Generation Gap

Edo on December 11th, 2007

Sekitar pertengahan tahun ini, saya diundang oleh Jurusan Bahasa Inggris UKSW, untuk memberikan seminar tentang Mobile Learning. Well, to be honest, saya cukup surprise tentang permintaan ini, karena saya sendiri belum pernah melakukan eksplorasi tentang Mobile Learning. Saya baru mempelajari tentang E-Learning pada awal tahun 2000-an, diawali dengan keterlibatan saya bersama team mengelola IT di kampus, lalu tahun 2001 ketika membantu Dikmenjur (Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan) terlibat mengembangkan program JIS WAN (Jaringan Informasi Sekolah - Wide Area Network) di Malang, dan sedikit lebih memahami ketika (masih dengan team yang sama) kampus saya terpilih sebagai kampus pertama di Indonesia yang diminta terlibat dalam program School On the Internet, sebuah program Distance Learning yang disponsori oleh Pemerintah Jepang dan dikoordinir oleh Keio University dan ASIA-SEED Institute. Ada sekitar 11 kampus di 8 negara se Asia yang terlibat dalam program ini (Saat ini, 25 universitas di 12 negara).

Secara jujur saya sampaikan ke panitia, bahwa saya pada prinsipnya tidak terlalu memahami soal m-learning. Via telepon saya hanya menjelaskan pemahaman global paradigma m-learning menurut perspektif saya. Anehnya, mereka malah tertarik dengan pemahaman yang sama sampaikan tanpa dasar tersebut. Dan tetap meminta saya untuk hadir di Salatiga.

Terkadang, saya menikmati jika diundang menjadi pembicara di kampus atau event apapun. Alasannya sederhana. Permintaan-permintaan seperti inilah yang selalu memaksa saya untuk melakukan eksplorasi, belajar, mendalami sebuah topik tertentu. Biasanya saya hanya mau terlibat tentang 2 topik : ICT dan Manajemen SDM, 2 bidang yang sangat saya senangi. (lain waktu saya akan jelaskan kenapa saya mencintai 2 topik ini). So, dibeberapa event sebenarnya saya hanya tahu lebih dulu beberapa menit dari audience tentang topik yang saya jelaskan. But i always try to give the best and always tell the truth what i knew about..

Ketika saya melakukan eksplorasi tentang topik ini (kebetulan panitia menghubungi saya 1.5 bulan sebelum acara), saya mempelajari banyak hal. Untung profesor saya, Mr Google tidak pernah protes kalau saya tanyai berbagai macam hal. Dan tema tentang kesenjangan digital (atau digital divide) selalu menjadi issue ketertinggalan banyak negara-negara berkembang ketimbang negara maju, walaupun saya lebih cenderung permasalahannya bukan pada digital divide, tapi cultural and paradigm divide. Digital devide hanyalah salah satu impact dari cultural and paradigm divide itu sendiri. Dari beberapa referensi yang saya peroleh di Internet, saya mendapatkan sebuah pemahaman menarik tentang Generation Gap. Dari sini saya menjadi mendapat pemahaman baru, bahwa banyak timbul permasalahan, ketidak-sepahaman, kesulitan untuk menyamakan persepsi, karena kadang kita tidak mengetahui bahwa ada Gap antar generasi yang menyebabkan timbulnya perbedaan sudut pandang. Adanya hal historis yang mempengaruhi cara berfikir setiap generasi. Pemahaman tentang Gap antar generasi ini jika dipahami secara utuh, dapat membantu kita untuk mencari cara pendekatan yang tepat, memahami pemikiran rekan bicara kita, terlebih jika rekan bicara kita berbeda generasi dengan kita sehingga perdebatan yang tidak penting tidak perlu terjadi.

Sebagai ilustrasi sederhana, lihat saja iklan A-Mild : yang muda belum boleh bicara. Atau misal seringnya terjadi perdebatan antara orang tua dan anak ketika orang tua melihat anaknya (menurut perspektif orang tua) banyak menghabiskan waktu sia-sia dengan kongkow-kongkow, dan bukannya malah belajar dirumah. Atau orang tua yang sering menganggap generasi sekarang manja dan tidak mampu menghargai jerih payah dan sulitnya mencari uang. Begitu pula dengan si anak. Tidak sedikit anak yang menganggap orang tua nya kolot ketika dilarang keluar malam.

Di salah satu bidang yang saya geluti misalnya, issue tentang penting tidaknya implementasi ICT misalnya selalu menjadi perdebatan alot. Ada beberapa pengalaman menarik yang saya rasakan selama menjadi kuli komputer dan internet. Supaya tetap fokus pada tema tulisan diatas, moga-moga saya punya kesempatan untuk membahasnya secara terpisah.
Di area yang lebih luas lagi, hal-hal seperti ini juga sering terjadi di area bisnis, politik dan hubungan lainnya. Generasi muda sekarang sering dianggap “kurang ajar”, kurang mampu beretika, gak masuk akal dan terlalu imajinatif, dan sebagainya. Di perusahaan misal ada cukup banyak high level management yang terperangah dengan ide-ide yang “tidak umum” dari young employee nya. Diarea politik? disini contohnya justru sangat banyak. Impactnya? macam-macam. Penolakan, takjub, rasa persaingan, ketidak mampuan untuk memahami pemikiran para pihak, dan sebagainya.

