Indonesia 3.0 dan situs pariwisata Indonesia
baru saja selesai menulis soal Indonesia 3.0, sekedar mengingatkan kita akan kebangkitan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, seorang teman mengirim pesan via YM tentang situs pariwisata Indonesia.
Saya tidak ingin membahasnya. Juga meski ada ngilu di hati ini, saya tidak bisa berkomentar tanpa data-data akurat. Kenapa ngilu? karena sebagai orang yang juga berbisnis website development, dan juga pernah mengerjakan pekerjaan serupa di beberapa institusi pemerintahan, saya memang belum pernah mengerjakan website dengan biaya se dahsyat itu. Saya juga tidak ingin melakukan perbandingan dengan beberapa pekerjaan yang cukup berat yang pernah saya dan teman-teman kerjakan. Saya sedang ingin membaca tulisan beberapa teman blogger yang sudah melakukan eksplorasi mungkin bisa menjadi dasar.
Saya ingin sekali berbaik sangka. Namun akan lebih bijak jika departemen parawisata benar-benar menjelaskan tentang pembiayaannya. Supaya tidak menimbulkan fitnah. Takutnya, biaya sebesar 17.5 M itu juga termasuk seluruh item kegiatan pendukung, yang lalu segara anggaran (biasa disebut PAGU) dimasukkan ke anggaran pengembangan website ini. Siapa tau lalu ternyata server yang dibeli IBM bladeserver jenis terkini berunit-unit (saya dan teman-teman dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan pernah membuat konfigurasi server untuk sebuah web yang membutuhkan server sampai 7 unit). Atau siapa tau Deparpostel menggunakan konsultan SEO yang luar biasa (kantor saya pernah dikunjungi oleh salah satu perusahaan SEO terkenal di singapore, Robert J Steiner karena ingin menawarkan training teknik SEO kepada team teknis saya. Dari ngobrol-ngobrol, saya lalu jadi mengerti bahwa jika dikelola sedemikian rupa, biaya implementasi SEO itu bisa sangat besar).
Pengalaman saya di beberapa institusi pemerintahan terkadang membuat saya faham kenapa sesuatu terjadi angka-angka yang tidak normal. Cara penyusunan anggaran di pemerintah yang mengacu pada subyek sebuah kegiatan bisa menyebabkan angka menjadi tinggi karena beberapa kegiatan biasanya digabung dalam 1 judul kegiatan anggaran. Namun, angka 17.5 M itu benar-benar dahsyat dimata saya.
Tulisan beberapa teman-teman berikut ini saya fikir cukup obyektif dalam melakukan analisa
http://andri.cisco.or.id/
http://www.rayofshadow.com/
http://www.kapucino.org/
http://seokita.com/
Finally, saya jadi ingat ketika saya terlihat untuk mengembangkan website www.presidensby.info. Saat itu pembiayaannya sekitar 87 juta. Saya ingat omongan Bang Andi Mallarangeng. Salah satu tujuan Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat website presiden, selain untuk menjelaskan berbagai aktifitas tentunya, adalah untuk “menyindir” lembaga-lembaga pemerintahan yang membuat website dengan biaya ratusan juga bahkan milyaran rupiah.
Saya melihat impact itu cukup berhasil. Ketika saya dan beberapa teman secara individu diminta oleh salah satu perusahaan yang maju tender pengerjaan website Istana Presiden (perusahaan saya tidak bisa maju karena tidak memenuhi syarat), biaya pengembangannya juga (saya lupa detailnya) hanya sekitar 120 juta rupiah. Dan saya yakin, panitia tender tersebut pasti mempertimbangkan issue pengembangan website presiden saat itu.
Sayang sekali, niat baik Pak SBY, selaku presiden Indonesia tidak bersambut. 2 tahun pasca diluncurkan website beliau, persis tanggal 14 Februari 2005, berita ini muncul. Entah apa yang ada dipikiran beliau saat ini. Semoga beliau tahu.
