review : ayat ayat cinta

Edo on March 6th, 2008

“Byuh, merinding aku nonton film e”

Itu sebuah sms yang saya terima dari seorang sahabat beberapa hari yang lalu. Dia, bersama istrinya baru saja menonton sebuah film yang belakangan agak menjadi kontroversial : Ayat-ayat cinta. Saya agak mengerenyit menerima smsnya. Saya cukup kenal sahabat saya ini. Bukan orang yang gampang memuji. Sementara, saya sebenarnya mulai tidak ingin menonton setelah membaca komentar beberapa blogger seperti komentar kang erander dan beberapa link yang ada di blog beliau dan kontroversi yang ada di beberapa milis Islam yang menghujat film ini. Rata-rata menganggap film ini dangkal, dan tidak layak tonton. bahkan tidak sedikit yang memandang film ini buruk.

Akhirnya, saya memutuskan menonton.

By the way, saya bukan orang yang paham tentang teknis film. Bicara soal pencahayaan, teknik pengambilan gambar, etc. Hal yang paling sering saya sikapi adalah inside sebuah film. Pesan yang tertanam ketika saya keluar dari ruang bioskop atau setelah menonton di DVD. Bukan hanya sebuah ekspresi perasaan; senang, bahagia, lucu, sedih, dan sebagainya. Tapi sebuah pesan. Sebuah inside.

Lain dari itu, biasanya saya juga mengomentari karakter dan pendalaman si aktor.

So, saya tahu bahwa film ini berangkat dari sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy. Dan bukunya sangat populer. Sehingga sebagaimana umumnya, buku dan film dibandingkan. Namun dalam hal ini, saya sepakat dengan mas hanung bahwa pada prinsipnya bahasa visual dan verbal tidak bisa dibandingkan.

Film ini bercerita tentang Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Al Azhar, Mesir. Seorang pemuda yang deskripsikan sebagai pemuda yang sangat baik, dan idola banyak wanita. Ada maria, teman 1 flat nya, wanita beragama katolik. Ada noura, wanita yang selalu disiksa oleh orang tua palsunya, Nurul, anak sang kiai terkenal, dan Aisha, wanita blasteran jerman. Semua cantik, baik, pintar. Ini nyawa ceritanya.

Saya tidak akan membahas film ini, karena sudah banyak yang melakukan review. baca saja ulasan scooter, hasan, khalid, deteksi, julia, david, dan banyak lagi, juga dibeberapa web resensi film seperti ruangfilm dan sebagainya. Saya hanya ingin berbagi inside yang saya dapatkan.
Buat saya, ini film bagus. Sangat banyak pesan yang saya dapatkan. Film yang tidak sekali dua kali membuat saya merinding, tergetar. Dan ada 2 moment yang saya benar-benar terhenyak melihatnya, karena 2 peristiwa itu memberikan makna yang paling mendalam bagi saya.

Moment pertama, ketika Fahri dipenjara karena difitnah menghamili Noura. Moment ketika dalam ketidaksiapan fahri menerima kenyataan itu, rekan satu selnya menyampaikan state yang sangat luar biasa. Saya tidak ingat persisnya. Tapi pesannya kira kira seperti ini (jika ada yang ingat dan bisa memberikan yang lebih tepat, dengan senang hati).

“Tuhan justru saat ini tengah berbicara denganmu anak muda. Dia tengah bicara denganmu. Selama ini kau telah sombong karena dianggap dan merasa selalu berbuat baik dan benar. Tuhan itu tidak hanya untuk orang-orang yang baik. Tuhan itu untuk seluruh umat manusia. Tuhan tengah bicara padamu anak muda, tentang sabar dan ikhlas”.

Sungguh. Saya merinding. Betapa sering, sadar tidak sadar kita seperti itu. Ketika kita melihat figur teman selnya, saya yakin mayoritas kita, baik difilm itu maupun di kehidupan sehari-hari akan memandang sebelah mata. Tapi betapa dahsyat pesan yang keluar. Kita, sering, mungkin sangat sering terjebak melihat siapa yang bicara, bukan apa yagn disampaikan. Berapa banyak dalam kondisi realnya kita mau mendengarkan pesan, apa lagi pesan yang membawa nama Tuhan, dari orang yang secara fisik seperti itu, tidak menvisualisasikan sebagai ahli agama. berbeda jika yang bicara adalah orang dengan gelar haji didepannya, atau berjubah, hitam keningnya, “senteng” celananya, dan simbol-simbol lainnya.

