untitled : community, life, history, The Future…
ada 2 komunitas besar yang saya menjadi bagian dari mereka, yang memiliki pengaruh terhadap siapa saya saat ini. Pertama, komunitas itu bernama Tim Jalin. Kedua, Komunitas AirPutih.
Bagi teman-teman yang mengikuti tulisan saya, pasti melihat 2 nama-nama diatas sering saya tulis ketika melibatkan kisah hidup saya.
Tim Jalin, (sayang website Jalinet di www.jalinet.com sudah tidak ada. Sebuah catatan Bisma mungkin bisa menjelaskannya, selain di bagian sejarah pengembangan IT Unibraw) adalah sebuah komunitas yang terbentuk 11 tahun lalu pada saat saya masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Hampir 8 tahun saya berkecimpung dengan team yang sama, mengalami banyak peristiwa, yang jelas tidak akan mungkin bisa saya lupakan. Dimata saya, dari team inilah awal berkembangnya IT di Unibraw (meski pengembangan IT telah dimulai tahun 1992 oleh Prof Budiono, tahun 1994 oleh Fakultas MIPA dan di Fakultas Ekonomi, tapi hanya berhenti di level fakultas), yang melahirkan banyak pemain baru di percaturan ICT di Indonesia.
Kedua, Tim AirPutih. Tim yang terbentuk secara tidak sengaja ketika Tsunami menghantam Negeri indah bernama Nanggroe Aceh Darussalam, 3 tahun lalu. Tim yang terbentuk secara sporadis, tanpa terencana sedikitpun, benar-benar berjalan dengan sendirinya. Tim ini adalah cikal bakal Yayasan AirPutih, organisasi yang bercita-cita untuk menjadi ICT Emergency Respond Team - Connecting the unconnected, membantu penanganan bencana melalui ICT.
Masih jelas dikepala saya ketika Bobo (Bondan S Prakoso), senior saya angkatan 93 mengundang saya sebuah acara dirumahnya, 11 tahun yang lalu. Bersama dengan Abas (Achmad Basuki), Djeq (Djoko Pramono), Ron-ron (Ronni hartanto), diundang ke pertemuan angkatan 93. Beberapa pentolan yang menggagas ide ini ada disana. Ada Itom (Rachmad Januardi), Niko (saya lupa nama panjangnya, seorang senior asal Timor-timor), Mas Emil (Emil Nashiruddin), Mas Raden Arief, dan banyak nama lain. Sebuah ide sederhana yang brilian. Sebuah ide yang berangkat atas dasar ke-muak-an karena selalu dianggap sebagai “kampus kelas B”. Sebuah keinginan besar untuk merubah mindset orang bahwa teknologi hanya bisa dikuasai oleh teman-teman dari ITB. Menjadi yang terdepan. Itulah mimpi para senior saya yang mengagas tim ini.
Masih segar diingatan saya, bersama teman-teman yang lain (ada DC, Komeng, Agus, pada awalnya, lalu bertambah terus dengan adanya Bisma, Tatang, Yogi, Om Kasyful, etc), bagaimana awal-awal dulu, mau riset IT tapi komputerpun tidak punya, tempat belajar yang harus berpindah-pindah, tergantung kebaikan hati orang-orang yang punya komputer (salah satunya Maxima Komputer. Toko mereka kita pakai kalau malam hari untuk riset). Saya masih ingat wajah-wajah kurang tidur teman-teman saya yang butuh 1 minggu hanya untuk mengkoneksikan 2 komputer menggunakan kabel RG-58 dan gagal terus karena terminator tidak dipasang. Maklum, belajarnya autodidak, tanpa buku, tanpa guru.
