poligami : benarkan ada kesetaraan gender?

Edo on November 26th, 2007

hari ini saya membaca postingan mas imam, tiba-tiba saya teringat beberapa waktu yang lalu, ketika kisah kiai kondang memutuskan berpoligami dan menimbulkan berita yang heboh sampai ke RI 1 dan para istri-istri mentri, saya dan 2 kakak saya berdikusi. Sungguh luar biasa kasus ini. Saya sendiri ketika kebetulan harus bertemu dengan beberapa ibu mentri dalam rangka mengerjakan website pengerajin indonesia, melihat sendiri betapa issue itu menjadi diskusi pembuka meeting kami. Sang kiai (mungkin) tidak pernah menyangka efeknya akan seperti itu. Bahwa efeknya bisa menyebabkan pesantrennya yang terkenal, sampai ke manca negara menjadi sepi, bahwa keputusan beliau menyebabkan perekonomian di seputaran pesantrennya merosot drastis, dan perusahaannya yang konon puluhan harus ikut menanggung efeknya (karena toh walau bagaimanapun, perusahaan-perusahaan tersebut juga besar karena pengaruh nama besar beliau). Dan khas kita orang Indonesia, ketika setitik nila (dimata mayoritas masyarakat kita) ditumpahkan oleh sang kiai, tiba-tiba apapun yang dia omongkan menjadi omong kosong. Sungguh unik. 1 kesalahan menghapuskan berjuta kebaikan yang sudah dibuat. Tapi itulah kita, rakyat Indonesia.

Saya tidak akan membahas beliau. Apapun yang terjadi, dimata saya dia tetap seorang kiai besar. Bahwa keputusannya ber-impact kemana-mana, itu urusan lain.

Di blog mas imam saya berkomentar begini :

pernah ada terlintas dalam pikiran saya, kenapa selalu dalam kasus poligami selalu makhluk bernama laki-laki menjadi aktor antagonis, dan wanita jadi protagonis yang tertindas. Padahal, dalam sekain banyak kasus poligami, wanita berada dalam posisi lebih banyak (jika 1 laki2 poligami, artinya minimal ada 2 wanita dipoligami).
logikanya, jika ada 100 laki-laki mendukung poligami, artinya ada minimal 200 wanita yang menyetujui.

so, kampanye anti poligami mungkin perlu di kampanyekan lebih kuat, agar laki-laki yang tidak mampu menahan hasrat napsunya dan menjadikan agama sebagai kendaraannya tidak bisa berbuat apa2. emang laki-laki bisa poligami kalau ngga ada wanita yang mau?

ya. Itulah yang terlintas dikepala saya. Ini bukan soal bela membela. Tapi ini soal realita. Saya paling males kalau mendengar orang-orang yang menjadikan agama sebagai kondom yang membungkus kebusukannya.

Waktu diskusi dengan kakak saya, dengan latar belakang kasus sang kiai, kakak saya bilang, mari lihat cerita poligami Rasulullah. Pertama, rata-rata, Rasulullah menikahi beberapa wanita dalam rangka mengangkat harkatnya, karena rata-rata mereka adalah janda dari para pejuang yang syahid dimedan perang. Tidak ada tema cantik atau tidak. Tidak ada tema cinta atau tidak. Mau peot, mau tua, mau muda. Karena Rasul berpoligami tidak ada hubungan dengan hasrat. bahkan kakak saya waktu itu dengan ekstrim bilang,

“ketika kita bilang “saya jatuh cinta lagi” dan “saya ingin menikah lagi”, dari sini sudah terlihat bahwa kita tidak akan bisa adil. Kenapa? karena sifat cinta itu sendiri. Cinta itu egois. Cinta itu memilih. Tidak ada bahasa adil dalam cinta. Dalam cinta ada hasrat. (Dia juga mengutip cerita, ketika sang kiai diwawancarai kenapa dia menikahi istri mudanya, sang kiai mengutarakan beberapa alasan). Ketika kita punya alasan untuk menikah lagi, karena dia lebih cantik, dia lebih pintar dan segala macamnya, maka secara alami, saat itu juga, gugurlah kemungkinan untuk berbuat adil. So, bohong ngomong cinta tapi tidak ada hasrat dan nafsu. Kalau sudah ngomong nafsu, maka tidak akan ada keadilan.”

Heheheh… saya sih waktu itu nyengir aja. Ngga nyangka kakak saya yang saya kenal seorang agamawan ini bisa ngomong cinta juga :p

Dia juga meneruskan, bahwa ternyata dalam kasus yang katanya di sah kan oleh agama, Rasulpun masih manusia. Ketika anak tersayangnya akan dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib, Rasulullah tetap menyatakan keberatannya. Intinya, rasulpun tidak ingin anaknya “dimadu”. Lucunya, cerita yang dinyatakan dalam hadis ini tidak pernah diangkat oleh pada pendukung poligami.

Terlepas dari sisi ini, saya juga ingin sedikit mengkritisi tentang kesetaraan gender. Disatu sisi, banyak wanita menginginkan kesetaraan gender, tapi secara sadar atau tidak ingin mempertahankan kesetaraan itu sendiri. Kadang saya suka gondok sendiri. Tidak sekali 2 kali ketika diskusi, wanita sering mengangkat kasus kesetaraan. Tapi pas tiba-tiba (misal) harus mengangkat lemari, tiba-tiba ngomong “gw kan cewek..”. Atau “eh, kalau udah kawin, duit elu ya duit gue, duit gw ya duit gw. Laki-laki kan memang harus bertanggungjawab untuk menghidupi perempuan” atau yang sedikit lebih ekstrim, dalam kasus laki-laki dan perempuan berhubungan badan rata-rata perempuan akan bicara “elu enak, ngga nanggung resikonya. Gue, sejak kejadian itu gw dah ngga perawan lagi. kl bunting gue yang nanggung..” bla bla bla dan seribu alasan lainnya. Lha, katanya kesetaraan gender, kok masih mencari perbedaan?

Saya juga kadang berfikir, wong Tuhan itu menciptakan makhluk bernama manusia memang ada 2 jenis kelamin : laki-laki dan perempuan. Artinya, secara filosofis 2 benda ini tentu berbeda. Masing-masing akan diberi kelebihan dan kekurangan. Saya kadang-kadang suka takjub ketika melibat wanita menggendong anaknya yang sudah berusia cukup besar. Begitu kuat mereka menggendungnya. Sementara saya ketika menggendong keponakan, belum berapa menit udah pegel rasanya. Ternyata, dunia kedokteranpun membuktikan bahwa dari sananya, konstruksi tubuh laki-laki dan perempuan sudah berbeda. Pinggul wanita sudah di desain oleh Tuhan agar memiliki daya tahan dalam menggendong anak. Berbeda dengan laki-laki. Saya juga suka heran melihat ibu saya begitu kuat mencuci pakaian 6 anak laki-lakinya. Sementara saya sendiri, mencuci pakaian sendiri yang sudah saya lakukan sejak kelas 5 SD, sampai sekarang tetap saja protes karena pegel.
So? Bagaimana harus menyikapi?. Buat saya, sikapilah secara proporsional. Ini sama dengan omongan kalau saya pulang kampung. Maka akan keluarlah berbagai omongan tentang betapa suku saya sangat powerful, dan suku lain lemah. Orang jawa yang begini lah, orang batak yang beginilah. Padahal, 10 tahun yang saya habiskan di Malang dulu memberikan pelajaran kepada saya, bahwa setiap suku bangsa sudah diberi kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Sedikit mengkorelasikan pengertian adil dalam tema poligami, saya juga kadang berfikir, apakah kesetaraan gender itu justru bukannya malah menghapuskan keadilan itu sendiri bagi wanita? Haruskah issue kesetaraan gender menyebabkan wanita harus 100% mampu menjadi laki-laki? Yang jelas, laki-laki tidak akan mungkin menuntut kesetaraan terhadap perempuan. Karena kita, laki-laki tidak bisa hamil :)

tulisan saya ini mungkin dimata sebagian orang akan non-populis. Lha, kok bisa wanita yang selama ini dianggap korban sekarang malah disalahkan sebagai pendukung poligami. Tapi saya harap masih ada yang bisa melihat tulisan saya secara obyektif. Intinya, ini bukan bicara benar atau salah. tapi kembali kepada substansinya : Apa, mengapa, dan bagaimana. Silahkan menilai dengan sudut pandang masaing-masing.
Bagaimana pendapat anda?

