Internet vs Sembako
“Apa betul masyarakat NAD sudah butuh internet? NAD masih punya segudang permasalahan. Saya fikir belum waktunya Pemda NAD mengeluarkan anggaran sedemikian rupa untuk membangun infrastruktur ICT di NAD. Rakyat NAD masih punya keperluan lain yang jauh lebih besar. Jangankan internet, buat beli makan saja susah. Buat beli minyak saja tidak ada uang. Apa perlu? Saya fikir Pemda NAD cukup mendorong regulasi saja, agar pebisnis telekomunikasi berinvestasi di NAD. Dana untuk membangun infrastruktur ICT itu sebaiknya untuk membangun jalan, dan sebagainya”Nanggroe Aceh Darussalam, 10 Desember 2007. Saya dan beberapa teman-teman ada disana untuk mempresentasikan Masterplan pengembangan infrastruktur BWA - WIMAX disana. Kebetulan 5 bulan yang lalu, kami; saya dan teman-teman diminta oleh BRR menyusun blue print ICT untuk NAD.
Kalimat diatas adalah statement salah seorang audience, yang kebetulan anggota perwakilan rakyat yang hadir pada saat presentasi tersebut. Selain beliau, hadir pula perwakilan dari beberapa institusi pendidikan seperti Unsyah, IAIN Ar Raniri, beberapa sekolah menengah, anggota DPRA, perwakilan pemda dan BRR.
Saya tidak heran dengan pertanyaan tersebut. Tidak pula komplain. Sangat maklum bahkan. Pertanyaan yang sangat mendasar, yang nyaris selalu saya dengar kalau mempresentasikan sesuatu tentang pentingnya ICT, selain issue pornografi/dampak negatif internet dan investasi yang mahal. 3 tema ini relatif selalu hadir.
Penting mana Internet daripada sembako? jangankan dengan sembako, dibandingkan dengan listrik saja, listrik lebih penting!. Lha bagaimana caranya bisa berinternet jika listrik tidak ada?
Tapi, ada sebuah perspektif yang ingin saya sampaikan, dan juga saya sampaikan diforum tersebut.
Kalau boleh jujur, sedih rasanya bahwa mind set tentang ICT di Indonesia ya masih seperti ini. Mungkin ini juga salah para pembawa pesan, pakar, ahli, presenter, konsultan dan pekerja bidang ICT lainnya dalam memberikan paradigma (atau malah ada yang tidak memberikan paradigma?). Padahal, buat saya, ini sangat mendasar.
ICT atau dalam bahasa Indonesia dikenal TIK sama dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Buat saya, dari 3 kata tersebut, main word-nya adalah INFORMASI. Bukan teknologi, bukan komunikasi. Dan informasi adalah akar dari ilmu dan pengetahuan. Dimata saya, informasi sama pentingnya dengan sembako, sama pentingnya dengan akhlak, moral, dan ibadah kepada Tuhan
Kok bisa? Saya punya alasan sederhana untuk ini.
Karena kita dibangun atas 3 komponen besar : fisik, akal dan hati. Nasi adalah makanan untuk fisik, agar fisik kita tetap sehat. Sedangkan informasi, ilmu, pengetahuan adalah makanan/nutrisi bagi otak. Akhlak, moral adalah makanan bagi hati dan nurani. Andai saya punya kemampuan untuk merubah, Stigma tentang hidup sehat dan sempurna yang sering dinyatakan dengan “4 sehat 5 sempurna” dimana kita dinyatakan sehat dan sempurna jika kebutuhan akan karbohidrat, protein, vitamin, lemak dan disempurnakan oleh susu perlu disusun ulang. Karena harus ada parameter sehat secara fikiran, dan sehat secara hati yang perlu ditambahkan. Mungkin 4 sehat 5 sempurna perlu diganti dengan 5 sehat 2 sempurna, dan 2 berikutnya adalah pengetahuan serta akhlak dan moral.
Sayangnya, mungkin mayoritas kita memandang bahwa “kematian” hanyalah berarti jika tubuh ini tidak lagi bernafas, darah tidak lagi terpompa. Mati terjadi jika tidak ada lagi makanan. Tidak banyak yang berfikir bahwa ketiadaan akses terhadap pengetahuan adalah kematian bagi fikiran, dan ketiadaan akhlak dan moral adalah kematian bagi hati dan nurani.