Dan bunyi pesan itu. Sungguh luar biasa. Betapa sering kita terjebak sebagai sang paling benar. Betapa banyak orang-orang yang mengatasnamakan Tuhan, namun tidak sedikit yang ujung-ujungnya menjadikannya hanya sebatas sebagai *maaf* kondom belaka.

Tuhan tengah bicara padamu. Dan dalam prakteknya, kita justru sering memaki dan mengeluh pada Tuhan ketika kita diberi kesusahan. Berapa banyak dari kita yang mensyukuri sebuah kesulitan, dan menganggap pada situasi seperti itulah Tuhan berada sangat dekat, berbicara pada kita, mengingatkan kita.

Dan ya. Tuhan bukan hanya milik orang-orang baik. Tuhan ada untuk kita semua, tanpa terkecuali. Sebuah pesan yang dahsyat. Dan moment ketika Fahri mengalami kesulitan yang amat sangat untuk khusu’ dalam sholatnya, juga mencuri perhatian saya.

Sabar. Ikhlas. Kata-kata yang sangat pas. Mudah diucapkan, namun berat dilaksanakan.

Moment berikutnya adalah ketika Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria. Entah kenapa, saya justru sangat merinding. Jelas, tidak mudah bagi Aisha untuk meminta -bukan sekedar mengizinkan- tapi meminta suaminya untuk menikahi wanita lain. Jelas, dibutuhkan mental, kelegowoan, kejernihan hati dan fikiran, dan keikhlasan yang luar biasa. Jelas secara real amat sangat tidak mudah. Wanita yang sangat luar biasa.

Alasan yang dikemukakan oleh Aisha juga sangat menarik untuk dicermati. Dia bukan meminta suaminya menikahi karena kasihan pada Maria. Meski dia menyatakan bahwa dia meminta karena kasih dan sayang, dan agar anak dikandungannya mengenal bapaknya, tapi alasan utama yang dia keluarkanlah yang luar biasa.

“Aku melihat sisi muslimah dalam diri Maria”.

Saya yakin ini salah satu yang dianggap kontroversi bagi beberapa rekan yang lebih memahami agama daripada saya. Namun justru peristiwa itulah yang menyebabkan kekaguman dan mempertebal keyakinan saya atas agama yang saya anut. Sungguh. Saya makin meyakini bahwa Islam, keyakinan yang saya anut benar-benar membawa pada keselamatan hidup, dunia dan akhirat.

Menariknya, Aisha tidak divisualisasikan sebagai wanita yang hebat dan sempurna. Aisha justru diperlihatkan sebagaimana layaknya wanita yang tidak rela berbagi kasih sayang suami yang ia cintai. Dia tetap tidak siap melihat prosesi suaminya menikahi wanita lain -yang secara menarik, keluarnya Aisha dari ruangan tersebut diiringi dengan ucapan syahadat dari Maria, yang menyatakan bahwa dia lalu menjadi seorang muslimah-. Dia tetaplah wanita biasa yang cemburu, tak rela berbagi. Dia melakukan itu justru atas rasa cintanya yang mendalam, karena dia ingin suaminya keluar dari penjara, menjadi ayah bagi bayi dikandungannya, karena hanya Maria adalah satu-satunya saksi yang bisa membebaskan suaminya. Namun disitulah dia terlihat sempurna dimata saya.

Di dua moment ini, saya tak mampu menahan keharuan.

