(pengen) pindah kantor

Edo on January 26th, 2008

Sebenarnya keinginan ini sudah terbersit akhir tahun lalu. Yah, entah kenapa, kantor sekarang terasa tidak kondusif, dan juga membebani cash flow. Ada sejarah unik memang dengan kantor ini waktu kita masuk januari 2007. Konyol, tapi toh saya tidak menyesalinya. Sometimes, dibutuhkan nyali untuk mengalami agar kita mampu membuat keputusan-keputusan yang lebih bijak.
Usaha yang kujalani dengan teman-teman sebenarnya (dan sebenar-benarnya) kelas pemula. Ngga punya apa-apa, bahkan 1 unit laptop pun tak kita miliki. bersama 3 sahabatku, kami memulai usaha ini dari rumah kontrakan yang kita bayar bersama. Lucu rasanya kalau diingat-ingat. Termasuk bagaimana kita ngeles kalau client mengajak meeting. Kita selalu mengajaknya di luar kantor.

Diakhir tahun, kami diajak bekerjasama oleh sebuah perusahaan yang dipimpin oleh seorang yang baik hati dan telah mengajari kami pula banyak hal. Karena sering berkunjung ke kantornya, kami sempat berfikir menyewa kantor kecil di depan kantornya, berukuran 30 mtr2, kantor kecil, agar memudahkan komunikasi kami. Diakhir tahun, karena kesibukan yang luar biasa, kami sempat lama tidak kontak dengan beliau.

Lalu, persis tanggal 2 Januari 2007, kami mengontak beliau. Ingin menindaklanjuti pembicaraan.

“Mas, dek ndi? Ayo ketemuan. Sampeyan dek ndi?” (mas, dimana, ayo ketemuan. Mas ada dimana?)

“Lha ayo, dek kantor ae. Aku dek kantor iki” (Ayo, dikantor aja. Aku dikantor kok)

” Loh, sek tas tak telpun. Ra ono sing angkat” (Loh, barusan aku telpon. Ngga ada yang angkat)

“hehehe.. iyo, aku dek kantor anyar. Dek xxxxx. Mreneo ae” (hehehe, iya. Aku di kantor baru di jalan (ngga perlu ditulis kan? heheh). Kesini aja)

Kita, saya dan susie langsung berangkat kesana. Bertanya-tanya dalam hati. Lha gimana ini? Ngga jadi ngantor bareng dong? Kok pindah sih?

Sampai dikantor beliau, dia bercerita kalau owner perusahaannya membeli kantor yang dia tempati sekarang. Dan kantor lama akan dikosongkan. Tiba-tiba dia menawari kami, untuk meneruskan kantor itu. At least, kami tidak perlu lagi investasi untuk furnishing kantor karena sudah siap pakai. Dulu, pada saat mereka dikantor itu, biaya furnishing kantor menghabiskan dana sekitar 200-an juta.
Kami mikir-mikir. Bukannya apa-apa. Masih ngimpi rasanya untuk kami bisa sewa kantor. Kantor itu terlalu luas untuk keperluan kami. 120 m2. Padahal untuk punya kantor berukuran 30 m2, itu saja sudah perlu nyali. Belum waktunya lah.

Susie, rekan saya bertanya “Kapan keputusannya mas?”

“Sesok. Lek gelem tak omongi neng pengelolane” (Besok. Kalau mau nanti aku sampaikan ke pengelola gedungnya”

Keluar dari kantor itu susie bertanya padaku. Enaknya gimana. Saya cuma menjawab “Sek. tak pikir disek” (Ntar. Tak pikir dulu).

Besoknya, kami mendatangi beliau lagi. Dan saya meng-ia-kan, untuk meneruskan menggunakan kantornya yang lama. Susie, hanya bengong disebelah saya, tapi tidak berkomentar. Baru, setelah keluar dari sana, dia bertanya “Lu serius do?”.

