Tulisan kali ini saya sampaikan karena pertama : gara-gara berkunjung ke blog kang kartubi, baca posting dia yang ini, komentar, lalu di bales sama Erander (Erander juga membahas topik ini disini) dan Zaldehoo. Daripada saya nyampah-nyampahi blog kang kartubi, saya nyampah disini saja :). Kedua, saya kok heran. Kayaknya banget sekali orang-orang yang hidup dalam pesimisme. Apalagi kalau sudah membawa-bawa situasi negara bernama Republik Indonesia.
To be honest, konsep berfikir positif ini mengalami perjalanan panjang dalam hidup saya. Kakak tertua saya, seorang psikolog adalah orang yang paling berpengaruh dalam hal ini. Plus teman-teman jaman kuliah di Malang waktu masih parah-parahnya mempertanyakan Dia *maaf ya Tuhan… * So, mengingat saya hanya ingin berbagi, tidak dalam rangka menjadi pakar positive thinking, saya akan bercerita bagaimana frame berfikir ini tertanam dalam kehidupan saya.
Ada peristiwa yang menjadi salah satu momentum besar dalam pola berfikir saya. Alkisah (halah!), dulu saya termasuk mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktu kuliah di senat, himpunan, workshop, radio kampus, sampai lomba P4 (disini nih saya kenal papabumbum hehehhe) dan seabreg organisasi mahasiswa, selain menghabiskan waktu kuliah “tata boga” di cafe teknik, dan bekerja (Kalo ngga kerja ngga bisa kuliah masalahnya hehehe..) Senat kampus saya beraliran hijau, tapi anti OMEK. Jadilah segala aktifitas terkait dengan urusan agama.

Satu ketika, ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) saat itu, Mas Askan Setia Budi mengeluarkan statement yang kontroversial dimata teman-teman aktifis pada saat pelaksanaan STUDENT DAY (Masa orientasi pasca OSPEK). Mahasiswa Baru (MABA) putri tidak boleh melakukan ritual wajib MABA : Lari pagi keliling kampus setiap sabtu pagi, hari pelaksanaan Student Day. MABA putri harus lari pagi dan senam pagi di dalam ruangan. Alasannya? Adalah dosa mempertontonkan aurat bagi wanita. Memang, ritual ini sering menjadi tontonan bagi kampus-kampus lain (termasuk senior-senior di teknik hehehe) karena lari pagi ini juga sangat provokatif. Radius puluhan meter suara teriakan kami sudah terdengar, menunjukkan hegemoni keteknikan yang sangat kental. Show of Power lah sederhananya.

Hampir semua komponen protes. berbagai dalil dikeluarkan, dari berbagai sudut pandang, dari yang logis sampai yang tidak logis. Termasuk menggunakan dalil-dalil agama itu sendiri. Sang pembuat kebijakan sampai disidang oleh teman-teman aktifis karena dianggap tidak logis (pembentukan cara berfikir logis sangat kental di kampus teknik). Tapi beliau bersikukuh. Sebuah statement yang sangat saya ingat sampai saat ini sebagai dasar beliau kira-kira seperti ini :
“Saya ini seorang Ketua Perwakilan Mahasiswa, yang dipercaya sebagai representative mahasiswa Teknik. Sebagai pemimpin, saya bertanggungjawab atas tindakan orang-orang yang saya pimpin. Jika orang yang saya pimpin berbuat kesalahan, berbuat dosa, karena statement dan kebijakan yang saya buat, maka saya ikut bertanggungjawab atas dosa tersebut. Dan saya lebih takut akan tanggungjawab ini, daripada saya harus membiarkan dosa itu berjalan dengan legitimasi saya…”

Namun, dengan berbagai argumentasi, pernyataan beliau ditolak mentah-mentah oleh forum, dan pelaksanaan STUDENT DAY berjalan dengan sebagaimana mestinya.Waktu itu saya termasuk yang sukses menyudutkan argumentasi beliau.

Terus terang, sampai sekarang, statement beliau masih clear dikepala saya. yang terbayang dipikiran saya, betapa berat tanggungjawab sebagai pemimpin. Andai para pemimpin bangsa ini berfikir seperti itu. Betapa besar nyali mas Askan berani menghadapi teman-teman aktifis yang terkenal kritis. Anak Teknik pula, yang terbina dengan keras.

