universitas atau multifakultas? (pembelajaran di jalan tol..)
Sabtu lalu, 19 okt aku dalam perjalanan ke Bandung. Saudara sepupuku ada yang menikah (ngga tau runutannya bagaimana. Tapi ibuku tiba-tiba menelepon dan bilang
“kalau bisa dateng ya.. keluarga mereka banyak bantu kita waktu bla bla..”.
Meski katanya “kalau bisa”, aku sudah terbiasa untuk menterjemahkannya “cuma kalau Tuhan tak berkehendak yang bisa melarangmu untuk tidak pergi”. Ibundaku tercinta memang tidak pernah bisa memaksakan keinginannya, dan selalu sangat polite meminta sesuatu, meskipun itu pada aku, anaknya). Pagi-pagi, jam 5 pagi, aku sudah berangkat, janjian dengan kakak tertuaku di Giant Bekasi.
Ketika memasuki tol cipularang, aku melihat ada perluasan jalan. Area taman yang membatasi 2 jalur dipangkas, dan diaspal. Aku spontan berkomentar
“kok diaspal yah? ngga bahaya tuh. ini kan jalan tol, tempatnya ngebut. kan ntar di tengah jalan ada tiang-tiang jembatan penyeberangan atau jalan flyover. bisa-bisa nabrak deh orang-orang…”
Tiba-tiba kakakku berkomentar
“Itulah kalau kita hanya mencari solusi jangka pendek, dan ketika pemimpin tidak lagi memiliki keluasan pengetahuan. Banyak orang berfikir bahwa taman ditengah jalan hanya sebagai hiasan. padahal itu ada analisis psikologinya.”
“Pertama, taman tersebut berfungsi sebagai jarak antara 2 jalur. Sehingga jika terjadi apa-apa, tidak akan mengganggu jalur satunya”
“Kedua, pengedara di Jalan Tol memang cenderung memacu kendaraan dengan kecepatan tertentu (tinggi). begitu pula sebaliknya. sehingga, jarak tersebut diciptakan agar pengedara memang tidak menyadari kalau sedang dalam keadaan kecepatan tinggi, dan tetap merasa tenang. secara psikologis ini berpengaruh. Ini seperti hukum fisika. Jika jaraknya rapat, maka pengedara selain bisa pusing karena adanya benda yang bergerak cepat disekitarnya, dia juga menjadi tidak tenang, sehingga berpengaruh kepada confidence pengendara. Itu juga alasan, kenapa pohon yang ditanam disamping jalan tol tidak boleh berjarak pendek, harus dengan jarak tertentu”
nah lo. Baru kali ini aku mendengar adanya perspektif psikologi dalam membangun jalan. diskusi berkembang. aku jadi ingat, dulu semasa kuliah aku pernah complain beberapa hal. aku pernah berpendapat, salah satu kritikku tentang pendidikan tinggi adalah bahwa saat ini yang ada adalah multi-faculty, bukan university. University menurutku berangkat dari kata-kata universe, umum, general. Artinya, seharunya kampus universitas adalah tempat terjadinya kolaborasi ilmu. Tempat dimana ilmu berada di area luas tak berbatas. Bahwa salah satu kekayaan universitas adalah ketika terjadi kolaborasi antar bidang ilmu itu sendiri.
Sementara, sebagai contoh, di kampusku, aku melihat ada jurusan sosial ekonomi di fakultas pertanian. ada fakultas teknologi pertanian. padahal ada fakultas teknik (engineering), tempat dimana rekayasa dibahas. ada fakultas ekonomi tempat belajar ekonomi. kenapa setiap fakultas lebih cenderung membuat jurusan?
AFAIK, diluar negeri, konsep jurusan, fakultas, jurusan, menurut saya terjadi hal yang berbeda. bahkan kita bisa memilih akan menjadi siapa di universitas. sebagai contoh, saya ingin menjadi seorang ahli dibidang corporate culture. Pihak kampus akan menelaah, untuk menjadi seorang ahli dibidang coorporate culture, harus mempelajari matakuah A, B C, etc. Dari komposisi tersebut akan dilihat, mayoritas mata kuliah tersebut ada di fakultas mana? misal, ternyata 50% mata kuliah tersebut ada di fakultas psikologi, 30% fakultas ekonomi, dan 20% fakultas ilmu sosial. Maka, saya akan dianggap sebagai mahasiswa fakultas psikologi, dengan major corporate culture. Mata kuliah ekonomi akan tetap saya ambil di fakultas ekonomi, begitupula dengan yang lainnya.
Kondisi ini menyebabkan konsep universitas benar-benar terselenggara.