Masih ingat moment Pekan Jalin, sebuah event yang kami rancang untuk mensosialisasikan hasil riset berbulan-bulan, mengundang mulai dari tokoh mahasiswa sampai rektor. Senangnya bisa mendemokan nge-game maen bola via jaringan, buku tamu yang dirancang menggunakan FoxPro, membuat web-board, bisa chatting antar ruangan (saya ingat sekali, waktu mau presentasi dihadapan rektor, direktur pasca sarjana, para dekan, dosen, mahasiswa, kita masih uji coba demo online, dan DC, rekan saya yang mengoperasikan systemnya, dengan polosnya chatting dengan saya dan bilang “woi gue laper nih”, sementara saya sudah memulai presentasi dan demo didepan para pejabat tersebut, dan chatting itu dibaca oleh semua yang hadir ehehehhehe *inget ngga lu Che?).
Masih segar di ingatan, kebahagiaan sedemikian rupa, pasca presentasi kita langsung dipercaya Direktur Pasca Sarjana menggarap jaringan dengan nilai kontrak 17.450.000 (waktu itu, itu uang nilainya gede banget rasanya), lalu ikut acara PIMNAS di Semarang, diundang oleh Kepala Puskom sebagai staff puskom di Gedung rektorat lama, memulai pengembangkan jaringan Universitas yang waktu itu baru 2 komputer yang terkoneksi, dan kabel RG-8 yang tidak dimanfaatkan, membuat website Universitas, sampai pada akhirnya dipercaya menjadi sebuah lembaga resmi Universitas bernama Unit Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi (UPPTI-Unibraw) yang bertanggungjawab dalam mengembangkan ICT di kampus.
Dari UPPTI inilah akhirnya apa yang dirintis oleh Tim Jalin-Net menjadi kenyataan. Mengembangkan jaringan skala kampus, mengembangkan berbagai aplikasi secara mandiri (Sistem Informasi Akademik, Sistem Informasi Keuangan, Sistem Informasi Kepegawaian, dll), terlibat dengan Diknas dalam program JIS-WAN di Malang, mengembangkan PSB-Online (Program Penerimaan Siswa Baru - Online) yang sekarang sudah digunakan di seluruh Jakarta, Yogyakarta, beberapa kota di Jawa Timur dan masih banyak lagi, dipercaya mengelola kerjasama dengan Pemerintah Jepang dalam program School On the Internet (SOI-Brawijaya) dengan ASIA Seed dan Keio University (di program ini akhirnya kita ketemu sebagai mitra dengan dengan teman-teman ITB yang sudah lebih dahulu dengan program AIII-nya), sampai sekarang teman-teman saya dipercaya sebagai konsultan di Program Jardiknas yang telah mengkoneksikan sekolah-sekolah di penjuru Nusantara.
Begitu pula halnya dengan Tim AirPutih. Berawal dari hasil chatting dengan Anjar yang menanyakan kontak dengan Aceh karena salah seorang sahabat kami tengah berada disana (dan waktu itu saya masih tidak sadar kalau negeri serambi mekah itu dihantam Tsunami), undangan conference via YM oleh Wandi, bersama beberapa rekan : Sugeng, Uconk, dll, menghasilkan sebuah keinginan untuk membantu Aceh. Dalam beberapa menit, lahirlah website www.airputih.or.id (hasil kerja gila Susie a.k.a Sugeng) yang dalam waktu tidak sampai seminggu berganti 3 kali karena berbagai alasan (hardware yang jebol karena hanya pake PC, hit yang melebihi kapasitas, sampai pernggantian domain ke http://www.acehmediacenter.or.id. Masih dihari yang sama, Anjar memaksa pergi ke Aceh. Dengan bantuan Mas Heru Nugroho, salah seorang tokoh IT Nasional yang kebetulan Ketua APJII saat itu, dan secara kebetulan Valens Riyadi, tokoh IT asal Yogyakarta dan Didin (M Salahuddin), tokoh IT asal Malang juga memiliki keinginan yang sama.
