nasib orang pintar nan idealis

Edo on March 18th, 2008

Cerita berikut ini adalah cerita nyata. Sengaja disamarkan untuk tidak menyinggung institusi atau pihak/orang tertentu. Saya menuliskan ini agar dapat melihat perspektif lain dari pembaca blog ini, lain tidak. Siapa tau masukan dari rekan-rekan semua bisa membantu.

“Et, mau konsultasi dong. Gue pengen coba cara lain nih. Gw inget lu kan pernah cerita tentang building the community. Kayaknya gw pengen coba ngerjain itu deh di kantor gw. Siapa tau ini bisa jadi jalan keluar dari berbagai cara yang telah mentok gw jalanin. Tapi gw ngga tau gimana memulainya. Lu ada waktu kapan?”

“Heh? yang bener aja lu?”

“Gw serius nih bro. Gw udah mentok abis. Kemaren pas gw bilang mo balik ke LN lu bilang gw kayak tentara kalah perang. Nyari-nyari alasan atas ketidakmampuan gw. Gw pengen coba cara lain nih. Lu bantuin gw yah?”

Saya terbengong-bengong ketika menerima telepon dari seorang sahabat sore ini. Sebut saja Udin. Seorang sahabat yang pintar, lulus dengan predikat cum laude dari salah sati institut terbaik di negeri ini, bekerja di sebuah lembaga riset yang berisikan banyak orang pinter, melanjutkan S2 ekonomi di UI, dan akhirnya mendapatkan beasiswa S2 juga di kampus negeri terbaik di negeri matahari terbit, lulus sebagai Doktor dengan beasiswa yang diupayakan oleh profesor pembimbing S2-nya, karena sang profesor sangat takjub dengan kepintarannya. Tidak hanya pintar secara studi, Udin juga jago berorganisasi. Plus sangat taat beragama. Ketika orang-orang dikantornya berupaya sedemikian rupa untuk mendapatkan kesempatan jalan keluar negeri, Udin tidak henti-hentinya mendapatkan undangan untuk mendukung riset tertentu dari mitra lembaga tempat dia bekerja, dan terkadang juga diminta untuk mempresentasikan hasil pemikirannya di seminar-seminar berskala internasional. Pendek cerita, seperti bentuk lain dari figur Fahri di Fim Ayat-Ayat Cinta.

Kami sering berdiskusi. Biasanya bertiga, dengan seorang temanku yang lain, seorang psikolog, spesialis dibidang SDM dan pendidikan. Sebut saja ia bernama Asep. Jika Udin datang waktu masih kuliah di Jepang, ataupun ketika dia kembali dari sebuah riset dinegara tertentu, dia sering mengundang saya dan Asep untuk sekedar ngobrol ngalur ngidul. Temanya biasanya berkisar atas 3 hal : Agama, Nasionalisme, dan Budaya. Urusan pertama saya biasanya cuma sering jadi pendengar yang baik. Maklum, saya paling bego urusan satu ini. Dimata saya Udin dan Asep ini sudah dalam kategori Ustadz, pendakwah. Hidup mereka benar-benar berujung atas amanah Tuhan kepada manusia di muka bumi. Rahmatan lil alamin. 2 tema berikutnya, kadang saya ikut urun rembug. Bukan karena apa-apa. Karena saya yang dari kecil hidup di negara ini, dan ngga pernah kemana-mana hehehhe… Dan dari urusan umurpun, saya ngga ada apa-apanya. Saya memang paling muda. Mereka, yang satu berumur 39 tahun, yang satunya lagi berumur 43 tahun. So, saya relatif lebih banyak belajar dari mereka. Takjub, ternyata masih cukup banyak orang-orang pintar yang idealis di republik ini.

