tentang pendidikan : ketika orang tua dan sekolah lepas tangan
Tulisan ini masih ada hubungan dengan sebelumnya. Masih dengan kasus yang sama : siswa yang terbukti melakukan foto porno. Tapi saya secara khusus saya ingin melihat dari sudut pandang pendidikan.
Terus terang saya sedih dengan fenomena yang terjadi. Ketika siswa melakukan sesuatu yang dinyatakan “kejahatan”, maka istitusi sekolah secara umum melakukan pilihan tindakan yang sama : mengeluarkan siswa siswa nakal tersebut.
Ada apa sebenarnya?
Mungkin ini terlalu ekstrim, tapi beginilah dunia kita. Orang tua melepas anaknya kesekolah, seakan-akan tanggungjawab orangtua tentang pendidikan tidak ada, dan itu adalah tanggungjawab sekolah. Tanggungjawab orang tua adalah mencarikan biaya untuk modal sekolah tersebut. Sekolahpun hanya merasa bertanggungjawab mengisi “otak” sang siswa. Dan hanya di jam sekolah. Sisanya, sekolahpun merasa tidak bertanggungjawab. Sementara si siswa tengah berada di umur-umur yang berbahaya. Anak TK dan SD tengah berada di masa kosong yang penuh rasa ingin tahu. Anak SMP dan SMA berada dalam masa krisis identitas tentang siapa dia. Umur-umur aqil baliqh yang berkutat dengan pencarian jati diri. Dan jadilah si anak menjadi kebingungan. Ketika si orang tua melepas anaknya ke sekolah, dan sekolah juga melepas anak ke orang tua, lalu bagaimana nasib mereka?. Kemana mereka harus pergi ketika semua lepas tangan?
Dosa itu terlalu besar untuk dibebankan kepada seorang anak. Dan kadang-kadang saya selalu berfikir. Tidak satupun orang hebat yang tidak pernah berbuat salah. Seorang Thomas Alfa Edison pun ketika ditanya apa formula keberhasilannya, justru keberhasilan itu dihasilkan dari 9999 kesalahan yang pernah dia buat. Sementara, saat ini kesalahan seorang anak sudah menjadi aib, lalu menjadi dikucilkan, dan jadilah orang-orang yang tidak saja takut berbuat salah, tapi yang lebih parah bisa cenderung untuk takut berbuat. Dan ini punya impact yang fatal bagi generasi tersebut di masa depan. Kesalahan tidak untuk dibenarkan, tapi bagaimana agar kesalahan tersebut bisa menjadi sebuah inspirasi untuk berbuat baik dan benar.
Sebagai orang yang belum pernah menjadi orang tua dan guru, omongan saya ini mungkin akan jadi bahan ketawaan. Belum pernah jadi orang tua dan guru kok sok tau. Maaf jika seperti itu. Tapi ijinkan saya tetap berpendapat.
Saat ini sebenarnya konsep home schooling sudah cukup berkembang. Sebuah trend yang baik. Namun, saya fikir itu tidak cukup. Secara filosofis menurut saya, konsep home schooling bukanlah sekedar memindahkan proses belajar mengajar ke rumah. Kalau begitu mah paling tidak akan memberikan impact yang besar. Tapi home schooling dari konteks orang tua seharusnya memberikan perspektif, bahwa tanggungjawab pendidikan itu yang utama ada di rumah. Pendidikan bukan hanya tanggungjawab sekolah.
Begitu pula dengan sekolah. Sungguh menyedihkan jika institusi sekolah hanya bisa mengeluarkan siswa nakal. Lha, masa sekolah lupa berfikir bahwa siswa nakal itu toh suka tidak suka juga hasil didikan mereka sendiri? Lalu haruskah mereka melanjutkan hidup sebagai sampah masyarakat? Banyak hal yang seharusnya, peristiwa seperti siswa yang merokok, foto porno dan sebagainya harusnya menjadi bahan perenungan. Kenapa mereka seperti itu? bagaimana cara menghadapinya? apa yang salah dengan konsep dan proses pendidikan?
