Indonesia 3.0
Semalam saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah acara bertajuk Global Compact Pledge Repositioning Indonesia : The New Silk Road yang diselenggarakan oleh IMA (Indonesian Marketing Association) atas undangan Pak YW Junardy, Ketua IMA, Managing Director and Chief Corporate Officer Rajawali Group. Acara ini dikelas dengan ulang tahun 2 orang tokoh marketer Indonesia, Pak YW Junardi dan Hermawan Kertajaya.
Saya sangat beruntung 2 tahun lalu diberi kesempatan untuk berkenalan dengan Pak Junardi, ketika saya diundang oleh beliau, mewakili Komunitas IT (Yayasan AirPutih) dalam sebuah konsorsium profesi bernama Komunitas Lintas Profesi yang berkumpul untuk memberikan kontribusi terbaiknya sesuai dengan profesi masing-masing untuk membantu membangun Aceh kembali. Disitu ada Asosiasi Marketing Indonesia, Himpunan Psikolog Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, dan asosiasi lainnya. Perkenalan singkat itu cukup bagi saya untuk belajar dari beliau. Kedangkalan dan pengetahuan saya yang terbatas membuat saya tidak tahu dengan siapa saya berhubungan. Namun, disitulah saya mengenal beliau sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Sebagai seorang president direktur dari sebuah perusahaan besar dan beberapa perusahaan lainnya, memimpin berbagai organisasi berskala Nasional dan Internasional, beliau mau mendengarkan, dengan tulus dan terbuka pemikiran-pemikiran yang saya sampaikan tentang pentingnya membangun infrastruktur komunikasi di NAD, membantu saya untuk mewujudkan ide layanan informasi bencana melalui SMS (yang akhirnya mendapatkan nomor premium 9731) sebagai layanan informasi bencana (didepan saya beliau menelepon seluruh direktur/pimpinan operator seluler dan merefer saya kepada mereka). Padahal waktu itu saya sudah mendapatkan dukungan dari 2 kementerian : Menkokesra dan Depkominfo, namun 2 surat dukungan tersebut tidak mampu menggugah operator seluler waktu itu. Kontak dari Pak Jun lah yang menyebabkan layanan ini terealisasi. Saya, bukan siapa-siapa, pemuda berumur 29 tahun, kebetulan dipercaya oleh rekan-rekan saya sebagai ketua yayasan AirPutih waktu itu, hanya memiliki sedikit pengalaman hidup, seorang yang masih ingin belajar banyak hal, didengarkan oleh seorang tokoh sekelas beliau, dikenalkan dengan banyak orang-orang hebat lainnya (Gala Dinner JavaJazz tahun 2005 saya nikmati dengan gratis juga atas undangan beliau). Bahkan pasca aktifitas ini berakhir, dan saya tidak lagi memimpin yayasan, beliau tetap mau membalas e-mail saya, membalas sms saya. Dan tadi malam mengundang saya untuk menghadiri acara beliau. Saat saya mendirikan perusahaan bersama teman-teman saya 1 tahun lalu, beliau masih mau memberikan masukan-masukan dan pelajaran bagi saya dalam menjalankan usaha. Ketika saya menceritakan aktifitas teman-teman di yayasan sewaktu mengembangkan Early Warning System, bekerjasama dengan Ristek dan BMG, serta program Migrasi Open Sources di 2 propinsi beliau masih memberikan masukan, dan menanyakan kabar saya. Sungguh, saya belajar betul bagaimana menjadi orang besar yang sesungguhnya. Orang besar yang tidak rendah hati tidak akan pernah menjadi besar.
Ada 2 tema yang menggelitik pikiran saya selama mengikuti acara tesebut. Dan salah satunya adalah seperti judul posting saya kali ini. Ketika Pak Hermawan Kertajaya didaulad untuk bicara, beliau menyampaikan hal yang sangat menarik tentang betapa Indonesia, diberi gift yang sangat luar biasa, bukan dalam konteks kekayaan alam yang kita miliki, tapi bahwa di Indonesia lah 2 kekuatan maha dahsyat yang sangat ditakuti oleh negara-negara maju, berkumpul dan bersatu disini, di Indonesia.
Pertama, kebangkitan Islam. Dan yang kedua adalah kebangkitan China.
Saya setuju dengan statement Pak Hermawan. Umat muslim adalah kekuatan baru yang tengah mengalami kebangkitan, pergerakan dan kemajuan yang luar biasa saat ini. Fokus issue yang selalu dikembangkan oleh beberapa negara maju seperti Amerika Serikat misalnya tentang umat muslim yang dekat dengan terorisme, separatisme, energi luar biasa yang dihabiskan oleh beberapa Negara maju untuk terus mengadu domba dan membuat negara-negara Islam terus berperang, mendukung salah satu pihak dengan kekuatan militer, ikut campur dalam dunia politik Negara-negara Islam, ketakutan berlebihan Amerika terhadap Iran yang mengembangkan teknologi Nuklir, Propaganda-propaganda untuk meng-embargo negara-negara Islam agar tidak berkembang, adalah sedikit dari banyak bukti ketakutan negara-negara maju terutama negara Adidaya terhadap kebangkitan Islam. Bayangkan, hanya untuk menghadapi seorang Ahmadinejad, George Bush sampai perlu meminta-minta di forum PBB agar dunia menghukum Iran.