Dalam salah satu presentasinya, Tom Brown, dari Midrand Institute, menggambarkan tentang Generation Characteristic sebagai berikut :

Tabel diatas adalah sebuah kesimpulan dari research yang dilakukan oleh Obliger - Obliger pada tahun 2005. Secara utuh, penelitian ini melakukan analisa tentang perubahan paradigma belajar-mengajar yang harus dipahami oleh tenaga pendidik (guru) dan siswa. tentang tema ini, akan saya bahas dalam tulisan yang lain.

ketika menulis tulisan ini, saya mencoba mencari sumber lain mengenai topik generasi-generasi ini. Dan di wikipedia, mereka memiliki sebuah turunan yang menurut saya kurang lebih sama, namun lebih spesifik. Chartnya bisa dilihat disini.

Dari 2 referensi tersebut, dalam konteks menemukan karakter dari tiap generasi, turunan yang disusun oleh Obliger mungkin lebih sederhana untuk digunakan. So, saya mencoba untuk “menterjemahkan” dengan bahasa saya sendiri.

  • Mature Generation

Adalah generasi yang lahir antara tahun 1900-1945, masa antara perang dunia 1 dan perang dunia ke 2. Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di zaman perang, spirit of survive-nya tentu sangat tinggi. Generasi ini cenderung structural approach, pengaruh struktur; umur, jabatan, strata mengambil peran penting. Sisi positifnya adalah adanya rasa hormat yang sangat tinggi. Mengingat teknologi adalah area terbatas di kalangan tertentu, generasi ini cenderung tidak terlalu peduli dengan teknologi. Kondisi tidak memungkinkan orang-orang pada generasi ini berfikir tentang masa depan, namun cenderung berfikir how to survive.

Dalam beberapa referensi, mature generation ini juga memiliki beberapa turunan, sebagai pengaruh PPD I, antara PPD 1 dan PPD II dan menjelang PPD II.

  • Baby Boomers (1946-1964/1974)

Generasi pasca perang dunia ke 2. Karena ini adalah generasi pasca perang, maka visi membangun menjadi sangat kental. Wajar jika optimisme, workaholic, spirit, menjadi ciri generasi ini. Semangat tersebut membuat orang pada generasi ini mau mengerjakan apapun dengan semangat, bertanggungjawab, dan tetap menjaga etika sebagai pengaruh generasi sebelumnya. Menjadi tua adalah sebuah ketakutan bagi generasi ini, karena spirit berusaha yang begitu tinggi.
Dibeberapa referensi, ada masa antara generasi ini dengan generasi berikutnya (generasi transisi) yang sering disebut dengan Jones Generation. Ditandai dengan bekembangnya Gerakan sosial masyarakat (social right) dan kesadaran atas hak-hak. Generasi ini berada antara tahun 60an - 70an.

  • X Generation (1965 - 1982/1985)

Di banyak referensi, generasi ini ditandai dengan isu-isu kebebasan, ketidak puasan, pemberontakan dan sebagainya. Sisi individualisme berkembang, dan cenderung skeptis dengan situasi yang ada. Kebebasan berekspresi terutama melalui seni, musik, sastra dan budaya berkembang drastis, bahkan di masa tertentu masa ini dikenal dengan MTV generation. Impact dari generasi sebelumnya yang cenderung menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja, generasi ini memiliki kecenderungan untuk enjoying life, mencoba menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan personal. Ketidak-senangan akan birokrasi juga menjadi ciri mereka. Dan media massa berkembang di masa ini

  • Y Generation/ (1982-1992)

Ada banyak perdebatan tentang masa Generasi Y dan Generasi Internet. Akan tetapi, saya cenderung untuk memisahkannya. Masa ini adalah masa berawalnya revolusi komputer dan awal kesadaran akan kekuatan informasi. Juga sebagai akibat pemahaman generasi sebelumnya, kesadaran bersosial dan berteknologi hadir dimasa ini. Generasi ini memiliki pengharapan dan keyakinan yang tinggi akan masa depan, dan menyenangi kehidupan yang dinamis, dan bergerak cepat. Kegandrungan tentang teknologi berawal dari generasi ini.

  • Net Generation (1983/1990-1999)

Generasi internet ini ditandai dengan masa emas informasi. penguasaan atas informasi adalah segalanya. Generasi ini cenderung sangat addict dengan teknologi. Sekilas, generasi ini cenderung terlihat individualis, sok, belagu, cuek, tidak mau berbagi, namun proses pemahaman yang benar akan membawa generasi ini ke arah sebaliknya : kesenangan bersosialisasi dan berkumpul, semangat berbagi yang tinggi. Independent, rasa ingin tahu dan mencoba yang sangat tinggi, sangat mendewakan kebebasan berfikir dan berekspresi, berfikiran terbuka. Dinamika yang tinggi juga memicu kecenderungan stress yang cukup tinggi.