Dimata saya yang awam ini, film ini justru sebuah fenomena dakwah yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang sepakat. Tapi Hollywood memang menurut saya telah menjalankan strategi “dakwah” yang luar biasa, dan tidak kita sadari. Film ini menunjukkan Islam yang sesungguhnya ; sangat menghargai siapa saja, damai, membawa keselamatan, sangat menghargai wanita (bukan sebagaimana doktrin yang menyatakan islam sebagai agama teroris, tidak menghargai wanita dan lain-lain). Jika beberapa reviewer menyatakan film ini tidak realistis, saya justru ebranggapan film ini sangat realistis. Sangat nyata. Sebagai contoh, dalam peristiwa ketika Fahri berpoligami, yang secara prinsip sah menurut agama, justru diperlihatkan betapa pusingnya Fahri untuk mampu berbuat adil. Film ini juga cukup berani memvisualisasikan tentang seorang muslim yang atas nama zionisme, kekafiran tidak mengizinkan seorang wanita amerika yang kelelahan mendapat tempat duduk di kereta. Film ini juga cukup berani menunjukkan tentang Nouva yang yang di siksa, diperkosa dan dizolimi oleh ayah palsunya. Tapi dimata saya, saya tidak melihat hal itu sebagai bentuk pelecehan terhadap Agama Islam. Justru buat saya menunjukkan keadilan, keluasan, dan keselamatan Islam yang sesungguhnya, sebagai agama bagu ummat sepanjang masa.

Dimata saya, kekuatan utama film ini memang ada di skenario, yang nota bene diambil dari buku kang abik. Dari sudut acting para pemerannya, saya memang tidak melihat ada pemeranan yang istimewa seperti peran Dedi Mizwar misalnya. Namun juga tidak jelek-jelek amat. Tapi biasa. Andai ada yang menurut saya paling pas, justru peran yang dilakoni oleh Carissa Putri.

Alur cerita, awalnya memang tidak menggigit. Tapi kulminasi yang terjadi beberapa kali cukup menarik. So, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap mas Hanung, kekuatan utama film ini justru ada pada skenario yang sarat makna. Makna yang juga tidak dipaksakan, bukan harus distatementkan. Saya justru terganggu dengan “paksaan menyampaian makna” tentang baiknya nilai nilai Islam. Justru, menyampaian secara alamiah lebih menarik. But, mas Hanung, salut telah memfilmkan cerita ini. Jarang saya nonton di bioskop Indonesia, mengangkat tema agama, namun dapat dinikmati oleh ebrbagai kalangan, mulai dari wanita berjilbab yang memenuhi bioskop sampai gadis-gadis cantik ber rok pendek dan ber tank top, mulai dari bermata belok sampai sipit, berkulit putih sampai hitam legam.

Akhirnya, saya harus mengakui bahwa saya sepakat dengan komentar sahabat saya yang merekomendasikan saya menonton film ini. waktu itu dia berkata menyikapi kontroversi yang ada :

“film ini bercerita tentang hakikat. maka jika dilihat dari sudut syariat, maka sangat dimungkinkan film ini dianggap salah kaprah”

Bagaimana pendapat anda?

update :

Saya baru membaca proses pembuatan film ini di blog mas hanung. Dan sungguh, saya terhenyak. Tidak menyangka begitu banyak masalah yang tercipta. Betapa sulit mengkompromikan idealisme dan realita, sesuatu yang sebenarnya terjadi setiap saat.

Mas hanung, maafkan jika mulut ini begitu mudah menghujat. Jujur, salut buat anda. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Ketidaktahuan memang membuat kita dengan mudah melakukan judge. Maaf dan salut dari saya. Saya sangat sadar betapa sulit ketika idealisme dan realita berada ditempat yang sama.

Finally, thank buat mas decon dan mas harry sufehmi yang membawa saya ke cerita dibalik film ini.

Popularity: 9% [?]

11 Responses to “review : ayat ayat cinta”

  1. saya belom sempat baca novelnya. pun belom sempat liat filmnya. duuuh, ketinggalan jaman nih.

  2. saya belum pernah baca dan nonton

    pertama, tidak ada manusia yang mampu berbuat ikhlas, karena sesungguhnya ikhlas itu adalah pemberian, bukan muncul dari dalam hati manusia, setidaknya itu yang saya dapatkan dari wacana thoriqoh!

    saya jadi bertanya, apa hakikat itu bisa divisualisasikan lewat film? maaf jika saya salah.