Begitu pula dengan China. Bahkan dalam pemikiran saya, China adalah suku bangsa yang Blessed. Suku yang terpilih. Kebesaran China tercitrakan melalui berbagai bentuk : negara yang sangat luas, jumlah penduduk yang luar biasa, kekayaan alam yang didukung oleh SDM yang ulet. Pengakuan atas China datang dari mana saja. Bahkan Rasulullah menggunakan kata China untuk memberikan analogi semangat menuntut ilmu. Dan akselerasi dan pertumbuhan yang maha dahsyat belakangan ini benar-benar mampu membuat keringat dingin banyak negara.
Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?
Pak Hermawan menyampaikan, bahwa meski Indonesia bukan negara Islam, tapi Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di Dunia. Dan di Indonesia pulalah, negara dengan jumlah penduduk keturunan China terbanyak di Dunia. Bayangkan, 2 kekuatan besar itu bersatu disini, di Republik Indonesia
Jika saya diatas tadi menyampaikan bahwa China adalah suku bangsa yang blessed, maka saya juga ingin menyampaikan bahwa jika kita sadar, Indonesia adalah negara yang Blessed. Negara yang diberkahi. Dikaruniai, yang mendapatkan hidayah luar biasa. Bahwa republik ini adalah negara besar, dengan kekuatan sumber daya alamnya, dan didukung dengan potensi 2 kekuatan sumber daya manusia terbesar : Muslim dan China. Lalu apa lagi yang kurang di negara ini?
Banyak kalimat bijak yang menyatakan bahwa setiap orang besar, akan diuji atas kebesarannya, apakah dia pantas atas kebesaran tersebut. Saya sendiri selalu mencoba untuk meyakini ketika saya mendapatkan ujian, cobaan, musibah, itu adalah rahmat dan hidayah. Karena ujian, musibah, cobaan adalah tanda-tanda bahwa saya tengah berada dalam proses up-grade. Masalah yang dihadapi adalah tanda-tanda bahwa sebentar lagi saya akan menjadi orang besar JIKA saya mampu lulus dari ujian tersebut. Maka bersyukurlah mereka yang diuji. Justru yang perlu waspada, adalah orang-orang yang tengah bergelimang dengan kesenangan dan kebahagiaan.
Jadi, ketika bangsa ini ditempa dengan berbagai masalah : bencana alam, pemerintah yang korup, lembaga peradilan yang tak lagi terpercaya atas ketidakmampuannya menciptakan keadilan, perwakilan rakyat yang tidak lagi mewakili rakyatnya dan sibuk memperkaya diri dan golongan, negara yang tengah kesulitan menghadapi persaingan global, dilecehkan oleh tetangganya sendiri, negara yang hanya mampu menjual tenaga kerja un-skilled ke luar negeri dan tidak mampu memperjuangkan hak-hak azasi mereka sebagai sumber devisa negara terbesar dibidang non migas, negara yang sudah tidak lagi mampu mempertahankan diri sebagai juara Asean dibidang olahraga dan hanya mampu berada diperingkat 6 (peringkat terendah dari 6 negara awal pendiri Asean), maka marilah kita hadapi situasi ini dengan sebuah SEMANGAT. Karena ini adalah tanda-tanda bahwa dunia, alam semesta bahkan Sang Pencipta mengakui Indonesia sebagai negara yang besar. Mengingat 2 kekuatan besar tersebut adanya di Indonesia, maka wajarlah jika sekarang dan di kemudian hari, Indonesia menjadi perhatian dunia yang sesungguhnya, bukan Timur Tengah tempat mayoritas negara-negara Islam berkumpul, dan bukan RRC tempat suku Tionghoa berasal.
Tahun depan, tepatnya tanggal 20 Mei 2008, kita akan merayakan tepat 100 tahun Kebangkitan Indonesia. Waktu tersebut adalah waktu yang sangat tepat untuk merubah paradigma kita sebagai bangsa yang sibuk berkeluh kesah (kang kartubi di blognya pernah menulis tidak baiknya berkeluh kesah dalam perspektif agama di blog beliau). Saya ingat pesan kakak saya, tentang bahwa Tuhan itu sebagaimana perspektif hamba-Nya kepada-Nya. Jika kita berfikir bencana yang menghampiri bangsa ini tiada henti sebagai bentuk kemarahan-Nya, maka begitulah Dia. So, marilah kita bangun semangat dan perspektif tentang kasih sayang-Nya. Mari kita bangun semangat bahwa segala masalah yang menimpa bangsa ini akan mencapai kulminasinya. Tidak ada gunanya hanya mencaci maki pemerintah. Saya terkadang lebih menghargai cara berfikir orang-orang seperti Kang Onno W Purbo yang tetap saja maju, membangun tumbuh dan berkembangnya ICT, tidak bosan-bosannya mensosialisasikan pentingnya membangun ICT dengan diawali di sekolah-sekolah dengan atau tanpa dukungan pemerintah, atau siapapun. Toh pada akhirnya, perjuangan beliau memberikan hasil dan dukungan dari banyak pihak.
