Republik Instan
Apa yang paling mahal di Jakarta? Jika pertanyaan itu datang padaku, aku akan menjawab : WAKTU.
Ya. waktu adalah hal yang termahal. sewaktu aku berangkat dari pontianak, aku hanya menghabiskan waktu 1 jam 5 menit untuk sampai di Jakarta. Sementara aku harus menghabiskan waktu 3.5 jam dari Bandara ke rumah. Sungguh menyebalkan.
Jakarta adalah kota yang paling crawded di negara ini. Aku tidak memiliki data perbandingannya dengan kota-kota di negara lain. Tapi untuk level Asia, aku yakin Jakarta masih masuk 10 besar.
Kenapa Crawded? Banyak alasan yang bisa menjawab. Karena Jakarta adalah ibu kota. Karena Jakarta menawarkan banyak hal, termasuk penghidupan. Jakarta tempat dimana mayoritas uang di republik ini berputar. Jakarta adalah pusat segalanya, dari yang benar sampai yang salah. Jakarta menawarkan segalanya. Aku adalah satu diantara makhluk di republik ini yang tergiur olehnya. Orang yang ingin menggapai mimpi. Sudah menjadi cerita usang bahwa setiap habis lebaran, akan ada banyak orang mengalir ke Jakarta.
Sebagai konsekwensinya, berbagai permasalahan pun datang disini. Banjir, kemacetan, kriminalitas, dan sebagainya. Ini adalah konsekwensi, menurutku. Siapapun yang memimpin di ibukota ini, akan peras keringat. Kota dengan kombinasi masyarakat pintar, sampai preman akan menggoyang siapapun yang memimpin mereka.
Aku mengagumi Ali Sadikin. Sama halnya seperti aku mengagumi proklamator bangsa ini, Soekarno. Berkharisma, keras, orang akan cenderung menganggapnya radikal, namun punya visi kebangsaan yang sangat tinggi. Terlepas dengan segala provokasinya dan kelemahannya, aku melihat Bang Yos memiliki karakter yang hampir sama. Dan dalam suatu kesempatan, aku justru melihat sendiri sisi lain dari seorang Bang Yos yang terlihat “asal” itu. Tidak sempurna. Tapi entah apa jadinya jika Jakarta dipimpin oleh orang yang lemah.
Aku sempat meragukan gubernur yang sekarang. Sebagai orang sipil, aku tidak yakin, he’s strong enough. Maaf, saya bukan pro militer. Tapi menurut saya butuh kekuatan hati mengurus kota yang sudah kadung berantakan ini.
Namun masih dengan gayanya yang ngalem, aku melihat karakter yang berbeda. Di acara dialog di Metro TV beberapa hari yang lalu, beliau diwawancarai tentang janji beliau. Khas wartawan, Fauzi Bowo dipaksa untuk membuka mata terhadap fenomena terberat di jakarta yang sedang in : Macet dan banjir. Bolak balik di hajar, Fauzi Bowo hanya bilang :
“Tidak ada cara instan menyelesaikan masalah Jakarta”
Butuh keberanian untuk bicara seperti ini. Kalimat tersebut bukan kalimat populis. Beresiko bunuh diri. Tapi saya melihat dari hal yang lain.
Yah.
Saya setuju dengan statement itu. Tidak ada cara instan. Cara instan hanya akan mengamankan hidup sementara waktu.
Dalam potret yang lebih kecil, dari individu-individu, sampai komunal bernama Masyarakat Indonesia, instan seperti sesuatu yang melekat dalam diri kita. Semua ingin cepat. Pengen jadi artis, pengen langsung ngetop. Mulai dari ikut acara kompetisi “Idol-idolan” sampai jual tubuh. Pengen kaya pengen instan. Mulai dari ngerampok sampai korupsi. Pengen dianggap maju tinggal beli produk orang. Tidak ingin membangun sendiri karena takut ngga gaul dan telat. Dan sempurnalah bangsa ini sebagai Republik Instan.
