memanage energi primitif

Edo on November 19th, 2007

kembali, seperti biasa, malas, mood, tidak fokus, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan menyusun prioritas bla bla bla menjadi problemku hari ini. Sadar untuk tidak mengikuti rasa malas, mood, dan sebagainya. Sadar bahwa diri harus dimanage dengan baik agar hidup bisa lebih bermakna. Faham bahwa menunda-nunda segala sesuatu hanya akan menumpuk masalah dikemudian hari. Sebagai orang yang sangat tertarik tentang issue-issue pengelolaan SDM, saya sadar apa-apa yang harus dilakukan. Tapi, lagi-lagi, seperti biasa : mengerjakan itu jauh lebih susah daripada hanya sekedar membicarakannya. Yang paling gampang? Menyuruh orang untuk menjalankannya! *sungguh menyedihkan…*
Tadi pagi aku sudah berniat minimal mengerjakan 2 hal : Mencicil minimal 1 bab lagi laporan pekerjaanku sebagai konsultan untuk analisa pendidikan, ekonomi dan sosial budaya untuk rencana implementasi WIMAX, dan membuat presentasi untuk client yang harus ku presentasikan jam 10 pagi esok. Hasilnya? aku baru mengerjakan 10% dari targetku hari ini. Bah! Ada saja yang membuat otak ini tidak dapat optimal menjalankan tugasnya…

Memang, biasanya tanggungjawab ini bisa terselesaikan on last minutes. Betapa aku sangat ingin menghilangkan kebiasaan ini. Walaupun terkadang aku selalu bersyukur, karena otak ini selalu menjadi sangat cerdas di detik-detik terakhir.

Aku ingat pernah diskusi dengan seseorang. Dulu sekali. Ada 2 hal yang paling mendasar (baca : primitif ) dalam sejarah hidup manusia; Hasrat untuk bertahan (mempertahankan hidup) dan hasrat untuk melanjutkan kehidupan (bereproduksi. lengkap dengan seluruh prosesnya). Mungkin ini juga yang mendasari kenapa ada 2 kemaksiatan tertua yang punya sejarah sangat panjang dan sulit (Atau mungkin tidak bisa?) untuk dihapuskan : perang, dan prostitusi :)

Pernah aku berdiskusi dengan diriku sendiri, kenapa tubuh ini tiba-tiba menjadi pintar ketika kepepet, energi yang dihasilkan melebihi apa yang pernah kita prediksikan, layaknya orang yang tiba-tiba bisa berlari lebih kencang dari biasanya ketika dikejar anjing. Dan jawabannya sama : dasarnya adalah kekuatan atau keinginan untuk mempertahankan hidup.

Sometimes, aku suka merasa malu. Bahwa di masa seperti ini, dimana ilmu dan pengetahuan tumbuh dengan pesat, aku masih terjebak dalam dunia primitif. Ada masanya ketika pemikiran itu hadir, aku mencoba untuk membangun perspektif positif. Mencoba menganggap bahwa hal itu wajar. Toh, hal yang primitif itu adalah sesuatu yang alamiah, sangat manusiawi. (kadang sulit memang membedakan antara membangun perspektif positif dengan “excuse”. Tapi sebenarnya bisa dibedakan, selama kita masih mendengarkan kata hati hehehehhe..) seperti laginya Band Serious, Edo kan juga manusia :). Namun, hari ini aku lagi tidak ingin ber-excuse ria.

Ada cara (terapi) yang lebih menarik dan pernah ku lakukan. Pertama : Terkadang, kita bisa “mengakali” kelemahan kita. Yaitu dengan cara menciptakan kondisi selalu kepepet. So, tidak ada waktu untuk menunda-nunda sesuatu. Karena setiap waktu sangat berharga. Tapi ya ngga gampang juga. Ketika kita semakin mengenal diri kita, memahami kemampuan terbaik yang kita miliki, termasuk kelemahan “terbaik”nya, kadang hal tersebut menyulitkan kita sendiri.

Kedua : Cara lain yang sering aku lakukan adalah menciptakan suasana baru. Hobi bekerja di keramaian seperti di cafe termasuk “cara pelarian yang menyenangkan” menurutku. Tapi juga ada protes di dalam sini. “Masa sih aku harus tergantung dengan tempat dan suasana? C’mon bro… handle your self. dont let anything make you depended !..”

Emang dah manusia ngga ada puasnya kekekkeke….