Ya. Waktu itu saya berfikir mengajak beberapa teman yang berstatus sama dengan saya, para pemula usaha untuk berkantor bersama. Dan juga, 3 bulan setelah itu saya tengah mengeset sebuah usaha baru dibidang konstruksi tower. Lagian keuntungan tahun lalu cukup memadai. Sebuah keputusan gila memang. Tapi, seperti saya bilang diawal, kadang butuh sedikit kegilaan hidup di kota seperti Jakarta ini. So, dengan berkantor bersama saya fikir bisa share untuk membiayai kantor. Selain itu, saya memang orang yang senang akan tantangan. Saya sadar ini keputusan agak ngawur. Tapi saya lebih senang menjadikannya sebagai pemicu untuk bekerja lebih giat, agar operational cost ini tertutupi. We have worked harder. Lagian, saya membuat deal-deal tertentu yang cukup menguntungkan. Kami mendapatkan internet gratis plus bantuan biaya dari mitra kami tersebut. Akhirnya, pertengahan Januari, pindahlah kami kesana.
Waktu pindah ke kantor yang saya tempati sekarang kami hanya ber-enam. Selain kami berempat, kami waktu itu sudah meng-hire 2 orang : 1 orang sebagai general affair dan 1 orang khusus untuk finance. Alasannya sederhana. Kami berempat semuanya berlatar belakang teknis. Andai ada yang melenceng, hanya saya, karena dari dulu selalu berperan sebagai “tukang cangkem” alias marketer, business development dan sejenisnya. Saya sangat menyadari, bahwa back office tidak bisa dianggap remeh. Apalagi masalah keuangan. Saya sendiri telah mencoba berbagai peran sejak pertama kali berbisnis. Mulai dari tukang bikin surat, membuat laporan keuangan, manjat genteng untuk memasang kabel, bikin program, tukang antar surat, sampai jadi office boy. Semua saya jalani. Dasarnya sederhana : Jika ingin jadi pengusaha, harus tahu semua hal, meskipun tidak mendalaminya. Dan satu alasan lagi. Dengan merasakan semua, saya akan lebih biasa menghargai orang-orang yang bekerja dengan saya. Kadang, mentang-mentang bos, kita suka seenaknya dengan bawahan. Menjalani sendiri apa yang mereka jalani membuat pemahaman saya atas peran menjadi terasa. John Maxwell dalam buku 8 hukum Team Work menyatakan : “Kekuatan sebuah team tidak berada pada rantai yang paling kuat, tapi pada rantai yang paling lemah”. saya menyadari, tidak boleh ada bagian yang lemah dalam sebuah team. Semua harus sama-sama kuat. Karena yang paling lemahlah yang menentukan kekuatan sebuah usaha. Makanya saya senang sekali bisa belajar keuangan dari Bu Enny.
Alhasil, kantor seluas 120 m2 itu menjadi sangat luas bagi kami ber 6.

Dalam prakteknya, terbukti keputusan saya kurang tepat. Bersama teman-teman saya bisa menjaga stabilitas usaha. Tapi, 2 rekan usaha yang saya ajak berkantor bersama tentu diluar kendali saya. Mereka tidak mampu bertahan, dan hanya mampu membayar sewa kantor selama 3 bulan. Itupun tidak lunas. Dengan berat hati, meskipun salah satu usaha tersebut adalah milik kakak kandung saya sendiri, saya harus menjaga azas profesionalisme. Dalam konteks ini, ini bukan hubungan kakak adik, tapi hubungan usaha. Saya tidak boleh mengabaikan rekan-rekan lain hanya karena mentoleransi kakak sendiri. Toh, dengan penjelasan yang saya sampaikan, beliau memahami keputusan saya. Mereka harus meninggalkan kantor ini karena tidak mampu menjalankan tanggungjawab.
Sempat ditengah-tengah ada yang mengisi. Tapi lagi-lagi, tidak bertahan lama. Ujung-ujungnya, sewa kantor ini kami tanggung sendiri.
Bagitu pula usaha baru yang saya rintis 3 bulan berikutnya mengalami kemunduran waktu. Ketika akhirnya usaha itu jalan setelah 5 bulan, kantornya pun tidak bersama kami. Alasan nyabisnis tersebut adalah bisnis infrastruktur yang bermain material dan tenaga kasar, sehingga kantor ini kurang tepat untuk digunakan. Jadilah usaha tersebut berkantor di pinggiran Jakarta.
So, begitulah kami. Meskipun akhirnya kami bekerja bersama 10 orang lainnya (kami merekrut 8 orang lagi selama tahun 2007), kantor ini tetap terasa luas. Belum lagi kantor ini begitu sepi, dengan pelayanan yang kurang prima. Terakhir, pengelola gedung mengeluarkan keputusan yang sangat tidak bijak. Tidak perlu saya ceritakan disini. Namun, peristiwa itu membuat keputusan untuk pindah semakin kuat.
So, 2 minggu terakhir kami intensif mencari kantor baru. Pengennya sih tetap di gedung. Mengingat teman-teman di kantor isinya anak-anak muda (hiks, saya harus mengakui, saya lah yang paling tua disini), pengaruh lingkungan masih saya butuhkan. Saya ingin agar aura bekerja itu benar-benar terasa baik oleh pengaruh internal maupun eksternal. Adanya sedikit banyak hubungan kekerabatan, tentu akan mempengaruhi ketegasan. So, dukungan eksternal diperlukan disini. Tapi, jika ada rumah yang cukup representatif untuk berusaha, juga tidak masalah.