Beberapa waktu yang lalu, aku berdikusi dengan seseorang, salah seorang pebisnis telekomunikasi. Kebetulan dia mengajakku untuk terlibat dalam penyusunan dokumen pekerjaan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di pedesaan. Kita diskusi tentang Industri telekomunikasi di Indonesia, bercerita tentang Bangsa yang masih miskin namun disisi lain menyumbang devisa yang tidak sedikit untuk menyumbang tetangga kita Singapura yang masuk dalam 2 negara termakmur di dunia. Beliau tiba-tiba nyeletuk :
“Coba kita mikir bego aja nih do. Lu liat industri penerbangan kita. Ada berapa banyak Airlines di Indonesia? Ada berapa banyak pesawat terbang di negara ini? Lu liat. LionAir aja pesen puluhan pesawat terbaru Boing. Itung-itungan bodoh, ada ratusan pesawat yang kita beli. Mungkin ngga sih pemerintah, lalu membuat regulasi bahwa pengadaan pesawat harus dalam koordinasi pemerintah dengan alasan nasionalisme, lalu pemerintah kita bikin deal dengan perusahaan-perusahaan pesawat itu : Indonesia akan membeli
ratusan pesawat, dengan syarat bagian dari Industri pesawat itu harus dibuat di Indonesia!. Inilah yang mengawali kenapa industri elektronik di Taiwan sama sakali bukan Industri kelas tinggi, tapi kelas industri rumahan! Layaknya UKM Indonesia bikin camilan dirumah!”
Meniru plesetan wakil presiden di Republik mimpi, i will say : thats right brother…
Yah, inilah anehnya bangsa ini. Tapi pemikiran bahwa tidak gampang mengurus negara dengan penduduk 240 jutaan dan berbagai suku, partai, kepentingan dan sebagainya, aku tidak berani men-judge. Perlu analisa regulasi dan sebagainya. Tapi dalam pikiran sederhana, apa yang disampaikan diatas sangat masuk akal.
Okay. Mencaci maki pemerintah sepertinya sudah menjadi hobi bagi kita. Padahal, budaya itu ada di setiap individu-individu. Mari kita berbicara jujur pada diri sendiri. Dan mari kita lihat, selain pemerintah, siapa yang perlu kita caci maki.
Betapa sulit kita abis merokok buang puntung di tong sampah. Dan andai kita ditanya, kita akan cenderung mencari alasan lain :
“Abis tong sampahnya dikit sih… Coba pemerintah bikin tong sampah dimana-mana…”
Mari kita hitung, berapa kali kita tidak menyeberang di zebra cross. Mari kita hitung, banyakan mana kita nunggu bus di halte atau diluar halte. Mari kita berhitung.
Cita-cita itu butuh pengorbanan. Makin tinggi impian kita, makin banyak pulalah yang harus kita korbankan. Ini hukum alam. Tinggal disikapi dengan cerdas. Dan sebelum bicara soal pengorbanan, mungkin kita perlu menghitung, apakah kita masih punya bermimpi. Menyedihkan sekali sepertinya jika kita jadi tidak berani bermimpi karena tidak berani menanggung resiko pengorbanannya, merawat mentalitas camper, dan takut menjadi climber, (About camper and climber, buku Adversity Quotient karangan Paul G Stoltz sepertinya bagus untuk dibaca
)
Dalam situasi seperti ini, kembali ke pertanyaan diawal : Apakah yang paling mahal? jawabannya tetap sama : WAKTU
Dan apa yang paling berbahaya dalam situasi ini?. Dan aku cenderung untuk memilih jawaban : KESABARAN, KETABAHAN DAN KEYAKINAN
Mungkin masih banyak yang punya mimpi. Tapi tidak sedikit yang tidak siap menghadapi konsekwensi atas pilihan tersebut. Resiko kehilangan waktu untuk bersenang-senang, kehilangan waktu untuk lingkungan terdekat, kekurangan waktu untuk kehidupan pribadi, dan sebagainya.
Semalam, jam 8.30 setelah meeting di Bintaro aku menyambangi kakakku. kebetulan Ibuku baru datang dari kampung halaman. Selain bertemu ibu, aku memang sengaja datang, membayar hutangku. Ya, tahun lalu usahaku sempurna jungkir balik. Usaha yang dimodali oleh banyak orang yang kebetulan percaya kepadaku. Dan waktu itu, hutangku tembus diangka sepuluh digit :p. Aku mencoba menganggapnya sebagai “biaya sekolah“. Dan aku harus menanggungnya sekarang.
