Kegelisahan Rang Minang : Kebangkitan Melayu?
Hanya ingin berbagi beberapa tulisan, yang merupakan akumulasi kegelisahan saya.
Saya mulai menyadari pentingnya mengenali sejarah dan leluhur. Uniknya, waktu 10 tahun saya di Malang, membuat saya banyak mendapatkan cerita-cerita tentang sejarah dan filosofi jawa, mulai dari soal jaman majapahit, pandawa lima, etc.
Saya pernah menulisnya disini.
beberapa bulan belakangan, saya justru berkenalan dengan orang-orang yang membuat saya memahami sejarah sunda.
Dalam kesempatan lain, undangan dari pak Junardi dan Hermawan Kertajaya memberi perspektif lain tentang kebangkitan Islam dan China.
dan saya juga terkondisikan untuk memahami sejarah Indonesia dijaman kemerdekaan http://www.edo.web.id/wp/2007/11/02/republik-instan/ http://www.edo.web.id/wp/2007/11/23/perlukah-sejarah-dihapus/ http://www.edo.web.id/wp/2007/12/11/internet-vs-sembako/ http://www.edo.web.id/wp/2008/01/02/2008/ http://www.edo.web.id/wp/2007/11/16/indonesia-bangkit/
So, saya “terkondisikan” memahami budaya dan filosofi jawa, sunda, islam, indonesia dan china hehehe. Ketika perlahan-lahan situasi itu sendiri terjadi, saya sebenarnya mengalami kegelisahan. Apa itu?
Tentang asal usul saya. Tentang nenek moyang saya. Yang pada akhirnya, lalu kapankah masanya kebangkitan melayu (secara lebih fokus : kebangkitan urang awak). Bukannya ingin jadi separatis. Sama sekali tidak. Saya bangga dan menikmati sebagai orang Indonesia. Tapi toh saya tidak bisa memungkiri selain sebagai seorang muslim, rakyat Indonesia, saya adalah asli urang awak. Rang kurai. Tiba-tiba timbul keinginan yang besar untuk memahami sejarah minang kabau, bagaimana islam masuk, apa saja filosofi2 minang, jika orang jawa punya “ramalan jayabaya” dan orang sunda punya “ramalan prabu siliwangi”, rang awak punya apa?. Dan toh, kebangkitan parsial dari komponen yang membangun bangsa ini menyadari betul potensinya masing-masing, jika tidak terjangkiti virus “kebablasan”, tentu ini akan baik demi membangun pondasi yang kokoh bagi Indonesia itu sendiri.
Saya sebenarnya sering mengangkat secara terselubung filosofi urang awak seperti ditulisan ini dan ini :
But its not enough. Saya juga punya resistensi, ketika kita hanya berhenti dengan eforia kehebatan urang awak dimasa lalu. Hanya sebatas membanggakan tokoh-tokoh politik Bung Hatta, Sutan Syahrir, M Roem, Sutan Syahrir, atau agamawan seperti Buya Hamka, Ustadz Natsir, dan budayawan seperti marah Rusli, Alisyahbana etc. Jika urang punya kualifikasi seperti ini, maka artinya secara genetic, urang awak punya potensi untuk itu. But, kl Cuma bereforia, saya sudah lelah. Saya tau saat ini tokoh minang yang hebat banyak. Kita punya orang-orang seperti Pak Fasli Jalal, Uda Indra J Piliang, atau puluhan business man. Tapi menurut saya belum cukup. Belum mampu membuat orang melirik, dan waspada dengan kekuatan urang minang.
Saya juga terinspirasi dengan lahirnya tokoh sastra seperti Andrea Hirata yang dengan strong menunjukkan kemelayuannya (saya membahasnya disini, disini dan disini)
Atau tulisan bang yusril tentang masa kecilnya di belitung sana.
Tapi point keingintahuan saya, lalu kapan masanya kebangkitan melayu (urang awak)? Akhir kata, dari dulu saya selalu memiliki ketakutan membahas sesuatu dengan urang kampung sendiri, dengan uda-uda. Entah lah. Saya masih belum mampu menghilangkan perasaan rendah diri. Saya bahkan lebih pede menjelaskan pentingnya IT bahkan didepan presiden sekalipun daripada diskusi dengan uda-uda atau niniak mamak. Tapi keingintahuan saya akan leluhur kali ini mengalahkan ketakutan saya.