Popularity: 15% [?]

41 Responses to “poligami : benarkan ada kesetaraan gender?”

  1. ya…. kembalikan kepada iman kita masing2 hehehehe berpoligami atau tidak berpoligami itu pilihan, asal siap dengan konsekuensinya aja kali ya….. btw protes, judulnya poligami kok fotonya poliandri ya :)

  2. #v3 : hihihhi… sengaja. ternyata ada yang protes. da et aja ngga ngeh kekeke

  3. Aku salah satu pembaca setia blog Iman. Tumben, biasanya tulisan2 beliau cukup berbobot. Tapi di artikel yg kamu sebut itu, rasanya kok dangkal banget ya analisanya. Kurang komprehensif gitu. Kecewa juga sebenarnya.

    Aku mendukung poligami. Tapi bukan sebagai sunnah, apalagi kewajiban. Hukum dasar poligami adalah mubah (boleh). So, dalam kondisi umum, kembalikanlah pada hukum dasarnya. Jika dalam kondisi khusus kemudian berubah menjadi sunnah, wajib, atau bahkan haram, jgn jadikan itu sbg generalisasi.

    Dalam kasus poligami ini, seringkali ketawa2 sendiri liat dua pihak -pro dan kontra- dalam poligami. Masing2 terlalu menariknya ke titik ekstrim. Ironisnya, masing2 pihak sama2 mempelintir ayat dan kisah hidup Rasul SAW demi mendukung pendapatnya. :(

    > Pertama, rata-rata, Rasulullah menikahi beberapa wanita dalam rangka mengangkat harkatnya, karena rata-rata mereka adalah janda dari para pejuang yang syahid dimedan perang. Tidak ada tema cantik atau tidak. Tidak ada tema cinta atau tidak. Mau peot, mau tua, mau muda.

    Gak tau sumbermu dari mana Ed. Tapi sepengetahuanku poligami Rasul gak “sekering” itu deh. Sekedar berusaha “mengimbangi” informasi yg kamu punya… Rasul menyayangi seluruh istri2-nya, bahkan mencintai beberapa di antaranya. Tidak semua istri Rasul adalah janda, setidaknya ada 2 org yg masih gadis, yaitu: Aisyah dan Kiptiyah (dari Mesir). Hampir seluruh istri2 Rasul cantik2 dan sebagian besar masih muda. Justru krn itu knp para orientalis busuk itu menyebut Rasul sbg “doyan daun muda”. Kontradiktif kan? Silakan baca buku2 biografi Rasul, khususnya yg menceritakan istri2 beliau.

    Keadilan dalam poligami jgn diartikan terlalu luas. Bahkan Rasul sendiri mengakui bahwa beliau pun gak bisa berlaku adil (dalam arti luas). Adil yg dimaksud dalam poligami adalah adil dalam tanggungjawab sebagai suami, yg untungnya “mencintai” gak termasuk di dalamnya. :D Dan gak pernah tercatat 1 hadist pun bahwa Rasul pernah melarang poligami.

    > Intinya, rasulpun tidak ingin anaknya “dimadu”. Lucunya, cerita yang dinyatakan dalam hadis ini tidak pernah diangkat oleh pada pendukung poligami.

    Hadist itu “terpotong”, Ed. Sayang sekali “potongan” itu seringkali disalahgunakan. Saat ini oleh kamu. :P Kalo mau baca hadistnya lebih lengkap, kamu akan tau bahwa sebenarnya hadist itu gak langsung terkait dgn poligami. Rasul melarang Ali menikah lagi krn calon istri yg akan dinikahi oleh Ali adalah putri Abu Jahal. Kita semua tau sapa Abu Jahal toh? ;) Tapi org2 tertentu “memotong” hadist dan membuatnya out-of-context. So, hadist tsb isinya adalah Rasul melarang Ali menikahi putri org musyrik terutama musuh besar Islam. Andaikata Ali memilih wanita lain, insya Allah Rasul akan mengijinkan. Wallahu’alam.

    > Disatu sisi, banyak wanita menginginkan kesetaraan gender, tapi secara sadar atau tidak ingin mempertahankan kesetaraan itu sendiri.

    Aku gak percaya dan gak mendukung kesetaraan gender. Gak masuk akal sama sekali lah itu. Jeruk ya jeruk, apel ya apel, gak mungkin jeruk jadi apel toh? Cuman tipu daya wanita aja itu. Sayangnya banyak kaum kita (lelaki) yg mau aja, bahkan rela, jadi korban tipu daya wanita. :P Dibanding kesetaraan gender yg digembar-gemborkan wanita2 modern sekarang, Kartini jauh lebih cerdas dalam hal ini.

    Ttg kesetiaan dan perzinahan. Sebenarnya ini gak terkait langsung dgn poligami. Mau poligami apa gak, gak menjamin kesetiaan akan terjaga. Mau poligami apa gak, gak menjamin perzinahan gak terjadi. Tapi untuk org2 tertentu, poligami bisa jadi solusi. So, hormatilah mereka. Dan terlalu naif mengatakan bahwa poligami HARUS diawali dgn selingkuh. Aku bilang org yg ngomong begitu adalah org2 yg sombong dan sok suci!

    Seperti yg aku bilang, jgn menilai scr ekstrim. Pendukung poligami bukan berarti akan berpoligami. Juga bukan berarti dia seorang pezinah yg gak bisa menahan nafsu. Krn penentang poligami juga bukan berarti seorang yg setia, apalagi org yg suci. Juga tentang ikhlas, sapa sih kita sok tau banget isi hati org?

    Aku berani ngomong gini, soalnya aku dateng dari keluarga poligami. Gak ada masalah dgn itu dan keluarga besarku (dari semua pihak) rukun2 saja sampe sekarang. Mereka yg menentang poligami biasanya krn:

    1. korban “malpraktek” poligami kemudian menggeneralisasi keburukan poligami,
    2. gak tau tapi kemudian sok tau berdasarkan cerita dari no 1 di atas.

    Masih banyak contoh keluarga poligami yg baik, yg sah, yg rukun, yg tulus, dan bersih. Lalu pada kemana cerita2 keluarga poligami yg sukses? Ketidakobyektifan media massa kita yg “pilih kasih” terhadap poligami, mem-besar2-kan berita kegagalan keluarga poligami dan menyembunyikan berita kesuksesan keluarga poligami, seharusnya gak bisa jadi alasan untuk mengambil kesimpulan bahwa poligami identik dengan keburukan dan kehancuran rumah tangga.

    Selama para penentang poligami itu gak mau mengosongkan dulu pola pikirnya kemudian mempelajari poligami secara komprehensif dan obyektif, kontroversi ini gak akan pernah berakhir. Dan mungkin memang ditakdirkan gak akan pernah berakhir, sampai kiamat. Wallahu’alam. :)

  4. Weqs… panjang juga ternyata tulisanku ya? Hihihihihihi… sori, Ed… jadi “nyampah” di blogmu neh. :D

  5. Kalau boleh ikut nimbrung nih, Pak, hehehe :D kenapa kesetaraan gender perlu diperjuangkan oleh kaum perempuan, menurut hemat saya selama ini sebagai wujud akumulasi kekecewaan para pejuang feminisme yang milhat kaumnya selalu tersubordinasi oleh kaum lelaki. Lebih kecewa lagi kalau mereka melihatnya dari sisi kultural yang sebagaian besar di negeri patriarkhi selalu memosisikan kaum perempuan sebagai kanca wingking. Nah, kini agaknya kesetaraan gender sudah diadopsi dalam kurikulum, Pak. Setiap buku teks yang dipakai sejak SD tidak boleh menganggap kaum perempuan berada pada posisi yang lemah. Misalnya contoh kalimat: “Ayah membaca koran, sedangkan ibu memasak di dapur.” *Halah sok tahu nih*
    OK, Pak Edo, saya mohon pamit dulu, salam.