  3. Sepakat !!! :)

    salam kenal ^_^

  4. @PUDAKONLINE

    emangiklhas itu apa ya? :-?

  5. memang luar biasa film ini!

  6. Isnuansa…sama kok, saya juga ga baca novelnya dan belum nonton filmnya…kalau nggak sempat nanti tunggu VCD nya aja.

    Btw, setiap orang mempunyai pandangan berbeda dan hal ini wajar. Bahkan kadang satu jenis film atau novel, bisa menimbulkan interpretasi yang beragam…bukankah ini yang diperlukan…adanya perbedaan pandangan, perdebatan, membuat kita makin kaya….asal kita melihat perdebatan itu adalah untuk menambah wawasan, bukan kok untuk asal mau menang sendiri…
    Bagus ya Edo…..mudah2an masih sempat nonton nih….

  7. #isnuansa : hehehhe.. sisihkan lah waktu sedikit disela kegiatannya, mba is. masalahnya vcd yang ada dipasaran bajakannya berdasarkan info yang saya terima adalah vcd yang dikeluarkan sebelum filmnya keluar dan disempurnakan. jadi bisa merusak alur ceritanya.
    salah kenal mba is :)

    #pudak : hehehe.. mas pudak, saya mohon maaf. saya masih sangat awam sebenarnya tentang ini. pemahaman saya jelas sangat terbatas, dan jauh dari pengetahuan mas pudak. Jika tidak keberatan, mari berbagi.

    kutipan itu sebenarnya bukan kutipan saya. tapi kutipan sahabat saya. tentang ikhlas itu sifatnya adalah given dari Tuhan, wah, dimata saya semua yang kita punya toh sifatnya hanya titipan atau pemberian sementara. hanya saja, Tuhan begitu baiknya kepada kita, karena kita diberikan sesuatu yang tidak dia berikan pada makhluk ciptaan-Nya yang lain : alat ukur bernama hati, indra dan otak. dimata saya, kita diberi hak oleh Tuhan untuk banyak bertanya dan mempertanyakan.

    hakikat? saya sebenarnya juga tidak faham-faham benar apa bedanya syariat, hakikat dan ma’rifat. kenapa saya lalu sepakat dengan teman saya?

    saya melihat film ini bicara nilai. sebagai contoh, adegan Aisha bilang “ada sisi-sisi muslimah didalam diri Maria”, secara syariat, jelas Maria seorang Kristiani. Dia harus ber-kalimah syahadat untuk menjadi Muslim. Tapi, toh sejauh sepegetahuan saya Islam ada untuk semua ummat. Ada lebih banyak ayat yang berkata “wahai ummat manusia” dibandingkan “wahai orang-orang yang beriman”. dan difilm itu diceritakan betapa prilaku Maria justru mencerminkan ciri-ciri kemaslahatan dan kebaikan. Maria memang tidak beragama Islam. Tapi prilakunya menunjukkan nilai-nilai yang diajarkan Islam.

    Difilm ini justru saya melihat betapa agama yang saya yakini sampai saat ini benar-benar agama yang mulia. Agama bagi semua orang. Agama yagn membawa keselamatan, damai. Islam menghormati perbedaan. Kejadian di kereta ketika Aisha memberikan bangkunya bagi ibu-ibu yang notabene “kafir” menunjukkan bagaimana Islam menghormati orang lain.

    Mungkin ini yang saya fahami sebagai hakikat mas pudak. Sesuatu yang hakiki. Dan ini membuat keyakinan saya semakin kental mengenai keyakinan yang saya anut hingga saat ini. Saya fikir, orang-orang seperti saya adalah potret mayoritas orang muslim yang banyak tidak mengerti apa-apa, karena ke-islam-an saya juga given, sejak saya lahir karena lahir dari orang tua muslim. Tidak seperti orang-orang dijalan Rasulullah atau Nabi Ibrahim yang benar-benar mencari siapa Tuhannya. Pikiran bodoh saya berkata, justru diperlukan bahasa-bahasa yang “kami” mengerti agar kami mengenal keyakinan kami. seperti itulah seharusnya pendakwah, kiai, ustadz berbahasa. agar kami tidak semakin jauh, tapi justru semakin dekat. makanya kadang saya berfikir, strategi dakwah paling tokcer salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Hollywood. Toh terbukti, kita lebih mencintai film-film hollywood daripada film kita sendiri :)

    but as i say mas pudak, saya hanya orang biasa yang bukan ahli dibidang ini. Akan menyenangkan jika mas pudak mau berbagi. Siapa tau ada nilai-nilai yang salah dari pemahaman saya. mohon masukan…