Kejadian ini tidak hanya terjadi di bidang kuliah, tapi juga di masalah lain, seperti penelitian dan sejenisnya. Ketika dulu saya beberapa kali ikut Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), saya jadi “ngeh” jarang sekali terjadi kolaborasi antar bidang ilmu. Jangankan antar fakultas, antar jurusanpun jarang!. Saya ingat betul ketika beberapa teman membuat alat untuk mengantisipasi tabrakan kereta api, atau alat pengatur kelembaban dan kebutuhan air bagi lahan pertanian, semua anggota team tetap anak-anak jurusan elektro. Bukankah akan lebih baik jika ada anak mesin yang mengerti mesin, dan anak transportasi yang mengerti transportasi, atau kolaborasi dengan anak pertanian yang mengerti pertanian? 3 tahun saya mengikuti PIMNAS sebagai peserta (1996-1998), belum pernah ada tim yang terdiri dari beberapa multidisiplin ilmu.
Mungkin inilah yang menyebabkan, kenapa para pimpro pembuat jalan tol tidak lagi memberikan perspektif ilmu lain dalam membangun jalan tol sebagai mana diskusi saya dengan kakak saya.
Saya jadi ingat salah satu tulisan yang pernah saya buat mengacu pada artikel di businessweek tentang generalist vs specialist . Diartikel itu dinyatakan, semakin sulit mencari seorang generalis, mengingat percepatan ilmu yang begitu luar biasa, sehingga orang mulai menerima sebuah perusahaan dipimpin oleh seorang specialis. Akan tetapi menurut saya, spesialisasi itu tetap hanya sebuah akar. Sedangkan ketika seseorang menjadi seorang pemimpin, dia tetap harus memahami hidup secara makro..
efek dari system pendidikan kita? saya tidak ingin melakukan judge. Tapi jelas, pendidikan tinggi kita tidak bisa lepas tangan atas lahirnya SDM-SDM yang tidak lagi memiliki keluasan ilmu
Popularity: 4% [?]
Kemaren ketemu pak sholeh, dia bilang kita itu udah kayak katak dalam tempurung, yang ga mau integrasi dengan ilmu lain. Merasa ilmu kita yang paling mumpuni dari semuanya. Perasaan tidak perlu bertanya kepada ahlinya, bla bla bla.. ya kayak gitu deh
Mas Edo, mungkin multifakultas ini ya yang mbuat mikirnya jadi terkotak-kotak dan cenderung egois, melihat masalah hanya satu sisi saja. Sepertinya tidak hanya pembangunan jalan tol, pembangunan ICT di Indonesia menurut saya juga mengalami hal yang sama, contohnya BTS-BTS yang “kelihatan” semrawut, jalur2 fiber optik juga, gali lubang tutup lobang, dan sampai sekarang kajian frekuensi wireless atau bahkan lcd handphone dampaknya terhadap kesehatan sekitar dianggap masalah nomer 100.
Kalau boleh urun pengalaman,waktu PIMNAS 2002 di Surabaya, timku berkolaborasi sama mahasiswa perikanan, dengan tema pemanfaatan citra digital untuk penghitungan benih udang. Tidak hanya membahas aspek teknisnya tapi dari analisa ekonomi perikanan sampai harga jual. Dari situlah temen setim elektro brawijaya tidak hanya belajar teknis saja. Si mahasiswa perikanan juga belajar, ternyata dengan dengan teknologi bisa membantu dibidang perikanan. Tapi sayang kami gagal jadi tiga besar. Sebelum timku tampil, tim sekampus maju duluan, kalau tidak salah temanya tentang alat pemotong tempe otomatis untuk pembuatan kripik tempe.Presentasinya menarik ditunjang demo alat yang menawan. Tetapi yang mbuat tercengang setelah tim itu tampil, si juri yang udah taraf profesor bilang, kenapa sih universitasmu itu selalu mbuat alat, alat dan alat yang tidak mikirkan dampak sisi manusianya akibat adanya alat kalian yang serba otomatis itu, mau dikemanain karyawan-karyawannya. Makanya saya sangat tidak setuju bila mesin pelinting rokok otomatis dipasang dipabrik-pabrik rokok, padahal teknologinya mudah dibuat, tapi belum waktunya.
Dan hampir sebagian besar peserta temanya belum menyentuh bidang-bidang lain yang saling menguntungkan,mungkin istilah biologinya simbiosis mutualisme. Yg mbuat heran kok Prof itu sampai tau ya, mungkin beliau ini pengamat unibraw selalu dapat juara di PIMNAS kali ya :p, dan menyayangkan kalau tema2nya kurang berkembang. Atau memang sudah jenuh sebab alat-alat yang tiap tahun dilombakan dan hampir semua inovatif jarang sekali diaplikasikan di masyarakat.
