Open mind

Edo on February 15th, 2008

Hari ini saya membaca salah satu posting di milis alumni SMA saya. Bukittinggi, sebuah daerah di Sumatera Barat yang terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (adat persendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah), kampung halaman yang saya cintai kebakaran jenggot karena sepasang siswa dan muda mudinya dari sebuah sekolah favorit diketemukan berfoto bugil.

Dan ramailah forum mendiskusikan hal ini. Kaget, takjub, marah, malu, kecewa. Banyak topik diangkat. Tentang undang-undang pornografi. Dukungan tentang penolakan budaya luar seperti perayaan valentine. Tentang internet yang membuat masyarakat yang sangat kental beragama ini membuat akhlak tercemar, karena internet membuat akses terhadap hal-hal berdosa itu menjadi terbuka. Saya? no comment. Tidak berani berkomentar. Karena komentar saya pasti berbeda.

Issue seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di kampung saya, tapi dimana-mana. Sejak tahun 2004 ketika saya aktif di sekolah2000 mensosialisasikan pentingnya internet untuk pendidikan, tema inipun sudah ramai. Media juga banyak yang membahas impact globalisasi yang membuka pintu perubahan itu. Dan kecenderungan kita adalah dengan semakin menutup diri. Bereforia dengan masa keemasan di masa lalu. Mengangkat simbol-simbol agama yang dulu kuat dan sekarang luntur. Melarang berbagai hal agar hal-hal tersebut tidak lagi meracuni moral dan mental bangsa. Menyalahkan media, internet, budaya asing,. Namun lucunya, disaat yang bersamaan kita menikmati dan memfasilitasi.

Secara skeptis, saya punya 5 kata untuk menjelaskan ini : naif, tidak realistis, inkonsisten dan, cenderung munafik.

Terlalu berlebihan? Mungkin iya. Namanya juga bahasa skeptis. Sebagai orang “mengutip istilah nenden : orang anomali”, saya sudah terbiasa dianggap aneh dan negatif.

Kenapa saya berpendapat seperti itu?

Pertama, setiap generasi memiliki masa dan kondisinya sendiri-sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Brown&brown Oblinger&Oblinger tahun 2005 dalam bukunya : Educating the Net Generation menunjukkan pola pergeseran setiap generasi, lengkap dengan ciri dan karakternya masing-masing. Inilah yang sering menjadi permasalahan dan mendasari konflik antar generasi. Karena generasi “incumbent” cenderung menganggap masanyalah yang paling baik, masa sekarang telah mengalami pergeseran nilai-nilai, dan hal-hal buruk lainnya. Si generasi sekarang juga berpenilaian yang sama, dengan cara yang berbeda. Sebagai yang telah lahir lebih dahulu, generasi incumbent cenderung untuk menerapkan nilai-nilai yang dia anut, memaksakannya, tidak mau mengikuti kondisi dan era yang tengah berkembang, menutup mata dan telinga dari generasi sekarang. Sementara generasi sekarang cenderung memberontak, tidak mencoba untuk memberikan penjelasan, bukti-bukti, dan sebagainya. Ketidakmauan untuk saling memahami ini lalu menimbulkan konflik.

Kedua, sebenarnya banyak kesalahkaprahan dalam menyikapi perkembangan. Sebagai contoh, kampung saya termasuk daerah yang sangat ketat dalam hal agama. Wanitanya nyaris mayoritas berjilbab. Namun, kadang menurut saya, budaya disana bukanlah budaya berjilbab, tapi budaya “menutup rambut”. Ketika saya di Jawa, yang bertelanjang dijalanan jauh lebih parah. Baik waktu di Bandung, Malang ataupun di Jakarta. Namun, yang berjilbab dalam konteks benar-benar menutup aurat juga tidak kalah banyak. Uniknya, si kampung saya tetap banyak melihat orang menutup rambut dengan kerudung, tapi tetep memakai baos ketat, udel yang kelihatan, celana jeans yang pas badan, dan sebagainya. Fenomena yang unik menurut saya. Inilah yang saya bahasakan sebagai tidak konsisten, tidak realistis dan cenderung munafik. Nilai-nilai hanya berada dipermukaan, kurang menyentuh esensi. Dan ketika ada momentum yang terkuak, semua orang tersentak. Padahal itu hanya segelintir ledakan yang cuma menunggu waktu.