Uda uda sadonyo, ado nan bisa manolong ambo untuak manjawab kegelisahan ko? Mohon pendapat dari uda-uda sadonyo Dan mohon maaf kok ado kato dan indak pado tampeknyo Ambo hanya anak ketek nan sadang mancari-cari. Mohon dimaklumi
(Kakanda semua, ada yang bisa menolong saya untuk menjawab kegelisahan ini? Mohon pendapat. Mohon maaf jika ada kesalahan yang tidak pada tempatnya. Saya hanya anak kecil yang tengah mencari. Mohon dimaklumi)
Wasallam
*tulisan ini saya sampaikan di milis alumni SMA 2 Bukittinggi.
Popularity: 4% [?]
Boleh cerita ya Do, sejak pertama kali kerja saya selalu dengan orang Minangkabau, paling lama dengan urang mu.
Ada yang menarik dari gaya kepemimpinan mereka yang menurut saya sebenarnya bisa dijadikan kelebihan atau kelemahannya…
Pertama, orang Minang itu ketika ingin mencapai tujuan tidak mau secara langsung, suka banyak jalan yang di tempuhnya. Ketika mereka menemukan rival yang sifatnya frontal atau langsung jadi kurang bijak ketika melawannya walau lobynya baik sekali.
Kedua, mereka sangat cinta kepada kampungnya, apabila salah dalam mengpresiasikannya akan dijadikan bumerang oleh lawannya, walau loyalitas mereka sangat tinggi.
Ketiga, terkadang mereka itu tidak mau ambil resiko yang tinggi, penuh pertimbangan, selalu memikirkan jalan aman, sehingga ketika dijadikan seorang pimpinan karakternya agak berkurang.
Keempat, loyalitas mereka kepada pimpinan cukup lah, akan tetapi terkesan tetap mereka ada bargaining kepada atasannya.
Banyak sih, tapi sementara ini ya Do, untuk hal iptek mereka jagonya, karena sifat-sifat ini, sehingga mereka menjadi orang yang penuh perhitungan.
Sory ya kalo salah…he he
Sebetulnya sudah mulai banyak urang awak yang sukses. Namun mungkin kita tidak tahu karena mereka kurang terekspos.
Di warga kampung saya, Silungkang, beberapa waktu yang lalu telah membentuk organisasi yang diberi nama FKSS (Forum Komunikasi Sarjana Silungkang - tapi keanggotaannya tidak dibatasi hanya kepada sarjana).
Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah mengundang para urang awak yang sukses untuk berbicara dan berbagi wawasan serta pengalaman mereka kepada warga kampung lainnya.
Saya pikir ide mereka sangat bagus sekali, walaupun mungkin hasilnya baru akan bisa dilihat beberapa waktu lagi.
Saya sendiri kaget ketika melihat betapa banyak sebetulnya urang awak yang cukup berprestasi. Satu contoh saja - Carlos (dedengkot expat indo di silicon valley) itu urang awak juga
Kalau mereka ini bisa lebih banyak diekspos, saya kira akan sangat membantu untuk menjadi inspirasi bagi yang lainnya.
Kegelisan urang Minang bukan seputar masalah budaya dan keseniaan saja, tapi terlebih dibidang politik dan pemerintahan. Coba lihat kini, dari 34 parpol peserta Pemilu 2009 tak satu pun ‘urang awak’ yang mampu dlm. memimpin parpol, kalau pun ada, kabarnya beliau ‘anak pisang’, ya apa bisa diterima oleh para ninik mamak, cerdik pandai dan tokoh masyarakat Minang???. Terlebih lagi, beliau pun tak pula nampak sering ‘pulang basamo’ ke kampung halaman, jadi ikatan batin belum terjalin
Mau apa kita???
Kegelisahan orang Minang juga adalah kegelisahan orang Indonesia secara keseluruhan, bahkan orang Jawa juga bertanya-tanya kok kenapa tidak lagi muncul tokoh politik unggul atau pemikiran-pemikiran pencerahan dari Minangkabau… padahal dulunya negeri ini adalah gudangnya para intelektuil dgn pemikiran yg beragam…
Sindiran Gus Dur bahwa Orng Minang tidak lagi sekreatif dulu mungkin bisa dijadikan pelecut semangat kita untuk perlu lebih unjuk gigi dan unjuk ide-ide orisinil dari orang Minang asli..