Tak lama setelah kejadian itu, ada pemilihan Ketua Senat. Jaman itu, ceritanya generasi angkatan saya lah (Angkatan 95) yang dapat “jatah” memimpin. Saya punya 2 teman aktifis yang waktu itu cukup berpengaruh, penggerak senat jaman itu : Azis, anak sipil, dan almarhum Kholis (hope you rest in peace bro..), anak pengairan. Saat itu teman-teman sering bilang kita bertiga sebagai Three Musketeer. Selain itu, ada 1 tokoh yang cukup dihormati karena kesantunan dan kharismanya, Danki (sebutan untuk pemimpin angkatan waktu OSPEK), namanya Iqbal, anak mesin. (Btw, ini murni versi subyektif pribadi. So, buat temen-temen seangkatan di kampus dulu yang baca, maap yee.. namanya juga subyektif…)
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba teman-teman mendaulat saya sebagai calon ketua senat. Parahnya, teman-teman seperti “ngerjai” saya. Tidak satupun dari tokoh-tokoh jaman itu yang dicalonkan dan mencalonkan diri. Asli, gelagepan lah saya waktu itu. Dan jelas saya menolak. I completely sure that im not a good candidate. Banyak yang lebih pantas. Argumentasi saya tentang ketidak-pantasan saya disikat habis oleh teman-teman. Namun, sebenarnya saya tidak mengungkapkan alasan terbesar saya, kenapa tidak mau dicalonkan.

Mereka tidak pernah tau bahwa saya sangat tidak pede waktu itu. Lebih tepatnya, saya berada dalam ketakutan yang maha dahsyat. Ketakutan yang disebabkan oleh kalimat yang pernah disampaikan Mas Askan. (i wrote it above). Lah, boro-boro harus bertanggungjawab atas dosa orang-orang yang saya pimpin. Again, harus bertanggung jawab atas dosa orang lain!. Gila apa?. Boro-boro dosa orang lain, wong ngurusi dosa sendiri aja ngga yakin bisa lolos ketika nanti *jika akhirat itu benar benar ada* mampu melewati shiratul mustaqiem. So, dengan segala upaya, niat busuk, trick, pemikiran, saya menyusun skenario agar bukan sayalah yang harus bertanggungjawab.

Terlepas ini adalah akibat skenario saya, atau memang sebenarnya teman-teman cuma iseng nyalonin saya padahal emang gak pantes (abis, gimana gak deg-deg an. Mendekati deadline tidak ada satu orangpun yang naik jadi calon), akhir cerita jadilah yang menjadi calon tunggal saat itu adalah Hesti, seorang anggota pers kampus, majalah SOLID, dan menjadi ketua senat. (Terakhir, sepengetahuan saya, teman saya ini menjadi penulis dan aktif disalah satu partai politik).

Ketakutan itu berlanjut. Setiap saya dipercaya teman-teman untuk memimpin sesuatu, selalu saya kondisikan orang lain yang naik. Saya lebih memilih untuk menjadi suksesor. Jika tidak ada yang berani, kalau perlu jadi provokator. (damn, i miss all the moment…). Yang penting jangan saya. Cukup sudah, jabatan ketua angkatan, sebuah jabatan seumur hidup yang memang nyaris tidak pernah diganti.

Satu ketika, saya curhat dan menceritakan kegelisahan saya ini kepada sang kakak tertua. Menceritakan ketakutan kronis ini. Karena impactnya sudah kemana-mana. Disatu sisi saya talkative, tapi tidak berani take responsibility. Ujung-ujungnya bisa dibilang NATO, No Action Talk Only. Waktu saya ceritakan, kakak saya cuma tersenyum.

Saya tau tidak mudah untuk bicara dengan saya. Dia tahu betul watak saya yang keras kepala, relatif mau menang sendiri, (andaikan harus mengakui kebenaran orang lain, suka ngga mau keliatan langsung hehehe) argumentatif bahkan bisa retorik, dan cukup alot kalau berdebat. Satu lagi. Saya orangnya logic minded. Sementara beliau (3 kakak saya ustadz semua. cuma yang nomor 4 yang rada bandel, tapi sangat penyayang dan perhatian kepada keluarga. Dan saya? ngga jelas! hehehehhe) suka menggunakan pendekatan-pendekatan agama, firman Tuhan dan sejenisnya. Namun, pengetahuan dia sebagai seorang psikolog membuat dia mampu membaca situasi itu. Dan dia masih meyakini 1 hal, bahwa saya masih sangat yakin dengan agama yang saya anut.
Dan disinilah awal hidup saya yang selalu mencoba berfikir positif apapun kondisinya… supaya tidak kepanjangan, saya akan menyampaikan resumenya saja.
Pertama, dia menggunakan pendekatan psikologi. Jelas saya punya kesulitan berdebat dengannya. Berbagai referensi, pemahaman dia sebagai konsultan SDM dan psikolog bertahun-tahun, jelas menjadi point tersendiri. yang kadang membuat saya sebal, dia punya daya ingat luar biasa atas peristiwa, nama, tokoh, waktu, buku, jurnal, sejarah dan sebagainya.
“Ed, banyak yang lupa bahwa jiwa raga ini adalah rangkaian yang sistematik. Ada hubungan yang sangat kuat antara raga yang bergerak atas perintah otak dengan kendali hati. Banyak yang tidak faham bahwa otak bekerja atas kendali hati”