Semoga jejaring blogger bisa membuka wacana kita semua, dan bisa dibaca oleh pihak-pihak terkait. Bukan hanya sekedar memaki, tapi benar-benar melakukan analisa baik secara teknis maupun dalam perspektif pebisnis.
beberapa teman-teman blogger lain yang membahas tema serupa :
http://translateoff.blogspot.com/
http://www.dexno.com/
http://ustadz.net/
http://road-entrepreneur.com/
http://www.bali.ikads.com/
http://abahoryza.blogspot.com/
http://venus-to-mars.com/
*update
hari ini, saya membaca ulasan tentang hal ini di milis technomedia.
ada beberapa masukan dari beberapa pelaku ICT yang menurut saya bisa dijadikan sebagai pertimbangan.
berikut saya postingnya beberapa komentar di milis :
———–
- Ada beberapa metoda utk menyebar “server” di beberapa lokasi. tidak
semua dg cara entri banyak utk 1 nama.
Ketika baru launching saya perhatikan my-indonesia.
jawaban DNS utk menangani “pembagian server” ternyata benar, jadi
pembagian dilakukan ketika ada user dari Indonesai mengakses (dari DNS
akan diberikan server di USA), sedangkan kalau user dari Indonesia
akses maka akan diberikan IP mesin di Indonesia)Pada hari hari awal launching sistem ini belum berfungsi baik
(sepertinya mereka manfaatin GeoDNS), mungkin akibat belum menyebarnya
isian DNS atau satu dan lain hal. Tapi hari ini saya lihat sudah
berfungsi.Dari server di Jerman (di DFN-net dan non DFN), ketika saya request
www.my-indonesia.info saya dapatkan IP : 87.117.224.155Sedangkan dari server di Indonesia (saya test dari jardiknas dan
server SBY), saya request www.my-indonesia.info saya dapatkan IP :
203.211.140.139Kedua IP tersebut berlokasi di tempat yang berbeda.Nah ttg bagaimana koneksi antar 4 server itu bisa berbeda-beda, dan
itu yg bisa membuat variasi harganya berbeda juga.
ternyata www.my-indonesia.
Karena saya tidak punya akses di Australia, jadi saya tidak bisa
verifikasi lokasi ini. Mungkin yang kebetulan domisili disitu bisa
mengklarifikasi.Anyway, setahu saya paket website www.my-indonesia.info ini tidak
hanya sekedar website. Ada komponen-komponen lainnya juga. Misalnya
SEO. Bagi yang paham soal ini, tentu tahu bahwa proyek SEO bisa
menghabiskan biaya yang cukup besar. Karena pada era Internet ini,
SERP memang adalah salah satu penentu utama hidup-matinya suatu situs.
Dan karena memang membutuhkan resource yang sangat besar.
Dalam waktu 1 bulan ini saja saya sudah menolak 2 proyek SEO karena
resource saya sudah fully booked semua.Kembali ke soal SEO, kalau kita lihat indo.com misalnya, memang secara
desain tidak menarik. Tapi dari segi SEO, silahkan bisa dicek sendiri.
Berbagai keyword high-profile, terutama seputar pariwisata dan bali,
sudah dikuasai oleh situs ini.Dan kalau sekilas saya lihat di halaman ini :
http://www.my-indonesia.info/page.php?ic=1112
Sepertinya my-indonesia.info ini mencantol ke backend-nya indo.com,
salah satu ecommerce engine pertama di indonesia (dan saya kira
termasuk yang paling robust, terutama untuk bidang pariwisata)
——-
semoga bisa memberikan informasi yang seimbang
update lagi :
saya suka analisa tante yang satu ini :). sayang ngga ngerti maksudnya hehehe
paling anget :
ternyata diskusi soal ini web terus berlanjut. ada posting menarik oleh om capucino, dan mas ray tentang tanggapan dari PR (public relation) indo.com.
dan saya cuma ingin mengutip sebagian :
Belum lagi waktu sebelum promosi, kalau coba cari “indonesia info” di Google, situs paling atas adalah punyanya CIA. Jadi perspektif yang didapat orang adalah perspektif CIA. (Coba search “president indonesia” sekarang di Google, situs siapa yang paling atas?) Punya Pemerintah dulu tidak kelihatan. Sekarang, untuk kata-kata kunci seperti itu, “tourism indonesia” dan hampir 2000 kata lainnya, situs Pemerintah sudah muncul, bahkan pada posisi-posisi terdepan.
