Perlukah sejarah dihapus, ?
Jika saya mengutip omongan seorang tokoh proklamator yang sangat saya hormati, presiden kita, Soekarno, yang dikenal dengan istlilah “jas merah”…
“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah…”
maka jelaslah sudah.
Sejarah adalah sejarah. Ketika ada sekian banyak pelaku, pengamat, dan penulis sejarah menuliskan perspektifnya, maka jelas ada faktor subyektifitas si sipelaku, sipenyampai dan sipengamat dalam hal ini. Begitulah hidup. Ketika misalnya sebuah partai politik atau seorang tokoh memenangkan posisi tertentu, didukung oleh orang-orang tertentu, maka dimata mereka, pendukung mereka adalah orang-orang baik. Ketika orang-orang tersebut dianggap bersalah, mereka akan membela. Orang-orang yang menyalahkanlah yang salah. Hukum ini berlaku sebaliknya.
Lebih real nya begini.
Ketika Soekarno memimpin kemerdekaan Indonesia bersama Bung Hatta dan tokoh-tokoh lainnya, dia dielu-elukan. Lalu terjadi tragedi. Soeharto memimpin bangsa Indonesia. Ketika Soeharto memimpin, maka dalam hal tertentu, Soekarno dianggap telah berbuat salah dan mencederai sejarah bangsa ini. Soehartopun hadir sebagai Bapak Pembangunan yang membawa Indonesia kedalam percepatan pembangunan.
Lalu Soehartopun digugat. Reformasi terjadi. Soeharto jatuh. pemerintahan dilanjutkan sementara oleh BJ Habibie sebagai Wakil Presiden saat itu. Lalu GusDur menjadi presiden dengan Megawati sebagai wakilnya. Jadilah saat itu Soeharto menjadi pesakitan yang dianggap membawa Indonesia dalam keterpurukan. GusDurpun dianggap sebagai Bapak Demokrasi. Dan banyak perubahan terjadi. Tak lama GusDur menjabat. Dia digugat. Megawati yang sebelumnya begitu mesra dengan GusDur naik ke tampuk Presiden. Dalam wawancara di KickAndy, ketika ditanya siapa yang paling bertanggungjawab tentang jatuhnya GusDur, dia menjawab : Amin Rais dan Megawati. Ya, Megawati yang ketika menjatuhkan Soeharto berada di kubu yang sama dengan Gusdur. Saat itu, GusDurpun jadi tumbal. Dia dianggap kebablasan membawa demokrasi di Indonesia. Ketika Megawati naik, dia, yang notabene anak dari Soekarno, membalik kembali sejarah tentang ayahnya. Soekarno kembali menjadi tokoh. Sejarah kelabu tentang G 30 S PKI digugat. Soeharto-lah bilang keladinya. Entah bagaimana dengan Pak SBY. Dan saya yakin, ketika suatu saat nanti, salah satu anak dari Soeharto menjadi Presiden negara ini, hal yang sama akan terjadi. Pun, ketika misal Yenny Abdurrahman Wahid menjadi presidennya.
Got my point? Inilah sejarah negara besar bernama Indonesia… tulisan Gede Prama berikut ini akan memberikan perspektif yang mencerahkan.
kembali tentang sejarah.
Ketika saya membaca tulisan bangaip tentang peristiwa yang terjadi di depok, yang ternyata juga terjadi di beberapa kota lainnya di Indonesia, tentang pemberangusan buku-buku yang dianggap “tidak sesuai dengan sejarah”, dan cerita tentang diadilinya Bersihar Lubis, seorang kuli tinta yang menulis pandangan dia tentang kondisi itu, saya tercenung.
Kenapa?
