupiah yang dimiliki? or apa?
i try to explain in my perseption, bahwa seiring pertumbuhan, ada parameter kesuksesan yang bergeser. awalnya cuma asal kebutuhan primer terpenuhi, lalu sekunder, lalu tersier. lalu, parameternya akan bergeser kepada kebebasan berekspresi, berpendapat, rasa aman dalam hidup, bekerja dan sebagainya. ini yang gw maksud bee
kapan kita punya pemimpin seperti itu? yah, kl gw ngga mau pesimis lah. akan datang masanya. bisa saja orang itu berenkarnasi dengan seorang rakyat indonesia bernama bisma jayadi
> bisa saja orang itu berenkarnasi dengan seorang rakyat indonesia bernama bisma jayadi
Hahahaha… telat Ed! Aku udah menspesialisasikan diriku pada software development and management. Gak mau dan gak tertarik ke politik, apalagi jadi pemimpin bangsa super aneh bin ajaib ini.
#bee : wakakkak… bee, menjadi seperti mahathir atau anwar toh cuma subject nya. substansinya adalah menjadi orang besar :). toh di dimensi yang berbeda, ada bill gates or larry and brian-nya google :p. seorang bisma jayadi bisa ada di area itu toh? :p