Alhasil, ketika semua orang sibuk menyiapkan bahan makanan dan alat kesehatan, 6 orang dari kami : Anjar, mas alfian, seorang wartawan lepas Pena Indonesia (2 orang yang berangkat pertama) lalu Didin, Valen, Lukman, dan Oon malah berangkat membawa VSAT dan perangkat komunikasi lainnya. Sebuah alasan sederhana mendasarinya : “Yang nyumbang makanan dan obat sudah banyak. Tapi ada dasar bantuan dikirim kemana? jumlahnya berapa? kebutuhan mereka apa?. Ketersediaan perangkat komunikasi dibutuhkan untuk menyampaikan informasi terkini, agar semua orang tahu, dan bantuan bisa disampaikan tepat sasaran.”
Saya masih ingat, “bancaan” teman-teman, menguras 7 ATM teman-teman yang menghasilkan 13.750.000,- sebagai modal berangkat pertama kali. Plus sumbangan beberapa orang (Termasuk Pak Jamhari Sirat, Dirjen Postel waktu itu), amunisi yang dibawa hanya akan cukup untuk 3 minggu. Kantor “nebeng” di kantor APJII. Dalam waktu 6 bulan, 4 kali pindah kantor (namanya juga numpang). Bahkan kamar kos-kosan saya yang hanya berukuran 3 x 2.5 meter pernah jadi posko Jakarta. Nasib teman-teman di NAD tentu lebih menyedihkan. 8 bulan menumpang di tenda-tenda organisasi lain, mengingat kita tidak punya kantor (harga perangkat yang kita bawa boleh bernilai ratusan atau milyaran rupiah. Tapi uang? wah… kita tidak punya). Hidup tidak ada bedanya dengan pengungsi meski memegang laptop. Berbeda dengan LSM/NGO dengan dana berlimpah, AirPutih (yang kemudian bernama Yayasan AirPutih) nyaris tanpa dana operasional. Bahkan pernah punya hutang sekitar 60-an Juta. Ketika gaji supir yang bekerja di lembaga UN-Group bergaji 3 juta, teman-teman hanya diber uang saku 500rb. Itupun baru didapat setelah 8 bulan. Sebagai orang yang lebih banyak berposisi di Jakarta, saya yakin kondisi teman-teman di lapangan jauh lebih menyedihkan. Sampai akhirnya aktifitas teman-teman AirPutih berlangsung sampai kini, termasuk 7 orang yang tengah berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, membantu bencana banjir disana.
Ada banyak kesamaan 2 komunitas ini bagi saya. Di 2 tempat inilah saya belajar tentang kebersamaan, persaudaraan, ketulusan, idealisme, nasionalisme ditengah kebusukan yang terjadi, niat dan itikad baik, tanpa pamrih. Disinilah saya belajar tentang team work, kerja keras, semangat. Disinilah kemampuan saya ditempa, belajar sekaligus berbuat. Ditempat inilah saya mengenal orang-orang hebat, mendapatkan kesempatan, kepercayaan.
Dua komunitas ini ibarat anak yang saya lahirkan dan orang tua yang membesarkan. Ada kegusaran yang besar ketika si anak saya anggap tidak lagi berada dalam jalur, tapi ada kemakluman yang luar biasa atas segala “kenakalan” karena toh nakal tidaknya sianak tergantung didikan orang tuanya. Ada kebanggaan luar biasa berkumpul dengan banyak orang-orang hebat dan mengenal orang-orang hebat lainnya. Meskipun kontribusinya tentu belum sebesar organisasi-organisasi lainnya, belum benar-benar mampu memberikan perubahan bagi bangsa ini, at least saya belajar dari teman-teman saya untuk seperti itu. terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang 2 komunitas ini. Semoga lain waktu saya diberi kemampuan untuk melakukan “napak tilas” perjalanannya.
Sungguh. Saya sangat beruntung diberi kesempatan mengenal dan terlibat dengan 2 komunitas ini, dengan orang-orang hebat. Tanpa mengabaikan organisasi-organisasi lain yang membesarkan saya, tapi 2 komunitas ini benar-benar punya arti dalam untuk saya.
O ya..