  6. #bee : wah bee.. thats why it always lovely to discuss with you. at least, i always got balancing and independent perspective. always extended my view :)
    anyway, you know me lah bee. sometimes kepalaku ini gampang terpancing untuk ber”aha”. dulu aku sering memendamnya. takut salah karena dasar dan pengetahuan yang kurang. kini aku belajar untuk menjadikan kelemahan itu sebagai metode pembelajaranku sendiri :). at least, selalu ada beberapa orang yang memiliki pendapat dari sudut pandangnya sendiri. dan itu menarik :)

    begitu pula dengan tulisan 1 ini. awalnya aku hanya bosan mendengar issue poligami identik dengan 2 hal :
    1. wanita sebagai korban dan laki2 pelampias nafsu
    2. polemik penggunaan agama sebagai dasar si poligami dan kesetaraan gender oleh yang tidak setuju

    disinilah “kenakalan”ku berawal :)

    personally, aku ngga peduli dengan poligami dan monogami itu. bukan pendukung, juga bukan penghujat. tapi terus terang, aku sekarang ini boro-boro mikir poligami. punya 1 perempuan yang harus aku bagi perhatian dan waktuku saja rasanya aku harus setengah mati berhadapan dengan ego-ku yang tidak ingin terpenjara hehehhe *piss*

    aku menghormati setiap pilihan orang, selama dia bertanggungjawab. point dasarku senderhana. bahwa dalam setiap kasus poligami jumlah wanitanya minimal 2x lipat. trus kenapa laki2 selalu jadi obyek salah dan obyek sosialisasi?. andai semua wanita menolak poligami, theres no poligami case. as simple as that. justru kl boleh ekstrim, subyek pendekatannya harus di ganti dari laki-laki ke perempuan :)

    bahwa ada pendapat bahwa laki2 memanfaatkan superioritasnya, lalu bergeser ke issue kesetaraan gender, aku kok melihat ini sudah out of context. in my perspective, baik di sisi laki2 maupun perempuan mayoritas punya 2 alasan poligami
    laki-laki
    - menjalankan syariat dan yakin mampu adil
    - napsu belaka
    sementara dari sisi wanita
    - menjalankan syariat juga dan mematuhi syariat
    - faktor ekonomi/materi.

    nah, dalam kondisi ini, toh ada si bangsat dan si benarnya. laki2 berpoligami karena napsu belaka toh sama ngga beresnya dengan perempuan mau dipoligami “hanya” karena faktor ekonomi dan jaminan materi (pis. ane bukan anto cewe matre. matre itu wajar. tapi kalo pake kata-kata “hanya”, wah… maap deh..:) ). toh sama-sama tau konsekwensinya.

    so, aku cuma ingin melihat porsinya saja. terkadang, issue2 yang dilahirkan disatu sisi seakan-akan menunjukkan kemajuan berfikir, tapi paradoksnya juga menimbulkan pendangkalan pemikiran.

    ak tau sumbermu dari mana Ed. Tapi sepengetahuanku poligami Rasul gak “sekering” itu deh. Sekedar berusaha “mengimbangi” informasi yg kamu punya… Rasul menyayangi seluruh istri2-nya, bahkan mencintai beberapa di antaranya……
    ……Hadist itu “terpotong”, Ed. Sayang sekali “potongan” itu seringkali disalahgunakan. Saat ini oleh kamu.

    tentang soal istri-istri rasul dan hadist tentang anaknya yang dinikahi Ali, as you know, i have a bad memories on number, history, name, etc :). i got the stories, but i could not show you what it is. if you dont mind, aku fikir akan menarik kalau dirimu membagi sourcesnya. please dont say tanya om google yah kekekke… kadang saking banyak informasi di luar sana, sulit menemukan sources yang benar :)
    please share it if you have some. aku fikir akan semakin menarik. sorry untuk ikut “memotong” informasinya :)

    Masih banyak contoh keluarga poligami yg baik, yg sah, yg rukun, yg tulus, dan bersih. Lalu pada kemana cerita2 keluarga poligami yg sukses?

    tentang “kisah baik” poligami. yah, kadang aku fikir memang the story not cover both side. ini sama ibarat omongan orang2 tua kita dulu “jangan kawin sama suku anu, suku itu pemalas” atau “jangan kawin ama suku anu, karena ntar di kampung dia dikawinin lagi”. kita dengan mudah melakukan generalitas. padahal banyak juga orang nikah se suku berantakan, dan banyak juga orang menikah antar suku (bahkan antar benua) adem2 aja hehehe

    seperti diskusi di posting sebelumnya, bangsa ini memang masih belajar berdemokrasi menurutku. perlu waktu lah. semoga akses terhadap informasi, pendidikan, dan concern terhadap kualitas SDM tetap jadi orientasi. cuma itu yang bisa menyelamatkan. kalau para perempuan semakin pintar, mana mungkin sih, laki-laki bisa ngadalin? adanya kasus “kadal-mengkadali” kan karena ada orang yang bisa “dikadali”. beda tipis dengan banyak kasus seperti korupsi,dan sebagainya heheh

    atau kadang, aku berfikir positif atas kondisi ketidakseimbangan itu. mungkin karena pemahaman atas mayoritas sifat manusia ya seperti itu, maka demi kemaslahatan lalu proses generalisasi terjadi. tapi secara pribadi, ya aku tetap tidak setuju :)

    wah, gw kepancing menjelaskan panjang lebar negh.
    dont worry dengan “ngerusuhi” blog gw bee. gw seneng-seneng aja jadi rame. tenang, space dan bwnya gw juga ngga tau kok. paling ntar gw teriak ke sahir kekekkeke

    nice to discuss with u bro!

  7. Hmm… Topik sensitif… :D
    Udah banyak yg komen nih…

    Tapi Adit gak ikut2an ah, masih kecil… :D

    Tapi klo masalah pandangan, menurut saya boleh saja sih menolak pelaksanaan poligami karena berbagai alasan. Tapi jangan sampai pada akhirnya jatuh kepada penolakan ajaran agama yang jelas-jelas datang dari-Nya.

    Toh, kan ada haditsnya tuh klo seseorang tidak akan masuk surga bila dia menolak ajaran-Nya…

  8. #sawali : yah, memang sih pak, setiap peristiwa pasti ada dasar historisnya. tapi omong-omong nih pak, mengacu ke yang bapak bilang bahwa kurikulum-pun harus direvisi. sehingga tidak boleh lagi ada kata-kata
    “ayah membaca koran, ibu memasak di dapur”

    saya justru malah prihatin lo pak.
    memangnya kegiatan memasak itu sebuah kegiatan yang “lemah” dan “memalukan”? lalu kegiatan bekerja dan membaca koran adalah kegiatan yang “kuat” dan “membanggakan”?

    kok bisa ya? saya justru selalu bangga saya bisa masak. saya selalu membanggakan masakan ibu saya sebagai the best cooker in this world. i mean it. dan saya bisa melihat dengan jelas kebahagiaan dan kebanggaan ibu saya jika saya memakan masakannya dengan lahap.

    apakah wanita yang hebat harus ditandai dengan sepatu hak tinggi, duduk di ruang meeting dan memimpin ratusan laki2? apakah dapur adalah tempat yang hina?

    sayang, menurut saya kita benar-benar telah kehilangan konteks. posisi ibu dirumah menurut saya adalah posisi yang sangat luar biasa menurut saya.

    “laki-laki yang besar selalu didampingi oleh perempuan-perempuan yang besar pula”

    saya percaya betul akan hal ini. tapi tidak dalam sudut pandang yang sempit.

    saya punya analogi tentang ini.

    jika ada seorang laki-laki, sebut misalkan orang sekelas presiden Soekarno, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia. Memimpin sekian juta Rakyat Indonesia. Orang Hebat. Lalu siapa orang hebat dibelakangnya? Ibu? Bapak? Maka saya akan bilang : IBU.

