teknologi : sebuah pisau bermata dua

Edo on February 20th, 2008

Gara-gara menulis tentang kasus pornografi di kampung, nyerempet-nyerempet ke Internet, saya jadi ingat janji saya di blog bang ersis tentang internet pedesaan. Yah, kontroversi internet ini memang tidak cuma menyenggol urusan moral dan akhlak, tapi juga pertanyaan tentang apakah benar teknologi memiliki impact terhadap pembangunan. Btw, sorry ya bang ersis, baru inget lagi hiueheiuhiue…

Saya mengetahui program ini sejak dulu. Namun “terpaksa” memahami lebih dalam ketika saya diminta terlibat untuk melakukan kajian dan analisa sosial, budaya, pendidikan dan lingkungan oleh sebuah institusi.
Pemerintah Indonesia memiliki program pengembangan infrastruktur telekomunikasi yang dikenal dengan program “desa berdering” atau lebih sering disebut dengan program USO (universal service obligation). Program ini memang bertujuan untuk membuat tiap desa terhubung dengan media komunikasi. itikadnya jelas, bahwa program ini diharapkan dapat memutus jalur ketertinggalan di daerah, meningkatkan taraf hidup etc.

Sebagaimana diyakini oleh organisasi telekomunikasi dunia, ITU, yang konsisten menyatakan bahwa dengan asumsi semua persyaratan terpenuhi, penambahan investasi di sektor telekomunikasi sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3%. Hipotesis ini telah terbukti kebenarannya di Jepang, Korea, Kanada, Australia, negara-negara Eropa, Skandinavia, dan lainnya. Mereka telah memberi perhatian besar pada sektor telekomunikasi, sehingga selain jumlah pengguna telepon (teledensity) meningkat, terjadi pula peningkatan pertumbuhan ekonomi.

berdasarkan data-data tersebut diatas, berarti baru 10% masyarakat Indonesia yang sudah merasakan manfaat internet, dan baru 27% yang merasakan manfaat telepon. Dari sisi infrastruktur, release terbaru World Economic Forum tentang Networked Readiness Index tahun 2006, Indonesia hanya berada di posisi 68 dari 115 negara, berada di bawah negara-negara seperti Malaysia (peringkat 24), Thailand (34), Yordania (47), Jamaika (54), dan Kazakhstan (60). Sebagai informasi, Indeks ini menunjukkan ranking kesiapan negara-negara dunia dalam memanfaatkan information and communication technology (ICT) untuk pembangunannya.

Kontribusi sektor Telematika kepada Pendapatan Nasional baru mencapai 5,1% untuk tahun 2000 dan 5,8% untuk tahun 2001. Belum cukup signifikan, namun demikian aktivitas sektor ini cukup memberi warna tersendiri dalam perekonomian nasional.

Tujuan adanya Program Universal Service Obligation ini tidaklah semata-mata untuk menyediakan fasilitas telekomunikasi kepada seseorang atau kelompok masyarakat saja, tetapi adalah untuk:

  • meningkatkan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi
  • impromosikan proses kohesi sosial dan politik melalui pembauran komunitas yang terisolir dengan komunitas umum/maju;
  • meningkatkan cara dan mutu penyampaian jasa-jasa publik pemerintah;
  • memacu keseimbangan distribusi populasi;
  • menghilangkan kesenjangan sosial dan ekonomi antara information rich dan information poor.

Nah, hal yang menjadi menarik adalah, apakah benar teknologi ini akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat desa? Jika mengacu pada data diatas, jelas program ini bertujuan mulia. Namun beberapa cerita bang ersis di blognya tentang fenomena HP yang seperti sudah menjadi budaya dan justru malah menjadi cost memang seakan memberikan bukti bahwa keberadaan teknologi justru memang lebih memberikan impact negatif. Teknologi seluler juga telah menjadi media baru kapitalisasi asing bagi negara kita. Unik memang menyikapi fenomena, negara yang katanya miskin ini menjadi penyumbang terbesar negara tetangga Singapura sebagai efek kepemilikan mereka atas saham perusahaan telekomunikasi kita. Dan ya, mengutip istilah bang ersis, kita sudah dilintahi oleh banyak tangan yang “ngiler” dengan segarnya darah bernama Republik Indonesia.

Inilah menurut saya permasalahan luar biasa dan mendasar bagi Bangsa Indonesia. Tidak saja di tema teknologi kalau kita mau jujur, tapi diseluruh lini kehidupan manusia. Sulit bagi saya untuk menolak kenyataan bahwa problem kita ada di implementasi, bukan pada esensi dan konsepnya. Konsep? wah, jangan ditanya. Lihat saja seminar-seminar berbagai tema. Sungguh tumpah ruah orang pintar di negara ini. Guyonan Pak Marsudi W Kisworo yang saya kutip di blog ini menurut saya sebuah visualisasi real tentang Bangsa ini.
Tapi haruskah kita menyalahkan sepakbola sebagai sebab anarkisnya para penontonnya? Haruskah kita menyalahkan kekayaan alam yang menyebabkan bangsa ini menjadi pemalas, seperti ayam yang mati di lumbung padi? Dan haruskan kita menyalahkan teknologi atas boroknya moral dan akhlak serta budaya konsumtif dan “bergaya” kita?. Padahal, data jelas membuktikan keberhasilan di negara lain. So, yang salah teknologinya, atau kita yang salah? Ah, sepertinya tanpa teknologi pun, kita sudah cukup konsumtif dan suka bergaya.
Menyalahkan. Ini sepertinya jadi hobi kita. Sepertinya hobi ini perlu dihentikan. Siapapun yang menjadi dan akan menjadi pemimpin bangsa ini harus siap-siap menjadi orang paling bersalah di muka bumi.
Lama-lama kita juga akan jadi kebablasan untuk menyalahkan Tuhan karena telah membiarkan Tsunami menyambangi tanah rencong, Nanggroe Aceh Darussalam.