Saya ingin mengurangi space. 70-100m2 saya fikir cukup. Untuk area, saya sih pengennya masih di sekitar Mampang (yang dekat arah kuningan), pinggiran gatot subroto (ke arah MT Haryono), MT haryono, Saharjo, Pasar Minggu (yang mengarah ke pancoran), Pancoran, atau pinggiran Kuningan (yang kearah mampang). Alasannya sederhana. Kalau di area utama (kuningan, gatot subroto, sudirman, thamrin), sepertinya kami tidak mampu bayar sewa kantornya heheheh. Kedua, client kami banyak di area pusat bisnis Jakarta (dari daerah kuningan sampai Merdeka). Alasan lainnya, karena teman-teman yang bekerja di kantor rata-rata tinggal di daerah selatan Jakarta. Kalau saya pindah kejauhan, saya harus memikirkan biaya transportasi mereka. Ngga fair kalau gaji tetap sementara pengeluaran transport mereka bertambah. But, kalau ada daerah lain yang cukup visible, ngga apa apa juga sih..
Parameter lain : waktu dan service cash. Mayoritas kantor menerapkan model jam kantor, sisanya harus bayar harga jam-jaman. Sementara, pola kerja di tempat kami relatif longgar. Kadang kami masih di kantor sampai jam 8-9 malam. Dikenakan jam-jaman? Wah, bisa tekor dong..

Oh ya. Yang paling penting : Tidak Mahal! hehehhehe..

So, ada yang bisa memberikan masukan? Siapa tau ada yang punya informasi kantor, atau siapa tau ada yang berbaik hati memberikan harga bagus hehehe..

First of all, thank untuk semua masukan!

Popularity: 3% [?]

8 Responses to “(pengen) pindah kantor”

  1. hiks.. blm pernah kesono udah mo pindah.. hiks.
    trus aku piye ?
    he3x.
    -pertama mode on-

  2. #antoub : mangkane, ndang lulus. tak nteni kekekke.

  3. eh iya mas.. kalo di patra jasa kuningan - jl gatot subroto gimana?

    temenku nyewa disitu 40juta setahun. dah agak lama sih..

    HTH

  4. (hiks, saya harus mengakui, saya lah yang paling tua disini)

    seharusnya yang bener begini do :
    (hiks, saya harus mengakui, saya lah yang paling tua disini dan masih belum BERANI menikah)

    *kabur*

  5. #indra : *menghunus pedang..

  6. Kemarin ini ngobrol2 dengan beberapa kawan2 di Isnet, lalu ada yang memberitahu kalau sewa space di BPPT itu sangat murah.

    Saya malah baru tahu kalau BPPT menyewakan space untuk kantor :D

    Anyway, moga2 bermanfaat (tapi daerahnya memang di luar kriteria uda Edo sih)

  7. #sufehmi : wah.. baru tau BPPT disewakan. padahal kakak kandung saya ada disana hehehhe.. thank for info mas

  8. kalau mau pindah kantor lagi jangan lupain planning awalnya . biar nggak salah kaprah, anggaran dana ( cash flow) harus benar2 bisa diatur. untuk sewa tempat murah di daerah yang jauh dari pusat kota dan deket dari rumah para rekan usaha saja, biar efektif dan efisien. oke

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>