Work is not a place, it’s an activity
Work is not a place, it’s an activity
kutipan ini saya ambil dari blog uda irfan, orang nomor 1 di Cisco Indonesia. Kalimat ini oleh Cisco dijadikan tag line di trailer-trailer cisco. Ngga tau apakah ada di Indonesia hehehhe…
Komentar saya pertama kali membaca kata-kata ini : Cool, Inspiring, Provocative. Dari tulisan-tulisan uda irfan di blog beliau, saya melihat ini memang berkolerasi besar dengan konsep working anywhere yang didengung-dengungkan oleh banyak industri ICT, dan Cisco sendiri tentunya. Kan katanya IT itu borderless, so sudah sepantasnya waktu, tempat dan jarak menjadi hambatan untuk orang beraktifitas.
Working anywhere. Saya sendiri termasuk orang yang suka kerja “seenak udel”. Seperti saat ini, minggu subuh, jam 3.03, saya tengah menikmati secangkir cappuccino dan sebungkus rokok di salah satu cafe favorit saya di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Alasan saya sederhana : enak, santai, bisa kerja sambil ngupi, nungging, mendengarkan musik, dan yang paling penting, kalau lagi butek tinggal putar pandangan sekeliling. Pasti banyak pemandangan yang menyegarkan mata hehehhe…
Internet, hand phone dan berbagai perangkat elektronik lainnya memang mambawa banyak angin perubahan dalam pola hidup kita. Efisiensi, efektifitas dan produktifitas menjadi issue yang selalu diangkat. issue work at home, home office, virtual office, outsourcing adalah beberapa issue lain yang sering terbawa. untuk kota dengan tingkat kemacetan seperti Jakarta, hal ini sebenarnya bisa menjadi solusi. so we no need to go out and livin’ traffic jam. (diskusi soal ini juga ada disini dan disini)
so, am i agree?
personally, yes. saya setuju tentang ini. akan tetapi, saya juga harus jujur bahwa saya sering terjebak juga. saya juga harus jujur, terkadang, saya juga sering tidak produktif karena semua kemudahan-kemudahan itu. Sering keenakan dan kebablasan
But saya tidak akan menyalahkan teknologi. Permasalahan justru ada kepada ketidakmampuan saya untuk me-manage diri. Dan menurut saya, inilah permasalahan umum kita semua. Teknologi toh hanya alat, ibarat pisau. Bisa dipakai untuk memasak, dan tentu saja bisa dipakai untuk membunuh. Makanya jika konsep working anywhere membuat tidak ada lagi batasan tempat dan waktu tentang bekerja, lalu sebagian orang menganggap akan mengganggu banyak hal, seperti waktu untuk keluarga, beristirahat, dan sebagainya, apakah ini karena teknologi? Saya fikir bukan. Menyalahkan teknologi saya fikir hanya bentuk excuse atas ketidakmampuan kita mengelola dan memegang kendali atas diri sendiri. Subyeknya tetap kita, manusia, bukan alatnya.
Saya pernah mengulas pada tulisan saya terdahulu tentang virtual office dan outsourcing, yang intinya memang benar, teknologi bisa memudahkan banyak hal. Tapi ada beberapa faktor realita yang menyebabkan itu tidak secara mudah untuk dilakukan. Dalam tataran realita, tetap merasa pendapat saya tidak salah. Tapi, setelah membaca tulisan di blog uda Irfan, saya menemukan satu kesimpulan baru.
Apa kesimpulan itu?
Ya, bahwa pada prinsipnya, setiap perubahan, apalagi perubahan tersebut adalah sebuah perubahan budaya, maka tidak akan mudah untuk menerapkannya. Intinya ada pada willing untuk berubah. Perasaan nyaman akan sesuatu yang sudah biasa kita lakukan membuat kita sulit untuk berubah. Dan posisi steady state itu ternyata berbahaya. Tidak banyak orang ternyata yang siap untuk berubah. Saya jadi malu sendiri ketika menyadari bahwa ketika saya menyatakan sulit untuk menerapkan konsep virtual office dan outsourcing jarak jauh, saya tidak ubahnya seperti orang yang bilang “ngapain pake komputer, wong saya ngetik pake mesin tik tetep bisa kok…” .