Sebagai orang yang sudah banyak melihat pola kehidupan dan budaya yang berlaku di negara orang, Udin memang banyak menggali pengalaman. Dan ketika studinya selesai di negeri orang dan kembali ke Indonesia, cukup banyak jetlag yang dia alami. Bagaimana tidak. Di Jepang dia sangat terbiasa disiplin, tepat waktu, meeting selalu datang 30 menit lebih awal, sampah terbiasa dibuang ditempatnya, menyeberang selalu ditempat yang semestinya, dan banyak hal lagi. Sampai sekarang dia tetap konsisten. Jika dia tidak menemukan tempat sampah, dia mengantonginya. Dia rela harus berjalan jauh menuju jembatan penyebrangan atau trotoar untuk menyebrang. Dia tetap datang 30 menit sebelum meeting meskipun mitranya datang 1 jam setelah waktu yang disepakati. Ini masih dalam hal yang sepele. Apalagi terkait soal korupsi dan budaya buruk lainnya. Sangat anti.

Lama-lama, sepertinya Udin bete sendiri. Pengalaman hidupnya selama 8 tahun di negeri orang plus beberapa tahun berkeliling dunia membuat dia heran dengan budaya masyarakat di negeri ini. Dan belakangan, topik ini menjadi mendominasi diskusi-diskusi kami.

Saya cuma bisa bilang, welcome to our country, my friend :)

Ya. Udin memang memutuskan untuk kembali dan mengabdi di Indonesia, di institusi riset tempat dia bekerja. Dari awalpun dia tau resikonya. Meninggalkan negeri orang dimana dia bisa memiliki penghasilan sampai 40 juta perbulan untuk kembali ke Indonesia dengan gaji pokok 2.1 juta sebagai pegawai negeri. Gila memang. Dan sejak dia balik, bahkan waktu masih dipesawat dari narita ke jakarta dan bertemu beberapa temannya, teman-temannya hampir semua “goblok-goblokin” dia.

“Ngapain lu balik? orang pada setengah mati bisa kerja disini lu malah balik”

“jangan balik deh din. sia-sia. Ilmu lu ngga bakal kepake”

“gila lu. Mau-maunya ninggalin kerjaan dengan gaji puluhan juta buat balik sebagai doktor yang digaji 2 juta doang”.

Mulailah stressing yang dia hadapi.

Dan masuklah Udin ke kultur Indonesia. Yang harus menyisakan sekian persen angka dari nilai penelitian dia untuk orang-orang tertentu, sampai berurusan dengan orang-orang yang apatis dengan semangat dia untuk menyatukan korps dan memajukan korpsnya.

“Din, Orang pinter yang idealis balik ke Indonesia outputnya cuma 2 : kalo ngga stress karena kultur yang luar biasa aneh lalu ngga kuat dan balik keluar negeri, seperti tentara kalah perang, atau menjadi sangat tidak idealis, lebih kapitalis daripada kapitalis yang ada disini”. Itu komentar Asep kepada Udin beberapa minggu lalu ketika Udin curhat tentang situasi kantornya. Tidak satupun orang dikantornya yang mau membantunya. Semua setuju dengan rencananya, tapi tidak satupun yang percaya rencana itu akan jalan. semua apatis.

Waktu itu, saya cuma memberikan beberapa saran padanya :

1. Lupakan kultur bagus dinegeri orang. Buang dulu. berbaur lah. Pahami kultur dinegara ini. pahami bagaimana bisa masuk ke area pikiran orang-orang direpublik ini. Pahami kebutuhan mereka, keinginan mereka. Baru, setelah itu jadikan pengalaman di negeri orang itu sebagai pembanding. jangan sebaliknya. Karena kalau parameter hidup dinegeri orang yang dijadikan patokan, maka yang ada cuma keluhan dan caci makian.

2. Kurangi untuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Negeri ini dengan negeri lain. Cobalah untuk mencari sedikit sisi baik dari berjuta sisi buruk dari negeri ini. Toh, membandingkan dengan sebuah kebaikan yang luar biasa, tapi akibatnya tidak mampu melakukan perubahan apapun, tetap saja tidak ada gunanya. Lebih mending mencoba memahami, lalumelakukan sedikit perubahan, meskipun dimana kita perubahan itu tidak ada artinya. But its more better than.