Emil Salim pernah menggagas industri otak di Minangkabau tapi nyatanya orang kita lebih jago bikin gulai banak atau gulai otak dari punya otak-otak jenius.. Orang Minang hanya jago bikin masakan lezat nan menggoyang lidah .. ini paradoks dgn gagasan ttg penciptaan orang-orang berotak cerdas..
Lalu bagaimana menempatkan orang Minang di era Informatika saat ini? bagaimana dgn program membangkit batang terendam? Apa yg harus dilakukan? apa cukup dgn menjadikan semua orang Minang pada kaya raya maka itu sudah berarti orang Minang berjaya kembali? Atau kalau seandainya banyak tokoh Politik asal Minang saat ini itu berarti Orang Minang kembali ke jati diri?
Mungkin salah satu sebab kesalahan yg dilakukan oleh orang Minang saat ini adalah bahwa pendidikan telah diserahkan ke sekolah tok plus pembelajaran berjemaah dgn kiblat adalah Televisi, sementara dimasa lalu pendidikan dibagi rata antara mamak, surau, sekolah rakyat sehingga yg muncul adalah pribadi-pribadi yg kuat adat istiadat, kuat agama, kuat spirituil, kuat fisik dgn penempaan silat dan tentu kuat ilmu pengetahuan oleh sekolah umum…
Maka bisa ditarik konklusi atau kesimpulan bahwa kita perlu kembali ke akar yaitu peran ninik mamak selaku pengajar adat istiadat, peran alim ulama dgn surau dan peran sekolah dgn guru plus kalau bisa peran militer dgn disiplin kemiliteran plus peran langgar atau sasaran silat perlu dibangkitkan lagi …. dan saya berkeyakinan pola ini akan memunculkan kembali pribadi-pribadi berisi dan berpengaruh kuat bagi keindonesiaan…
Joe
Kegelisahan Orang Minang sudah lama tetjadi sejaka masa kolonial dahulu yg mengiungkin kemerdekaan. Juga terus bergulir dalam masa kemerdekaan karena mereka menemukan banyak kenyataan yg tidak sesuai harapan perjuangan mereka dahulu. Kegelisahan ini mencapai titik kulminasi saat clash PRRI pada periode akhir thn 1950an. Sayang upaya koreksi yang dilakukan oleh orang Minang terhadap pusat diartikan lain oleh Pemerintah Pusat sebagai upaya Makar.
Mereka hanya mempertanyakan penerapan konsep sentralisasi yg menyebabkan ketidakadilan pemerataan pembangunan di daerah termasuk Sumatera Tengah waktu itu. Dan yg kedua adalah semakin kuatnya pengaruh PKI yg sudah lebih dahulu terbaca arahya oleh para cendikiawan Minang. Bung Hatta mengundurkan diri dari Jabatan WAPRES setelah merasa tidak klop dgn pola kepeminmipian ala Sukarno yg Sentralisasi ala Jawanisme. Sutan Syahrir malah dari awal sudah tidak cocok dgn pola Sukarno. Begitu juga dgn Moh. Natsir dan Assa’at yg lebih lantang bersikap dgn menentang egaliterisme Pemerintah Pusat. Dan Kol. Ahmad Hussein dan Dahlan Djambek dgn gagah berani memimpin gerakan militer di Sumatera menentang Kebijakan Pusat demi suatu tuntutan yg kalau kita kau jujur sebenarnya itulah kebenaran yg terlambat kita sadari hingga saat ini. Desentralisasi, Otonomi, dan Pemerataan Pembangunan.
Begitulah akhirnya mereka ditumpas oleh Pusat dengan dalih Pemberontakan. Dan dicatat sebagai tinta merah sejarah kelam Republik Indonesia.
Sebagai akibatnya bagi masyarakat Minangkabau adalah dimatikannya semangat dan kesempatan bagi masyarakat Minang untuk lebih banyak berkirprah di tingkat Nasional. Mereka dianggap sebagai suku pemberontak yg harus selalu dicurigai. Ini mengakibatkan lunturnya karakteristik kepemimpinan orang Minang di Indonesia yg telah mengakar sejak zaman pergerakan nasional.