    Kenapa?
    Karena si ibulah yang memberi perhatian luar biasa ketika si ayah bekerja mencari nafkah. Berapa persen waktu si bapak untuk memperhatikan perkembangan anaknya? bandingkan dengan si ibu. So, jika ada seorang anak yang berhasil, buat saya peran ibu jauh lebih luar biasa.
    Jika kehebatan seorang Soekarno mampu memimpin negara sebesar Indonesia, maka keluarbiasaan seorang Ibu Bung Karno adalah menghasilkan dan mendidik anaknya menjadi seorang pemimpin besar.

    so, siapa yang lebih hebat?

    Menurut saya, semua peristiwa ini berakar atas 2 masalah
    1. setuju dengan pak sawali. Ini adalah “bayaran” atas dosa besar laki-laki itu sendiri yang “mabuk” atas superioritasnya, dan mengabaikan peran wanita.
    2. karena kita tengah berada di era “show”. Era publikasi. Era Narsis. Era “siapa yang terlihat”.

    tentang point ke 2, saya ingat omongan Mario Teguh dalam salah satu acaranya di Business Art di JakTV. Dia menjawab pertanyaan seorang audience yang bertanya, bagaimana menghadapi atasan yang tidak menghargai bawahan. haruskah tetap di support. Pak Mario menjawab, “berikan yang terbaik yang kau miliki. mungkin dia akan berhasil dan populer karena anda. tapi waktu akan menjawab. suatu saat, orang akan mencari “who the man behind the scene”. menjadi raja adalah hebat. tapi sebenarnya yang lebih hebat adalah orang yang mampu menjadikan orang lain menjadi raja”. sebuah nasehat yang luar biasa menurut saya.
    ingat waktu baca postingnya pakde toto indarto yang ditolak oleh kompas, tentang kasus FFI. Ketika sebagian besar sutradara kecewa karena panitia FFI hanya memanggil artis dan aktor saja. sementara pemenang dibalakang layar hanya disebutkan sekilas dan pemberian tropi dilakukan secara offline. inilah potret saat ini menurut saya. ketika film “ada apa dengan cinta” ngetop, orang cuma ingat Dian Sastro Wardoyo. Orang lupa, film itu tidak akan pernah ada tanpa sebuah team work yang luar biasa : sutradara, penulis skenario, kameramen, event driver. So, dunia film yang saya anggap termasuk paling adil memperlakukan orang (karena setiap akhir film, nama seorang driverpun ditayangkan), tapi secara bersamaan, dunia film juga kehilangan dirinya sendiri.

    semua orang sepertinya ingin berada di depan. makanya posisi artis laku keras. sama halnya dengan marketing. padahal marketing bisa jual apa kalau bagian produksi tidak membuat produk yang berkualitas?

    so menurut saya pak sawali, laki-laki tidak perlu sombong karena menjadi yang terlihat selaku kepala keluarga, orang yang mencari nafkah. Karena sebenarnya tokoh behind se scene nya adalah si istri, yang membuat dia bisa bekerja dengan tenang karena pakaiannya sudah rapi, sarapannya tersedia, anak2nya terjaga dengan baik. Si Istri lah tokoh yang sebenarnya..

    eh, btw pak, maaph yah. saya jadi berapi-api. Maaf kalo komentarnya agak lupa diri. Sebagai yang sudah lebih matang, saya yakin pak sawali punya pemahaman yang lebih wise :)

    orang muda itu lebih kreatif memang pak. tapi dalam hal pengalaman hidup, sampai kapanpun toh umur ngga akan bohong hehehhe… nyuwun pendapatnya, pak sawali

  9. btw, ada ide gila barusan. jangan-jangan, issue kesetaraan genderlah yang menyebabkan secara tidak sengaja poligami dan perselingkuhan itu merebak. karena issue hakiki kesetaraan gender yang digagas kartini telah banyak di plesetkan. Karena sekarang tidak ada lagi istri yang mau menyediakan sarapan bagi suaminya karena “itu adalah kegiatan yang merendahkan”. karena ketika suaminya berangkat bekerja, si istri juga sibuk dengan persiapan berangkat bekerjanya. lalu silaki-laki seakan-akan punya legitimasi, merasa kering, merasa hampa, lalu menjadi punya alasan untuk berselingkuh.

    hehehe… makin panas aja nih :p

  10. #praditya : hehehhe… kecilnya kan sekarang dit. toh ntar juga gede kekekkeke…
    asik-asik aja lagi dit. dont ever feel its not your time. disini tidak berlaku hukum A-Mild kok “yang muda belum boleh bicara” kekekkeke
    kadang, as i said before, justru “asbun” selama kita siap menerima kritik dan masukan itu ada baiknya.
    tidak ada orang benar yang tidak pernah salah :) itu yang kelas asbun. apalagi adit yang saya yakin punya pemikiran lebih matang :)
    what do you think?

  11. poligami adalah suatu kontroversi besar hingga kiamat memang. dasatu sisi poligami halal hukumnya bagi islam tapi disisi lain ga akan ada manusia yang adil dan sanggup mensejahterakan istri2 dan anak2nya.
    saya pribadi sangat tidak setuju tentang poligami. saya melihatnya dari sudut imbas yang akan terjadi dengan anak2nya. kita bisa bayangkan menikah bukan hanya urusan cinta dan kesetiaan tapi juga urusan harta dan kekuasaan. walaupun kita memiliki kecukupan akan kekayaan dll. efek buruk dari poligami ada pada anak2nya yg menuntut ini itu blablabla.. anda bisa bayangkan sendiri. begitu juga dengan istri.
    kalo kita balik lagi pada zaman nabi SAW, tujuan nabi saat itu selain untuk mengangkat derajat perempuan juga yg terpenting baginya adalah mengislamkan dan untuk menambah kekuatan islam. nabi sedang berpolitik saat itu, nabi ga’ sembarangan mengambil istri, ia memilih perempuan2 dari golongan tertentu dan anak dari petinggi suatu suku. dengan cara itu nabi mendapatkan koalisi untuk menambah kekuatan islam di tanah arab (banyak referensi ttg ini). saya sendiri sangat kecewa mengapa nabi menikahi seorang aisyah yg berumur 9thn yg sangt tdk mengerti apa2. begitu juga zubaidah.. ia adalah istri sahabatnya, kenapa harus diperistri?? satu lagi ya ttg fatimah, memang benar iya adalah anak dari abu lahab, tapi tetap saja fatimah bukan lagi hak dari Nabi, setelah pernikahan yg berhak atas istri adalah sang suami. nabi sendiri yang mengucapkannya.
    cukuplah satu untuk istri. masih banyak cara lain mengangkat harkat dan derajat wanita.

  12. di thn 2003 ada seorang laki2 yang menuliskan ketidaksetujuannya tentang poligami dan dia pertegas lagi, tapi kalo ga salah denger2 ujung2nya hmmmm poligami juga. Kolo terpaksa di poligami, ambil hikmahnya aja itung2 beramal berbagi kebahagiaan dengan perempuan lain.

  13. > aku fikir akan menarik kalau dirimu membagi sourcesnya.

    Buku, bro. Banyak kok buku2 Islam yg membahas masalah ini. :D Kau mampu beli buku2 populer, sekali2 beli buku2 Islam tentu gak ada salahnya. ;)

    > memangnya kegiatan memasak itu sebuah kegiatan yang “lemah” dan “memalukan”? lalu kegiatan bekerja dan membaca koran adalah kegiatan yang “kuat” dan “membanggakan”?

    Good point, bro! Gw setuju banget! Laki2 dan perempuan dalam tugasnya masing2 adalah sama2 hebat dan sama2 mulianya. Inilah yg diperjuangkan oleh Kartini. Bukan kesetaraan, tapi penempatan yg semestinya. Laki2 bertugas sbg laki2, perempuan bertugas sbg perempuan.

    Jika kita pelajari tuntunan Islam dalam hal ini, subhanallah, sangat indah sekali dan sangat adil. Dalam keluarga, laki2-lah (suami, bapak) yg harus dipatuhi, tapi perempuanlah (istri, ibu) yg paling mulia. Banyak sekali hadist dan ayat yg menunjukkan hal ini. Misal… laki2 terbaik adalah laki2 yg paling baik akhlaknya terhadap istrinya, istri terbaik adalah istri yg paling taat pada suaminya, surga ada di telapak kaki ibu, bapak adalah pemimpin rumah tangga, dlsb, dst.

