love the movie : reccomended

Edo on February 17th, 2008

Setelah ketawa ngakak nonton film XL, my lady mengajak saya untuk nyambung nonton lagi. Dia memilih film Indonesia lainnya, Love. Btw, jujur aja, jangan bilang-bilang. Awalnya sempet ragu. Karena saya tidak ingin merusak mood nonton yang sudah bagus abis nonton XL. Ngga lucu kan, setelah bersenang-senang ditutup dengan film basi?. Sempet kepikiran, paling ini cuma film yang jualan banyak wajah cantik, memanfaatkan moment Valentine, eforia orang-orang dengan segala kisah cinta dan kasih sayang. Tapi, wanitaku menggodaku dengan sebuah alasan. “Banyak yang cakep-cakep lo da yang maen. Ada Luna Maya lagi”. Hehehehe… alasan terakhir ini yang berat. Kekasihku ini tau aja kalau aku demen liat Luna Maya. Akhirnya aku tergoda juga nyambung nonton lagi :p..

Tapi ternyata film ini jauh dari basi. Cool. Setelah film “Selamanya” ada lagi film romantis yang memang bagus. dan dalam perspektif saya, ini bukan film roman picisan yang mengumbar cinta belaka. Its not a love movie for me. It talked about life. Whorted untuk ditonton.
Film ini memang menjual banyak wajah terkenal. Sebut saja mulai dari yang senior : Sophan Sophiaan dan Widyawati. Lalu di tengah ada Surya Saputra, Wulan Guritno, Darius Sinathrya dan Fauzi Baadilah. Di yang muda dan lagi nge-trend ada Acha Septriasa, Laudya Chyntia Bella, dan Irwan Syah. Dan tentu saja, ada Luna Maya. Tidak cuma itu. Figurannya pun keren-keren. Ada Ariyo Wahab, Ajeng Sardi, Gading Marten, Linda Ramadanty hingga Joko Anwar. Bercerita tentang kisah hidup dan cinta 5 pasang anak manusia dari berbagai generasi.

Saya lagi tidak ingin menceritakan kisahnya. Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang Cinta, tema yang terlalu absurb untuk diceritakan. Tema yang sangat subyektif, dan menggantungkan pada perspektif masing-masing. Tema yang bisa kita terjemahkan secara bebas. Ada kisah tentang wujud rasa cinta generasi tua, kisah cinta yang justru hadir ketika seseorang berada di titik nadir kehidupannya, ada kisah cinta terlarang karena dipisahkan oleh penyakit, ada kisah cinta wanita lugu yang sedang hamil dan pergi ke Jakarta mencari kekasihnya, ada kisah cinta masa lalu yang datang tiba-tiba, ada kisah cinta yang tak tersampaikan, kisah adik yang patah hati karena kekasihnya dinikahi oleh kakaknya sendiri, kisah cinta 2 manusia yang berada dalam pola hidup dan dunia yang berbeda, dan sebagainya. Komplit, menyentuh, dan mengalir dengan baik. Buat saya, hanya semakin memperjelas bahwa cinta terlalu absurb untuk dijelaskan. Jalani sajalah. Nikmati sajalah. Biarkan cinta hanya untuk cinta.