Wah. Semoga soal “presiden indonesia” itu bukan karena tulisan saya. tapi sebagaimana komentar saya di blog capucino :
ehehe… semoga ini bukan disebabkan oleh pendapat saya di blog
.
btw, kl kita ketik “presiden indonesia” saat ini bukan lagi www.presidensby.info, tapi www.presidenri.go.id. afaik, 2 alamat itu adalah website yang sama. cuma sekarang memang tidak lagi pake presidensby.info di depan supaya lebih formil, dan sejak tahun lalu di geser ke alamat www.presidenri.go.id
*maaf kl oot. salam buat mba adeline yang cantik.
Semoga tidak ada yang salah faham. Karena, kalau tak baca-baca ulang tulisan saya, saya sama sekali tidak menghujat siapapun. Hanya berharap ada pihak yang menjelaskan secara official, sehingga tidak ada fitnah diantara kita ![]()
Popularity: 8% [?]
“…pengalaman saya di beberapa institusi pemerintahan terkadang membuat saya faham kenapa sesuatu terjadi angka-angka yang tidak normal…”
#epat : baguslah masih bisa tersenyum :). dan alangkah lebih baik jika kalimatnya tidak dipotong hehehhehe…
“Pengalaman saya di beberapa institusi pemerintahan terkadang membuat saya faham kenapa sesuatu terjadi angka-angka yang tidak normal. Cara penyusunan anggaran di pemerintah yang mengacu pada subyek sebuah kegiatan bisa menyebabkan angka menjadi tinggi karena beberapa kegiatan biasanya digabung dalam 1 judul kegiatan anggaran.”
Kaget saya ngedenger harga website sampe miliaran rupiah…
#praditya : hati-hati dit, jangan sampe lupa napas hehehe
OOT nih… sorry….
Gw udah eskalasi ide reuni Jalin tuh, Ed. Bobo udah acc dan acara udah disiapkan sama Dany. Awas kalo gak dateng loe!
Ya harga besar memang terkadang masuk akah untuk project project pemerintah, gak usah ditutup tutupi uang sogok menyogok itu ada, saya juga berkali kali mengerjakan project pemerintah, meskipun nilainya tidak besar, tapi soal suap menyuap itu bukan hal yg tabu bagi mereka. perlu menjadi catatan bahwa saya tidak pernah berurusan dengan itu, saya hanya kuli web yg ‘tidak tahu’ birokrasi kompleks seperti itu.
Well analisa anda soal server masuk akal sekali, tapi soal SEO saya bisa bilang anda salah besar (dilihat dari biayanya) kecuali pemerintah membayar 2jt untuk SEO On Page web tersebut mungkin baru masuk akal. Seharusnya dengan biaya tersebut pengembang bisa membuat SE friendly URL, itu juga aspek penting dalam SEO, atau Alternatif Text pada image, ini juga sangat penting, tapi ternyata tidak ada satupun ALT pada image.
Seperti yg saya bilang atau silahkan baca lagi tulisan di SEOKita, web tersebut sangat jauh dari kesan SEO, begitu juga Off page nya (related with SE). Soal banyaknya Link indo.com bukankah hal itu justru akan merugikan my-indonesia.info (dari sisi SEO) karena justru indo.com akan mendapatkan limpahan backlink, sedang di indo.com sendiri hanya ada sebuah banner (bukan text link) yg mengarah ke my indonesia.info, dan itupun demi kepentingan pribadi indo.com silahkan cek sendiri.
Soal etika.. apakah memang pihak Depbudpar ‘harus’ menginduk pada indo.com soal booking hotel? bukankan ini tidak fair? kalo mau booking hotel mungkin diberi saja link ke masing masing hotel, ke halaman booking form atau contact form bagi hotel yg tidak punya booking form.
Seperti Pendapat SEOkita “Setahu saya kalo mau website hotel Anda ada di site tersebut harus bayar ke indo.com (coba call deh ke Indo.com). Kalo gak salah Rp. 10jt/tahun + commision fee untuk penghasilan dari order online lewat indo.com” nah bagaimana anda menjelaskan hal itu, atau apa pendapat anda?
Well terlepas dari semua itu saya pribadi juga berharap web ini akan jadi lebih baik tanpa menguntungkan satu pihak saja, tapi benar benar bermanfaat dan menguntungkan Indonesia pada umumnya. Amin
satu dua dengan analisis Om Ray,.. karena beliau emang paling komplit ngebahas dari sisi konten dan semantic-nya web itu.
Kalo saya tetep mau komentar masalah efisiensi. Coba perhatikan, 2 thn menghabiskan 7.5M dengan hasil seperti sekarang?? ini dulu harus di jawab.