    > jangan-jangan, issue kesetaraan genderlah yang menyebabkan secara tidak sengaja poligami dan perselingkuhan itu merebak. karena issue hakiki kesetaraan gender yang digagas kartini telah banyak di plesetkan.

    Betul. Isu kesetaraan gender justru merendahkan wanita itu sendiri. Wanita jadi kehilangan jati dirinya dan fungsi fitrahnya. Padahal Kartini bukan menyarankan wanita mengambil atau menjalankan peran laki2, tapi mengembalikan fungsi wanita dalam fitrah kewanitaannya.

    > walaupun kita memiliki kecukupan akan kekayaan dll. efek buruk dari poligami ada pada anak2nya yg menuntut ini itu blablabla.. anda bisa bayangkan sendiri.

    Jika poligami buruk, gak mungkinlah Islam memberinya hukum mubah. Tentu jika kita masih meyakini kebenaran agama Islam. Segala hal tentu ada keburukannya, tapi juga pasti ada kebaikannya. Saya pribadi bisa melihat poligami juga punya efek positif yg gak kecil, baik dalam keluarga maupun dalam lingkup sosial.

    > saya sendiri sangat kecewa mengapa nabi menikahi seorang aisyah yg berumur 9thn yg sangt tdk mengerti apa2.

    Isu Aisyah berumur 9 tahun ini sebenarnya hoax. Kalo kita mau kritis mempelajari sejarah Rasul SAW, sebenarnya Aisyah kemungkinan besar dinikahi pada sekitar umur 17-19 tahun. Bahkan ada beberapa sejarawan yg berpendapat bahwa Aisyah dinikahi pada usia 19-21 tahun. Dan satu lagi, jgn samakan kondisi di jaman Rasul dgn jaman kita. Jika kita ingin memahami apa yg terjadi di masa Rasul, kita juga harus tau bagaimana kondisi sosial, politik, dan budaya di jaman Rasul sehingga kita bisa menilai dan menganalisanya secara lebih baik.

    > begitu juga zubaidah.. ia adalah istri sahabatnya, kenapa harus diperistri?

    Lalu apa masalahnya? Apakah haram menikahi mantan istri sahabat? Jgn mempermasalahkan hal yg sebenarnya gak perlu dipermasalahkan.

    > nabi sedang berpolitik saat itu, nabi ga’ sembarangan mengambil istri, ia memilih perempuan2 dari golongan tertentu dan anak dari petinggi suatu suku.

    ini bertentangan dgn…

    > satu lagi ya ttg fatimah, memang benar iya adalah anak dari abu lahab, tapi tetap saja fatimah bukan lagi hak dari Nabi, setelah pernikahan yg berhak atas istri adalah sang suami.

    Bayangkan dampak politiknya, jika putri Rasul dimadu dgn putri musuh besarnya. Apa kata dunia? :P

    > tujuan nabi saat itu selain untuk mengangkat derajat perempuan juga

    juga bertentangan dgn…

    > masih banyak cara lain mengangkat harkat dan derajat wanita.

    Mungkin banyak cara lain, tapi poligami juga merupakan salah satunya. Lalu knp kita menafikan poligami? ;)

  14. OOT: Ed, link gw di blogroll loe benerin dong. Kok balik yg lama lagi seh? Perasaan dulu dah sempat dibenerin deh. :P

  15. Bagi saya terserah masing-masing menafsirkannya…bagi saya sendiri, saat berani menikah, persyaratannya saya harus tetap bekerja, karena ayah dan ibu saya bekerja, begitu juga tante, bude dan lain-lainnya. Kenyataannya anak-anaknya mandiri, karena wanita bekerja tetap dapat memperhatikan anak.

    Karena jika bekerja, saya bisa bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan anak jika terjadi apa-apa (suami meninggal, suami selingkuh dan tak mikir anak isteri, suami sakit-sakitan, suami kena PHK) dll.
    Jadi prisipnya, bagaimana agar anak (yang akan jadi korban) tetap mendapat haknya.

    Dalam pengalamanku bekerja, saya selalu menasehati staf saya yang perempuan, jika ingin meninggalkan karirnya untuk ikut suami pindah ke tempat lain…agar dipikirkan keempat risiko tadi. Apapun pilihannya, itu hak masing-masing.

    Walaupun tidak melanggar agama, saya tak mendukung poligami….dan syukurlah suami menempatkan istrinya sebagai mitra, dan saling hormat menghormati. Sayapun bersyukur, atas dukungannya saya bisa berkarir, kuliah lagi, bisa tugas kemana-mana, baik keluar kota maupun keluar negeri….andai setiap suami seperti dia, pasti isteri akan lebih cinta dan hormat.

  16. Mertua satu aja pusing(katanya :-P )….apalagi empat mertua? hahaha

  17. #edratna : wah, saya dapat kunjungan nih :)
    setuju mbak, bahwa its depend on. dan sedikit tentang wanita bekerja, saya (sangat) tidak anti wanita bekerja. tapi saya hanya sedih, jika bekerja dianggap lebih mulia, sedangkan mengurus anak dan rumahtangga (seperti dapur) adalah sesuatu yang memalukan :)

    pointnya toh 1. as a partner both of them do their responsibility. afaik, ibu saya juga bekerja :). secara waktu mungkin juga tidak terlalu banyak. but she have a still so i never feel she wasn’t take her eye on me :)

    mitra. kesetaraan gender. menjalankan fungsi dan peran masing-masing. semua kalimat ini bisa ditafsirkan dengan baik, dan bisa pula tidak. jika kesetaraan gender ditafsirkan sebagai “menjalankan fungsi dan peran sesuai kodratnya” sebenarnya ngga ada masalah. tapi jika kesetaraan diartikan sebagai kesamaan, saya terus terang sependapat dengan bee. lha, wong defaultnya aja beda kok ya dibilang sama :)

    btw, thank for visit ibu/mba…

    #epat : lo ya.. sing dipikir morotuo rek kekekkeke

    #bee : tak cek dl ya bee. emang salah lagi yah? hihihi

  18. Loh kok mikir poligami yang adil aja susah.
    Punya istri ajah 5, semuanya sama sama gak dicintai. Sama sama jarang dijamah. terus sama sama cuek ama mertua semuanya. kan yang penting adil .. hihihi…
    adil kan terserah gw … adil sama sama gak dikasih jatah uang belanja.. adil sama sama di plorotin hartanya ..adil sama sama sebagai pelampiasan nafsu… dan tinggal terserah gw gak ada istilah di kekang …
    (yang lagi belajar adil.. nah elu kalau protes gak adil dong ama gw .. kan gw juga lagi belajar hehehehe)

  19. Edo,
    Anak saya pernah berantem dengan teman, dan berdebat dengan orang yang lebih tua, hanya gara-gara setiap kali ada kenakalan anak, yang disalahkan adalah orangtua yang terlalu sibuk.

    Karena kami tinggal di kompleks rumah dinas (sebelum saya pensiun dan pindah ke rumah sekarang), dia bisa melihat ibu dan tetangganya yang rata2 suami isteri bekerja…dan ternyata anaknya rata-rata diterima di perguruan tinggi negeri. Ibu bekerja, tetap harus memperhatikan anak, karena untuk apa karir sukses kalau anaknya berantakan. Jadi memang diperlukan stamina yang kuat, dan rata-rata tidur hanya 2-3 jam per hari saat anak-anak balita…karena kemanapun ibu pergi, rumah tangga tetap harus berkelanjutan.

    Kami antar tetangga, menjalin hubungan yang sangat baik, saling menitipkan anak jika tugas ke luar kota/luar negeri, dan menganggap anak tetangga seperti anak sendiri.
    Saat anak-anak kecil, dia suka main ke tetangga depan rumah…setelah anak saya besar, ganti anak tetangga yang masih kecil main kerumahku, dan mendengarkan dongeng. Tahu nggak siapa yang suka mendongeng dan bercerita kepada anak-anak kecil (anaknya sendiri dan anak tetangga)…beliau adalah salah satu Direktur di Bank BUMN…dan anaknya baik2 aja. Jadi, kesetaraan gender, tak berarti wanita hanya seenaknya sendiri lho…dan suami-suami bangga (termasuk suamiku), karena anak tetap sehat, mereka juga bisa berkarir dengan nyaman, tanpa bingung mikir uang nggak cukup.