Sebagai analogi, dulu, dalam sebuah seminar saya pernah di komplain seorang guru. Dan kebetulan itu terjadi di Padang, kampung halaman saya. Sang guru berkata, internet tidak boleh masuk sekolah. Internet cuma sumber maksiat. Saya lalu menyampaikan logika sederhana. Justru, jika memang internet itu punya impact sedemikian rupa, maka seharusnya internet HANYA ada di sekolah dan wajib hukumnya. Kenapa? Jika sekolah tidak memfasilitasi (dan juga orang tua dirumah), maka tetap si anak tidak akan bisa dilarang. Mereka akan keluar rumah, berinternet di warnet, tanpa pengawasan. Bagaimanapun juga, tanpa ingin mendesktritkan warnet, warnet adalah sebuah bisnis. Ini tidak bisa dipungkiri. Sehingga posisi “mencari keuntungan” akan tetap berada di list lebih tinggi daripada “moral”. Justru dengan menyediakan internet di sekolah atau rumah, aktifitas berinternetnya bisa lebih diawasi. Konsep managementnya bisa lebih di atur, misal, dengan membuat tanpa sekat. Sehingga tidak bisa sembunyi-sembunyi. Kecuali, jika memang si orang tua juga malas mengikuti perkembangan yang ada, malas memahami kondisi anaknya, malas menyisihkan waktu bagi mereka. Begitu pula dengan guru.
Finally, mohon maaf buat bapak dan ibu guru. Saya sadar bahwa terlalu besar tanggungjawab seorang guru jika dibandingkan dengan apa yang didapatkan. Guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya. Tapi saya masih sangat percaya, banyak orang-orang yang memang memilih untuk menjadi guru, karena memang sudah menjadi panggilan jiwa. Semoga Tuhan membalas itikad baik tersebut. Semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai sebuah proses pelecehan bagi profesi guru itu sendiri.
Popularity: 7% [?]
Mengapa orang tua melepaskan tanggung-jawabnya dan kemudian diserahkan ke sekolah, sedangkan pihak sekolah juga melepaskan tanggung-jawabnya dan dikembalikan ke orang tua. Jawabnya sederhana .. karena tidak ada cinta sebenarnya dihati orang tua kepada anaknya.
Cinta telah menjelma menjadi material. Menjadi kewajiban bukan kesadaran untuk mencintai. Karena anak sudah terlanjur lahir - atas nama cinta - mereka berkewajiban menyekolahkan dlsbnya. Jika mereka mencintai anak mereka, mereka tidak 100% menyerahkan ke sekolah. Pasti selalu dimonitor perkembangan anaknya.
Begitu juga sekolah. Ketika tidak ada lagi cinta. Yang ada hanya komersialisasi dengan alasan guru juga perlu makan, sekolah juga perlu eksis. Maka cinta sudah berubah menjadi materi. Lihat guru2 di pelosok yang mengabdi karena cinta. Sehingga lahir buku Laskar Pelangi, karena kecintaan guru pada muridnya.
Tiada diragukan lagi. Memang sudah tidak ada cinta lagi.
#erander : dalem. komentar mas erander sangat mengena. sepertinya kita perlu kembali membangun pondasi yang jelas agar boundary itu tidak hilang, kembali ke akar dasar seharusnya. nice comment, mas erander
Postingan yang menarik nih pak edo, hehehehe
banyak kasus yang terjadi menimpa remaja pelajar kita. menurut hemat saya sih kita ndak bisa menimpakan kesalahan itu sepenuhnya kepada sang anak. banyak faktor yang memengaruhi sifat agresivitas purba anak, termasuk di dalamnya masalah seks bebas. ini butuh sinergi. guru dan sekolah ndak bisa dijadikan kambing hitam sepenuhnya. guru, orang tua, dan tokoh masyarakat harus membangun visi yang sama. selama ini belum begitu, pak. nilai2 luhur baku yang ditanamkan di sekolah hampir bertentangan secara diametral dg situasi yag terjadi di tengah masyarakat. ketika sekolah menanamkan nilai kesantunan dan kearifan hidup, tapi secara telanjang anak2 kita melihat begitu vulgarnya kasus2 di masyarakat yang judtru dilakukan oleh orang2 yang seharusnya menjadi anutan, entah korupsi, selingkuh, dll. ini berdampak pada jiwa anak juga. internet juga ndak bisa disalahkan sepenuhnya, karena itu sudah menjadi tuntutan peradaban yang mau atau tidak justru harus diakrabi oleh siswa didik. jangan sampai seperti pepatah: “buruk muka cermin dibelah”. gara2 kita ndak bisa mendidik anak, lanta pihak lain yang dikambinghitamkan. ttg peranan sekolah? sejak dulu saya tidak setuju dg konsep yang memosisikan anak sekadar sebg bjek. mereka harus menjadi subjek didik yang harus dibina dan diarahkan. di situlah tantangan dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. kalau setiap anak yang sedang mengalami penyimpangan perilaku atau malajusted, lantas anak dikeluarkan, lalu utk apa fungsi pendidikan? kalau telanjur hamil? berikan kesempatan kepada si anak utk cuti. sekolah saya kira tidak akan menurun citranya hanya karena memberikan kesempatan kpd siswa hamil utk cuti.
*walah, maaf pak edo, hiks, komennya kok jadi panjang banget, hehehehe … *
semangath!