Ketika aku menyerahkan uang itu kakakku bertanya :
“Ed, pernah ngga mikir, cape cape kerja, pulang tiap hari jam segini, akhirnya bisa ngumpulin duit segini banyak, dan itu duit cuma numpang lewat. Cuma buat bayar hutang. Ngga sempet ngerasain sedikitpun…”
Aku nyengir. Heran, entah kenapa aku ngga pernah kepikiran begitu. Toh membayar hutang itu kewajiban buatku. Justru lega rasanya bisa mencicil segera. Toh uang hanyalah uang. Tapi gara-gara denger komentar kakakku, aku malah jadi kepikiran hueihiehiehi…
lagi enak-enak diskusi, teleponku berbunyi. Ya, aku berjanji untuk bertemu seseorang malam itu. Meeting terakhir. Jam 11.30, aku meluncur untuk meeting di daerah menteng. aku mengakhiri meeting jam 1 tengah malam. Rekanku, seorang yang telah menjadi staf ahli mentri diumurnya yang masih cukup muda, 29 tahun. Di mobil, tiba-tiba dia nyeletuk?
“Ben dino kerjo koyok ngene, muleh jam sak mene, nggolek opo yo? kadang aku yo mikir, opo sing tak uber…”
translatenya kira-kira ” Tiap hari kerja kayak gini, pulang jam segini, nyari apa yah? kadang aku mikir, apa yang aku kejar..”
Aku tidak heran dengan point ini. Tidak sedikit memang orang yang akhirnya kelelahan dalam menjalankan aktifitasnya. Akupun merasakannya. Buatku, itu tergantung apa yang kita cari. Apa yang ingin kita raih. Ketika target peraihan kita adalah simbol-simbol, maka kita akan kehilangan makna. At least aku mencoba membangun paradigma tersebut. Mencoba untuk merasa bahagia ketika melihat orang lain bahagia.
Aku sendiri mencoba untuk menyikapinya dengan bermain dengan kualitas. Karena kuantitas sudah harus aku korbankan. Buatku, ini investasiku dimasa depan. Tidak sedikit memang waktu kuhabiskan untuk bekerja. Namun memang aku menyenanginya. Mumet? wah, itu hal biasa sepertinya :). Dan kuantitas dan kualitasnya masalah sepertinya selalu meningkat setiap saat :p.
Resikonya? Tidak sedikit. Kehidupanku yang lain tentu saja terpengaruh dengan ritme ku ini. Aku sampai berfikir, betapa tidak menyenangkannya hidup orang-orang terdekatku. Dan aku cuma bisa berharap, mereka punya kesabaran, ketabahan, dan
keyakinan.
kenapa keyakinan?
Hidup ini terlalu abu-abu untuk dinilai hitam putih. Hidup ini terlalu komplit jika hanya diukur dari apa yang terlihat. Tanpa melihat lebih dalam, lebih bijak, maka yang terlihat hanyalah masalah. Bayangkan jika setiap orang yang pergi ke pub lalu dianggap brengsek, karena pub dianggap tempat maksiat. Bayangkan jika setiap orang yang menginjakkan kaki di masjid dianggap mulia, karena masjid tempat mulia. Bayangkan jika seseorang dinilai hanya dari apa yang keluar dari mulutnya, dari apa yang dia tulis, dari apa yang dia lakukan. Terutama di tempat seperti kota yang ku jejaki ini, perlu melihat lebih dalam.
Lalu apa yang paling sulit dalam kehidupan seperti ini? Aku akan menjawab : KENDALI ATAS DIRI SENDIRI…
Popularity: 2% [?]
Edo aku tidak mengomentari apa yang kamu tulis soalnya itu udah lumrah alias dari dulu ya emang gitu.
aku cuma mau nanya kabar kamu end temen2 yang lain gimana ya?
> Okay. Mencaci maki pemerintah sepertinya sudah menjadi hobi bagi kita. Padahal, budaya itu ada di setiap individu-individu. Mari kita berbicara jujur pada diri sendiri. Dan mari kita lihat, selain pemerintah, siapa yang perlu kita caci maki.