Masalh gelonjoran dana lanjutan, semoga dengan kita kritisi seperti ini, broker2 nakal itu jadi lebih waspada.. dan kualitas web ini pun terus ditingkatkan menjawab tantangan dari pakar2 yang ada..
Saya rasa, kritik dan pengawasan yang dilakukan banyak praktisi dibidang ini , entah lewat blog, milist, forum, justru baik bagi development web itu sendiri .. saya percaya itu.
bujug deh, mahal banget.
well, dari segi server dan seo maka apabila hal itu menghasilkan hasil yg besar lalu bagaimana dengan seo apakah sudah terbukti, dan soal design menurut para blogger, tidak disukai secara tampilan dan secara security pun lemah atau setidaknya terdapat 3 holes yg dapat dilakukan atau diperbaiki para security ato admin-ny..
bahkan tim developernya pun yg menghubungi saya, blognya memakai passwor default.
Hello Indonesian Blogger,
Perlu bantuan untuk mengembangkan content pada website GoingToIndonesia.com, dalam situs GoingToIndonesia.com ini, user dipersilahkan untuk menambahkan sendiri objek-objek pariwisata
yang Anda ketahui dan belum terdaftar di situs GoingtoIndonesia.com ,
Anda juga dapat menulis artikel tentang objek pariwisata pada SITUS ANDA SENDIRI !!!, ya pada SITUS ANDA SENDIRI, tidak perlu menuliskannya pada situs GoingToIndonesia.com , karena dengan teknologi Web Mash-up Application , Tulisan anda tentang objek Pariwisata dapat kami refer secara automatis dari situs GoingToIndonesia.com (dengan catatan, blog anda dapat terindex dari google dan menggunakan kata kunci nama objek pariwisata tersebut)
Cara Berpartisipasi
1. Daftar ke GoingToIndonesia.com (proses pendaftaran mudah, tidak ditanya macam-macam, hanya tuliskan saka email anda, lalu akan dikirim password untuk masuk)
2. Setelah memiliki Account, anda dapat memilih nama kota tempat anda tinggal dan Anda dapat menambahkan objek pariwisata pada kota tempat anda tinggal
3. Anda dapat menulis artikel Pada BLOG ANDA SENDIRI, biarkan Google yang mengatur agar Summary Artikel anda Muncul pada website Kami, dan apabila Pembaca tertarik, Mereka akan mampir ke Blog Anda. Win-Win Solution , Right ?
Terima Kasih Atas Perhatiannya
Kukuh TW
http://GoingToIndonesia.com
wah, ternyata banyak komentar
#ray : selamatlah anda tidak pernah terlibat dalam hal-hal sogok menyogok mas ray :). believe me, i just make us feel bad :p.
tentang SEO, kayaknya saya tidak komentar banyak. wong saya bukan ahlinya hehehe. saya hanya bilang, bahwa saya pernah didatangi konsultan SEO, Robert J Stainer. Anda bisa berkunjung ke websitenya. dan anda akan menemukan angka yang tidak kecil untuk menjadikan mereka sebagai konsultan SEO :). saya hanya memahami makronya saja. maklum, saya bukan seorang web designer. keterlibatan saya dalam pekerjaan web dalam kapasitas analis.
saya terus terang tidak benar-benar mengeksplorasi web tersebut mas ray. but, jika benar2 proses booking hotel HANYA menginduk ke indo.com, saya setuju dengan pendapat sampeyan. pemerintah seharusnya memberi kesempatan yang sama dengan siapapun. atau, membangun engine sendiri dan bekerjasama dengan semua pihak terkait.
#leksa :
saya setuju mas leksa. makanya saya juga berkomentar sama. ramenya diskusi didunia blogger kita harap memberika warna baru tentang transparansi. but as i say, saya ngga yakin ini hanya untuk biaya website semua. karena biasanya pemerintah kalo bikin sesuatu mengacu pada PAGU kegiatan. bisa saja namanya tentang pengembangan website, tapi ada komponen lain-lainnya yang justru lebih besar daripada itu, seperti promosi dll. andai Term of Refference atau Kerangka Acuan Kerjanya ada, kita akan lebih mengerti kemana saja itu anggaran
#arham :
wah, menarik nih mas arham.
saya setuju banget.