    Bahkan asisten dia nanya, ada nggak staf ibu yang masih bujangan…karena mereka melihat bahwa kami-kami tetap memperhatikan anak walau bekerja, mengambil raport anak, sebulan sekali ketemu wali kelas…bahkan setelah anak menjadi mahasiswa, saya tetap berhubungan dengan dosen2nya (lewat email) untuk memonitor perkembangan anak.

    (maaf agak panjang, hanya sekedar membuka wawasan..bahwa berkarir adalah pilihan, tetapi harus bisa menyeimbangkan kebahagiaan rumah tangga)

  20. Waah rame sekali, tapi, lagi gak mudeng pikiranku… sudah malam besok saja dibaca kembali.. :)

  21. (malem tuh dah nulis banyak pas send eh servernya mati) ta tulis lg yang masih ingetnya ya:

    Wah… aku setuju dengan bu edratna, secara pribadi aku sangat mencintai keluargaku, dan aku juga merasa lebih menikmati dan berguna kalo aku juga bekerja, selain alasan2 yang sudah di tuliskan diatas seperti, misalnya : kalau suami kena pailit, meninggal duluan, selingkuh, diminta u/dipoligami dan force majeure lainnya, dan aku masih tetap bisa menyekolahkan anakku sampe menjadi dokter misalnya.

    Buatku keluarga tetap nomor satu, karena kita kerja sampe jungkir balik, mengeluarkan semua energi dan keahlian, toh pada dasarnya keuntungan atau pendapatan dari situ ya untuk keluarga juga, untuk orang2 yang aku sayangi, dan untuk bisa bantu orang lebih banyak.

    Buatku orang sukses adalah orang yang sukses di keluarganya, dan juga sukses di kariernya, buat apa kerja mati2an sampe sukses kesohor dimana2 tapi keluarga sendiri, orang2 yg aku sayangi ternyata kurang diperhatikan dan merasa kurang disayangi. Sedih rasanya.

    Aku bangga dan kagum kalo liat perempuan2 (salah satunya seperti bu edratna ini) yang bisa berkarier tanpa melupakan kewajiban keluarga, dan tetap selalu mengutamakan rumah sesuai dengan tingkat ke- urgent -annya tentunya. Semoga aku bisa dan usahaku dr dulu sampe sekarang aku selalu berusaha mempersiapkan dan melatihnya.

  22. Epat says:
    Mertua satu aja pusing(katanya :-P )….apalagi empat mertua? hahaha

    loh ya … katanya …. “kata epat” kapan ? hihihi.

    Alhamdulillah tuhan masih sayang, memberi saya satu istri. Dan tidak membuat saya menunggu.
    Bagi saya sederhana saja, membuat yang “satu” ini bahagia sudah cukup rasanya. Karena saya sadar takkan bisa membuat dua, tiga atau empat bahagia secara bersama-sama.

  23. wah… maap euy, belum sempet bales commentnya. lagi banyak setoran yang kudu di uber dan pake acara tepar segala :)
    #angus : adil dalam perspektif siapa nih gus? kekekke agus bangedh dah :p

    #edratna : setuju bu. sangat setuju. menurut saya sih, perjalanan hidup ada sebuah proses evolusi dan perubahan yang terjadi. ngga bisa disamain ama jaman dulu. yang penting esensinya tidak bergeser :)

    #kurt : monggo kang…

    #v3 : sepakat juga :)

    #pha : heheh… sip dang. btw, ky lu ngga kenal mas2 mu aja heiuheiuhiuehuie

  24. Memang pasal Djie Sam Soe (2,3,4) ini menarik dibicarakan. Tapi percayalah sodara-sodara, bahwa lebih baik poligami daripada punya 1 isteri dengan 1 mantan isteri :)

    Yang kedua, mau komentar soal Aisyah. Menurut sumber tarikh Rasulullah dan Aisyah yang dijadikan rujukan mahzab-mahzab utama baik golongan sunni maupun syiah, pada intinya kemungkinan besar Aisyah dinikahi pada umur 6 tahun. Tepatnya persis sebelum Rasulullah berangkat hijrah ke Madinah.

    Pernikahan ini berbau politis, karena atas permintaan Abu Bakar ayah Aisyah yang notabene adalah sekutu terkuat Rasulullah di Makkah (ketika itu, sebelum hijrah).

    Artinya, Aisyah hanya sekedar dinikahi, belum diapa-apain hehehe. Selang 3 tahun kemudian (9 tahun) Aisyah baru menyusul hijrah ke Madinah. Selama di Madinah, hubungan keduanya seperti ayah dan anak, selama kurang lebih 3 tahun (hingga Aisyah berumur 12 tahun). Baru setelah itu ketika sudah jelas ketertarikan dan kecintaan Aisyah pada suaminya (Rasulullah), maka secara resmi beliau membawa Aisyah pindah bertempat tinggal di rumahnya.

    Yang sering dilupakan atau sengaja dihilangkan ketika orang membahas ini, adalah KONTEKS, budaya, waktu, kondisi ketika peristiwa ini terjadi. Pada masa itu sudah sangat lazim seorang perempuan dinikahkan pada umur belia bahkan sebelum mendapatkan menstruasi. Apakah lawannya selalu kakek-kakek? (ini tentunya demi memuaskan fantasi kaum orientalis yang ingin membuktikan bahwa semua ini hanyalah praktek paedophili). Tentu saja tidak! Ketika itu laki-laki yang dinikahkan pun di bawah umur.

    Intinya si pria pun belum bisa kencing lurus. Ini adalah adat budaya dimana pernikahan punya makna memperkuat ikatan antara dua keluarga bahkan suku. Sehingga semakin dini mereka melakukannya, maka semakin besar terhindar dari kemungkinan dimanfaatkan oleh kelompok, keluarga, suku lainnya. Pola semacam ini sangat jamak terjadi di semua peradaban. Bahkan Eropa pada abad pertengahan pun monarki-monarki yang ada di sana masih melakukannya.

    Islam sendiri, sejak peristiwa Aisyah itu maka memberi batasan yang sangat tegas bahwa pernikahan hanya bisa dilakukan apabila kedua belah pihak sudah aqil baliq. Justru pernikahan Aisyah itu mengkoreksi praktik yang sebenarnya kurang pantas dilakukan bangsa arab ketika itu.

    Kenapa aqil baliq (terutama menstruasi pihak wanita) yang jadi ukuran? Karena ketika itu belum ada metode yang lebih baik untuk mengukur kesiapan seorang wanita untuk menikah. Kalau sekarang tentu banyak parameter yang bisa diberikan untuk memberikan batasan minimal. Itupun tidak terlalu jauh dari versi 12 tahun pada jaman Rasulullah. Di Indonesia, batas usia minimal wanita untuk menikah adalah 16 tahun.

    Nah, dengan cerita ini, menjadi jelas konteksnya gimana sebenernya pernikahan Aisyah itu terjadi. Masalahnya kaum orientalis memang sangat hobi membawa konteks perspektif sudut pandang dunia modern sekarang ke masa lampau. Kok jauh-jauh ke jaman Rasulullah 1400 tahun yl, di Jawa saja beberapa puluh tahun yl, ketika seorang perempuan sudah aqil baliq (menstruasi) dan ternyata belum ada yang meminang, sudah diejek oleh semua orang sebagai ‘perawan tua’.

    Padahal umurnya saja masih belasan tahun, masih senang main petak umpet :) Ingat cerita Kartini kan yang pada umur sekitar 14 tahun sudah dipingit hehehe …

    Jadi, dengan konteks pada jaman itu, pernikahan Aisyah vs Rasulullah ini SANGAT WAJAR.