Film ini juga justru berbicara tentang perspektif. Perspektif tentang hidup, perspektif tentang apa mengapa dan bagaimana kita menjalani hidup agar dia tetap punya arti dan makna. Betapa Tuhan punya kuasa atas segala hal dalam rencana-rencana kita, dalam area tak berbatas yang Dia ciptakan. Asli, ini film bagus. Ketakutan saya bahwa ini cuma film picisan yang memanfaatkan momentum valentine bubar sudah. Sepertinya kekasih saya juga sebel karena saya seperti menonton sendiri dan hanyut dalam dunia yang coba disampaikan oleh sang sutradara. Yang menyenangkannya, banyak sekali pesan yang disampaikan secara halus. Potongan-potongan ceritanya mengalir dengan baik, terangkai dengan baik. Setiap moment didalamnya memiliki maknanya sendiri.
Kali ini saya ingin “belagak” jadi komentator artis. Karena buat saya agak tumben, para pemainnya, relatif semua, memerankan perannya dengan baik. Dan karena saya tidak bisa mendeskripsikan dan memvisualisasikan inside yang saya dapat dengan gamblang. Too many. Tonton sajalah. Anda akan mengerti maksud saya.
Sophan Sophiaan dan Widyawati. 2 aktor generasi tua ini ternyata masih prima saja dalam memerankan perannya. Pas. Saya juga tidak ingin mengomentari 2 orang ini. Too good to discuss.
Darius, Luna, Irwan Syah, Wulan. Mereka juga bermain baik. Pas. Meski tidak spesial buat saya. Oh ya. Wulan ciumannya dapet euy hehehhe. Andai saya harus memilih film dengan ciuman terbaik di film Indonesia, film ini akan saya pilih hehehhe..
Bella? Sebenarnya sama dengan kondisi diatas. Tapi, ada parameter lain yang mempengaruhi. Dia salah satu aktris yang di cela abis waktu film BBB, bukan bintang biasa. Disini meski tidak spesial, Bella berperan cukup baik. Mungkin Bella perlu belajar milih-milih film yang tepat, agar dia semakin mengkilap.
At the end, ada 2 nama yang cukup menyita perhatian saya : Surya Saputra, dan Acha Septriasa.
Surya Saputra. Aktor satu ini, well. Keren abis. Mulai di film Arisan, dia juga udah keren banget. Dan di film ini, Surya Saputra benar-benar pas memainkan perannya. Dapet banget. Surya memerankan tokoh suami yang diselingkuhi oleh istrinya, mengurusi anaknya yang autis dengan kebingungan, dan dititik akhir harus menyerahkan anaknya pada sang istri. Surya memerankan karakternya dengan pas.
Acha. Dari beberapa film sebelumnya, sebenarnya dia asik-asik aja. Bagus. Cocok. Tapi ngga tau kenapa, saya belum bisa “jatuh hati” di beberapa film dia sebelumnya. Tapi, di film ini dia menurut saya tidak hanya bermain baik, tapi “ngena”. Dia benar-benar “dapet” memerankan tokoh gadis desa dari Sukabumi. Di salah satu scene ketika dia “mengungkapkan perasaan”-nya kepada Fauzi Baadillah, para penonton tertawa. Tapi justru disitu saya melihat penulis skenario memposisikannya dengan tepat. Kena banget. Dan kali ini saya dengan rela untuk mengakui kemampuan aktingnya. Great for you, Acha.
So? Film ini layak untuk di tonton. At least saya keluar dari ruang bioskop dengan kepuasan sebagai penikmat film.

Intermezzo, di film ini saya jadi cukup memahami, betapa peran LSI dalam konteks penyuntingan film sangat besar. Saya tidak bisa membayangkan, jika kejadian ciuman Wulan Guritno di potong, maka ada pesan dari film itu yang tidak akan sampai. Filmnya menjadi cacat. Mengutip pendapat saya sendiri di posting sebelumnya, dan komentar Mas Imam di blognya, saya jadi merasa ini seperti dilema. Saya paham kegelisahan para film maker tentang posisi LSI. Namun perlu diingat masyarakatpun gelisah tentang ini. Tulisan Bangaip yang didasari oleh isi blog mba chika. Lihat betapa berbeda pandangan tersebut dengan perspektif saya yang hanya mencari hiburan ketika nonton XL. Berbagai situasi yang tidak menentu di negeri ini, ditambah dengan kondisi masyarakat kita, perpedaan sudut pandang, memang perlu sebuah edukasi dan pencerdasan secara konsisten dalam memaknai sesuatu. Generalisasi pikiran saya ini tetap tidak bisa di pukul rata. Semua harus diposisikan pada konteksnya. Namun saya menganggap proses memahami dan pendewasaan berfikir perlu secara konsisten ditumbuh kembangkan di masyarakat kita agar pesan yang ditangkap bukan hanya sekedar adegan nafsu belaka.

Maju terus film Indonesia

*other review :

- cK
- Ajeng
-wulan

Popularity: 3% [?]

5 Responses to “love the movie : reccomended”

  1. Bagus ya Film ini
    baru kali ini nntn Film Indo yang Jelas kaya Film ini
    Salam kenal…:)

  2. #ajeng : hehehhe.. salam kenal juga ajeng :). selamanya dulu juga udah nonton blom?

  3. Iyaa…film-nya kayaknya bagus banget tuh…kemarenliat sinopsisnya di tabloid gaul secara tindak sengaja…ehm….tapi jadi ingat film love actually…
    Wajib nonton kalo ke malang ni….hehehe..
    salam bang Edo.. :)

  4. #gp : woi. masih idup lu? emang dimana sekarang?

  5. Good job, Edo!
    nice review. suka gua bacanya. pikiran gua kurang lebih sama kayak ente pas liat Love.
    ini salah satu film terbaik tahun ini.
    ya mirip love actually sih, tp mana ada produk orisinil gini hari? hollywood aja nyomot ide dr bollywood & british kok.
    yg gua salut dr film ini, kemahiran penulis skenarionya (titien wattimena) merangkai cerita hingga membuat penonton menunggu2 tiap scene & sinematografinya begitu memukau.
    sutradara malaysia, kabir bhatia, OK bgt men-direct Love.
    akting pemain OK, kecuali luna maya, darius & irwansyah. Laudya cintya bella gak begitu bagus jg sih. masih jaim kayak dulu.
    paling top tuh acha. gua suka banget ma nih anak. masih muda tapi aktingnya ajib manjib! akting legendaris sophan sophiaan jg patut diberi award tuh.
    4/5

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>