Alkisah, suatu hari diadakan lomba mendayung menyeberangi Danau Toba yang diikuti oleh kontingen2 dari Jepang, Amerika, dan Indonesia. Terdengan kemudian wasit meniup peluit tanda lomba dimulai. Kontingen Jepang, begitu mendengar peluit ditiup, langsung dengan tertib berbaris menuju perahu mereka dan mulailah mendayung dengan
sekuat tenaga. Kontingen Amerika, begitu mendengar peluit ditiup, langsung membentuk barisan dengan struktur yang rapi sesuai dengan peran masing2 sesuai
dengan yang tertulis di buku saku panduan yang mereka bawa. Kontingen Indonesia? ketika mendengar peluit ditiup, kemudian langsung berkumpul. Mereka kemudian mulai bertengkar dalam seminar besar mengenai roadmap menyeberangi Danau Toba, flagship2 apa saja nanti yang akan mereka usung sepanjang jalan, stream2 apa saja yang harus dibuat, dan yang lebih seru lagi terakhir bikin pemilihan langsung komandan perahu yang melalui tahap2 pendaftaran, verifikasi, kampanye, kemudian
pemungutan suara.

Tidak cukup seminar darat, mereka juga membuka seminar dan diskusi di cyberspace dengan mengikutkan seluruh stakeholder dan para pakar dayung mendayung, pakar perperahuan, pakar angin, pakar cuaca, bahkan paranormal. Berbagai usulan mulai dari perahunya harus dari gelas, ada yang usul tentang perahu yang bisa terbang, ada yang usul pendayungnya membentuk RT/RW, ada yang ngotot dayungnya merek tertentu dan ada yang ngotot dayungnya harus gratis, dan macem2 lagi. Maka pusinglah para Intenet provider karena tiba2 bandwidthnya penuh sehingga terjadi kongesti trafik Internet. Bahkan lebih seru lagi diskusi ini diramaikan dengan munculnya berbagai tuduhan korupsi pembelian dayung, tidak percaya suara peluit wasit, berbagai kecurigaan ini itu, adu rumus, adu ilmu, bahkan karena di TV banyak sinetron hantu2an sampai2 ada yang
dibilang manusia hantu segala.

Ketika mereka sedang ribut sendiri, terdengar wasit meniupkan peluit panjang tanda bahwa ada kontingen yang telah memenangkan lomba karena telah sampai di ujung finish. Mendengar peluit ini, kontingen Indonesia terkejut baru menyadari kekalahannya.

Apa yang dilakukan oleh kontingen Indonesia?

Ternyata mereka kemudian memulai dengan keributan baru dengan menggelar seminar besar lagi untuk membahas kenapa kalah, dan lagi2 masing2 bertengkar karena masing2 mempertahankan konsep atau analisanya dan saling merasa dirinya yang paling benar.
Tulisan ini adalah tulisan pak Marsudi W Kisworo, Pembantu Rektor Universitas Paramadina, Wakil Rektor Swiss German University, Ketua Perhimpunan Persahabatan Cina Indonesia, Executive Director Partai Amanat Nasional, Guru Besar di beberapa Universitas di Indonesia dan masih banyak jabatan lainnya; yang di tulis di milis Telematika. Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Tapi saya ingat, tahun 2003 saya pernah mengundang beliau dulu, dikampus, bersama 10 tokoh IT lainnya ketika kasus KPU tengah merebak (seingat saya, dulu saya mengundang Pak Haru Nugroho, Eko Indrajit, Djamhari Sirat, Onno W Purbo, Basuki Suhardiman, Budiono Darsono dan beberapa tokoh lain yang duduk dalam diskusi panel. Inilah salah satu awal saya berkenalan dan belajar dari para tokoh IT Indonesia). Saya masih ingat, beliau adalah salah seorang perancang blue print IT KPU yang akhirnya mengundurkan diri. Tulisan inipun ditampilkan atas izin beliau.