  25. #pataka : wah din, bisa juga ternyata ngomong agama wakakkakaka…
    anyway, thank buat pencerahannya
    secara diriku tak pernah tahu soal ini
    1 komentar saja : sepakat tentang bahwa kita harus melihat kontekstualnya, budaya, waktu, kondisi ketika peristiwa ini terjadi

  26. Saya sih cuma gemes, sama seperti Bee. Kebanyakan orang itu menggunakan dalil agama demi memuaskan egonya. Agama sebagai kondom, menurut kata engkong yang kesohor itu :)

    Padahal memberikan hujjah harus dilandasi ilmu dan ada konteksnya. Itu sangat jelas metodologinya dalam ushl fiqh. Cuma yang ngerti emang gak banyak. Sehingga gampang aja ada orang yang dengan sok tahu terus berhujjah dengan sepotong ayat atau hadist yang dilepaskan dari konteksnya dan bahkan dia sendiri tidak tahu asbabiun nuzul maupun asbabul wurud-nya. Lalu yang mendengar percaya saja :)

    Seperti misalnya, yang boleh menafsirkan ayat itu harus seorang mufasir. Yang disebut mufasir itu adalah orang alim yang menekuni bidang tafsir. Pendek kata ilmuwan di bidang tafsir yang telah teruji selama bertahun-tahun dan itupun harus dibimbing oleh guru. Selama dalam bimbingan sang mufasir tidak bisa seenaknya menafsirkan, masih juga harus diujikan kepada gurunya. Bahkan Imam Syafii yang menyusun ushl fiqh yang melandasi ilmu fiqh sekarang ini juga mengikuti kaidah itu.

    Tafsir tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Apalagi yang baru baca satu kitab terus merasa paling ngerti.

    Sudah jelas mufasir harus paham betul apa dan bagaimana serta kapan suatu ayat atau hadist, sekaligus hubungannya dengan ayat atau hadist lainnya. Konteks itu tadi.

    Nah, kalau seorang feminis (maaf ini contoh saja) yang karena terlalu bersemangat kemudian mengutip hadist soal larangan Rasulullah kepada Ali yang ingin poligami dan melepaskan konteksnya (meskipun tanpa sengaja karena ketidaktahuannya) dan itu didengerin oleh para feminis lain yang juga sama tidak ngertinya demi menolak poligami maka secara nyata itu mengingkari ayat, pasal djie sam soe (2,3,4) yang sangat populer itu.

    Maka keblingerlah mereka semua. Kenapa? Karena mereka yang mendukung hujjah yang tidak tepat ini jelas-jelas memutarbalikkan tatanan fiqh. Apa itu? Yaitu bahwa yang namanya sunnah, yang paling sahih sekalipun, tidak akan pernah bisa menggugurkan AYAT. Itu namanya bathil!

    Sudah jelas, suka tidak suka, apapun alasannya, pasal djie sam soe (2,3,4) itu adalah AYAT, firman Allah, yang SUDAH PASTI tidak bisa DIGANGGU GUGAT. Bahkan meskipun bila derajat hadist tentang poligami Ali itu shahih dan seandainya tidak ada konteks politiknya (anak Abu Jahal) yang sengaja dipotong itu, tetap saja tidak akan pernah bisa menggugurkan keberadaan, dibolehkannya poligami.

    Ya kecuali kalau saking emosinya terpaksa harus ikutan menghujat kebijakan Allah. Urusannya jadi laen boss :)

    Atau meniru langkah para orientalis dan menuduh ajaran Islam adalah feodal, patriakhi, dlsb. Saya sering sekali sewot kalau ada feminis yang ngember bahwa Islam sangat patriakis. Patriakis dari hongkong? Bagaimana bisa dia menyebut Islam ini sangat maskulin kalau dalam Al Quran justru yang ada cuma Surah An-Nisa yang isi seluruhnya bicara tentang kemuliaan kaum wanita. Mana ada Surah di dalam Al Quran yang membahas soal pria?

    Bahkan seandainya mereka bener-bener mendalami Al Quran maka akan terkejut ketika menyadari bahwa semua Surah terpanjang di dalam Al Quran yaitu Ali Imran, Al Baqoroh dan An Nisa sebagian besar bicara tentang keluarga yang pilar utamanya selalu fokus kepada kaum wanita. Pendeknya tidak ada kitab suci agama apapun di dunia yang secara sangat detail membahas seluruh dimensi kehidupan wanita selengkap Al Quran. Maka tidak dapat dibantah bahwa Al Quran adalah kitab suci yang paling FEMINIS di kolong jagat raya ini. Lha gimana kok malah disebut patriaki?

    Itulah ngawurisme yang sangat mendarah daging di dalam tubuh gerakan feminisme itu sendiri. Untungnya ada banyak gerakan perempuan / muslimah modern yang mulai berbicara dan mengkoreksi salah kaprah ini. Dan salah satunya yang banyak melakukan ini justru Teh Ninih-nya Aa Gym huahaha

  27. Salam kenal mas :)

    Rasulullah kan sudah bersabda bahwa yang diikuti itu adalah beliau dan khulafaur rasyidin. jadi hendaknya kita melihat contoh para sahabat Rasulullah, bukan hanya Rasulullah.

    mengenai mengapa Rasulullah tidak memperbolehkan Fatimah dipoligami bisa dibaca di http://www.pernikmuslim.com/artikel.php?id=284

    singkatnya, bukan karena Rasulullah mengharamkan apa yang dihalalkan Allah (poligami). tapi karena…http://www.pernikmuslim.com/artikel.php?id=284

    baca sendiri sisanya :)

  28. Poligami…poligami…poligami…saya selalu amat menyukai permasalahan ini, bahkan saya sudah sering kali membaca buku-buku atau pemikiran-pemikiran tentang poligami, sudah begitu banyak argument.
    Argumentasi saya singkat saja.
    Fakta, pertama, sejak dahulu kala begitu banyak lelaki yang mempoligami wanita bahkan bukan 2 tapi belasan mungkin puluhan, contohnya raja-raja jawa, datuk-datuk minangkabau, dsb. Kedua, Rosulullah melakukan poligami ketika Khadijah RA (yang dinikahi ketika berumur 40 tahun) meninggal dan selain Aisyah RA, ia menikahi wanita yang umurnya di atas 45 tahun dengan berbagai macam misi. Ketiga, sudah jadi sunnatullah bahwa jumlah wanita akan lebih banyak dari pada lelaki sampai hari akhir nanti. Keempat, pada umumnya lelaki itu memang potensi libidonya lebih besar dan bersifat mendua, sedangkan wanita itu rasa memilikinya teramat besar, bahkan sering kali berlebihan sehingga menjadi tidak rasional. Kelima, sampai saat ini pada umumnya yang kita dengan akibat dampak dari poligami adalah ‘buruk’, jarang sekali yang baiknya itu diekspose. Keenam, Rosulullah dan keturunannya merupakan produk dari poligami, Ibrahim AS dengan istri keduanya, Hajar, yang melahirkan Ismail. Ketujuh, banyak lelaki yang melakukan poligami tapi alasannya hanya kepada nafsu belaka, terlebih lagi tidak bisa berbuat adil. Kedelapan, pada dasarnya poliandri itu dari sejak dulu kala dibenci oleh pria bahkan wanita itu sendiri.
    Dari kedelapan fakta tersebut, kita dapat berpikir rasional tentang boleh tidaknya poligami.
    Saya selalu berpikir bahwa semua berpasang-pasangan seperti baik dan buruk, tampan dan jelek, wanita dan lelaki, etc. Kalau kita berpikir rasional bahwa jika kita ingin mengikuti Rasulullah sudah barang tentu kita semua lelaki muslim seharusnya menikahi janda kaya dengan umur 40 tahun, jangan dengan gadis. Tapi bukan itu intinya, pernikahan Rasulullah itu menunjukkan bahwa setiap manusia bisa menikah dengan siapapun asal sesuai dengan hukum agama, ntah lebih tua atau muda, kaya atau miskin, janda atau gadis. Yang terutama dari itu semua adalah bersikap adil.
    Ketika seorang laki-laki ingin menikah lagi ada 2 (dua) jalan yaitu kawin dengan resmi atau kawin dengan tidak resmi, mana yang mau kita pilih dan dampak yang terjadi ke depan seperti apa. Mudah kan.

