XL : tontonan konyol nan mengharukan

Edo on February 16th, 2008

Udah lama banget ngga nonton, akhirnya sabtu kemaren bisa nonton juga. Dari rumah udah niat pengen lucu-lucuan aja, nyari film yang ringan-ringan. Beberapa temen-temen recommend nonton Extra Large, yang dibintangi oleh Jammie Aditya. Dan pas meeting di Cibubur kamis kemaren, seorang teman baru bilang kalo selain ancur abis, film ini mengharukan, sampai seorang temannya (laki-laki) menangis di bioskop. Nah lo. Kok bisa? Penasaran atas cerita itu, ditambah emang lagi pengen lucu-lucuan aja, akhirnya aku nonton juga kemaren. Telat sih, tapi bodo amat. Cuma pengen cerita aja.
Ceritanya? Tentang sebuah pameo yang jadul banget : Size is matter! heiuheiuheihie.. Berawal dari persahabatan 3 orang teman mulai SMA : satu maniak sex, satunya anak orang kaya, dan Deny (Jammie Aditya), anak PNS yang ibunya udah stroke 2 kali. Then, karena satu dan lain hal, Deni dipaksa menikahi anak dari bos bapaknya yang hamil. Dan si anak bos, yang diperankan oleh Dewi Sandra tidak peduli siapapun yang dia nikahi, yang penting orang itu harus mau memenuhi 1 permintaannya : Memenuhi kebutuhan sexnya kapan dan dimanapun. She want somethin big, and hot. Mulailah kekonyolan berjalan, karena ternyata Deny have a problem with size hehehe.. Disinilah perburuan untuk “memperbaiki size itu berjalan, membawa nama yang sangat legendaris di bidang ini : Mak Erot!. Permasalahan Deni jadi bahan taruhan 2 sahabatnya, yang berjanji untuk merubah Deni menjadi mesin sex dalam waktu 1 bulan. Selain membantu terapi ukuran, sahabat-sahabat Deni, Stevan dan Juno juga sekaligus menyediakan media latihannya : seorang wanita panggilan bernama Intan. 1 bulan penuh euy!
Film ini memang sangat menghibur, ancur-ancurnya beda tipis dengan film Quicky Express. Yah, lebih ancur Quicky Express sih. Tapi film ini buat saya lebih punya banyak pesan yang disampaikan dengan cukup baik, tidak terlalu dipaksakan. Andaikan ada yang saya agak “terganggu” adalah sang wanita panggilan dari tempat pelacuran “papan bawah” yang terlalu berkelas hehehhe. Abis cakep sih :p

Selain pesan tentang streotip “ukuran” yang menjadi masalah, ada banyak pesan dan kisah lainya yang menarik. Tentang Stefan, sahabat Deni yang maniak sex meski telah memiliki istri yang cantik, dan pada akhirnya ternyata ada level kebahagiaan yang lebih tinggi daripada sekedar sex. Ada kisah stereotip wanita panggilan yang bisa diperlakukan seenaknya, padahal yang memperlakukan sama-sama menjual diri meski dalam konteks yang berbeda. Ada kisah tokoh politik yang mau melakukan apa saja demi pencapaian tujuannya, yang menikahkan anaknya lebih sekedar mengamankan tujuan politiknya, dan banyak lagi.

Menariknya? Menurut saya pesan-pesan itu disampaikan dengan baik, tidak dipaksakan, dan mungkin bahkan detail-detail tersebut cukup halus sehingga bisa tidak terperhatikan oleh kita. Deni, yang menganggap si wanita panggilan bisa diperlakukan seenaknya, padahal dia sendiri menjual dirinya sebagai tumbal hutang budi bapaknya. Ada tokoh Vicky (Dewi Sandra) yang divisualisasikan sebagai maniak sex namun tetap dapat menunjukkan sisi lain sebagai mahasiswa kedokteran yang terlihat cukup profesional ketika menangani Reni, istri stevan yang stress dan menenggak obat tidur secara berlebihan. Ada cerita tentang Juno yang menawarkan dukungan finansial kepada ayah Vicky sebagai Kepala Daerah karena dia punya banyak pabrik di daerah tersebut. Dan secara halus terlihat bahwa strata dan pola pikir itu pada dasarnya mempengaruhi pola hubungan. Juno terlihat lebih cocok dengan Vicky. Ada kisah tentang Reni, istri Stefan, wanita modern yang setelah menikah meninggalkan kehidupan modernnya, tinggal dirumah dengan daster sederhana yang secara cocok divisualisasikan. Wahai wanita, hati-hati bahwa laki-laki tetap butuh anda cantik meski anda dirumah. Ada kisah tentang Deni yang mengarang cerita tentang perkenalannya dengan Intan, ketika Reni, Istri Stefan menanyakan dimana mereka bertemu. Deni menutupi lembar gelap Intan. Dan masih banyak moment-moment lain yang menurut saya disampaikan dengan baik. Terlepas atas film ini adalah film bergenre humor yang memang tidak perlu terlalu difikirkan, pesan-pesan yang disampaikan terasa realistis dan mengalir dengan baik.

Dan at the end, film ini juga bercerita tentang cinta yang absurb. Ada kisah Stefan yang akhirnya sadar dan menjadi suami yang seharusnya. Ada kisah tentang Intan yang menjual diri atas dasar cinta pada sang suami yang dipenjara karena menjadi pengedar. Ada cinta Deni yang bersemi pada sang pelacur. Dan ya, cukup mengharukan.
Oh ya. Eniwei, rekan-rekan bernama Teguh sebaiknya nonton ini film. Nama kalian dibawa bawa euy heiuheiuhiuehuie…

Popularity: 5% [?]

One Response to “XL : tontonan konyol nan mengharukan”

Trackbacks/Pingbacks

  1. ThrowInside » love the movie

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>