Ya. saya terus terang tidak terlalu memahami peristiwa ini. Tidak ingin sekedar terbawa nafsu lalu ikut dukung mendukung. Saya selalu percaya setiap peristiwa ada alasannya. Tapi tulisan bangaip membuat saya “berjalan-jalan” membaca beberapa referensi terkait. Bagi yang ingin mengikuti silahkan baca disini :
situs AJI
situs ACI
Koran Tempo
Mediacare
Jurnal Nasional
tambahan terbaru, dari Detik
Tentang berbagai prespektif, bisa baca di blog pak sawali, blogirang, mantagisme, antobilang yang langsung bikinin banner, mas reza, kang-guru, islam-modern, dll
Ini bukan pertama kali issue seperti ini tumbuh : kekebasan pers yang dibelenggu, kisah tindakan anarkis pihak keamanan dan orang-orang yang punya wewenang lebih, dan sebagainya. Saya selama ini cenderung mencoba untuk proporsional. Saya setuju kebebasan pers. Bahwa kebebasan berpendapat adalah Hak Azasi. Saya sendiri penganut kebebasan yang lumayan ekstrim dan sangat anti dipenjara oleh apapun. Buat saya ketika kebebasan saya dibelenggu, itu sebuah kematian. Tapi saya juga sebel luar biasa melihat kebebasan pers itu ikut melahirkan sinetron-sinetron basi dan sangat tidak cerdas, media cetak ala buku porno dan stensilan yang benar-benar menyedihkan. Saya sebel liat aparat yang suka seenaknya. Tapi saya sendiri juga sering merasa betapa kita sering juga membuat aparat itu kehabisan kesabaran atas ketidakteraturan kita. Ngga usah susah-susah. Seberapa mudah ki diatur dijalanan Jakarta yang sangat sumpek ini?
Tapi, kembali tentang sejarah…
Sungguh konyol jika dengan alasan apapun lalu buku dibakar. Apa salah si buku? Buku adalah salah satu sumber ilmu. Lalu apa gunanya dibakar? Cacat sejarah? Jika jaman Soeharto semua buku PKI menghujat Soekarno, lali jaman Megawati buku-buku direvisi karena Soekarno Ok, dan terus, dan terus, apakah kita akan terus membakarnya? Jika iya, maka tak satupun buku layak diterbitkan!.
Memberangus sumber-sumber ilmu buat saya berarti sudah mendukung proses pembodohan, menolak pencerdasan. Jangan karena nila setitik, susu sebelanga dibuang. Jangan karena luka di ujung jari, satu lengan dipotong habis. Kalau karena 1 alasan buku dibakar, maka tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Karena setiap buku adalah karya subyektif sipenulisnya. Kalau memang tidak setuju, buat versi barunya. Biar masyarakat memilih, mana yang lebih “masuk akal” dan bisa diterima. Benci sama amerika dan israel tidak dengan cara memboikot produk-produknya, tapi bikinlah produk yang jauh lebih baik. Jika di Internet banyak content yang merusak moral, jangan internetnya yang dibelenggu. Tapi buatlah content-content yang bermanfaat.
Membiarkan semua (pilihan) ada dan tersedia, membiarkan masyarakat kita “membaca” banyak perspektif dan pilihan, akan menciptakan masyarakat cerdas dan kritis. Saya percaya hukum waktu akan berlaku. Media basi akan ditinggalkan, media berkualitas akan diikuti. Informasi palsu tidak akan bertahan lama, kebenaran akan diikuti. Semakin kita mencoba menutupi sebuah kebusukan, maka semakin bau lah dia.
So, saya dengan jelas menyampaikan, mereka yang tidak memberikan pilihan adalah diktator. Mereka yang tidak memberikan pilihan adalah orang-orang yang ingin mengganti manusia dengan robot. Orang-orang seperti itu hanya orang-orang yang ingin bangsa ini tetap bodoh, karena kebodohan mereka menyebabkan mereka takut orang lain semakin pintar.
So. Mungkin kadang bahasa seorang kuli tinta bikin kuping panas. tapi lalu membalas dengan memukuli, menggeret mereka kepenjara adalah cara yang sangat kampungan.
So, terlepas tentang bahwa tulisan ini hadir karena tulisan bangaip tentang tragedi depok, saya mendukung adanya kebebasan pers yang bertanggungjawab, tulisan-tulisan yang mencerdaskan. saya menolak pembakaran buku-buku, saya mendukung bangsa ini menjadi bangsa cerdas dan kritis.
*sekedar tambahan, baru jalan-jalan ke blog pak Yusril. perspektif tentang kebebasan diulas cukup menarik oleh beliau disini.
Untuk Bang Bersihar Lubis, saya dukung anda untuk tetap kritis dalam membuka mata bangsa ini. Tanpa anda menambahkan kata-kata “dungu” di tulisan ada, banyak kita sudah tau kalau mereka yang memberangus sumber ilmu adalah orang-orang yang dungu.
Popularity: 8% [?]

Wong orang tua anak-anak sekolahan lagi susah2nya nyari duit buat beliin buku anak2nya, eh ini malah bakar2an buku…
Hahaha… Just Kidding!