Sepakat 1000%, Ed! Sebenarnya sama aja kok, gak rakyatnya, gak pemerintahnya, sama2 layak dicaci maki!
BTW… kebetulan tadi pagi seorang temen bertandang ke rumah. Dia dulu kuliah dan kerja di Malang, tapi kemudian “hijrah” ke Jakarta dgn niat mencari “kehidupan” yg lebih baik. Sebelumnya aku udah bilang ke dia kalo Jakarta bukan tempat untuk mencari kehidupan yg lebih baik. Kalo penghidupan yg lebih baik, iya.
Tadi pagi di rumah, temenku ini cerita kalo dia gak betah di Jakarta, setelah sekitar 3 tahun disana. Akhirnya dia memutuskan minggu kemarin kembali ke Malang bersama seluruh keluarganya (istri+anak). Katanya, ternyata hidup sederhana tapi dgn waktu berharga, jauh lebih baik daripada hidup mewah tapi gak bisa menikmati waktu.
Syukurlah, aku gak perlu jadi “korban” kota Jakarta untuk sekedar mendapat pengalaman seperti itu.
Apa yang kau cari, Edo?
Kalo aku sih, udah ga ada lagi.
Baca deh:
http://wandi.web.id/2006/02/07.....ari-wandi/
Hehehe.
#zainul : woi… piya kabare cak? dek ndi saiki?
#bee :
heheheh.. yah, begitulah bee. but masalahnya apakah kita hanya akan berhenti mencaci maki atau tidak bukan? life must go on right? :p
menjadi korban atau tidak, aku fikir tergantung kita sih bee. we are the subject of this life. cerita temanmu bisa disikapi macem macem. begitupula ceritamu :). bisa positif bisa negatif. orang bisa bilang “ah, elu aja yang ngga strong enough..” atau “itu cuma apologimu atas hidupmu..”
buat aku bee, itu tergantung kenapa kita mengambil suatu pilihan. setiap pilihan ada konsekwensinya. tidak ada yang menjamin bahwa live in jakarta bakal rusak, dan dimalang bakal lebih baik, atau sebaliknya. dengan segala macam keruwetannya, aku menikmati pilihanku untuk disini, di jakarta. Aku tetap melihat, sampai saat ini, inilah tempat dimana aku bisa memberikan kontribusi terbaikku. untuk aku, keluargaku, lingkunganku, siapa dan apa saja. till now, im enjoying to be me :p
kl menurutku ngga penting itu. yang penting adalah be our self. kita punya cara dalam mencapai impian kita, kita punya pilihan masing-masing tentang hidup yang lebih indah. yang penting adalah bagaimana kita menyikapi dan mengisinya
oh ya satu lagi. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu untuk kesia-siaan. Begitu pula halnya, tidak ada peristiwa dalam hidup kita yang sia-sia. jadi inget omongan si bondan dulu (Selain pelajaran “gentongnya” heheheh), udah dibilangin “do, itu taek”, tapi tetep aja di colek, hanya untuk membuktikan “oh iyo bo, itu taek memang ternyata…” . Kadang mengalami memberikan makna yang berbeda bee. :p
#wandi : hmm… lu ngomong pendek tapi dalem. what im looking for? mungkin gw cuma bisa jawab im looking for life
> tidak ada yang menjamin bahwa live in jakarta bakal rusak, dan dimalang bakal lebih baik, atau sebaliknya.
Tentu saja. Begini… aku rasa hampir semua org tau bahwa taek itu bau dan gak enak. Walaupun demikian, bukan berarti taek itu sama sekali gak bermanfaat. Bahkan ada org2 tertentu yg menikmati taek yg bau dan gak enak itu, bahkan bisa hidup dari situ. Perkara itu adalah sebuah pilihan atau keterpaksaan, itu adalah urusan masing2.
> Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu untuk kesia-siaan. Begitu pula halnya, tidak ada peristiwa dalam hidup kita yang sia-sia.