“Otak itu bekerja sesuai keyakinan kita. Ketika ujian, melihat soal lalu kita bilang “wah, soalnya susah nih…”. Maka otak akan bekerja untuk membuktikan bahwa soal itu benar-benar susah. Ketika kita yakin dan berkata “gue yakin bisa” maka otak akan bekerja untuk membuktikan bahwa soal itu bisa kita selesaikan”

Dalam perjalanannya, pemahaman ini mendapatkan banyak tambahan pembuktian. Buku Paulo Coelho, Sang Alchemist menyampaikan dengan istilah “bahasa semesta”-nya. So, bukan saja otak yang bekerja untuk membantu pembuktiannya, tapi seluruh tubuh, bahkan seluruh alam semesta akan membantu kita. Dan dasarnya adalah sebuah keyakinan. positive thinking. Yohanes Surya juga membahasnya dalam buku Mestakung, Semesta Mendukung. 3 dari tetralogi buku-buku Andrea Hirata juga banyak mengutip soal ini. (hal yang sama pernah saya bahas disini)

Dalam bahasa lain kita sering dengar tentang sugesti, intuitif. Percaya atau tidak, its work. Ingat suatu malam, saya diajak mas heru ke puncak. Dia mengajak anak laki-lakinya, Helmut. Malam itu sangat dingin, dan helmut kedinginan. Merengek pada ayahnya. Bukannya memberikan jaket atau apa, si ayah malah menyuruhnya membuka baju, lalu menyuruh anaknya berulang-ulang bicara “tidak dingin, tidak dingin”. Alhasil, helmut dengan santai, tidak kedinginan, juga tidak sakit setelah pulang dari sana. Orang-orang disekeliling kita waktu itu hanya melihat dengan tatapan seakan-akan kita 4 (plus susie yang ikut waktu itu) adalah alien dari planet entah berantah.

Ada permainan menyeberangi api yang belakangan populer dilakukan oleh komunitas cina menyambut hari raya dan 17 agustusan. Diberi jampi-jampi?. Tidak. Orang yang menyeberangi bara api itu hanya diminta meyakini bahwa api itu tidak panas. Si “pawang” hanya “melihat pertanda”, membaca tingkat keyakinan orang, lalu mengijinkan mereka berlari ketika dia melihat orang itu sudah yakin.

Banyak fenomena seperti itu bukan?

Kembali ke diskusi saya dengan Da Ad, kakakku itu. Kali ini dia gatel untuk tidak membawa-bawa agama. tapi dengan pendekatan unik, yaitu pendekatan logika dan data. Dia tau betul aku tidak bisa cuma “diomongin” pake ayat. Ngga mempan.
Kakakku yang satu ini orang yang benar-benar meyakini bahwa alqur’an benar-benar sebuah inspiring books, sumber segala sumber ilmu, semuanya. Tidak cuma ilmu akhirat. Dia meyakini di Alqur’an ada Fisika Quantum, ada biologi, ada matematika. Sama halnya dengan saya, kita sepakat bahwa semua ilmu, apa pun itu adalah ilmu Tuhan. Tidak ada dikotomi. Dimata dia, Alquran satu-satunya buku yang bukan saya one step a head, tapi 2 step. Aku ingat cara dia menjelaskan surat Al Alaq sebagai contoh betapa Alquran itu sangat visioner. Aku pernah membahasnya disini. Dan satu lagi. Dia menghafal alqur’an tidak dengan menghafal. Dia hafal karena sangat sering menjadikan Alquran sebagai referensi. Sebuah cara yang tidak lazim menurut saya.