Sebel juga lama-lama. Jari-jari ini begitu gampang mengalir memencet tombol demi tombol di laptopku, dan jadilah tulisan ini. Lha kok ya ngga dipake buat ngeberesin kerjaan?
hehehhe… blogging ini benar-benar racun yang memabukkan :p

So, any idea, buddy?

*ngopi disek ae wes!

Popularity: 3% [?]

9 Responses to “memanage energi primitif”

  1. Hmm… Selama bermanfaat bagi yg membacanya, saya rasa bukan racun… :D

    Tapi klo kata Pak Guru (halah), letak kecerdasan seseorang terkadang tidak selalu diukur dengan berpatokan pada sesempurna apakah hasil pekerjaan seseorang, tapi terkadang juga harus dilihat dari sejauh mana dia bisa menutupi kekurangan yg ada pada dirinya…

    Hohoho…

  2. #praditya : weik. cepet amat commentnya :p
    hehehe… tebul dit. dalam bahasa yang lain, bukan kesempurnaan HASIL memang yang jadi patokan, tapi PROSES dan UPAYA untuk mendekati kesempurnaan. Yang sempurna toh cuma ada 1 :p

    btw, soal kekurangan, saya mah punya teori sendiri dit heheheh. kekurangan buat saya tidak untuk ditutup2i, tapi dikelola :). ntar kl saya sempurna, ngga punya kekurangan, ntar malah ngga butuh orang laen dong :p *joke

    tinggal gimana kita memposisikannya aja sih. kadang, kekurangan jika ditempatkan di tempat yang tepat, juga bermanfaat. misal, kita jadi sadar bahwa kita butuh orang lain..:)

    keep blogging!

  3. hihihihi…
    *cuman bisa ngikik doang deh… ;))

  4. kadang termotivasi kembali setelah ngopi hehehehe… :smile:

    ah mengkondisikan diri kepepet sepertinya mujarab juga!

  5. #pudakonline : huakakakka…. selamat mencoba bos. semoga sukses. selama memberikan inpact yang positif sih asik2 aja kynya :)

  6. jarang saya membaca lambat, tapi di postingan ini lambat, pelan dan terasa nikmat di sanubariku… entah mengapa apakah karena tertarik dengan kemiripan kebiasaan di akhir2 menjadi “cerdas” atau karena memang sampean adalah ahli di bidang SDM sehingga mengorek pribadi orang lain dan diri sendiri begitu lincah hingga sampai akhir saya baca, ada sesuatu yang bermanfaat…

    jadi saya mau koment apa? :: tulisan ini bermanfaat meski si penulis gak nyadar… heheheh :)
    TQ bos…

  7. #kurt : duh mas, sayang sampeyan lanang. coba kl cewe. pasti sayah sudah melayang2 atas puja pujinya. hihihihi….

  8. Kebiasaan kita memang menunda-nunda, anak-anakku juga berbakat seperti ini, mungkin karena si kecil ga pernah kost, jadi ga merasa terganggu,apalagi punya kamar sendiri.

    Saya justru terbalik, kehidupan di tempat kost, sekamar 3 orang, dilanjutkan tinggal di asrama, serta fisik tak terlalu kuat daya tahannya…saya justru setiap ada waktu mulai mencicil tugas. Karena sering ada acara mendadak di asrama, plus harus gantian memasak untuk seluruh penghuni, membuat terlatih dan disiplin, sehingga pada saat due date, udah selesai. Apalagi saat mengambil S2, harus tetap bekerja plus rapat2 sampai malam, tugas keluar pulau, mengurus kedua anak remaja, membuat kedisplinan tadi menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi.

  9. #edratna : hehehe… sepertinya untuk point ini saya harus banyak menata diri :). otak ini terlalu liar, dan perlu dikelola juga sepertinya agar tidak “sembarangan” :)

    btw, saya selalu kagum terhadap wanita yang bisa menjalankan karir dengan baik, (apa lagi plus sekolah) namun bisa menjalankan fungsinya sebagai istri sekaligus ibu dengan baik. karena, dalam berbagai sudut pandang, saya sering melihat peran wanita dalam proses pendidikan “rumah” dan anak sangat luar biasa. energi yang dikeluarkan jelas lebih besar.

    lucu juga tuh mba, kl ada waktu di buat tulisannya tips dan tricknya, how you can make it hehehhe…
    siapa tau bisa jadi bahan pelajaran.

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>