cuma design yang bisa dibilang faktor selera berpengaruh. tapi toh ada “selera” yang bisa tergeneralisasi. kalau mayoritas orang suka, artinya ya bagus
namun terkait system, aplikasi pendukung, etc seharusnya terukur.
tentang SEO, setau saya dengan pengetahuan yang terbatas, SEO yang baik tidak akan bisa diukur dalam sekejap. butuh waktu untuk menentukan keefektifan teknis SEO yang dijalankan.
apa lagi ternyata masih ada holenya, bug, lalu password default. kl ini mah namanya ngawur
saya lebih setuju jika hal-hal seperti ini yang diangkat.
ramainya diskusi ini secara pribadi saya harapkan membuat kita bisa membedah secara obyektif. yang salah ya salah. tapi jangan hantam kromo tanpa data :). masi kita eksplore terus
#all : saya lebih cenderung untuk melihatnya secara overall. saya pribadi senang beberapa komentar melihat ini secara obyektif. saya juga percaya ini bukan soal serang menyerang. tapi soal mencari yang terbaik. so, masing-masing pihak yang terlihat bisa lebih mawas diri. saya pribadi melihat ada beberapa hal yang tidak pada tempatnya terkait pekerjaan ini.
mungkin saja foto - foto yang dipasang itu hasil karya fotografi ternama sehingga layak dihargai dengan segitu mahalnya.
*siap-siap ambil kamera, nyari obyek pariwisata di endonesah. barangkali aja fotoku dihargai 300juta per lembar*
#adipati : wakakkaka… jangan2 iya.
sedih juga sih. itu banyak foto yang ngga matching. fotonya dimana, penjelasan dibawahnya kemana.
btw, hobi moto bos?
*lama ngga make sony f828 gw nih :p
Salam kenal juga mas Edo
Terima kasih atas pengertiannya. Dan saya juga ingin memberikan sedikit info bahwa, tiap2 perusahaan punya kebijakan sendiri2 atas berbagai hal, termasuk masalah teknis utk project yang dikerjakan. Jadi ya, saya minta maaf jika tidak begitu bisa berbuat apa2 thd website pariwisata ini.
Tapi paling tidak sbg seorang web developer, saya akan tetap coba memperbaiki bbrp hal teknis terkait dengan website ini sendiri, spt CSS dan HTML-nya lah.
Thank you…
#ardnet : hehehe..

polemik ini hanya bisa di jawab oleh perusahaan dan dan clientnya (pemerintah). mas addi toh just part of the team. so, pertanyaan itu memang seharusnya ditujukan ke perusahaan anda
btw, saya sangat menghargai keberanian anda untuk menyampaikan bahwa anda terlibat. karena jelas akan memancing kontroversi dan caci maki
buat saya, ambil saja hikmahnya. pelajari masukan2 dari teman2 blogger. semoga mas adri tidak keberatan untuk melakukan perbaikan2 terhadap websitenya.
selamat bekerja mas ardi
yg bikin heboh jadi cuma masalah biaya kan?yang kita sendiri masih ragu apakah benar menghabiskan bujet segitu…yg menbudpar sendiri tadi saya baca juga menolak kalau telah menghabiskan bujet segitu…
well…jadi kemungkinan lain ada orang2 yang sedang berupaya main2 dalam menghadapi tahun 2009 nanti..hmm let’s see….
Inget heboh, inget dulu pas launching PresidenSBY. Orang sering lupa masasalah “back-end” yg dinilai dan dipertimbangkan adalah masalah yg terlihat mata.
Contoh soal semantic content, hanya dipertimbangkan semantic yg terlihat oleh mata (tag di HTML dsb), padahal ada hal lain.
Justru itu saya ndak berani komentar macam-macam soal situs Pariwisata ini, sebab tidak tahu ditail sistem back-endnya.