Selain itu juga adanya hukuman dari Pusat berupa pemecahan Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi Baru : Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Minangkabau mendapatkan konsekwensi terberat dari pembagian ini berupa : Pelarangan nama Minangkabau sebagai Nama Provinsi melainkan diberi nama Prov. Sumatera Barat (Ex nama Keresidenan Zaman Belanda) bagi wilayah yg dimasukkan ke dalam Provinsi ini. Ini mungkin untuk melemahkan fanatisme rasa dan ego kesukuan Minang yang sangat tinggi sebagai pengusung budaya demokrasi di Indonesia.
Selanjutnya mendapat bagian wilayah teritory yg paling kecil dari ketiga Provinsi Baru ini karena harus melepaskan beberapa wilayah Bersuku, Berbudaya, dan Berbahasa Asli Varian Minangkabau untuk diberikan kepada Provinsi lain : Wilayah Kampar (Bangkinang & V Koto sekitarnya)dan Kuantan dimasukkan ke dalam Provinsi Riau, Wilayah Kerinci dimasukkan ke dalam Provinsi Jambi. Semuanya dilakukan secara sepihak tanpa meminta persetujuan penduduk setempat. Kalau mau ditambahkan juga daerah Muko-muko (sekarang di Bengkulu),sudah lebih dahulu dimasukkan ke dalam wilayah Prov. Sumatera Selatan pada awal pembagian Provinsi Sumatera mebjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Orang Minang tidak bisa berbuat apa-apa karena baru saja ditaklukkan sebagai bangsa pesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa terhadap berbagai ketidakadilan ini. Moh. Hatta, Moh. Yamin, juga Sutan Syahrir, dsb sangat menyayangkan hal ini, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Bila kita mau jujur Pemerintah Orde Lama telah membuang hampir 25 tahun tanpa pembangunan yg berarti. Yang ada hanya euforia Politik di tingkat elit Pusat hingga mengabaikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Sehingga akibatnya kita tertinggal oleh saudara serumpun kita Malaysia dan Singapura yg merdeka kemudian. Katakanlah akhirnya kita baru mulai start secara serius dgn merencanakan dan menata pembangunan bersamaan waktunya dgn Negeri-negeri Jiran tersebut. Tetapi apa kenyataannya, toh pada akhirnya kita sudah jauh melampaui mereka dalam ketertinggalan segalanya…. Kenapa karena kita orang Minang tidak diberi peran significant dlam perencanaan pemabungan tersebut selain sebagai penonton dan pelaksana lapangan saja.
Kalau kita mau jujur pada sejarah terbukti bahwa Orang Minangkabau sudah benar membaca arah ke depan bangsa ini jauh sebelumnya. Pandangan mereka yg berakar dari adat demokratis Minang jauh lebih tajam dari suku lainnya. Karena orang Minang sudah dikaui terpelajar sejak dahulu dengan usaha mereka sendiri maupun lewat Pendidikan Formal Belanda.
Sayang selanjutnya kita diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Tapi terbukti walaupun tidak diakui sesungguhnya kalau berani jujur, PRRI adalah benar adanya. Yang ini omong-omongan aja nih jangan dimasukkan hati…”Bila dulu mereka menang tentu Sumatera sudah jauh lebih maju daripada Malaysia dsb, karena bumi Sumatera sangat kaya dan dipimpin oleh orang-orang cerdik cendikia yang taat beragama.”
silakan kunjungi http://www.melayuonline.com
untuk Surya, khusus mengenai pembentukkan 3 provinsi dari provinsi Sumatera Tengah, itu tidak ada istilah wilayah-wilayah tersebut diberikan. saya contohkan, wilayah-wilayah seperti Kampar , Kuantan, dan Rokan masuk wilayah provinsi Riau justru keinginan dari masyarakat setempat yang lebih condong sosial budayanya ke melayu Riau ini adalah hasil jerih perjuangan berbuah kesepakatan seluruh komponen masyarakat Riau pada saat pembentukkan provinsi Riau dulu.Begitupula bagi Provinsi Jambi.
Ingat., sejarah kenapa provinsi Riau dan provinsi Jambi sampai membentuk provinsi sendiri tidak lain tidak bukan karena adanya ketimpangan dan ketidakadilan dalam pembangunan daerah di provinsi Sumatera Tengah.
Ingat, selama Provinsi Sumatera Tengah, Pembangunan terpusat HANYA wilayah-wilayah seperti di Bukittinggi, Padang dan beberapa wilayah yang tergabung dalam Sumatera Barat hari ini. coba cek saja sejarah, sekolah-sekolah dan universitas serta infrastrukturpun hanya cukup untuk membangun kampung-kampung minangkabau. Sementara wilayah-wilayah lain seperti Riau dan Jambi diabaikan sama sekali, tidak ada fasilitas pendidikan layak, ekonomi , serta infrastruktur dibagun di kedua daerah rumpun melayu tersebut.