#praditya : dit, lu kerjaan tiap hari ol mulu yah? sumpah cepet amat balesnya hehehe
Salut, salut, Pak Edo. Sikap proporsional yang bener ya begini ini, hehehehe
Tidak hantam kromo dan gebyah uyah. Saya sangat sepakat dengan Pak Edo, kebebasan pers yang teralu berlebihan sehingga sering membikin sensasi berlebihan itu yang perlu kita tolak. Namun, pers yang berupaya melakukan pencerahan dengan melakukan kritik itu yang perlu kita bangun. OK, Pak Edo, salam ngeblog!
menurut nietzsche, dalam sejarah penciptaan alam ini kesalahan kedua terbesar Tuhan adalah menciptakan wanita.
Kesalahan pertamanya? diciptakannya edo! hahahaha
halah, basi yo do?
#epat : aku pe!TM
So what ? itulah demokrasi bung.
Kejadian yang anda anggap salah dikomunitas anda belum tentu salah di komunitas lain.
#islammodern : no what what kok mas
sante aja. namanya juga perspektif. ngga ada yang maksa kok hehehe…
btw, ini ngomentarin yang mana yah?
maaf kl saya kurang mudeng..
kemerdekaan berpendapat memang sangat mendukung untuk suatu kemajuan namun juga ternyata kemerdekaan berpendapat (baca demokrasi) ini pun memberikan ruang yang menganga buat siapapun.
jadi sebuah negara demokrasi memang akan terjadi begitu-begitu kayanya. Dan ternyata yang memang lagi-lagi seperti di artikel ini yang bekuasa lah… sebagaimana juga di Depok begitu.. jadi gimana nih bung Edo, benar gak ujung2 politik dan sikap saya, yang gak ngerti politik ke laut aja deh.. sebab saya gak ngerti pol heheeh
“sejarah itu ditulis oleh para pemenang”
itu aja yang saya tau.. jadi kalo aja hitler yang menang pada saat PD2 anda ga akan pernah denger kalo hitler adalah pembunuh maniak yang ga doyan perempuan. yang anda akan tau sekarang adalah hitler merupakan pahlawan perang yang telah berjasa membinasakan yahudi yg tamak..
hehehe
salam kenal
Ada 2 kasus dalam peristiwa tsb:
1. Penarikan dan pembakaran buku pelajaran sekolah.
2. Pengadilan Bersihar Lubis atas keberaniannya berpendapat.
Tolong 2 kasus tsb dibedakan. Untuk kasus pertama, saya malah mendukung Pemda Depok. Apa yg dilakukan Pemda Depok sudah benar dan sesuai dgn UU. Krn buku yg ditarik adalah buku pelajaran sekolah dimana isinya harus sesuai dgn UU dan kurikulum yg telah ditetapkan oleh pemerintah. Perkara isinya itu benar atau tidak, itu perkara lain. Tapi disini pemerintah berhak untuk melakukan penarikan dan pemberangusan buku2 sekolah yg gak sesuai dgn kurikulum. Bayangkan apa jadinya sekolah2 kita dan murid2nya kalau isi buku2 pelajarannya gak ngikut kurikulum, semau gue, dan berkilah atas nama kebebasan pers. INI BUKAN MASALAH KEBEBASAN (APALAGI KEBEBASAN PERS), TAPI MASALAH KEPATUHAN PADA HUKUM DAN PEMERINTAH, DALAM HAL INI ADALAH DINAS PENDIDIKAN KOTA DEPOK.
Jgn samakan pula dgn peristiwa pelarangan buku2 non-pelajaran seperti buku2 Pramoedya Ananta Toer. Dalam kasus itu, pemerintah jelas memang gak boleh melarang. Krn buku2 Pram memang untuk konsumsi publik dan Pram berhak menulis buku2 itu dan menyuarakan pendapatnya. Perkara apa yg ditulis Pram itu benar apa tidak, itu juga perkara lain.
Nah, untuk kasus kedua, yaitu pengadilan thd Bersihar Lubis. Ini memang Pemda Depok terlalu berlebihan dan mengada-ada. Saya sepakat dan mendukung Lubis dalam hal ini. Inilah wujud kebebasan berpendapat. Pemerintah seharusnya gak perlu sampai mengadili segala. Toh, apa yg dilakukan pemerintah sudah benar dalam kacamata UU dan fungsi kepemerintahan.