Lalu ketika teknologi bernama internet datang, jadilah si teknologi sebagai tumbal. Tumbal atas ketidakmauan kita untuk mengakui kesalahan tidak mau berkomunikasi dan memahami. Tumbal atas ketidakmampuan kita untuk memposisikan si teknologi untuk tujuan yang baik. Tumbal atas ketidak-concern-an kita atas perkembangan yang ada. Padahal apapun di dunia ini memiliki 2 sisi. Pisau bisa buat membunuh orang, tapi ditangan koki bisa jadi alat untuk membuat masakan yang nikmat. Kemalasan kita untuk mengenal sang “makhluk aneh” bernama teknologi membuat kita hanya bsia menyalahkan. Uniknya lagi, binatang bernama internet itu ditolak, namun teknologi bernama handphone dipuja. Lha, memang bedanya apa?. Sementara disatu sisi, konvergensi 2 area ini hanya menunggu waktu untuk menjadi kenyataan.
Padahal, memang televisi tidak memberikan impact negatif? Berapa banyak tontonan yang tidak mendidik? Berapa banyak waktu yang kita sisakan untuk menonton sinetron-sinetron yang toh juga mengumbar aurat, dengan cerita-cerita cinderella yang tidak realistis tapi menjadi impian setiap orang? Lalu bagaimana dengan tabloid-tabloid “semi” dan “abu-abu” yang bertebaran dimana? Tidak kah punya peran? Dan pertanyaan yang lebih penting : apakah hanya menyesal, menyalahkan, menutup akses, dan menghujat yang bisa kita lakukan?

Lucunya buat saya, sebagai seorang muslim berlabel agama Islam, Islam sendiri dinyatakan sebagai agama yang “berlaku sepanjang jaman”. Memahami nilai-nilai nya memiliki jaminan keberlangsungan jangka panjang, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Lalu kenapa justru agama disatu sisi justru menjadi penghambat, jargon, dan kita sebagai ummatnya tidak mampu membuktikan “kesepanjangan jaman-nya”.

Ketiga, kita disatu sisi menerima globalisasi. Banyak kita membangga-banggakan apa yang terjadi di luar sana. Liburan keluarga lebih keren kalau keluar negeri. Anggota DPR wajib berkunjung dan belajar dari negeri lain, dengan porsi yang tidak seimbang dengan waktu yang dikeluarkan untuk memahami jati diri bangsa itu sendiri. Nongkrong di tempat-tempat franchise luar negeri; sebut saja Mc Donald, Starbuck, Kentucky etc; menjadi gaya hidup. Dompet Braun Buffel, jas Armani, kemeja Executive99, sepatu Bally, menjadi parameter sukses. Atas nama pembangunan aset bangsa di jual. Tapi ketika lini-lini eksekutif dikuasai, dan kita hanya jadi kuli, kita hanya bisa protes. Ketika sakit, pilihan berobat lari ke Singapura. Dan masih banyak contoh lain.

Ke Empat, kita terkadang lupa bahwa sebuah kultur yang berlaku mempengaruhi penyikapan generasi berikutnya. Sebagai seorang putra daerah Bukittinggi, Sumatera Barat, saya sangat merasakan betapa sulit bagi generasi muda seperti saya berpendapat dan didengarkan jika saya bicara di kampung halaman sana. Budaya feodal terkadang masiah tertaman terlalu dalam. Seperti iklan A-Mild, yang muda dipandang sebelah mata. Jika di negeri orang, saya bahkan bisa berdiskusi secara baik dengan seorang rektor, dirjen, bahkan mentri sekalipun, dan mereka berkenan mendengarkan pendapat-perndapat saya, maka ketika saya kembali pulang dan berdiskusi, maka saya kembali menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Faham feodal ini menyebabkan pintu diskusi menjadi tertutup. Sementara rasa ingin tahu yang mendalam di generasi berikutnya, maka generasi muda ini akan mencari penyaluran lainnya.