Kami ada bukti dan sejarahnya.
Kalau memang orang minang itu suku yang paling maju dan cerdas dari suku-suku di Nusantara ini. Kenapa banyak orang minang yang miskin merantau masuk-masuk ke kampung-kampung orang?? banyak orang minang yang miskin di negeri sendiri dan menjadi fakir miskin, gelandangan dan pengemis di kota-kota perantauannya???
Kebiasaan yang sudah turun temurun, karena adat di turunkan secara bakaba di surau-surau, maka tidak banyak orang yang menulis adat ini seperti orang jawa punya “ramalan jayabaya” dan orang sunda punya “ramalan prabu siliwangi”.
Tetapi sudah ada yang mulai menulis buku yang menggali adat Minangkabau (khususnya adat Kurai Limo Jorong) yi; Mamak kita rang Kurai DT Muncak Alam, tinggal di Birugo No Telp rumah beliau 075234800.
Dan ada buku karangan H Musyair Zainuddin. MS berjudul Implementasi Pemerintahan Nagari Berdasarkan Hak Asal Usul Adat Minangkabau dan Pelestarian eksistensi dinamis adat Minangkabau.
Penulis Zainuddin tinggal di Lapai Padang Telp beliau 08126623791.
Baca juga buku karangan DR. Hamka berjudul Minangkabau Menghadapi Revolusi dan buku Islam dan Adat Minangkabau.
Sayangnya saya tidak tahu e-mail address kedua penulis diatas.
Semoga dapat membantu mengobati kegelisahan sanak dirantau.
Terpecahnya Sumatera Tengah jadi Riau dan Jambi, adalah kebijakan pemerintahan pusat setelah terjadinya PRRI tempo hari. Setelah masuknya TNI ke Padang dan Bukittinggi, maka komado militer(Sumatera Tengah) Divisi Banteng, dengan beberapa batalion salah satunya batalyon Kuranji pimpinan M Husen dibubarkan, dibentuk tiga bataljon sesuai dengan pembentukan propinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi.
Kalau dilihat sebagian dari wilayah Riau, Kab. Kuok, dan di jambi Kab Bangko, adatnya sama dangan kita Minangkabau. Pakan Baru (pasar yang baru) nama aslinya adalah kota yang di bangun oleh pedagang Minang yang berdagang dengan masyarakat Siak, dibangunlah kota ini di tepi sungai Siak (Boom sekarang), yang dikembang menjadi kota yang besar (rancangan Dt Rangkajo Ameh rang Mandiangin yang ditunjuk sebagai Pemimpin pertama Prop. Riau) menjadi ibu kota Prop. Riau.
Jadi tidaklah di takutkan majunya daerah Riau, bukanlah kebangkitan Melayu.
Inilah sedikit yang saya ketahui mengenai ketiga Propinsi bekas wilayah Sumatera Tengah, sebagai konsekwensi dari perang saudara PRRI.
Wassalam.
ada kesalahan besar pada masyarkat minang saat inidi sumatera barat, yaitu lebih mengutamakan keminangan daripada kemelayuan(islam) shgg peran kesukuan lebih dominan drpd agama.yg meneyebbkan pola pewilayahan melayu secara luas menjadi hilang, hamba sendiri memang bersuku minang tp tak menyebut org minang karena saya org melayu.keturunan kami kalau dulunyo ke sumatera barat tangan kami di cium para keluarga disana, keluarga limo puluh juga yg menyebar ke rembau negeri sembilan..mohon maaf melayu di pecah..belanda karena ego keminagn muncul setelah belanda, klu dulu surat kabar di sumbar menyebut minang pun org melayu..ini juga masih terjadi pertentangan para ninik mamak di sumbar,krn jika minang asli hanya di tiga luhak, sementara utk indrapuro, darmasraya, pasaman, pariaman bukanlah minang, utk org pasaman perantauan malaysia mereka cenderung menyebut melayu..krn lebih luas, maknanya…mohon maaf utuk saudaraku jika salah tulis.krn saya sendiri berasal dari bangsawan pagaruyung asli….gunakan peneybutan melayu jika kita ingin besar…