Artinya apa? mayoritas kita masih beranggapan bahwa pengetahuan belum menjadi kebutuhan pokok bagi kita. Dan dimata saya, inilah penyebab (maaf…) kenapa bangsa ini tidak akan pernah leading, dan akan selalu menjadi bangsa kuli, dan menjadi budak bagi bangsa lain. Karena yang kita fikirkan hanya otot, persis kuli.
Mungkin ini kesalahan para ahli ICT. Karena sering teknologi lah yang ditonjolkan, bukan informasi. padahal buat saya, buku pun adalah Teknologi Informasi. Pilihan berteknologi, hanyalah sebagai bentuk upaya *mengutip statement rekan saya Didin waktu presentasi kemaren* agar kita mampu melakukan leap frog (lompatan besar).
Bisakah Indonesia berkembang tanpa ICT? Buat saya jawabannya adalah BISA. Sangat Bisa. Indonesia tidak butuh ICT jika hanya ingin berkembang. Tapi, sebagaimana diskusi di blog bu enny tentang “kenapa usaha saya tumbuh lambat”, maka dimata saya, tanpa ICT Indonesia tidak akan pernah maju dan berada diatas negara-negara maju?
Hiperbolis? Saya tidak akan membantah. Namun mari kita lihat dengan kepala dingin dan terbuka. Dan saya ingin sedikit flash back.
Siapapun tahu bahwa ketika bicara teknologi, maka ITB selalu berada sebagai acuan. Saya sendiri, dulu merasa terbuang di Malang, karena sejak meninggalkan kampung halaman, tekat saya bulat : Ingin kuliah di ITB. Dihari yang sama dengan ujian terakhir EBTANAS, saya sudah berangkat ke Bandung untuk bimbingan belajar. Padahal belum terbukti lulus SMA. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa bimbingan gratis dari Ganesha Operation waktu itu. Semua saya lakukan demi 1 alasan : masuk ITB. Tapi apa daya, nilai saya tidak mencukupi, dan hanya cukup masuk di Jurusan Elektro Universitas Brawijaya. 1 tahun pertama belum cukup untuk saya membangun kebanggaan sebagai Mahasiswa Jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Maklum, doktrin Bandung-isme dan Yogya-sme begitu kental di kampung halaman saya. Bandung dengan ITB nya adalah impian seluruh anak IPA, dan Yogyakarta adalah impian rekan-rekan IPS. (sekarang? jangan tanya. Tahun ke 3 saya di Unibraw, saya bersyukur saya tidak masuk ITB!. Im proud to be Unibraw Alumni
).
Saya cukup aktif di beberapa lembaga kemahasiswaan. Dalam berbagai lomba, sering kali saya bertemu dengan teman-teman di ITB. Dan hampir disetiap moment, saya merasakan “dendam” yang tidak kecil. Segelintir kebanggaan berlebihan (baca : sombong) yang sering saya temui ketika bertemu dengan rekan-rekan dari ITB di berbagai semakin membakar adrenalin saya untuk membuktikan, that i’m better than you!
saya ingat, tahun 1997, ketika saya diajak oleh senior saya Bondan Prakoso (sekarang konsultan ICT untuk program Jardiknas) untuk terlibat dalam suatu tim research bernama Tim Jalin-Net. Tim ini berencana untuk melakukan research di bidang ICT. Ketika saya tanya kenapa ICT? Bondan bercerita bahwa asal muasalnya tim ini dibentuk juga didasari untuk berkompetisi secara sehat dengan “kampus-kampus teknologi kelas A” seperti ITB dan ITS. Kenapa ICT? Sederhana saja. Mau melawan ITB soal pengembangan chip dan ilmu elektronika lainnya, kita kalah jauh. Robotika? boro-boro. belum ada tahun itu pengetahuan soal robot di kampus. nano technology? Auronetika? VLSI? sepertinya butuh jalan panjang. So kenapa ICT? karena waktu itu, menurut senior-senior saya ICT masih baru hangat-hangatnya di kampus kampus Indonesia. sederhananya, we start in a same time. Ada potensi untuk membuktikan kemampuan kita.
Lalu bagaimana hasilnya?