Dgn mengatakan pemda Depok melakukan penghapusan sejarah dalam kasus ini, aku pikir juga berlebihan. Soalnya yg ditarik dan diberangus itu adalah buku pelajaran sekolah, bukan buku umum. Jadi penganalogian dgn peristiwa pembakaran perpustakan di Irak, jelas gak relevan sama sekali.
Bahkan menurutku, pihak penulis dan penerbit buku (yg dibakar) tsb yg berusaha menghilangkan sejarah. Terlepas sapa yg jadi dalang dibalik pemberontakan PKI, tetap saja gak bisa menghapus fakta bahwa pelaku pemberontakan adalah PKI. Rasanya bukti2 itu terlalu susah untuk dibantah.
Lalu, apa maksud penulis buku tsb menghilangkannya dari pelajaran sejarah? Apa dia punya bukti kuat bahwa peristiwa2 yg dihapus tsb gak pernah terjadi? Kalo memang iya, seharusnya dia sampaikan dulu pada pemerintah. Atau menulis buku lepas (umum) yg dia berhak menyampaikan kebebasannya bersuara. Bukan langsung menerbitkan “versi”-nya sendiri dan diajarkan di sekolah.
Tanya kenapa?
#kurt : heiuheiuhie…betul sekali kang kartubi. ini adalah salah satu impact dari demokrasi itu sendiri. jelas, demokrasi memiliki investasi yang tidak sebentar agar dia berjalan dengan benar, dan menciptakan keseimbangan.

in my perspective, sebuah demokrasi bisa berjalan baik sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat. intinya adalah pendidikan. bahwa sebagai bangsa yang lama di kekang, disatu sisi saya maklum jika tiba-tiba kita jadi “kebablasan”. tapi kalo keterusan, ya, dodol itu namanya heheheh
tentang berpolitik, hmmm… gmana yah? heiuhiuehie… saya sendiri merasa saya adalah orang yang tidak suka politik. tapi menyitir omongan teman saya (yang saya tulis di blog sampeyan), saya merasakan ada benarnya juga.
intinya, saya tidak suka politik, tapi mengikuti perkembangan politik tersebut, agar tidak menjadi korban dari politik itu sendiri, dan memposisikannya pada tempatnya *seperti komentar pak sawali di blog sampeyan
akhir kata, semua kembali pada pilihan juga toh kang? jika jalan hidup yang paling baik menurut kang kartubi adalah dengan tidak berpolitik, jelas sah sah saja. indahnya dunia jika setiap orang menjalankan perannya sesuai kapasitas masing-masing, dan menjalankan fungsi kontrol terhadap orang lain
#brainstorm : heheh.. singkat, jelas. dan setuju sayah hehehhe…
dan waktu nantinya akan berjalan, membuat orang-orang lain yang ada diperistiwa tersebut membuat catatannya sendiri. lalu kita, sebagai orang biasa, akan membaca, menimbang, yang mana yagn lebih benar
#bee : hehehe.. dari ulasanmu bee, aku sih melihat kita sependapat. mungkin hanya 1 yang tidak. yaitu tentang penarikan dan pembakaran buku
jika dirimu baca, toh aku tidak membuat hubungan dengan pembakaran di bagdad. aku mencoba untuk melihat secara utuh. maaf jika ada yang terlewatkan :). dan dukunganku sama kok sama yang kau dukung hehehe.
tapi kira-kira bee, mari kita berdiskusi tentang ini:
1. tentang kurikulum. justru menarik jadinya, kok bisa yah, jika memang itu adalah buku kurikulum yang standardnya dibuat oleh pemerintah sebagai acuan pendidikan, lolos begitu saja dan jadi panduan di sekolah-sekolah?
2. jika ada yang harus dihukum, seharusnya itu adalah internal insitusi depdiknas dan si pembuat buku
3. mungkin dirimu benar bee, aku berlebihan tentang menghapus sejarah. perspektif mungkin. karena dalam pikiranku, ibarat sebuah informasi yang oleh satu sisi tidak tepat, media punya kewajiban untuk cover both side. artinya, dengan sebuah regulasi oleh pemerintah, bahwa sekolah tidak boleh lagi menggunakan buku A, B dan C, maka menurutku selesai sudah.