3. Tidak ada salahnya keluar dari arena. Lalu lakukan sesuatu diluar sana, sampai orang di dalam lingkaran ini melihat. Ibarat seorang penendang bola. Tendanglah bola idealisme itu tinggi-tinggi, sampai nanti orang melihatnya, dan orang akan mencari, siapa penendang bola itu. Asep, teman saya yang sering menjadi konsultan di pemerintah mengiyakan pendapat saya. Dia bilang, susah sekali untuk membawa konsep bagus kedalam pemerintah. Dia lebih cenderung menerapkan konsep bagusnya di sebuah institusi pendidikan, lalu program itu berjalan bagus, lalu pemerintah melihatnya, dan mencari siapa pembuatnya, dan membantu serta menerapkannya. terkadang, mereka “mengaku-aku” bahwa itu adalah produk mereka. Biarkan saja. Iklaskan. Jika niatnya memang untuk memperbaiki sesuatu, biarkan saja mereka bergaya dengan konsep yang sebenarnya bukan mereka hasilkan. Toh, sebenarnya kalau mereka sadar, mereka akan kelabakan sendiri. karena yang mereka ketahui cuma kulit, tidak sampai ke akar-akarnya.

tapi, terkait “keluar dari arena” ini, harus benar-benar didasari oleh sebuah kesadaran, bahwa kita keluar benar-benar untuk menciptakan gaung, bukan karena sebenarnya kita kalah perang di dalam negeri, dan pergi keluar sana.

4. Saya waktu itu juga berpendapat, jangan-jangan Udin tengah terkena penyakit “sindrom kemapanan”. bagaimana tidak. Dinegeri orang dia dihormati, dihargai. Disini, dia cuma orang yang dianggap aneh. Prilaku ini jelas tidak cocok ketika kita bicara soal idealisme. Saya fikir semua kita tahu, idealisme itu berbanding lurus dengan “penderitaan”. Penderitaan dalam proses.

Terakhir, dia akhirnya tidak jadi kembali keluar negeri.

nah, tiba-tiba dia menelepon saya, kemaren. Dia ingin mencoba untuk memahami kultur apa yang terjadi di institusinya, ingin mengajak orang-orang di institusi tersebut “curhat”, berbagi, agar dia paham apa yang ada dikepala mereka. makanya dia puny ide untuk membuat sebuah portal komunitas, dan dia ingin berdiskusi dengan saya soal ini.

Sampai tulisan ini saya tulis, terus terang saya masih bingung. Jujur, saya belum punya ide. Bagaimana membangun komunitas di sebuah lembaga pemerintahan, yang isinya orang-orang apatis dan pintar (terkadang, berurusan dengan orang pintar ini jauh lebih sulit)?. bagaimana caranya? apa strategi komunikasi berhadapan dengan budaya yang sudah kadung membatu seperti ini? Jika alasannya memang adalah soal perut, sehingga mereka cenderung “mroyek” diluaran, menjual keahlian mereka ke Industri daripada menjalankan tanggungjawab sebagai pegawai negeri, bagaimana caranya agar bisa menyatukan mereka, lalu bekerja atas nama institusinya sendiri, dan sebagian dari keuntungan tersebut dibagi bersama? bukankah itu akan lebih menarik?

Sungguh. Saya ingin sekali membantu Udin. Sayang sekali. Orang pintar, punya idealisme, bekerja di lembaga pemerintah, dengan gaji 2 jutaan sebagai doktor, tidak mau terima uang-uang tidak jelas, meninggalkan kesempatan riset diluar negeri yang berani menghargai dia lebih baik, meninggalkan tawaran kerja dengan gaji puluhan juta di luar negeri, ingin melakukan perubahan demi bangsa, tapi dihadapkan dengan realita yang memberikan dia pada 2 pilihan : kalah perang atau menjual diri dan idealisme. Tidak adakah pilihan ke 3?

So, ada ide?

Popularity: 2% [?]

10 Responses to “nasib orang pintar nan idealis”

  1. Traveling. It gives you home in thousand strange places, then leaves you a stranger in your own land. ( Ibn Battuta )

  2. elu kayak ga pernah ngadepin ratusan pns di malang aja do, :D sama aja temans, hehehe puluhan profesor juga tetep aja kepala batu kalo dibilangin ama lulusan s1 yang ijasahnya ga diambil ambil, hihihihihi.. eh ijasah lu udah diambil blom?