Saya tidak akan melakukan claim bahwa kampus saya lebih baik dalam pengembangan ICT daripada ITB sekalipun. Tidak. Saat ini, kalah dan menang tidak lagi penting buat saya. Cerita ini hanya pembangkit semangat. Tapi, saat ini tidak ada sedikitpun rasa ketidakpercayaan diri saya jika harus berdampingan dengan ahli ICT dari ITB atau Binus misalnya. Kami, saya bersama teman-teman dulu mampu membangun ICT di kampus. Dari hanya 2 komputer terkoneksi sampai seluruh kampus (hampir lebih dari 700 komputer yang tersebar di sekitar 90 gedung). hotspot tersedia. Sistem Informasi dikembangkan secara mandiri. Tidak ada biaya milyaran rupiah untuk membeli software dari perusahaan seperti Oracle dan sebagainya. Sistem Informasi Keuangan dan Akademik yang dikembangkan rekan-rekan bahkan di adopsi oleh BTN untuk diimplementasikan di kampus lain. Program JIS WAN di Malang, pilot project program JIS WAN Nasional, cikal bakal Jardiknas yang menghubungkan lebih dari 400 kabupaten se Indonesia. dikembangkan oleh teman-teman saya. Program SOI dengan pemerintah Jepang juga memilih kampus saya sebagai mitra. Waktu itu, senang sekali rasanya ketika melihat rekan saya, Achmad Basuki dan Kasyful Amron melatih rekan-rekan di ITB tentang program distance learning ini, dimana ITB bergabung beberapa tahun kemudian. Belum lagi beberapa program nasional lainnya seperti PSB Online. Tidak sedikit kampus-kampus terkenal di Indonesia berkunjung ke Brawijaya, mempelajari tentang pengembangan ICT.
Akhir kata? Universitas Brawijaya, sebuah universitas, bukan institut teknologi, yang baru berumur 27 tahun, jauh dari umur kampus ITB dan ITS, mampu mensejajarkan diri dengan kampus-kampus berbasis teknologi lainnya seperti ITB. Unibraw, mampu melakukan leap frog. Sekarang, betapa saya bisa tersenyum, ketika melihat tokoh-tokoh ICT tidak lagi dimonopoli oleh Tokoh-tokoh dari ITB seperti Kang Onno , Mas Budi Rahardjo, Mas Basuki Suhardiman, dan sebagainya. Tapi ada Heru Nugroho, M Sholahuddin, Anjar Ari Nugroho, Bondan Prakoso, Dudi Gunardi, dan banyak nama lagi
.
Tulisan ini tidak sedikitpun berniat untuk adu kekuatan. Bukan untuk sombong-sombongan. Terlalu picik jika saya masih berfikir seperti itu. Saya punya banyak teman dan guru di kampus teknologi tersebut. Justru saya fikir saya harus berterima kasih karena telah memiliki parameter pemacu semangat. Semoga pembaca blog ini bisa menangkap maksud yang ingin saya sampaikan. Bahwa sadar atau tidak, bukan Sumber Daya Alam lah yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Bahwa kita sudah berada di era Knowledge Based Society. Bahwa penguasaan informasi dan teknologi mampu membawa kita meninggalkan ketertinggalan secara rapid, dan mensejajarkan diri dengan bangsa lain.
Intinya adalah kualitas SDM. Intinya adalah pendidikan. Intinya adalah ilmu dan pengetahuan. Intinya adalah penguasaan atas informasi. Terkadang saya berfikir, permasalahan ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia, korupsi, penanganan bencana, institusi hukum yang tidak lagi bisa dipercaya, semua bisa diselesaikan dengan 1 cara : buat agar masyarakat bangsa ini menjadi pintar. Jika masyarakat Indonesia pintar, pemerintah tidak lagi bisa seenaknya karena tidak bisa membodohi rakyat. Ahli hukum tidak bisa lagi membodohi rakyat dengan berbagai hal karena rakyat sudah pintar tentang hukum. Korupsi tidak bisa lagi terjadi karena rakyat akan menuntut transparansi dan mengawasi jalannya pemerintahan. rakyat yang pintar, tidak lagi bisa dibodohi oleh penguasa yang dholim.
Saya bahkan pernah sampai pada suatu kesimpulan, kenapa ICT tidak berkembang di Indonesia? Jawabannya adalah karena para pemimpinnya tidak ingin ada ICT!. Karena ICT menyebabkan semua serba transparan, pemimpinnya tidak lagi bisa korupsi. Karena ICT menyebabkan rantai birokrasi menjadi pendek, sehingga tidak lagi bisa bermain-main dengan birokrasi. Karena ICT membuka akses akan informasi dan ilmu pengetahuan, membaut rakyat menjadi pintar, sehingga tidak lagi bisa dibodohi. ICT akan menyebabkan akuntabilitas pemerintah dipertanyakan, pelayanan publik yang jelek di protes, dan sebagainya. ICT membawa isu keterbukaan. Dan hanya orang-orang yang menyimpan kebusukkan yang tidak ingin semua menjadi transparan.