So, inilah pendekatan yang Kedua.
“Ed, tau ngga berapa jumlah ayat di Alqur’an yang dimulai, (benar-benar di mulai di awal ayat, bukan ditengah-tengah) dengan kata “Ya”, dan berapa yang dimulai dengan kata “La”? “.

Well. jelas aku tidak mampu menjawab. Boro-boro menjawab pertanyaan ini. Wong aku masih di level sekedar baca, belum sampai memahami dan mencari makna. Dia meneruskan…
” Hanya ada 1 ayat yang di mulai dengan kata “La” ed. Ketika Allah bicara soal zina, di surat jfaejfoeazzz (well, sorry to say, im not good on reminding…)..”

Aku masih tidak mengerti korelasinya. Dia meneruskan.

“Pernahkan berfikir, kenapa Allah di Alqur’an ketika menyampaikan “amar ma’ruf nahi munkar” selalu diawali dengan kalimat “amar ma’ruf” dan tidak pernah “nahi munkar anar ma’ruf?”

Nah lo. Ini lagi. Iseng banget dia sampe mikirin Tuhan segala…

“Masih ingat filsafat ilmu kan?” lanjutnya..
Aku mengangguk, tidak bicara. Ya. Ketika orang-orang yang lulus UMPTN diberi hadiah motor, atau dimodali sangu, ditemani, dan segala materi dan perhatian lainnya, saya hanya diberi sebuah buku kumel berjudul “Ilmu dalam Perspektif” karya Jujun S Sumantri. Itu saja. Tanpa uang, pergi ke Malang sendiri, kota yang namanya bahkan baru aku ketahui waktu bimbingan belajar gratis di Ganesha Operation, Bandung. Betapa sebalnya aku waktu itu. I love reading, but i love. Tapi aku cuma suka komik, novel, dan cerita silat. Buku serius? C’mon. Saya orang yang suka belajar dari diskusi dan mendengar. Tidak suka membaca dan menulis. Sebuah kebiasaan yang aku sesali ketika umur sudah makin bertambah. Dibuku itu dijelaskan bahwa filsafat adalah anak emas ilmu pengetahuan. Dan filsafat adalah sebuah ilmu yang sederhana, karena hanya berangkat atas 3 hal : Apa, Mengapa dan Bagaimana. Da Ad mencoba mengajarkanku bahwa hidup itu sangat mudah. Karena setiap waktu, setiap permasalahan, kita hanya perlu mencari jawaban atas 3 pertanyaan : Apa, Mengapa dan Bagaimana…

” So, kenapa Tuhan selalu menyampaikan seperti itu?”

Kembali, aku tidak tahu jawabannya. Melihatku hanya diam, dia meneruskan.

“Karena Tuhan kita sangat berpositive thinking, Ed. Dan dia mengajari kita untuk seperti itu. Begitulah Islam. Kata “Ya”, adalah kata-kata himbauan. Ajakan. Kata-kata aktif. Agama menyuruh kita berbuat, bukan hanya diam.

Yap. Aku hanya bisa setuju tentang itu. Secara psikologis ini sangat berpengaruh. Inilah yang menyebabkan kenapa bangsa kita ini terlahir menjadi menjadi bangsa yang kurang kreatif, pasif. Masalahnya kita sejak kecil sudah terlalu banyak kena kata-kata “La”, kata-kata larangan, kata “Jangan”. Orang-orang tua kita telah membunuh kreatifitas kita sejak kecil, atas kemalasannya menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan kita. Sementara jelas, dimasa kecil, anak-anak haus akan pertanyaan “Apa” dan “kenapa”.
“Jangan pegang pisau nanti tergores”.
“Jangan duduk didepan pintu nanti jauh dari jodoh”
(kalo dipikir-pikir bener juga. Apa hubungannya duduk di pintu sama jodoh?
“Jangan keluar rumah, sudah magrib. Nanti kesambet setan”

dan banyak jangan-jangan lainnya.

Aku kembali mendengarkan omongannya…

“Hal yang sama juga menjadi alasan kenapa urutan kalimat “Amar Ma’ruf” selalu diikuti dengan “Nahi Munkar” dan tidak pernah sebaliknya. Allah mendorong kita mengawali tindakan dengan niat baik dan berbuat baik, baru bicara melarang kita berbuat yang dilarang-Nya. Jadi, kita didorong untuk berbuat, berbuat dan berbuat, dan diniatkan untuk kebaikan.”