4. aku sedikit punya sudut pandang yang mungkin bisa jadi dianggap meluas bee. begini. negara kita tengah berada dalam kondisi masyarakat yang lagi banyak antipati dengan action pemerintah. nah, ngga enaknya kadang jadi pemimpin (dalam case ini pemerintah menurutku), sesalah2nya anak buah, pemimpinnya lebih salah :). sebuah niat yang benar, dilakukan dengan cara yang tidak tepat membuat niat benar itu bisa jadi salah.
dalam konteks kepatuhan terhadap hukum, setuju bee. so, sering kita bermasalahnya disisi cara. sama dalam hal kasus busway. personally, aku termasuk orang yang mendukung. but, karena sosialisasi yang kurang, perencanaan yang kurang matang (tiap lewat depan pancoran gw geleng2. gimana bisa, jalan protokol bernama gatot subroto cuma tersisa 1 jalur untuk kendaraan), jadilah orang tereak2. so, disini dibutuhkan cara pendekatan pemerintah yang pas, tepat, dengan momentum yang tepat pula. dibutuhkan sedikit wisdom
5. dan tetang point kepentingan, jika dianggap pembuat buku itu punya kepentingan, pernahkan kita berfikir bahwa orang juga boleh berfikir yang sama tentang apa kepentingan yang memberangusnya?
6. terakhir, terkait soal perbedaan kita tentang buku, pointku kira2 begini bee. jika memang buku itu tidak tepat, larang penggunaannya. atur dengan aturan panduan baru, buku mana yang boleh. nah, tentang buku yang dimata pemerintah “ngga bener” ini, pemberangusan menurutku tidak akan menghasilkan apa-apa. disatu sisi, aku menganggap, adanya komparasi itu akan membuat kita semakin cerdas dan kritis, dan akhirnya mengetaui yang mana yagn bener, mana yagn salah. kalau konsep pendidikan kita masih “text book”, jelas ini akan jadi masalah. tapi aku berimajinasi. jika konsep pendidikan kita adalah pendidikan yagn dinamis, kalau perlu, bedah kedua buku kurikulum tersebut, guru sebagai fasilitator, meminta siswa berfikir, menggali sejarah, menggali sumber-sumber lain sebagia pembanding, menurut ku kok akan menghasilkan output yang lebih menarik. pemberangusan disatu sisi menimbulkan rasa keingin tahuan. sebagai bangsa yagn lama ditindas, kita punya psikologi mendukung yang tertindas. so, si pengarang buku yang sebenarnya salah, karena diberangus, bisa mendapat simpati dari bangsa ini. salah kaprahlah ktia semua
akhir kata nih bee, biar ngga tegang-tegang amat :p. Tuhannya orang Islam aja ngga pernah melarang dan menyuruh memberangus kitab-kitab agama lain heheheh… tapi didalamnya, Tuhan sudah mengingatkan, apa-apa yang harus kita waspadai
adakah yang lebih fundamental daripada agama kawan?
btw, kangen gw diskusi ama elu bee
kapan2 ikutan ke jakarta atuh, ntar gw traktir kopi deh bee hehehe..
mau? :p
> jika dirimu baca, toh aku tidak membuat hubungan dengan pembakaran di bagdad. aku mencoba untuk melihat secara utuh.
Sori, Ed. Kebetulan aku kesini setelah blogwalking kemana-mana tentang kasus ini. Aku lupa di blog mana gitu yg menyamakan kasus ini dgn pemberangusan perpustakaan di baghdad. Ini agak berlebihan menurutku. Dan gak sengaja tercetus disini.
> 1. tentang kurikulum. justru menarik jadinya, kok bisa yah, jika memang itu adalah buku kurikulum yang standardnya dibuat oleh pemerintah sebagai acuan pendidikan, lolos begitu saja dan jadi panduan di sekolah-sekolah?
Betul. Seharusnya yg kita protes adalah masalah ini juga. Jgn terkungkung hanya pada unsur penindasan pada Bersihar sehingga seolah-olah kita malah mendukung isi buku pelajaran sejarah itu, yg menurutku isinya salah.
> 2. jika ada yang harus dihukum, seharusnya itu adalah internal insitusi depdiknas dan si pembuat buku
Ini gw sepakat sekali!
> 3. ibarat sebuah informasi yang oleh satu sisi tidak tepat, media punya kewajiban untuk cover both side. artinya, dengan sebuah regulasi oleh pemerintah, bahwa sekolah tidak boleh lagi menggunakan buku A, B dan C, maka menurutku selesai sudah.