Akhirnya, beginilah jawaban saya kepada sang anggota dewan :
“Kenapa banyak sekali orang tua yang banting tulang agar anaknya bisa sekolah? Berapa banyak keluarga yang terpaksa hanya makan apa adanya agar anaknya bisa terus mengecap pendidikan? Kenapa? Karena tidak satupun orang tua yang ingin nasib anak-anak dan keturunannya sama dengan dirinya. Orang tua yang bodoh dan tidak sekolah pun tau, pendidikan yang bisa merubah nasib anaknya.”
“Kenapa pemerintah tidak cukup memberikan dorongan regulasi agar industri telekomunikasi tumbuh? Karena pebisnis tetaplah pebisnis. Tujuan utama bisnis adalah mencari keuntungan. Parameter pengembangan usaha adalah market potensial. Dorongan regulasi memang membantu, tapi pebisnis tetap akan melihat oportunity marketnya. Itulah sebabnya kenapa industri tetap akan berkembang di “daerah basah”. Dalam perspektif pemerintah, pihak yang dipercaya oleh rakyat untuk memimpin bangsa, ICT tidak bisa hanya diukur dari nilai bisnisnya saja. Karena value ICT tidak hanya bisnis, tapi ada value peningkatan kualitas SDM, ada value good governance, ada value akuntabilitas dan transparansi, ada value efisiensi dan efektifitas birokrasi, ada value perbaikan pelayanan publik, dan sebagainya.
“Jika kita ingin berhitung, berapakah investasi yang dikeluarkan oleh orang tua untuk menyekolahkan anaknya dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3? Apakah value tersebut whorted secara ekonomi dengan gaji yang diperoleh setelah si anak bekerja? Pernahkah sang orang tua menghitungnya? Kenapa? Karena ini berkaitan dengan kebanggaan, harga diri, kehidupan yang lebih baik, dan sebagainya. Jadi, pantaskan kita hanya menghitung nilai ekonomi sebuah investasi peningkatan kualitas Manusia dan peningkatan kualitas hidup?”
“Pemimpin dipilih karena rakyat percaya sang pemimpin lebih pintar. sang pemimpin mampu memberikan perbaikan. Karena si rakyat percaya, sang pemimpin berfikir one step a head dari rakyatnya. Sehingga dalam konteks ini, analisa apakah rakyat sudah membutuhkan tidak cukup dijadikan sebagai satu-satunya dasar. Ini bukan bisnis yang selalu menjadikan market needs, market analysis, dan sebagainya sebagai dasar membangun sesuatu. Ini masalah kemaslahatan, masalah visi, masalah memandang sesuatu yang tidak mampu dilihat orang lain. Sehingga analisa kebutuhan masyarakat harus dilengkapi dengan pemandangan kedepan, sebuah visi, sebuah road map untu membawa kesejahteraan dan kemakmuran. Jika tidak, lalu apa bedanya sang pemimpin dengan rakyatnya? Kecuali, sang pemimpin hanya ingin populis. Kecuali sang pemimpin hanya ingin menyenangkan rakyatnya, memainkan pemikiran jangka pendek sang rakyat, tidak peduli masa depan rakyatnya, tentang memiliki penghidupan yang lebih baik atau tidak”
“janganlah konsep yang tidak terimplementasi, kegagalan implementasi sebelumnya, perencanaan yang tidak tepat menyebabkan sebuah niat baik tidak terselenggara. Keterlibatan seluruh pihak dalam mengawasi agar proses pelaksanaan berjalan dengan benar, sesuai dengan sasaran, yang didasari oleh sebuah perencanaan yang matang dan simultan-lah yang harusnya kita fikirkan. Bahwa aktifitas tersebut harus berkelanjutan, pembangunan infrastruktur harus dijalankan secara paralel dengan pengembangan content lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masyarakat NAD, serta diiringi dengan transfer of knowledge terhadap masyarakat NAD itu sendiri agar infrastruktur yang dibangun bisa dioperasikan secara mandiri. Dan saya sangat setuju, bahwa perencanaan ini jangan lalu malah menimbulkan masalah bagi masyarakat di NAD, dan hanya menjadi monumen teknologi belaka.”
So, masihkan kita perlu membandingkan penting mana Internet dan Sembako? Seperti sudah jawab sebelumnya, jangankan dengan sembako. DIbandingkan listrik, ya listrik saja masih lebih penting! ![]()
Popularity: 4% [?]