Omongan yang lagi-lagi sulit aku bantah. Ku coba untuk mencari sudut pandang lain : management, SDM, psikologi, filsafat, bahkan matematika maupun pelajaran bahasa Indonesia (dulu pernah diajarkan soal pola M-D dan D-M kan? ).

Ia melanjutkan, kali ini dia mengeluarkan kartu trufnya. Senjata mematikan untuk ku. Pendekatan kalkulatif. Matematis. (Pendekatan ketiga)
“Mari kita pake matematika sekarang. Allah menjanjikan, bahwa setiap niat jahat belum akan diganjar dengan hitungan dosa. Sesuatu terhitung dosa jika sudah dikerjakan. Beda dengan berbuat baik. Niat saja sudah diganjar pahala. Ketika dikerjakan, dapat pahala lagi. Disampaikan dan mengajak orang lain, dapat pahala lagi. Dibulan Ramadhan? berlipat ganda pahalanya”

“Semua orang secara alamiah sebenarnya tidak ingin berbuat salah dan berbuat dosa. jika kita berangkat dari perspektif takut, dosa, dan berbagai energi negatif lainnya, hal ini akan mendorong kita untuk secara alamiah untuk takut berbuat. Takut berbuat dosa itu bagus, tapi jika perasaan takut itu membuat kita jadi takut berbuat, ini berbahaya. Sangat berbahaya..”

“Mari kita itung-itungan. Jika karena saking takutnya kita berbuat dosa, kita jauhi semua. tapi efeknya kita jadi takut berbuat. Perbuatan kita hanya 100. Tidak ada dosa, dan ada 100 kebajikan. Coba kalau kita berpikir positif. Berfikir sebaliknya. Kita dorong diri kita untuk terus berbuat. Lalu atas pemikiran seperti itu, ada 1 juta perbuatan yang kita lakukan. Dalam tindakan itu, baik secara sengaja atau tidak, ada 10 ribu dosa yang kita perbuat. Ingat. 10 ribu dosa!”

“Lupakan pelipat-gandaan janji Allah atas perbuatan baik. Lupakan bahwa niat baik menghasilkan pahala. Hitung kotor aja. 100 tindakan, dosa nol. pahala 100. Bandingkan dengan 1 juta tindakan. dosa 10 ribu. pahala 990 ribu. Mana yang lebih baik?”

“Yang penting Ed, niatkan yang baik. Upayakan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Tidak ada kesempurnaan dalam manusia, karena sempurna itu milik Allah. Kenapa kamu harus berfikir bahwa jika kamu jadi ketua senat, mana kamu harus menanggung dosa? Jika kamu berniat baik, dan ingin membuat kondisi lebih baik, kenapa tidak berfikir bahwa jika sebagai pemimpin, kamu melakukan kebaikan, dan orang yang kamu pimpin menjadi lebih baik, mereka mendoakanmu, berapa kebaikan yang akan kamu peroleh? Kenapa harus berfikir betapa pusingnya menjadi pemimpin? Kenapa tidak berfikir betapa indahnya menjadi pemimpin? “

Skak Mat. Sebagai orang yang jaman sekolah rutin ikut olimpiade matematika, tidak pernah dapat nilai dibawah 8 untuk mata pelajaran ini, pendekatan matematis yang dia lakukan telak menyentuhku. Aku hanya bisa memaki-maki, betapa bodohnya aku hanya melihat dari 1 sudut pandang. Tidak melihat secara utuh, dari berbagai sudut.

*hmfff… kayaknya tulisan ku kali ini cukup panjang. mulai pegel nih :p daripada yang baca bosen, mending tak pecah aja. nanti tak lanjutkan ceritanya. Maaf jika membacanya jadi membosankan…

*to be continued…

Popularity: 6% [?]

16 Responses to “Positive Thinking ; Benarkan orang baik selalu dekat dengan musibah?”

  1. Wah, panjang banget!
    Tapi saya cukup menikmatinya… Ini masuk daftar artikel favorit saya. Hehehe… :D

    Btw, saya kpingin punya keberanian kayak Mas Askan itu…

    Tapi, saya boleh nanya gak?
    Boleh ya… Kenapa waktu itu mas Edo mrupakan salah satu yg tdk mendukung kbijakan Mas Askan itu?

  2. Pernah dengar cerita petani yang kehilangan kuda ga??

  3. Akhirnya, postingan cerita menariknya jadi juga yaa… dengan setting madu (masa dulu.. nyaingi istilah jadul)… asyik banget kayanya.