Banyak memang kesalahannya. Pemerintah? Jelas. Sebagai pihak yang dipercaya mengelola dan memimpin negara ini pemerintah pantas disalahkan. Tapi masalahnya, masalah tidak akan selesai hanya dengan menyalahkan. Cukup sudah. Jangan sampai kita terjebak (sebagai mana firman Tuhan yang pernah saya baca) kita terjebak menjadi orang yang mengolok-olokkan, sementara yang mengolok-olokkan belum tentu lebih baik daripada yang di olok-olokkan.

Pendapat saya? Lets DO our best. Now. Sesuai kompetensi dan kapasitas kita masing-masing. Masalah tidak akan selesai dengan menyalahkan, dan sekedar dibicarakan. DO. Mari kita mulai berbuat. Berbuat meski salah, masih jauh lebih baik daripada bicara banyak hal namun tidak berbuat apa-apa. Namun, kalau terus berbuat dan terus-terusan salah dan tidak belajar dari kesalahan, itu namanya dobol :p. So, mari belajar dari kesalahan.
So, saya mendukung Bang Ersis yang terus berbuat, menginspirasi orang-orang menulis dan menjadi pintar. Saya mendukung Pak Sawali yang tidak bosan berbuat untuk perbaikan dunia pendidikan kita. Saya mendukung Pak Dhe Totot yang terus menerus secara konsisten berkarya dibidang advertising dan seni. Saya mendukung siapa saja yang berbuat.
Mari jadi pelaku, bukan hanya pengamat. Yuk? :)

Popularity: 4% [?]

4 Responses to “teknologi : sebuah pisau bermata dua”

  1. Sebuah judul yang amat menarik, dan sampai kapanpun akan menjadi sebuah pemikiran yang tak akan habis-habis.
    Teknologi pada dasarnya adalah sebuah alat untuk mempermudah pekerjaan seorang manusia, hal ini sudah barang tentu akan membuat mereka menjadi tergantung dengan teknologi, karena konsepnya saja jelas ‘alat bantu’
    Maaf saya agak menyimpang sedikit, dalam pemikiran saya terdahulu saya pernah berpikir bahwa teknologi itu ternyata membuat kita lemah dalam mengasah ruhani kita, memperkuat potensi yang ada pada ruh kita, waktu itu saya ketengahkan analogi ketika Nabi Sulaiman AS memerintahkan untuk memindahkan mahkota Ratu Bulqis, awalnya akan dilakukan oleh Jin Ifrit (dapat dipindahkan ketika Nabi Sulaiman berdiri dari singgasananya), ternyata dapat dilakukan dengan lebih cepat oleh seorang Ahli Kitab (denga pengetahuna dan kekuatan ruhaninya dapat melakukan dengan sekejap mata).
    Akan tetapi karena kita menggunakan akal maka secara konvensional maka kita akan pada tahapan tatanan tertinggi pengembangan teknologi dengan menggunakan material kelak.
    Kembali ke topik, menurut saya ini semua adalah dampaknya yang harus dilakukan atau dilewati, teknologi material yang demikian tinggi, belu kepada teknologi ruh atau penggabungan dari keduanya. Dampaknya pun harus dihadapi, karena teknologi itu tidak pernah salah, yang salah adalah bagaimana cara menggunakannya seperti halnya dengan ilmu pengetahuan.
    Hal yang terbaik menurut saya adalah bagaimana kita dapat mengarahkan teknologi itu, konsepnya, untuk kemashalatan bersama, meminimalisir kerugiannya atau pengaruh buruknya, adanya keseimbangan dengan alam dalam pembuatan teknologi, membuat teknologi tandingan yang akan mentralisir teknologi tidak baik yang sudah muncul serta adanya contoh.
    Saya mungkin salah seorang yang ada perasaan kurang begitu simpati dengan perkembangan teknologi saat ini, karena terlihat perekembangannya malah membuat ketidakseimbangan dari alam ini, padahal dalam membangun sebuah teknologi harus dipikirkan point penting ini, apabila ada terjadi ketidakseimbangan saya yakin akan terjadi pula hal-hal yang tidak diinginkan.

  2. Menurut saya ini artikel brilian; banyak orang menulis bertumpu pada argumen, bukan kondisi obyektif. Say gembira. Pada tataran berbuat, jujur saja, bangsa ini payah, dan … pada tataran berpikir —maaf pengambil kebijakan, sulit dipahami pola pikirnya. Saya kini menulis berbau antropologis (www.webersis.com) dan —mungkin dengan mecoba memulangkan pada basik funfamental ajaran Islam.

    Allah tidak mengatur’ bagaimana kita memaknai teknologi, kitalah yang mennetukan, berbnilai positif atau negatif. Lanjutan bahasan beginia. Saya kepincut. Sori, emosi saya agak terpatik karena gembira.

    Salam menulis, menulis, dan terus menulis.

  3. #cossalabu : andai kita sadar, bahwa seluruh sendi kehidupan kita bermata 2… karena esa hanya milik Sang Esa..

    #ersis : biasa aja bang. pintar kali nya uda ini membangkitkan semangat :)
    ditunggu terus tulisannya bang..

  4. semoga kita tetap bisa saling menghargai

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>