WoW
manthab mas Edo jawabannya. Btw kalo boleh nambahi, ngutip dari senior, bahwa internet bukan hanya sebagai sumber informasi lagi, tetapi internet adalah sumber inspirasi, yang tentu didalamnya ada informasi. Ya inspirasi untuk berbuat sesuatu, ujung-ujungnya untuk dapetin sembako bukan?
Emang susah yo merubah kultur di masyarakat, apalagi tentang TIK. Tapi tetep optimis kok, bangsa kita kan bangsa yang unik. Mestinya uniquely indonesia, kok malah dipakai sama singapore. Mulai dari alam sampai orang2nya unik. Begitu juga di ranah TIK, orang sini HP saja minimal 2 biji (gsm & cdma) bahkan lebih buat koleksi kali ya. Belum lagi nomor, satu orang bisa nyampe 7 nomor hehehe. Di regulasinya, penggunaan CDMA juga unik,ada salah satu operator yg memakai format nomor dan penggunaan layaknya GSM. wah belum yg lainnya. Bisnis ngikuti regulasi ato kebalikannya ya regulasi ngikuti bisnis hehehehe.
#toni : well, setuju ton. internet memang sumber inspirasi
itu kali yah makanya banyak yang punya HP.
itulah uniknya. fenomena di seluler memang lebih menarik di Indonesia. udah bukan pemandangan heran liat pembantu, tukang becak, tukang sayur pake HP heiuhiuehiueuie…
Indonesia punya budaya bicara yang lebih tinggi daripada budaya baca-tulis
oh ya 1 lagi
orang Indonesia itu suka gaya! heiuheiuhiue
hari gini ngga punya HP? :p
halah-halah, elo abis makan dodol yah do?
tapi bicara internet di aceh emang menarik kok, kemarin sebenernya pengen ikutan presentasi, sayang badan masih belum bisa diajak kompromi
#dudi : hihihi… ya ngga lah dud. clear itu. apalagi elu, yang popularitasnya jauh sebelum anjar ari nugroho. siapa sih ngga kenal hacker malang poenya, dgk? gw bangga lagi dud punya temen elu, bisa pamer kemana2. popularitas lu kan udah go international..
nah, elu tuh yang abis makan dodol mulu, makanya tepar hihihi
rabi dud, ben ono sing ngeramut, ambe ono sing iso diemut2 :p
Tapi Unibraw kan gak punya Sang Pakar kayak Roy Suryo™
#indra : ngg… anu mas indra, maap gak ngerti
saya cuma tukang kebun..
endi oleh-oleh2? dodol? suket ijo? kopi? halah….
Terus terang saya kecewa! Masa seorang Edo hanya berani bicara seperti ini. Mestinya to the poin saja: “kalau saja Bapak Wakil Rakyat yth. hanya ‘makan sembako’ apa bisa jadi politikus yang bisa duduk di kursi empuk?” Barangkali beliau justru termasuk kelompok yang tidak ingin rakyatnya pinter.
Tapi, nggak lah. Saya yakin beliau cuma menyemarakkan saja! (habis, aslinya presentasi kemaren garing poll) Piss …
#pataka : lo… kan udah din. kan udah diwakili dirimu yang lebih “kurang ajar” dari diriku wakakkaka….
kata sapa garing. bukankah dirimu meramaikannya? kan badutnya kita din hihi
eh… haduh.. maap. kurang ajar sekali sayah..
*serius set mode on*
wah, terima kasih atas kunjungannya, pak didin, di blog saya. adalah sebuah kehormatan bagi saya bapak berkenal berkunjung bla bla bla
*huek!
Hidup itebe hidup unibraw … been there done that
dulu waktu masih kecil dan sekolah (red: dibodo-bodoin orang) saya percaya klo sembako lebih penting. Tapi klo dah di depan laptop selama 2 hari gini & blom makan aq kok makin yakin klo ICT lebih penting :). Klo emang pemerintah blom sadar ya ntar deh nunggu mas edo jadi pemerintah sapa tau kondisinya beda
eh intinya tentang pentingnya ICT ketimbang sembako yach
(kekekekekekekekekekekekekekek 11172172x)
#idham : wakakkaka… you been there dham. Kamu adalah bagian yang bisa membawa perubahan. success story jardiknas akan ditunggu banyak orang dan berpengaruh pada banyak hal dham. Ngga perlu nunggu gw jadi part of government karena ngga ada juga yang jamin gw bisa jalan dengan baik
kita ngomong yang real aja.
personally, gw berharap banyak ama program yang dijalankan jardiknas