    Bernafas dulu yaa… (wuuushhhhh). Kemudian saya tutup dulu, baca seriusnya nanti lagi. Sebab lagi banyak yang harus dicangkul hari=hari ini bos… :) mohon doanya bos, biar cangkulnya tetap tajam…

  4. #praditya : wah.. gimana yah hehehe… panjang tuh jawabannya. give me time. tapi sederhananya kira2 gini. pertama, pemikiran saya saat itu mungkin masih cukup dangkal :) yagn kedua, saya memang punya reason bahwa saya tidak menerima 100% kebenaran dari omongan itu.

    #erander : wah, ngga tuh. boleh dong diceritain

    #kurt : siyap kang. selamat mencangkul :)

  5. hmmm..panjang banget :)
    btw,tulisannya bangus banget

  6. #langit : hehehe.. padahal blon kelar tuh. ngga kebayang kl aku teruskan :)
    thank for visiting, langit..

  7. Org yg sebenar-benarnya baik, tidak mengenal musibah. Barokah atau musibah, itu hanya perkara sudut pandang saja. ;)

  8. #bee : setubuh beeeee

  9. Al kisah seorang petani di pedalaman China membajak ladang dengan menggunakan seekor kuda. Sampai pada suatu hari si kuda lepas dan hilang masuk ke dalam hutan. Pak tani bersedih. Para tetangganya menghibur.

    “Betapa buruknya nasib mu pak.” Kemudian pak tani berkata : “Saya tidak tahu apakah ini nasib buruk atau nasib baik.”

    Beberapa minggu kemudian, anak nya berlari dan berteriak. “Pak, kuda kita kembali dari hutan” dan Pak Petani melihat kudanya datang diikuti beberapa ekor kuda liar dari hutan.

    Desa itu heboh. Tetangga pada datang dan berkata : “Wah, bapak memang bernasib baik. Sekarang kuda bapak bertambah banyak.” dengan tenang pak tani berkata : “Saya tidak tahu, akan ini nasib baik atau nasib buruk.”

    Karena memiliki kuda banyak. Si anak ingin mencoba menunggangi kuda liar tersebut. Ketika baru mau dicoba, kuda meronta dan si anak terlempar sehingga patah kakinya.

    Tetangga kaget: “Alangkah buruknya nasibmu nak” kata tetangga. Tapi dijawab oleh pak tani : “Kita ga tahu apakah ini nasib buruk atau nasib baik.”

    Kemudian anaknya diobati dan menggunakan kruk untuk berjalan. Beberapa hari kemudian, datang utusan kerajaan yang meminta semua pemuda desa untuk berperang. Para orang tua di desa itu sedih ketika anak mereka harus berperang. Kecuali anak petani yang kakinya masih patah.

    Begitulah tentang nasib baik dan nasib buruk. Peace.

  10. wouuu,,asyik bget dialognya ,ed..
    stiap orang punya perspektif berbeda-beda dengan yang lain(hiksx3…)bener. berpikir dalam teori adalah tidak sama dengan berpikir dalam praktik…smuanya dari Dia dan smuanya Akan kembali kepada-Nya. mari kita sama-sama berbuat kebaikan karena-Nya, beribadah, beriman, dan bertaqwa hanya pada-Nya.(hehehe wktunya kutbah kaleee…)..Upzz, marikita cari ridha-Nya..oocceee

  11. #erander : well, nice story. manusia banget tuh suka ngga puas ama situasinya hiuehiuehiue…

    #asy : thank asy. itulah kita, manusia :) karena hidup itu memang bisa dipandang dari sudut mana aja. sebuah kenikmatan pun kl mo dirasakan ngga enak ya bisa :) so, kenapa harus berfikir negatif bukan? btw, belum sempet nerusin ceritanya nih heheheh

  12. aku gak sempet baca semua tapi just pointnya aja but i love it, just let it flow….

  13. #lia batam : heheh.. thank for visiting lia..

  14. Edo.. artikelnya keren banget. Membuat gw berpikir dan menguji banyak hal. Thanks buat inspirasinya.

  15. assalamualaikum wr. wb.
    bagaimana kabar edo…?
    kangen nih, begitu baca tulisan edo….
    teringat masa lalu di kampus tercinta
    sedang kerja di mana sekarang…?
    tlg kirim email ke saya ya…
    ada banyak hal yg mau saya sharing2 nih..
    tks
    wassallamualaikum wr. wb.

  16. Assalamu’alaikum. pa kabar mas? senang sekali baca artikle sampean. sukses mas

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>