  • Mobile Generation (1995/2000 - ? )

Inilah generasi saat ini. Generasi yang sangat mendewakan mobilitas, tidak suka dibatasi oleh apapun, even oleh waktu, tempat dan jarak. Semua bisa dikerjakan dan dijalankan dimana saja. karakternya cenderung mirip dengan Net generation, namun lebih radikal (lebih dinamis, lebih open minded, lebih…)

So, where we are?

Tiap generasi memiliki historisnya sendiri, memiliki karakter, perbedaan cara pandang dan berfikir, suka - tidak suka, yang mempengaruhi paradigma berfikir dari setiap generasi. Hal inilah yang sering menjadi masalah, ketika setiap generasi, berbicara, bertindak dan berfikir menurut pola masing-masing.
Sering setiap kita memiliki kecenderungan untuk berfikir dengan perspektif kita masing-masing, dan memaksakan kebenaran atas perspektif tersebut. Pola pemikiran seperti ini lah yang memancing konflik. Pemahaman akan karakter setiap generasi, akan membantu kita untuk mengerti sudut pandang berfikir masing-masing pihak, dan akan lebih bijak bagi kita jika kita mencoba untuk menyelaminya, dan mencari pendekatan terbaik dalam menyampaikan apa yang kita inginkan.

Generation was change, just like life it self. Perbedaan ini harus dipahami secara positif. Bayangkan betapa indahnya, jika yang muda tetap memiliki etika dan menghormati yang tua tanpa harus memanipulasi diri sendiri, dan yang tua mencoba memahami karakter generasi penerusnya, dan menekan existence syndrome-nya. Terkadang, banyak permasalahan terjadi bukan karena permasalahan yang fundamental, namun lebih kepada masalah cara.

Popularity: 5% [?]

5 Responses to “Generation Gap”

  1. Saat saya memimpin Diklat, karena perusahaan tersebar diseluruh Indonesia, dan mempunyai 6 Sentra Pendidikan di wilayah-wilayah, maka diperlukan elearning. Yang kasih ceramah pak Onno Purbo (El ITB).

    Apa masalahnya dan apa saran pak Onno? Sebaik apapun rencana kita, yang penting adalah mengedukasi SDM lebih dulu, agar pembangunan infrastruktur yang mahal tak sia-sia.

    Jadi, bagaimana tentang mlearning…mungkin betul, diperlukan ceramah-ceramah, wacana…sehingga SDM nya yang diharapkan dari anak-anak lulusan PT sudah siap dulu, sehingga nantinya cepat berkembang.

    Sama seperti internet, blog, dulu jaringan internet lelet (saya udah langganan dirumah 4 tahunan)…sekarang makin baik dan makin cepat, kalau ada keluhan segera ditanggapi…jadinya bisa ngenet sampai malam, bekerja dirumah, dan kalaupun hadir di perusahaan, bahan2 udah rapih sehingga meeting tak perlu makan waktu lama.

  2. #edratna : heheh… setuju bu enny. setuju kang onno juga tentunya :)
    memang agak repot sih bu. ibarat bicara soal anggaran, dari dulu sepertinya kita memang mengalami analisa terbaik. komposisi paling besar selalu berada di area infrastruktur, hardware, produksi, dan sebagainya, baru diikuti oleh software, promotion, dan terakhir baru brainware.
    saya sih udah sampe (nyaris) kapok, dan seperti merasa mustahil jika diminta untuk membuat blue print, dan memposisikan anggaran untuk peningkatan kualitas SDM sebagai cost paling besar. sampai saat ini saya masih kebingungan untuk bagaimana meyakinkan bahwa investasi di SDM itu adalah investasi luar biasa jauh diatas investasi fisik. tulisan saya tentang internet vs sembako mungkin menjelaskan apa yang saya maksud. sama kaitannya dengan pertanyaan saya di blog bu enny tentang intagible asset. lha wong bisnis saya bergerak dibidang jasa, services, dengan aset utama SDM, gimana bisa menjelaskan kepada lembaga perbankan? :)
    saya pernah berkhayal, andai harga sebuah profesionalisme industrial diterapkan seperti pemain bola profesional di luar negeri, mungkin akan mudah bagi saya untuk menjelaskan berapa aset perusahaan saya :)

  3. yen aku kiro2 melbu generi endhi do ?
    (kalo sayah termasup generasi mana do, jawa red).

    he3x.

  4. #antoub : awakmu? wah… awakmu iku aset budaya feb. kekekkeke

  5. Sebenarnya bentuk atau tipe mobile learning itu spt apa ya? Apa bedanya dengan e-learning, atau hanya sebatas cara aksesnya aja dari peralatan mobile spt HP, notebook dll yang bisa dibawa kemana2 :)

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>