Dalam menyongsong 100 tahun Kebangkitan Indonesia tahun depan, Hermawan Kertajaya mengeluarkan statement-nya tentang Indonesia 3.0. Penyampaian jargon Indonesia 3.0; seperti penyampaian release version pengembangan software oleh Pak Hermawan telah menunjukkan kualitas dan ketajaman beliau sebagai seorang marketer dan membaca tren kedepan.
Indonesia 3.0 yang beliau maksud adalah bahwa Indonesia sudah harus memasuki tahap ketiga. Jika ketika Indonesia merdeka, Presiden Kita Bung Karno membangun eksistensi Bangsa Indonesia melalui perjuangan politik dan membangun Bangsa Indonesia melalui kekuatan agraris dan maritim, dan tahap kedua, ketika Presiden Soeharto membangun Indonesia melalui pendekatan ekonomi dengan tetap memanfaatkan kekuatan sumber daya alam Indonesia dan meletakkan pijakan pembangunan berbasis Industri, sekaranglah saatnya Indonesia memasuki Era ke 3. Dihadapan audience yang juga dihadiri oleh Mentri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh, Pak Hermawan menyatakan bahwa penguasaan terhadap teknologi informasi dan ilmu pengetahuan-lah yang akan membawa Indonesia kepada kejayaan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kedua Presiden kita terdahulu.
Dan kebangkitan ini harus diawali dengan sebuah rasa bangga. Ya, kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Kebanggaan inilah nantinya yang akan melecut semangat kita, membangkitkan energi terdalam dan terbaik yang kita miliki. Semangat untuk membangun dan membuktikan diri sebagai bangsa yang besar inilah yang akan menjadi kekuatan bagi kita untuk membantu alam dalam melakukan seleksi, sehingga hanya orang-orang terbaiklah yang memiliki visi membangun negeri yang bisa bertahan memimpin bangsa ini, sementara mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri akan tersingkir oleh kekuatan semangat kita. Para pemimpin akan malu dengan sendirinya melihat rakyatnya sibuk membangun negeri, dengan atau tanpa mereka. Pemimpin-pemimpin baru akan hadir. Dan masa depan yang lebih baik akan hadir didepan kita.
Indonesia 3.0. Kebangkitan bangsa Indonesia melalui penguasaan teknologi, informasi ilmu dan pengetahuan, yang didasari oleh Semangat dan Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
Akhir kata, selamat Ulang Tahun, pak Junardy. Selamat Ulang tahun Pak Hermawan Kertajaya.
Semoga pak Junardi Sukses dalam mensosialisasikan program Indonesia Global Compact Network yang akan meletakkan tonggak pembangunan Indonesia yang berwawasan lingkungan, memperhatikan hak-hak azasi, dan bebas dari KKN.
Semoga Pak Hermawan sukses untuk mendorong lahirnya Jalan Sutra (silk road) baru di Indonesia melalui Indonesia 3.0
Selamat dan Sukses bagi anda berdua.
Kepada Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, semoga bisa membawa Indonesia menuju Indonesia 3.0, sebagaimana yang dilakukan oleh 2 presiden terdahulu
Finally, Selamat Datang, Indonesia 3.0!
Mari bangga sebagai bangsa Indonesia.
Popularity: 4% [?]
Menuju Tirani 3.0 maksudnya do? hahaha….
#epat : maaph, sudah capek sama perspektif negatif. pengen yang senang2 aja
Mau program apapun, yang penting melakukan Internal Branding alias membuat seluruh komponen di dalam bangsa ini sadar akan positioning bangsa ini, alias lagi segala komponen bangsa ini sadar dan mau bahu-membahu mewujudkan kemajuan bangsa
#andrias : yap. setuju mas andrias. penting jika “BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA” menjadi tag line dan branding Indonesia tahun depan. btw, thank for visiting
..ikut bangga jadi anak indonesia.
#uconk : ayo kita tebar racunnya cak! :p
Pak Yun emang low profile. nggak nyangka CEO bisa merakyat gitu. inget dulu pernah makan angsle bareng di pinggir jalan di Batu
MAri bangkitkan Indonesia dengan Teknologi haji, yang begitu banyak mengandung diversifikasi teknologi. Semoga Allah meridhoi kita semua.
YUPZZZZZ… SMANGAT!!!!!!!!
Edo, buku yang saya launch pada waktu acara HUT60 tersebut sudah terbit. Bisa didapat di Gramedia dll. Judulnya Full Circle.