Ada komunitas baru yang tengah saya cintai. Bernama komunitas blogger. Kembali disini saya mendapatkan banyak teman-teman dan guru-guru baru yang mengajari saya banyak hal.
Finally, thank guys, all of you, for let me be part of you…
* menyambut reuni Tim Jalin, 22-24 Februari 2008 dan ulang tahun Tim JalinNET 17 Maret 1997, serta Munas Yayasan AirPutih, 7-9 Maret 2008 dan ulang tahun Yayasan AirPutih 22 Februari 2005.
Popularity: 3% [?]
saya tahu kisah air putih, di sebuah ruko dengan kotak2 server seadanya dan adminnya yang tidur di lantai Ruko. Kabar yang saya dapat dari teman2 disana..ketika mengetahui itu, jatuh rasa kagum saya Mas, buat teman2 disana. Terlepas entah intrik2 macem2 yang belakangan muncul.
Sementara saya yang putra Aceh, malah terjebak pada sebuah niatan bantuan yang rumit, biroktatif, dan disertai itunga2an untung rugi plus “Riya” disebuah kampus gajah duduk yang ngakunya tersohor itu… Dan akhirnya ketika dilapangan terlihat, sebuah bantuan tanpa itungan rasa ikhlas hanya menjadi pesolek di tanah yg justru membutuhkan kerelaan dan keikhlasan.
#leksa : wah, ngga nyangka aktifitas kita terdengar di bandung sana
(am i right?).
i miss them all…
saya yakin teman2 di kampus gajah duduk juga punya kontribusi yang tidak sedikit. waktu awal-awal disana teman2 sempat bertemu dengan mas basuki suhardiman juga. dan di AP juga ada Kang Onno yang banyak membantu hehehe..
intrik? andaipun ada saya lebih suka menganggapnya sebagai dinamika. toh organisasi sekelas LBH pun mengalaminya. wajar kok, sebagai organisasi yagn dibentuk oleh komunitas dan menganut faham kolektif kolegial. kalo ngga gitu ngga seru mas hehehhe.. yang penting dijaga hanyalah visi yang tidak boleh digeser oleh kepentingan siapapun dan apapun
aceh..
kota yang ngangenin. kopi dan pantainya memang ngga ada matinya
sahir kok nggak disebut ?
pantes saiki ketua ne dadi si firman
huehehe
#adipati : hehehe… orangnya banyak mas. susah disebut satu2 kekekke
#tape : wakkakaka… makane pe :p cek tas weruh tha?
Kau gak punya gambarnya maskot Jalin, Ed?
Tentang situs JalinNet, tunggu tanggal mainnya!
Setelah reuni, kita akan coba hidupkan lagi situsnya. Kalo kemudian berkembang jadi JalinGroup yg punya banyak anak perusahaan, mulai JalinNet, JalinTel, JalinSoft, JalinCafe, JalinEdu, JalinEstate, atau bahkan JalinKelapaSawit, seperti mimpi kita dulu… who knows? 
#bee : duh… ngimpi beneran gw…
itu mimpi yang tidak pernah hilang sampe sekarang
Betul, mimpi kita bersama, jgn sampe hilang. Kayaknya itu masih menjadi motivasi terbesar buat temen2 Jalin, baik yg masih bertahan di UB maupun yg udah melanglang buana kemana-mana. Ayo, bareng2 kita wujudkan!
#bee : maskot jalin kan ada tuh bee? tapi yang ada di laptop yang kecil. file2 lama gw kan udah di CD or external HD semua. waktu nulis ini itu benda2 kaga ada heheh…
hilang? insyaallah mah ngga lah. its just about process and time, right?
btw, gw mo bikin jalin coffe aja. ntar kl lu2 pada meeting, bawa client ke cafee gw aja yaks? ntar gw nyanyi deh, susie maen gitar. komeng ngebass. tjokro rythim+vocal. wes cukup tho?
oy do, itu maskotnya dipasang dong, hehehehe tempat gue aja udah ada maskotnya