Sori, tapi bulshit kalo ada yg bilang media PASTI bebas dari pengaruh apapun. Media juga punya kepentingan, jgn lupa itu!
> 4. negara kita tengah berada dalam kondisi masyarakat yang lagi banyak antipati dengan action pemerintah.
Betul. Tapi inilah peran kita, para blogger, dgn media yg lebih bebas dari media konvensional untuk mulai menyampaikan informasi dgn lebih berimbang dan cover both-side. Jgn cuman ikut2-an! Mentang2 para seleb blog mendukung Bersihar, trus semua blogger ikut2-an belaka tanpa tau apa yg sebenarnya terjadi dan menganalisanya scr lebih obyektif.
> 5. dan tetang point kepentingan, jika dianggap pembuat buku itu punya kepentingan, pernahkan kita berfikir bahwa orang juga boleh berfikir yang sama tentang apa kepentingan yang memberangusnya?
Kepentingan yg aku maksud cenderung pada tendensi atau motivasi. Pemerintah dalam kasus ini tendensinya jelas: standarisasi kurikulum. Nah si penulis itu, yg bulshit juga kalo dia bilang gak ngerti kurikulum, apa tendensinya?
> 6. jika memang buku itu tidak tepat, larang penggunaannya. atur dengan aturan panduan baru, buku mana yang boleh. nah, tentang buku yang dimata pemerintah “ngga bener” ini, pemberangusan menurutku tidak akan menghasilkan apa-apa.
Sebenarnya intinya sama aja, pelarangan. Cuman tindakan pemda Depok memang agak berlebihan (membakar). Tapi, aku yakin, jika ada yg mengangkat kasus ini seperti Bersihar yg kemudian disidang, mau dibakar apa gak akan sama aja hasilnya: kontroversi. Kau juga betul, rakyat kita memang agak skeptis ama pemerintah, kesannya pemerintah salah mulu.
> Tuhannya orang Islam aja ngga pernah melarang dan menyuruh memberangus kitab-kitab agama lain heheheh… tapi didalamnya, Tuhan sudah mengingatkan, apa-apa yang harus kita waspadai
Gak perlu bawa2 Tuhan di kasus ini. Terlalu remeh dan kita cuman ngerepotin Dia aja. Tapi salah Dia sendiri juga sih, sapa suruh Dia jadi Tuhan. Hehehehehe…
Jgn lupa juga bahwa Rasul SAW pernah melarang penulisan hadist dan memerintahkan untuk menghancurkan seluruh catatan hadist. Rasul sbg utusan Tuhan, bisa dikatakan itu juga perintah Tuhan. Got the point?
> adakah yang lebih fundamental daripada agama kawan?
Ada. Pemahaman thd agama itu sendiri.
> kapan2 ikutan ke jakarta atuh, ntar gw traktir kopi deh bee hehehe.. mau?
Mau dong. Knp gak di kafet teknik aja?
Ah, ada yg kelupaan…
> aku sih melihat kita sependapat. mungkin hanya 1 yang tidak. yaitu tentang penarikan dan pembakaran buku
Penarikan, aku setuju, bahkan mendukung. Kalo gak ada penarikan akan menimbulkan kerancuan buku pelajaran yg beredar di kalangan siswa. Jgn samakan siswa2 dgn kita2 yg dewasa, sebagian besar siswa kita masih ngikut apa yg diperintahkan gurunya. Belum lagi keterbatasan siswa untuk memperoleh buku2 lain sbg komparasi dari selain yg diperintahkan untuk dipelajari. Belum lagi keterbatasan guru2-nya juga, baik secara finansial atau mental untuk menerima perbedaan pendapat dgn siswanya. Dan masih sangat mungkin guru2 tertentu meminta siswanya untuk menggunakan buku itu. Ini efeknya malah lebih parah, krn pemantauannya akan lebih sulit.
Setelah penarikan, mau dibakar atau gak, sebenarnya gak penting kan?
Kunjungan pertama … salam kenal aja dulu. Pada bacaan pertama … menarik sajiannya. Salam.
#ersis w abbas : wah… ada apa gerangan sampai seorang bang ersis abbas berkunjung ke rumah kumuh saya?
terima kasih atas kunjungannya bang ersis. semoga secangkir kopi panas dan pisang goreng cukup untuk menemani 