BTW, sudah lama saya ingin memberikan masukan pada pak edo tentang theme ini, tapi ndak punya keberanian, hiks. kan menyangkut selera pemegang adminnya. jujur saja ketika buka postingan di blog pak edo, saya mesti menggunakan kacamata plus,hehehehe
font-nya terlalu kecil apalagi background-nya gelap. menurut saya memang agak kurang familiar. Maaf loh pak, saya hanya memberikan masukan saja. menurut saya, blog ini akan lebih bagus jika menggunakan theme minimalis dg loading yang ringan. dulu saya suka pakai glossyblue, pak. cantik dan siap pakai. loadingnya juga lumayan bagus. sayangnya blog saya sudah terlalu penuh image, jadi berat, hehehehe. pak edo bisa mendownloadnya di
http://www.ndesign-studio.com/.....lossyblue/
sekarang saya pakai uncrufty, tampilan minimalis dan ringan loadingnya, tapi masih perlu dioprek2. pak edo bisa mengunduhnya di http://www.heritage-tech.net/w...../#uncrufty
semuanya terserah bapak. yup, selamat ngoprek-oprek, pak, hehehehe
#sawali : hehehe, sebagai seorang pendidik, komentar pak sawali memang paling saya tunggu. pengen tau perspektif seorang pendidik

jelas, tulisan ini tidak untuk menjudge siapa yang benar dan siapa yang salah. jelas, dalam berbagai konteks, semua pihak harus duduk bersama, mencari jalan keluarnya. Akan tetapi, saya secara pribadi melihat orang tua dan institusi pendidikan adalah 2 komponen yang paling bertanggungjawab. dasarnya jelas. dalam umur pendidikan 2 tempat inilah seharusnya seorang anak menghabiskan waktunya. orangtua? tidak perlu dipertanyakan. dia yang melahirkan, dia yang harus bertanggungjawab tidak hanya dalam konteks mendidik, tapi keseluruhan. sekolah? karena ini sangat erat dengan tema pendidikan. karena pendidikan itu sangat luas. bukan hanya pendidikan formal, pengetahuan, tapi juga termasuk didalamnya area akhlak, mental, spiritual.
menghukum memang salah satu metode pendidikan. tapi saya fikir ini adalah metode yang “mengutip istilah pak sawali” : purba. ada kekinian yang harus difahami oleh semua fihak. jika ketika siswa salah, lalu dihukum, lalu apa bedanya sekolah dengan penjara?. sementara penjara sendiri tengah berusaha mengubah paradigmanya dari penjara menjadi lembaga permasyarakatan.
dilema memang. profesi guru terlalu mulia jika hanya dipandang sebagai profesi belaka. dengan segala himpitannya, kadang saya berfikir pilihan menjadi guru lebih kepada sebuah profesi akhirat ketimbang dunia. butuh kemuliaan dan kerelaan atas profesi ini.
komentar mas erander terus terang sangat mengena pak sawali. dibutuhkan cinta. kecintaan atas profesi, kecintaan atas hal hakiki yang jauh dari materialisasi pendidikan itu sendiri.
maaf kalau tidak berkenan pak
#sawali : hiuehiuehie… thank ya pak. kynya saya jadi punya ide. bikin thread baru aja minta komentar teman2 soal theme kekekek…
Jadi kesimpulannya, ngga ada yang salah kan? Orangtua ngga bisa disalahkan karena harus cari uang agar anak bisa sekolah dan keluarga bisa makan. Guru juga sama, ngga mungkin menjaga anak di luar sekolah. Anak juga cuma mengikuti saja apa yang ada disekelilingnya.
Jadi, terima saja apa adanya.
#iwan : hehehhe… memang pak. tergantung kita melihat sebagai siapa. dari perspektif yang mana. toh pilihan untuk menerima saja atau melakukan perubahan, semua kembali pada masing-masing kita
Yang salah menurut saya hanya 1 (satu), karena kita tidak menyiapkan mental mereka sejak dini, bagi saya yang terpenting adalah masa persiapan mereka dalam menghadapi hidupnya kelak. Orang-orang besar yang ada di bumi ini adalah orang-orang yang sejak dulu kala mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan zamannya dengan berdiri tegak dengan prinsip dan pendiriannya.
Anak-anak kita saat ini menurut saya tidak dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang akan dihadapinya, padahal sebagai orang tua seharusnya kita sadar bahwa ketika mendidik mereka adalah dengan mempersiapkan mereka untuk menghadapi zamannya ke depan.