Yang baik dari luar sana harus kita adopsi. Kekayaan internal harus dieksplorasi. Tentang belajar yang baik-baik kita memang harus dari dan ke mana saja. Namun ternyata kita hanya bisa marah ketika yang terimport adalah yang buruk-buruknya, dan yang tereksport adalah yang baik-baiknya.

Entah apa masalahnya, dan sulitnya kita melihat dalam perspektif yang positif. Yang tua atas pengalaman hidupnya berbagi kematangan dan pengalaman, yang muda berbagi kreatifitas, kekinian, ide-ide segar, dan masing-masing berlegowo atas posisi masing-masing. Yang tua mau menerima masukan yang muda, yang muda tetap menghormati yang tua. Perubahan-perubahan yang terjadi disikapi dengan baik. Tidak untuk ditolak, tapi diterima dalam koridor-koridor local culture yang hakiki, dipelajari, agar kita mampu memahami perubahan itu sendiri. Agama menjadi katalisator dan pondasi perkembangan diri, difahami secara mendasar dan filosofis, bukan menjadi tumbal dan penghambat pertumbuhan, dan difahami tidak sebatas dalam koridor “aktifitas” ritual, tapi kehakikatannya yang diperdalam.

So, saya fikir semua pihak perlu membuka mata, mata kepala, mata hati, mata pikiran. Kemunafikan, ketidakjujuran atas diri sendiri, kekerdilan hati untuk menerima kelemahan kita dan kelebihan orang lain, hidup dalam kesombongan dan kejayaan masa lalu, hanya akan membawa kita pada kehancuran.

*tulisan ini mengalami update : penambahan informasi dan perbaikan kesalahan penulisan nama (sudah diperbaiki)

Popularity: 5% [?]

5 Responses to “Open mind”

  1. yup, sepakat dengan pendapat pak edo. seiring dengan merebaknya proses “anomali moral” yang menghinggapi kaum remaja-pelajar kita saat ini, kita perlu membuka mata dan pikiran bahwa zaman sudah jauh bergeser. dalam konteks ini, internet tidak bisa dijadikan sebagai kambing hitam dan biang penyebab runtuhnya moral itu. makanya, butuh filter. orang tua, tokoh masyarakat, juga dinsan pendidik perlu mengubah paradigma dan maindsetnya bahwa peradaban global akan selalu saja menawarkan nilai2 baru yang acapkali berbenturan dengan nilai2 budaya lama secara diamteral. harus ada sinergi. filter moral harus diperkuat. kaum agamawan tak cukup hanya berkhotbah, tetapi juga diimbangi dengan uswah, keteladanan. semoga kasus di padang dan juga di tempar2 yang lain itu mampu menjadi intry-point membangun sebuah peradaban yang relgius, berbudaya, dan bermartabat, tanpa alergi terhadap sebuah perubahan.

  2. modernisasi memang tidak harus disikapi dengan apriori..

  3. wah.. wah..
    keknya blum pernah liat idiom baru :
    JanganBugilDepanKamera para pelakunya. He3x.

    ps :
    trus klo di depan kamera bole enggak ya ?
    trus klo ndak dipublish di internet bole enggak ya ?
    trus… ?

  4. Menyalahkan memang jauh lebih mudah daripada memperbaiki. Perubahan jaman dan perkembangan teknologi seringkali jadi alibi atas ketidakmampuan para org tua mendidik anak. :P

  5. #sawali : yah.. thats the problem pak sawali. masalahnya, bagaimana para tokoh, orang tua, ulama dan sebagainya bisa memberikan arahan jika ternyata mereka juga alergi dengan sesuatu yang namanya perubahan?. Bagaimana bisa didampingi jika yang mendampingi juga tidak mau mengupgrade pengetahuan dan mengetahui apa yang tengah berlangsung di generasi saat ini?

    #iman : sepakat, mas iman :)

    #febri : hehehe.. itulah dia. budaya jargon :p

    #bee : internet jadi “kondom”? :p semakin banyak saja “kondom” atas ketidakmampuan kita…

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>