  3. #epat : jeru rek :p

    #upika : hush.. dilarang ngomong ijazah. kecuali bisa ngebantuin kekeke

  4. Pilihan ketiga : cari teman sepemikiran, lalu kemudian berjuang bersama-sama.
    .
    Berjuang sendirian itu memang capek :)
    .
    Semoga kang Udin sukses.
    .
    btw; kalau yang dibicarakan adalah LIPI, memang agak sulit. Selevel pak Romi pun akhirnya menyerah juga.
    .
    Selain itu masih ada masalah tentang sosialisasi hasil kerja kita ke masyarakat.
    Saya pernah bincang2 dengan seorang kawan di LIPI, kalaupun mereka dengan segenap kerja keras & idealismenya kemudian menghasilkan sesuatu yang berguna, namun kemudian mereka masih kesulitan untuk menginformasikannya kepada masyarakat.
    Kasihan sekali jadinya.

  5. #sufehmi : heheh… bukan LIPI mas, tapi tetangganya kekeke…
    setuju dengan solusi ke 3 mas. itu juga saya sampaikan. tapi ketika “cara” nya kurang tepat, ternyata bahkan hanya sekedar menemukan “soulmate” perjuangan jadi sulit juga kekekkek

  6. mas, aku ganti nama…(hhohoho) mas aku mw nanya… aku kan berusaha buat jadi orang yang yaaa…terbaiklah, mksdx yaa asal bsa pny banyak teman. cma terkdang yaa namax jga manusia pasti pny salah n orang2 rada ga bisa nerima…gimana ya mas? aku harus gimana? aku kan remaja gt, aku terkadang bingung, hidup aku ini mw aku arahin kemana?
    Tx mas, mohon bantuan..jangan bosen yaa

  7. saya hanya ingin memberi semangat, udin cs bener2 orang yang luar biasa, niat kalian untuk perubahan benar2 briliant, saya mendukung perjuangan idealisme anda di lembaga tsb, saya dan beberapa kawan saya pun sedang memperjuangkan perubahan di masyarakat, yah.. untuk itulah,, mari kita obrak-abrik budaya yang buruk dan memprtahankan budaya yang baik bangsa Indonesia.

  8. Setuju mas Pupuh..!!!

    Kang Udin cs adalah orang-orang yang patut dibudidayakan dan dijadikan sosok masa kini. Saya yakin, sebenarnya di luar sana banyak yang sejalan dengan Kang Udin cs,, tinggal ditemukan saja.

    Mutiara memang sulit didapatkan..
    harus melewati proses yang lama dan tidak mudah untuk menjadikannya kalung mutiara yang indah..

    Artinya, jangan menyerah Kang Udiinn..!!!
    Teteup tawakal..
    Buka mata, buka hati.. Banyak teman-teman yang ingin menjadikan dirinya berarti bagi perubahan yang akan dan yang sedang dilakukanmu.. Perlahan, Kang Udin pasti bakal menemukannya.. Seperti yang dikatakan Kang Fehmi..setelah menemukan, buat ikatan kuat, dan jangan pernah lepas..
    SEMANGAAATT!!!!

    Anyway,, saya saluut banget sama Kang Udin cs!! Teteup SEMANGAT Kang!!
    God Bless You!

    –ehm,,tapi saya akui memang tidak mudah mempertahankan idealisme di tengah dunia yang gila ini.. anyway,,teteup semangat!!

  9. The Secret, 7habits.. patut direkomendasikan saat idealisme mulai luntur.. walau nantinya bakal berawarna lagi.. :)
    oh iya, sama soundtracknya Laskar Pelangi by Nidji!!! hahaha..iya tuh,, saat saya sedih karena realita yang tidak sejalan dengan idealisme saya,, tinggal denger lagu itu.. lalu aku jadi ngerasa lebih tenang aja.. :)

    Anyway, Dreams should be come true,right! ;)

  10. #puguh & centaur26 : hehehe… pesan semangatnya sudah saya sampaikan ke udin mas puguh dan centaur26. thank to visit!

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>