Yah, saya pribadi tidak suka mengakui. Tapi terlepas dari itu semua, saya harus menerima 1 budaya yang memang mengakar di Indonesia, selain budaya instan, budaya malas menulis dan membaca, budaya bergunjing (seperti data yang disampaikan bunda Enny disini, menunjukkan kondisi tersebut). Inilah potret Republik yang kita cintai ini.

Kecewa? Tidak penting. Saya sudah tegaskan bahwa at least terhitung tahun ini, saya memutuskan untuk sepenuhnya Bangga sebagai Rakyat Indonesia. Tapi ini tipikal Indonesia sekali. Kita relatif lemah ketika posisinya sudah dalam kondisi menerapkan. Saya ingat, dulu, saya pernah berkomentar bahwa salah satu kenapa pembangunan di Indonesia tidak lancar karena yang banyak di Indonesia itu adalah pengamat, bukan pelaku. Ada pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat olahraga, dll. Dan banyak kasus ketika beberapa pengamat politik dan pengamat ekonomi Indonesia dipercaya oleh pemimpin tertinggi negara ini untuk terlibat entah itu sebagai staf ahli atau mentri, ternyata sang pengamat juga tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Akan tetapi jika kita mau menelisik, ada ada sudut pandang positif yang kita bisa lihat. Tidak sedikit saya diskusi dengan rekan-rekan yang pernah mencicipi hidup, sekolah dan bekerja di luar negeri, SDM kita relatif memiliki daya saing yang tinggi. Dan saya membahasakannya dengan kelebihan kreatif. Mungkin, karena biasa susah, terjajah, kita terbiasa “ngeles”. Padahal ngeles tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang yang tidak kreatif. Keterbatasan menyebabkan kita menemukan sudut-sudut pandang lain yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sayangnya, memang lebih banyak digunakan untuk hal-hal negatif.
Kemarin, dalam perjalanan ke Bandung, saya berdiskusi dengan kakak ke 3 yang memang sering berkesempatan ke Luar Negeri. Kali ini dia bercerita tentang konsep transportasi di Jerman yang nyaris “tanpa aturan”. Artinya, sangat besar peluang bagi orang yang culas untuk tidak membayar sedikitpun untuk jasa transportasi mereka. Jika di Jepang, atau beberapa negara lain ada pengecekan ketika keluar masuk, lain halnya dengan di Jerman. Uniknya, meskipun seperti itu, tidak banyak kasus kenakalan atau penipuan yang dilakukan. (bayangkan jika konsep ini diterapkan di Indonesia). Memang hukumannya cukup berat, yaitu, jika ketahuan, mereka harus membayar 30 kali lipat harga karcis. Tapi, lagi-lagi, orang Indonesia termasuk orang yang sangat kreatif mengakali system ini. Dan kita cukup terkenal oleh karena ini.
Kondisi negara yang relatif aman, tertata, teratur, menyebabkan mereka takjub dengan “kreatifitas” orang Indonesia dalam mengakali system. Karena mereka sendiri tidak terbiasa untuk itu. Mereka, masyarakat Jerman justru sudah terbiasa untuk mematuhinya.
Nah, bayangkan jika kreatifitas itu dimanfaatkan untuk kepentingan positif. Apalagi sekarang adalah era-nya Industri Kreatif. Ini adalah oportunity luar biasa bagi kita.

Tapi, kembali kepada tulisan Pak Marsudi, memang budaya “kebanyakan tampil dan relatif talk only” ini perlu di eliminir. Kita lebih butuh pelaku saat ini, bukan speaker atau pengamat. Bukan tokoh-tokoh yang hanya bisa pamer abis ikut konferensi ini itu, mengatasnamakan Bangsa Indonesia, tapi sebenarnya tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk Indonesia.

Popularity: 3% [?]

2 Responses to “Alkisah Indonesiaku : Merubah Budaya Negatif menjadi Positif”

  1. program penyadaran apa yg akan bung edo lakukan dalam waktu dekat?
    apa ini berkaitan dengan pemilu 09?

    *bgaya wartawan dr koran skeptispost :-P

    hahaha kongkrit aja bro, ”kemana kita?” ;;)

  2. #epat : Ayo!

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>