Saya tidak menyalahkan lingkungan, walaupun itu mempunyai pengaruh, karena di era informasi ini sebenarnya tidak adalagi lingkungan yang bisa dibatasi, hanya bagaimana kita dapat menanggapinya saja. Sebagai mana Islam berkembang adalah di zaman Jahiliyah dengan segala macam keadaannya, tetap saja Islam itu besar bukan.
Saya hanya sedikit agak kecewa dengan sistem pendidikan kita yang sampai saat ini tidak berubah-ubah, masih menggunakan pola-pola lama, mudah-mudahan saya salah, tidak membuat anak didiknya bisa aktif dan mandiri, malah membuat anak didiknya dicekoki dan bergantung, sungguh malang, padahal wilayah kita sudah jelas-jelas merupakan negara yang selalu akan dimasuki dengan kebudayaan lain.
Keluarga merupakan hal terpenting bagi seorang anak, dengan keluarga mereka bisa menjadi mandiri, dengan keluarga mereka bisa berdiri tegak dan mempunyai kepercayaan diri.
Mati dipersiapkan keluarga itu dengan sebaik-baiknya, bukan berarti dengan kuantitas akan tetapi kualitas dan kasih sayang yang tulus dari lubuk hati yang terdalam.
Selamat berjuang.
Pernah kejadian ada guru salah seorang anak saya yang jarang berkomunikasi dengan kami (via buku komunikasi yang sudah disediakan sekolah dan selalu dibawa oleh anak ke sekolah & ke rumah). Kami bingung, dan kemudian kami temui ybs di sekolah.
Lha ternyata beliau jadi curhat. Katanya, dia sempat komunikasi dengan orang tua yang lain, dan kemudian malah dibalas kira2 sbb : “urusan anak di sekolah adalah urusan guru !”
Kata beliau “pentungan (tanda seru) nya gede banget pak”, demikian keluhnya.
Sejak saat itu dia segan untuk berkomunikasi lagi dengan para orang tua murid.
Sialnya, hal ini jadi menyebabkan masalah yang terkait dengan anak saya jadi terlambat diketahui. Akibatnya anak saya jadi turun kelas.
Waduh, emosi saya terus terang ketika itu tercampur aduk. Lumayan kesal juga karena digeneralisir bahwa semua orang tua murid pasti suka “mentung”
Di lain pihak, saya paling geram dengan orang tua murid tadi, yang telah “membuang” anaknya ke institusi yang bernama sekolah.
Anak adalah tanggung jawab orang tua. The buck stop at the parents.
Titik.
Tidak ada ba bi bu.
Tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah final.
Kalau tidak mau bertanggung jawab, jangan punya anak. Jaman sekarang sudah lebih mudah melakukannya, tidak seperti zaman dulu.
Ini sudah punya anak, lalu dibuang. Tidak mau tahu lagi.
Keterlaluan. Yang beginian mustinya dikebiri saja supaya tidak bisa punya anak lagi.
Ada lagi yang alasan sibuk lah dan alasan yang dicari-cari lainnya. Padahal sebetulnya karena malas saja. Karena kalau mau sebetulnya bisa, seperti ibu edratna di beberapa komentar di blog ini.
Karena ini saya berpendapat bahwa lagu “kasih ibu tak terhingga” itu BS. Saya sudah banyak menemukan para ibu (maupun bapak) yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Ego mereka masih tetap diutamakan, seperti ketika mereka masih anak kecil saja.
Kalau anak mereka berprestasi, mereka langsung sombongkan ke semua orang - “anak siapa dulu dong?”. Tapi kalau anak mereka mengalami masalah, alih-alih dibantu dan didukung untuk bangkit lagi - ini malah justru mereka tambah caci makinya.
Sounds familiar ?
Hancur hati saya melihat anak-anak mereka yang terlantar setiap hari kebingungan karena tidak ada tempat berpegang dan tidak ada yang menuntun hidupnya. Walaupun secara materi mereka berkelebihan, namun di dalamnya mereka hampa & pedih.
Sorry jadi curhat. Tapi situasi ini sudah sangat keterlaluan.
Kalau kita bingung kenapa bangsa kita ini terus terpuruk dan sulit bangkit, tidak usah bingung terlalu lama - inilah sumber masalahnya. Keluarga Indonesia banyak yang bobrok di dalamnya.
Anak saya sendiri bebas membawa raport berisi nilai berapa saja dari sekolahnya. Yang penting mereka sudah memberikan usaha mereka yang maksimal (kalau tidak, memang saya akan tegur). Saya akan senyum dan peluk mereka walaupun raport mereka merah semua, dan saya akan bantu mencarikan jalan keluarnya.
Sekolah itu bukan segala-galanya, dia cuma satu (dari banyak jalan) yang bisa ditempuh oleh anak-anak kita.
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)
Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).
DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?
KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).
Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.
Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.
ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.
SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.
BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).