  8. #mitra : salah kenal juga mitra…

    #dave : pertanyaannya buat pudak kan yah? hehehe… salam kenal dave

    #det : begitulah pemahaman saya..

    #edratna : setuju ibu. perbedaan ini toh pada prinsipnya bukan untuk memperbesar jarak. tapi justru menjadi kita hidup. kalau mengacu pada pepatah “saya berfikir maka saya hidup”, maka toh sebenarnya perbedaan itulah yang membuat kita hidup bukan? karena perbedaan yang membuat kita berfikir.
    seperti tulisan saya sebelumnya tentang perspektif, toh ini hanya bicara perspektif :)
    iya bu. sekalian refreshing tho? asik kok kl kata saya mah heheheh

  9. film aac bagus juga meskipun novelnya kental akan ekspresi narsisme dan egomaniacal dari penulisnya yang dikemas dalam eksibisme kesalehan dan kealiman. Menurut gua cerita di novel aac merupakan dakwah islami sekaligus keinginan bawah sadar dari penulisnya untuk dipuja-puja. digila-gilai , dipuja2kaum wanita. Sebuah obsesi yang tidak mencapai kenyataan, akhirnya diproyeksikan dalam bentuk novel. Mungkin penulisnya pengen banget jadi nabi Yusuf. Dipenjara, difitnah, jago ngaji,ganteng, sholeh, alim dan dikejar-kejar cewe-cewe. Mantaaap hehehe

  10. #zabogar : hasil harya kan memang hak mutlak yang membuatnya untuk berekspreso, sama halnya hak sang penikmat untuk berinterpretasi:)

  11. mengenai tulisan:
    coba dengarkan ilustrasi musik film aac di menit : 17, 37, 56.
    ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film karya sutradara yahudi steven spielberg :schindler list (film yang dilarang diputar di Indonesia oleh pemerintah tahun 97-an karena berisi kampanye zionisme dan ditolak umat islam). Song theme schindler list sama persis dengan ilustrasi musik yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler list music” atau
    di. http://www.youtube.com/watch?v=aX2qP3gP_Vs dan http://www.youtube.com/watch?v.....re=related musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak Perlman yang diperuntukan untuk kampanye zionisme internasional . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???

    tanggapan saya:
    benar, kalau kita perhatikan dengan seksama ada musik yahudi di film itu. saya udah cek di youtube. dan saya sudah nonton film schindler list dengan lengkap.film itu sangat jewish sekali. ada kesamaan dalam ilustrasi musiknya.kalau film aac sampai diketahui orang2 jewish, mereka pasti sangat bangga, betapa film islam yang ditonton oleh 3 juta (konon) orang menggunakan musik spiritual mereka.

    kalo memang harus ada plagiat musik dalam film itu, kenapa yang dipilih lagu yahudi? kalo memang harus ada lagu yahudi di film itu kenapa harus dipilih lagu SPIRITUAL yahudi? kan banyak musik2 lainnya yang ngga provokatif yang bisa dibajak dan diplagiat. kalo memang harus ada ilustrasi film lain yang disisipi aac kenapa harus film schindler list? ?. pensisipan ilustrasi musik yahudi dalam aac saya yakin bukan unsur ketidaksengajaan. ada hidden massage, ada pesan tersembunyi, ada komunikasi konspiratif.film schindler list memang awam dikalangan masyarakat indonesia, karena film itu memang dilarang oleh MUI dan pemerintah indonesia. tapi dikalangan sineas? film itu bukan sesuatu yang asing.

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>