Menghargai Resources dan Menilau Value
Hari ini, seperti biasa keliling-keliling ke blog favorit, diantaranya blog maswig dan blog mas novie iman, menghadirkan 2 tulisan berbeda namun saya melihat sudut pandang yang sama. Sesuatu yang juga sering saya tulis. Kenapa ya kita sering hanya judge from the cover?
Yah. Kita tidak perlu munafik bahwa penghargaan pada seseorang, baik dalam kehidupan masyarakat maupun dalam berbagai aspek kehidupan, lebih terpengaruh pada apa yang kita lihat. Kita menganggap seseorang berhasil jika dia kaya, orang itu pinter kalau dia sudah doktor lengkap dengan deretan gelar yang ada dibelakangnya, kualitas pejabat dari level jabatan yang diraih, dan seseorang dianggap beriman jika ada gelar haji di depan namanya, memakai jubah, sorban, dengan jidat yang hitam tanda sering sujud. Sudahlah begitu, parameter orang pinterpun berada dibawah orang kaya dan berpengaruh (menjabat). Begitu pula dengan kasus kredit perbankan yang pernah saya tulis. (btw, saya dapat guru baru dibidang ini, yaitu mas yusuf arif. Bu Enny jangan jealouse yah hehehhe. Ibu tetap guru saya kok dibidang ini…)
Sebagai orang yang bergerak dibisnis content dan software development, men-value-kan ini sering menjadi masalah buat saya. Mulai dari menentukan harga, pengajuan kredit, sampai meyakinkan kemampuan SDM saya yang mungkin mayoritas cuma S1 (bahkan beberapa tidak lulus kuliah heheh) namun memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan lulusan master dan doktor sekalipun. Makanya kalau tender pemerintah saya suka susah ikut heheheh..
Tidak bisa disalahkan memang. Saya bisa memahami kenapa kita masih mengacu pada hal-hal tersebut diatas. Mungkin karena terlihat. Terukur. Walaupun menurut saya, value seperti SDM, kejujuran, ketaatan membayar kredit, komitmen, bukannya tidak bisa diukur. Kita saja yang mungkin ilmunya belum sampai. Kakak saya tercinta, Bang Aad, bahkan sering melakukannya. Dia cerita sampai saat ini masih di kontrak BI untuk menilai tingkat kejujuran pengembalian kredit bagi UKM. Ini cuma masalah seberapa besar kita ingin belajar dan memahami perkembangan yang ada.
Tapi sampai kapan? Ada yang bisa bantu jawab?
Popularity: 3% [?]
model penilaian yang cenderung dari sisi hal-hal yang kasat mata kayaknya sudah membudaya di negeri ini, pak edo. perubahan sistem sih gampang dilakukan, tapi perubakan kultural agaknya masih butuh waktu beberapa generasi lagi. yang dinilai bukan apa yang dikatakan, melainkan siapa yang mengatakan. walah, repot jugak!
Menurut kami semuanya itu untuk masalah hati atau apa yang ada di hati itu sulit untuk diukur, makanya ada definisi orang munafik. Tapi untuk SDM ya dapat diukur lah, seperti SDM itu bukan hanya diukur dalam kualifikasinya akan tetapi dapat diukur melalui kompetensinya dengan melalui sertifikasi.
Untuk yang ada dalam hati saya punya strategi yang cukup jitu, karena kita tidak dapat melihat secara langsung kita dapat melihat hasilnya saja, paling tidak kita melakukannya dengan membuatkoridor-koridornya, itu saja bos.
Sampai kapanpun kita tidak bisa mengetahui isi hati seseorang dengan tepat, yang ada kita selalu bisa membaca apa yang dilakukannya, kalau dalam sebuah organisasi dengan instrumen atau koridor-koridor.
Hal yang menarik lagi kita harus mampu menggunakan ilmu forecasting yach?
#sawali : duh, maap pak baru comment. btw, setuju banget sama pak sawali. pak sawali punya formulasi untuk menggesernya?
#cossalabu : lha, dalam konteks perbankan, emang sertifikasi punya value? heheh.. jawabannya tetap tidak bos heheh.
btw, gmana tuh menggunakan inlu forcasting dalam konteks ini? bisa di share?
Perbankan yang mananya nich…untuk SDM nya ya perlulah sertifikasi sesuai dengan bidangnya, tapi untuk kepercayaannya kepada sebuah Bank ya diperlukan koridor atau kriterianya, dan itu bisa dilihat dari tingkat kepercayaan penggunaan bank tersebut. Jadi sertifikasinya berdasarkan penilaian oleh pengguna bank tersebut, penilaian lembaga oleh masyarakat, sesuai dengan institusi bank sebagai lembaga yang ada berdasarkan kepercayaan masyarakat.
Untuk ilmu forecasting malah aku mau tanya sama edo lach….:)
Tapi yang pasti adalah kemampuan forecasting itu bisa dilatih dengan adanya keseimbangan yin dan yang..ha ha…
Yang sangat membantu juga adalah pengalaman…
Dan yang spesial adalah bakat..