Contoh kasus server SBY, orang mana ada yg peduli urusan biaya “log server” (2 server khusus ngurusin log). Sebab tak terlihat mata
#ekowanz : hehehe.. setuju mas eko. tapi toh saya juga mendukung gerakan teman2 blogger agar transparansi terjadi
#IMW : hehehe.. setuju bang. makanya saya lebih memilih untuk wait and see. tapi toh movement ini perlu dilakukan. kasihan ICT selalu jadi kambing hitam dan bukan dianggap sebagai solusi, bang made. so, penjelasan dan proses pemahaman agar mampu melihat secara utuh perlu kita dukung
“biaya sebesar 17.5 M”
Masya Allah…. tapi ya dari uraiannya saya mengerti deh dimana sisi mahalnya. Tapi tetap masih meraba-raba yaa (kata lain dari Khusnudhon). Apalagi kata adipati kadmangan benar juga sih.. wong motret buat cover kaset saja, harganya sampai Rp. 150 juta. Padahal design grafisnya cuma 50 juta. Itupun dari designer Malay terus pak dicetak harga cetaknya di bawah 5 juta..
jadi giliran cetak di Kebayoran, si percetakan yang digencet suruh murah.. kasian deh percetakan.
Oh yaa satu lagi bos, kalau tidak salah pernah saya baca di KOmpas harga Logo Pertamina itu mencapai 2 milyar lebih… jadi gak aneh lah kalau harga situs itu mahal…
Yang gratis itu adalah situs bikinan saya: http://www.buntetpesantren.com hehehe
eh maaf komentnya nglantur kemana-mana… *kangen on*
#kurt : yah, kembali kang kurt, angka itu memang akan menciptakan polemik. point yang coba saya tegaskan jika memang depbudpar tidak melakukan penyelewengan atas anggaran adalah dengan memberikan klarifikasi dan melakukan transparansi. salah satu fungsi ICT adalah menciptakan transparansi. sehingga lucu jika proyek ICT menjadi tidak transparan. angka itu bisa saja masuk akan, dan sangat mungkin tidak masuk akal.
wong saya sendiri bersama teman-teman sebagai professional pernah menggarap proyek web mulai berharga hanya 500rb sampai 400 jt
saya hanya tidak mau bersyak wasangka. negara ini sudah penuh dengan keapatisan dan pola hidup negatif. semoga banyaknya komentar yang mengangkat topik yang sama bisa menjadi sebuah gerakan moral untuk mendorong perbaikan.
halah..dunia ini emang sempit ya,mas. Kita kopdar tak dirancang..
ah aje gile dah
mending dibikin buat benerin jalan sama fasilitas umum haha
betewe kok iso semahal itu ya
#lizmaya : hehehe… ya itu yang jadi pertanyaan :p kok bisa semahal itu. ntar kl dh tau bagi info yah. thank for visit
#papaevan : hehehe… dunia memang sempit. nanti ketemuan sama bu enny kita yah
Yang terjadi biarlah terjadi, yang belum terjadi mari kita jadikan..halah
Semoga saja dengan duit sebesar itu untuk my-indonesia.info bisa tertutupi dengan semakin banyaknya wisatawan atau investor yang masuk ke Indonesia. 17.5 milyar gak papa asalkan bisa dapet 17.5 trilyun..hehhehee
#mrbambang : hehehhe.. memaafkan memang penting. tapi sayang kl memaafkan membuat orang tidak sadar kesalahannya, dan terus berbuat salah.
parahnya lagi, akan sangat sulit memperhitungkan efektifitas dan impact dari pemanfaatan web terhadap pencapaian 7 juta wisatawan yang ditargetkan
but, mari kita ke esensi sajah. mari dukung pengembangan ICT untuk kebaikan. mari dukung Visit Indonesia Year 2008
masih berlanjut Mas Edo?
ga papa…
kalo ga gini , buat apa saya ngeblog .. hehehhe…
#leksa : wah wah wah….
ya udah deh, tak posting lagi hehe
langsung masuk euy :p
heheh… sorry, abis bertapa. pas ol lagi, kok ada updatenya
wah analisa yang mantep nih, tak kusangka efeknya sampe akhir tahun 2008 ini yah
wahhh, baru tau ada berita sedahsyat itu ttg situs pariwisata indonesia. Sebetulnya, sejak awal taun 2009 saya juga lagi ngembangin situs pariwisata indonesia dengan gaya yg gak terlalu formil, namanya http://www.ngaprak.com , sebetulnya website ini sebagai media komunitas yang bisa dikembangin oleh orang2 yg peduli ttg pariwisata indonesia.
Pas saya lagi serch ttg website pariwisata indonesia, ternyata menemukan topik ttg web 17,5 m ini. Sayang sekali kalau dana tersebut ternyata gak bisa dimaksimalkan, dibanding dengan website2 pariwisata negeri tetangga yg jauh lebih propesiional.