Kita gak perlu nyemplung ke dalam sumur sekedar untuk membuktikan bahwa sumur itu dalam dan beracun, kan? Pengalaman memang guru yg baik, tapi kita gak perlu mengalami sendiri semua pengalaman krn kita juga bisa belajar dari pengalaman org lain.
Got the point?
#bee : affirmative, sir
kita kan terdidik oleh mie instan dan kopi instan
#epat : wah, setuju tentang mie instan. tapi tidak setuju dengan kopi instan. wong jaman sekolah kopine ngolah dewe pe..
Waduh, gimana ya Pak Edo, Jakarta kota metropolitan, bahkan tanda2 ke arah kota megapolitan sudah mulai tampak. Hampir semua orang seperti dikejar2 oleh sang waktu. Tapi ada hikmahnya juga, pak. Hidup di Jakarta bisa belajar melatih kesabaran
terutama ketika terjebak dalam arus lalu lintas yang macet, hehehe 
#sawali : heiuheiuhie…buat saya ini hanya sebuah konsekwensi logis pak. meski terganggu saya sih sebenarnya asik-asik saja. saya memang mencintai dinamika
meskipun tentu sangat mendambakan kemacetan di jakarta berkurang seperti yang saya rasakan pas lebaran di jakarta :p
btw, setujuh banget soal sabar heiuheiuhiue…
pilihan di jkt cuma 2 tentang sabar : menjadi penyabar dan sekaligus menjadi tidak sabaran hehehhe
Waaah bos, asyik juga perjalanannya dari Pontianak ke Jakarta. Ke Bintaro segala toh, di situ ada yang jualan pisang Ponti di Bintaro enak sekali… rasanya tapi yaa itu… hanya kalangan berduit saja yang bisa membeli banyak. Sebab harganya lumayan.
(nyicil koment, soale buru2 pergi kerja) baru baca separo bos, nanti disambung lagi)
# kurt : lho ya.. kok jadi nyambung antara pontianak dan bintaro? hihihi
mendarah daging sekali ungkapan kenapa keyakinan?
satuju banget… banyak diantara kita yang berideologi POKOKE™ sehingga ada yang menyinggung dengna ungkapan agama pokoke™.
Memang bos, bicara hakekat itu sangat sulit, samar dan tersembunyi… jadi bisa saja si pengemis tua renta yang banyak di jakarta si penguji kesabaran kita… tapi dari sudut sang Gubernur itu adalah “sampah” yang harus di singkirkan… btw, di republik instant memang aroma kebajikan harus dibuat seinstan mungkin.. .makanya dakwah yang laku yang berada di hotel-hotel berbintang bos…
#kurt :
huakakakka…
jadi inget. dulu, jaman ospek teknik yang sangat dipengaruhi oleh “anak takmir”. sebagai ketua angkatan, jadilah gw sasaran. puasa, diminta lead sebuah acara seminar. dan seminar itu sebelum jalan abis2an di protes ama tetua2. karena dianggap tidak berbau agama dan ramadhan. gw masih inget gw ngomong apa (waktu itu blon bisa ngomong jawa:p):
“bos, ini indonesia. kl judulnya dibikin kearab2an, trus pembicaranya kelihatan banget tampang ustadznya, tu anak2 pada kabur. yang dateng ujung2nya yang berjenggot dan bercelana gantung. yang ky gitu mah ngga disuruh juga udah ngaji. yang ky gini udah ngga usah di dakwah-in. tuh, yang diluar sana, yang ktpnya islam tapi males sholat, males ngaji, ky ane. gitu2 juga ummat bos. mending judul acaranya look indonesia sekali, pembicaranya cari tokoh yang memang inspiring. nah, ntar pembicaranya bisikin, tolong dalam seminarnya disuguhi dengan nilai2 agama. masih mending ane ngga ngasih ide pengajian di diskotik…justru orang-orang ditempat itu lebih butuh siraman rohani…”
walhasil? acaranya batal, dan saya dipecat sebagai ketua acara…
btw, pengajian di hotel biar khusu’ kali kang…btw, mohon pencerahan untuk area ini kang. kadang mah saya suka syerem. abis ilmunya masih cetek banget. takut salah. ntar darah saya jadi halal lagi
*maap kl tidak berkenan…*