  29. cewek kan masih belajar mengekspresikan dirinya di ruang publik do, jadi harus terus disemangati, smapai mereka tahu, apa yg benar benar mereka inginkan :) jgn terus ikut ikutan merepresi karena kita menganggap mereka golongan tidak konsisten :p

  30. #pataka : manusia. itulah hebatnya toh? namun itu juga menariknya jadi manusia heheheh

    #fauzan : wah.. thank buat referensinya mas fauzan

    #cossalabu : perspective right?

    #papabonbon : hehehe.. ngga kok bos. cuma ingin memberikan perspektif yang berbeda. memperkaya saja. toh yang membela dan memposisikan wanita hanya sebagai korban poligami kan udah banyak :)

  31. Wah, wah… mempertanyakan konsep kesetaraan gender ya? Sudah bosan hidup? :-)

    Hehe… tapi saya sepakat 100% dengan Anda. Kalau kita memaksa menyamakan sesuatu yang sebetulnya berbeda (alias absurd), ya sekalian yang lainnya juga dong. Biar adil.

    Misalnya, usung juga dong konsep kesetaraan atasan - bawahan :D
    Nah lho….

    Yang lebih tepat sebetulnya adalah konsep pembagian tugas.
    Samakan saja keluarga itu seperti tim kerja di kantor.
    Nah, musti ada yang jadi pemimpin tho ? kalau tidak maka akan jadi chaos.
    Ada yang jadi kepada seksi. Ada yang jadi office boy - dan tetap penting (bayangkan kantor tanpa office boy; kelimpungan semuanya deh)

    Beberapa aktivis yang menyuarakan soal kesetaraan gender ini dulu sekarang juga sudah mulai menyadari potensi-potensi masalah di konsep ini. Ratna Megawangi misalnya sudah menyuarakan perlunya satu pemimpin dalam suatu rumah tangga.

    Saya mungkin manager di kantor saya, tapi di rumah managernya adalah istri saya. Dan jam kantornya adalah 24×7 :D kalau anak menangis kapan saja dia yang sibuk mengurus mereka. Saya mah enggak kuat. Perempuan lebih kuat dalam soal itu daripada saya, he he.

    Posting yang bagus mas. Mudah-mudahan makin banyak yang jadi tercerahkan karenanya. Thanks.

  32. > saya sendiri sangat kecewa mengapa nabi menikahi seorang aisyah yg berumur 9thn yg sangt tdk mengerti apa2.

    Sekedar menambah perspektif - ketika masih jadi kuli di Birmingham, saya sempat diskusi soal ini dengan kawan saya yang asli orang sono. Dengan santai dia menjawab bahwa neneknya menikah di umur 11 tahun. Dan ini sudah di era 1900-an.

    Sekarang ? Kalau ada nekat yang menikahi gadis umur 11 tahun di Birmingham, pasti diseret dia ke bui dengan tuduhan pedofil :D

    Zaman 1900-an memang sangat berbeda dengan sekarang. Dulu gadis (dan pemuda) lebih cepat dewasa. Apalagi di 1400 tahun yang lalu.

    Sekarang ? Jebolan S3 saja berantem seperti anak kecil, dan yang melerai justru saya, yang pantas jadi keponakan mereka :(
    Bah.

  33. Patriakis dari hongkong? Bagaimana bisa dia menyebut Islam ini sangat maskulin kalau dalam Al Quran justru yang ada cuma Surah An-Nisa yang isi seluruhnya bicara tentang kemuliaan kaum wanita. Mana ada Surah di dalam Al Quran yang membahas soal pria?

    Asli saya ketawa di depan komputer membaca ini :D

    Thanks pak.

  34. #sufehmi : wah… mas harry membombardir nih. sepertinya ini topik yang menarik perhatian. tertarik untuk berpoligami mas? heihiuehiue
    btw, saya ngga bosen hidup kok :p cuma ingin memberikan sebuah sudut pandang yang laen, sekedar perspektif saja. untuk memperkaya khasanah hehehhe..

    soal istri rasulullah Aisyah, saya fikir kita tidak bisa melakukan branchmark apple to apple. wong masanya saja berbeda. menurut saya kok ya tidak bisa ditarik garis begitu saja

    heheh.. saya juga heran kenapa Islam sering dipandang sebagai agama yang tidak memperhatikan gender. selain contoh yang disampaikan didin tentang ayat annisa, saya fikir sangat banyak tidak cuma dalam konteks tertulis, konsepsi Islam yang sangat meninggikan harkat perempuan. Mungkin kita kurang total kali yah melakukan analisa, sehingga cuma memotong secara sepihak :)

  35. kalo emang dengan 1 istri cukup ngapain pake poligami segala sih?
    kalo niatnya mo nolong ya nolong aja, kenapa pake nikah nikah segala?
    kalo niatnya mo ikut ikutan temen ngaji mbok ya jangan taklid buta
    kamu bukan apa yang kelompok kamu lakukan tapi kamu adalah apa yang kau lakukan dan pertanggung jawabkan sendiri
    poligami itu pilihan
    cuma prihatin dengen orng orang yang niat poligami hanya karena ikut ikutan apa kata “temen”

  36. #sita : hihihi.. nam itu masalahnya sita. mungkin banyak laki2 merasa 1 ngga cukup wakakka..
    setuju. its about choice. tidak hanya dalam kasus poligami, tapi dalam banyak kasus memang banyak orang yang melakukan tanpa siap dengan konsepwensinya. lebih parahnya lagi, ngga tau kenapa dia melakukan.

  37. Sebenernya,
    Dari sisi antropologi, ada keperluan dari poligami, yaitu untuk menambah jumlah populasi manusia secara lebih cepat dan efisien.
    Buat org Indonesia yg udah berjubelan, mungkin gak kerasa perlunya nambah jumlah populasi. Tapi, kalau misalnya suatu negara/wilayah baru saja mengalami musibah bencana alam, atau setelah perang, atau ada wabah penyakit, sehingga ada penurunan jumlah populasi sedangkan kelangsungan hidup manusia di wilayah ini bergantung pada jumlah populasi tertentu. Dalam kasus ini, Poligami menjadi alternatif yg viable malah perlu untuk kelangsungan hidup bangsa itu.

  38. Poligami itu aturan alternatif yang sangat kita prihatinkan. Islam, menganjurkan orang berpoligami, rasanya tidak dan sebaliknya melarang orang berpoligami juga tidak. Tetapi, yang pasti, orang yang berpoligami ini, akan diminta pertanggungjawab oleh Tuhan, Allah dengan yang lebih berat dibandingkan orang yang tidak berpoligami. Adil bukan! Bagi kita yang tidak menganut paham ini, ya bersyurlah karena resiko pertanggungjawaban lebih ringan. Untuk itu, kita tak perlu sewot dan sakit hati, karena perempuan yang ‘merasa’ korban poligami pun ada yang ikhlas dan tulus menerima ‘dia’ juga sebagai pendamping suaminya.

  39. poligami adalah pelacuran sesama muslim itu dibenarkan dalam Quran.
    Dunia pelacuran itu diancurkan dalam ajaran islam dan Qurannya.
    Setelah menikah dan mempunyai istri empat, dan istri yang pertama tidak mampu lagi memberikan sexuel bagi suaminya…sisuami mulai memberikan talak 3 agar dapat mencari pengganti istri yang mudah bergairah yang bisa memberikana kepuasaan pada suamninya.

    Dengan istilah buang yang satu ambil yang baru inilah poligami pelacuran dalam islam…..dengan dalih agama islam membenarkan hal itu.

  40. jika mempelajari al-qur’an jangan sepotong-sepotong tapi dengan cara kaffah / sempurna .ketika berbicara ttg poligami berdasarkan hukum agama rujukan yang shahih hati terasa tenang,tetapi ketika berbicara ttg poligami berdasarkan hawa nafsu yang ada hanya emosi dan perasaan yang selalu dikendalikan oleh syaithan yang terkutuk,so waspadalahhhhhhhhhhhh

Trackbacks/Pingbacks

  1. Menguak Tradisi Berkah « SANTRI BUNTET

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>