#upika : qeqeqeqeqe…. lha pak soleh telat dong. coba pak sholeh sadar pas waktu jadi kajur. pasti keren :p
#toni : heiuheihei…. ya itu dia ton. yang ada adalah multifakultas. sebuah proses pengkerdilan cara berfikir
multigami?
halah
# epat : lek iku awakmu ae pe. mosok bojo kodew thok sing akeh. berarti awakmu mari iki nduwe bojo lanang?
mangkanya Do .. usulin kalau ada Daerah Istimewa yang di beri hak otonominya bukan hanya kepemerintahannya saja, tapi ada otonomi daerah untuk Pendidikan. Jadi ada beberapa daerah (propinsi) yang menjadi Laboratorium Pendidikan (lab School skala daerah/area). Di daerah (tentu lebih dari 1 area, minimal 3 lah dan maksimal 5 lah) tersebut dibebaskan utk mengatur sistem pendidikannya, tidak mengacu secara otoriter dari pusat. Jadi kalau ada perubahan sistem pendidikan gak harus satu negara yang bingung, alias seluruh buku pendidikan harus di cetak ulang mengikuti kurikulim yang baru (andai gw punya percetakan, gak nulis bagian yang ini).
Jadi kayak OS lah, ada yang udah Release utk di pake, ada yang masih Beta. Muridnya terserah, apa propinsi A khusus utk Pelajar Pinter, dan propinsi B khusus Pelajar Bodoh supaya pinter (tapi kalau ada model ini, akan ada kesombongan tersendiri).
Dan sistem pendidikannya dari TK-SMA yang mendapat hak Otonomi.
Bakalan banyak positipnya dah kalau ada LabSchool Area, walau pasti ada negatifnya.
#angus : great idea tuh gus. menarik. lupakan bisa mulai dari mana. toh melempar wacana adalah suatu suatu cara agar issuenya tersampaikan. lu kan bisa juga mulai, secara lu masih berada di area pendidikan saat ini
Diskusi yg menarik…
@toni:
> Makanya saya sangat tidak setuju bila mesin pelinting rokok otomatis dipasang dipabrik-pabrik rokok, padahal teknologinya mudah dibuat, tapi belum waktunya.
Aku salah satu org yg gak setuju dgn alasan seperti di atas. Peningkatan produktifitas, efisiensi, dan efektifitas, dalam konteks industri merupakan pertimbangan utama. Karena dari pertimbangan itulah keuntungan bisa dimaksimalkan (bukan hanya dioptimalkan). Itu sudah hukum ekonomi. Jika suatu teknologi bisa meningkatkan produktifitas, efisiensi, dan efektifitas, maka penerapan teknologi tsb merupakan kewajiban.
Lalu, bagaimana karyawan yg harus dipecat? Apakah teknologi menafikan tenaga manusia? Seharusnya hal ini gak perlu jadi masalah jika: lapangan kerja tersedia dan manusia menjadi pekerja berilmu (bukan hanya pekerja fisik). Dgn kata lain, industri harus berjalan dan SDM harus kuat. Kita semua bertanggung jawab atas hal tsb. Tapi bagaimanapun juga, pemerintah harus berfungsi dan berperan lebih banyak sebagai katalisator, dalam hal ini adalah Deperindag dan Depdiknas. Tapi nyatanya?
@angus:
> usulin kalau ada Daerah Istimewa yang di beri hak otonominya bukan hanya kepemerintahannya saja, tapi ada otonomi daerah untuk Pendidikan.
Otonomi bagus. Tapi jgn lupa bahwa kebebasan gak berarti gak ada standar. Sebagaimana di dunia TI, open standard jauh lebih penting dari sekedar open source. Standarisasi adalah sebuah tatanan, aturan, kesepakatan untuk kesamaan. Jika gak ada standar, hasil akhirnya adalah chaos, dimana semua org menganggap dirinya lebih baik dari yg lain. Itu sebabnya aku sangat setuju adanya UNAS (ujian akhir nasional) sbg standar acuan penilaian keberhasilan belajar siswa.
@edo:
Setuju sekali. Sistem pendidikan di Indonesia memang kacau. Emang ada yg gak kacau di Indonesia? Tentu, selain kekacauan itu sendiri. *kekacauan yg kacau = ketidakkacauan*
#bee :
wakakkaka…. setubuh bee.

tapi menurut gw, tidak ada gunanya kita menyumpahserapahi yang sudah berantakan ini bukan? mending positif thinking aja. biar Tuhan pun mengamini niat kita
bukan masalah right or wrong is my country, tapi kl semua kita cuma bisa menyumpahi, trus kapan benernya? :p
siapa tau energi positif kita akan mempengaruhi semesta. seperti kata Yohanes Surya dengan Mestakungnya, atau Sang alchemist-nya Paulo Coelho dengan bahasa semestanya
kita mulai aja dari kita-kita, dari apa yang bisa kita lakukan
yuk? ….:p
> tapi menurut gw, tidak ada gunanya kita menyumpahserapahi yang sudah berantakan ini bukan? mending positif thinking aja. biar Tuhan pun mengamini niat kita
bukan masalah right or wrong is my country, tapi kl semua kita cuma bisa menyumpahi, trus kapan benernya? :p
Ya iya lah, setuju banget. Tapi sekali2 misuh untuk melepaskan kekesalan gpp toh.
Tentu misuh2 aja gak cukup, harus ada follow up selanjutnya, dlm konteks yg positif tentu. Daripada sok optimis tapi gak melakukan tindakan konkrit apapun. 
#bee : huakakakka…. sah!