Perubahan dilihat oleh orang-orang yang melihat kedepan. Orang-orang dengan visi. Maka, ketika hal itu sulit untuk diterapkan sekarang, wajar-wajar saja. Tapi, jika lalu kita terjebak untuk membenarkan sesuatu karena faktor realita, inilah jebakannya. Memang perlu penyesuaian dalam hal cara dan strategi, tapi menurut saya visi-nya tetap jangan sampai berubah, if we want to be a visionary leader…
*ditulis tanggal 17 November di Kemang Food Fast, subuh-subuh jam 3 pagi, dan diteruskan di kantor pagi ini…
Popularity: 3% [?]
Saya kenal orang yang sudah berhasil menjalankan isu itu (work at home, home office, virtual office, outsourcing). Memang faktor attitude manusia yang jadi kunci keberhasilan. Dan, memang, bikin ngiri kuli kayak saya yang saban hari mesti jadi commuter. Dan, tentu saja, menarik buat dijadikan cita-cita.
#totot : wah… saya dikunjungi sesepuh blogger nih… hiueheiuhie… thank mas totot udah berkunjung
btw, saya ada banyak teman yang sukses berhome and virtual office. but, rata2 kl ngga personal, ya dengan LN. akan menarik jika ada yang sukses menerapkan benar2 di ind, dengan sekian jumlah staff, dan running well serta memberi impact bagus terhadap corporate culture. btw, boleh tau mas sapa temen mas yang udah berhasil itu? pengen belajar euy heheheh
Sebentar lagi akan saya tulis di blog, meskipun lebih banyak dari sisi lainnya, yaitu sisi dia sebagai penggemar jazz. Tapi bahkan situs jazz yang dia bangun juga dikerjakan dengan pola yang sama seperti dia mengerjakan bisnisnya: home office, virtual, outsourcing.
Tunggu tanggal mainnya.
#totot : siyap bang. ditunggu tanggal maennya heiuhiuehie
Padahal banyak orang mengejar untuk berada pada posisi steady state itu, termasuk saya, heran juga dengan kebiasaan saya ituh hehehe
memang budaya masyarakat mungkin belum siap untuk menerima segala kondisi dari aspek suatu kemajuan seperti tulisan anda itu. Terlebih soal konsep working anywhere. Rasanya belum ada industri besar di negeri ini yang mengimplementasikan, atau saya minim referensi?
#pudakonline : heiuheiuheiue.. wajar lagi mas. buat saya sih ngga ada yang salah. but, personally, buat saya steady state adalah sebuah kematian, ketika tidak ada lagi yang kita cari :). tapi tiap kita punya alasan toh atas setiap pilihan? selama sadar konsekwensi mah asik2 aja mas. yang kaco kl cuma ikut2an tanpa tau kenapa
sekali lagi, kl banyak orang bilang masalah sulitnya IT berkembang di Indonesia karena adanya digital devide, buat saya yang terjadi bukan itu, tapi cultural devide
referensi saya sendiri terbatas. kl di LN sih banyak lah. Google salah satunya. Cisco sendiri menurut saya juga menerapkannya. didalam negeri? to be honest saya juga ngga punya referensi. tapi menurut pakde totot ada tuh :). kita tunggu aja tulisan beliau yang berikutnya…
Ed, mungkin bisa dibilang rekan2 kamu di Malang udah nerapin virtual office walaupun gak sepenuhnya 100%. Tapi perubahan ke arah itu udah mulai terasa.
#bee : yes, sure. kl soal itu kan udah sejak jaman wohland to bee?