Hidup adalah sebuah hukum sebab akibat. Sesederhana itulah hidup. Adanya asap akan selalu dianggap sebagai akibat dari adanya api. Permasalahannya adalah, ketika perdebatan kembali pada sebuah perdebatan klasik : Duluan mana ayam atau telur? Disinilah debat kusir akan berpotensi terjadi.

Ramainya pemberitaan, pro dan kontrak terkait UU ITE dan UU Anti Pornografi yang kembali marak belakangan ini juga tidak lepas dari hukum alam nan sederhana tersebut. Sebuah kontroversi. Sebagian pihak menarik nafas lega dengan adanya UU ini. Senang, akhirnya negara ini punya Undang-Undang yang mengurusi tentang per-IT-an kita. Sebagian lagi akan menganggap ini adalah upaya konyol belaka untuk membelenggu kebebasan berekspresi.

This is life. Dulu, ketika zaman Pak Harto, negara ini hidup dalam belenggu, tidak ada kebebasan pers. UU Pers dan Kementerian Penerangan adalah jeruji yang siap menjerumuskan jika ada pihak-pihak yang mencoba untuk menghadang gerak pemerintah. Lalu lahir zaman reformasi. Kementerian Penerangan dibubarkan. Insan pers berteriak bahagia.

Baikkah hasilnya? Ya dan tidak. Kebebasan pers menyebabkan apa yang selama ini tidak bisa kita dengar, baca dan lihat menjadi transparan. Orang tidak lagi bisa dengan kekuasaannya menutupi kebusukannya. Dan secara alami, media-media tidak jelas, tabloid-tabloid porno, juga tumbuh dengan bebasnya. Ini pulalah yang terjadi terhadap UU anti pornografi. Dan juga UU ITE.

Melihat fenomena ini saya cuma bisa mengacungkan sebanyak-banyaknya jempol yang saya miliki kepada Para Founding Father bangsa ini. Mereka benar-benar orang hebat. mereka mampu merumuskan sesuatu yang bahkan sampai sekarang ini kata-kata itu masih sangat bermakna, yang benar-benar didasari oleh kefahaman luar biasa atas kultur yang telah mengakar di sebuah negara bernama Republik Indonesia. Simak saja kata-kata berikut ini : Kebebasan yang bertanggungjawab, Politik Bebas Aktif, Demokrasi terpimpin, dll. Para Founding Father kita sepertinya benar-benar kenal dengan jati diri bangsa ini yang memang kental dengan musyarawah mufakat, ewuh pakewuh, yang kalau dikasih kebebasan tanpa batas bisa ngawur, yang kalau diberi akses seluas-luasnya justru malah bisa ngga tau diri. kalimat-kalimat diatas adalah cermin bahwa dalam konteks apapun, ada batasan-batasan yang harus dijadikan sebagai patok.

Hari ini, 1 hari pasca diluncurkannya UU ITE, website Depkominfo di hack, tak lama setelah website KPU di hack beberapa waktu yang lalu. 1 hari setelah pakar bernama Roy Suryo memberikan warning (atau mengecam) komunitas hacker dan blogger sebagai pihak yang akan menentang dan mengecam UU ini. 1 hari setelah Pak Menteri Kominfo kita, M.Nuh menyatakan inilah masa dimana kita tidak lagi terisolasi dari percaturan internasional, menyatakan lembaga ID SIRTI akan menjalankan tugas sampingan untuk memblok content-content porno.

Entah apa hubungannya jika website yang di hack itupun berisikan gambar sang pakar yang dimodifikasi. Entah siapa pula yang melakukannya. Tapi apa yang terjadi seakan
sebuah awal perang yang dimulai, sebuah pembuktian. Seperti peristiwa di hajarnya website KPU 4 tahun yang lalu. Dalam bahasa saya, daripada difitnah tapi tidak melakukan, mending sekalian berbuat, supaya tidak menjadi fitnah. Atau kata lainnya, membangunkan harimau tidur.

Apa yang saya sikapi dalam hal ini?

Pertama, marilah kita mengamalkan nilai-nilai yang menjadi akar budaya bangsa ini. Ilmu padi, makin berisi makin menunduk. Rendah hati. Marilah kita, termasuk saya tentunya menjadi orang yang rendah hati. Tidak ada gunanya menyebarkan issue-issue tidak penting yang hanya akan memanaskan situasi. Jangan malah mengamalkan ilmu penjajah, politik adu domba. Ini Indonesia bung, bukan Belanda. So, posisi perang dibalas perang juga tidak perlu terjadi. Its too childish menurut saya

Kedua, Ini adalah hukum konsekwensi. Hukum sebab dan akibat. Ketika kebebasan kita angkat, maka kebebasan itu pulalah yang akan membunuh kita. Sama seperti ketika seorang teman berbicara, kapitalisme akan mati oleh kapitalisme itu sendiri. Maka lagi-lagi, mari kita kembali pada akar budaya. Bahwa bangsa ini memang tidak cocok untuk menerapkan nilai-nilai secara ekstrim, tapi nilai-nilai yang tetap memperhatikan batasa-batasannya.

Ketiga, marilah kita berfikir positif. Mari berbaik sangka. Bahwa ketika pemerintah mengeluarkan UU ITE, itu tidak akan digunakan untuk membunuh dan mengkebiri kebebasan kita di Internet. Dan pemerintah juga harus membuktikan, bahwa benar adanya UU itu tidak akan digunakan untuk melegitimasi kekuasaannya layaknya apa yang terjadi dahulu kala dijaman orde baru. Mari berbaik sangka kepada para blogger, bahwa para blogger adalah komunitas yang beritikan untuk berbagi ilmu, berbagi pengetahuan, yang ingin informasi tersampaikan dengan baik, sebuah media jurnalisme baru yang akan mempercepat proses pencerdasan kita. Mari berbaik sangka pada para hacker, bahwa para hacker adalah sekumpulan orang pintar yang tidak terwadahi aspirasinya, yang sebenarnya jika difasilitasi bisa menjadi kumpulan orang-orang yang mampu membuat content-content local yang berkualitas, software produk dalam negeri, yang akan mengamankan negeri ini dari ketelanjangan informasi yang dinikmati oleh para kapitalis di luar sana yang berfoya-foya dengan informasi yang dia peroleh dari negeri ini, lalu memanfaatkannya untuk berjualan di negeri kita dan menjadikan kita hanya sebagai konsumen belaka.

Sedih rasanya, ketika kita saling bunuh, kucing dan tikus berantam, dan anjing tertawa terbahak bahak menikmati hasil jarahannya ketika anjing dan tikus mati dalam pertarungannya.

Kenapa kita tidak mencoba untuk berendah hati, berbaik sangka, menyadari hukum alam, mamahami budaya kita. Daridapa kita menangkapi hacker-hacker kita karena mengganggu situs pemerintah, ada baiknya pemerintah juga berintrospeksi diri. Lucu bukan, ketika UU ITE dikeluarkan, ternyata institusi yang berkompeten dalam hal ini, depkominfo, websitenya sendiri tidak terjaga dengan baik? Adanya UU ITE menurut saya tidak berarti kita tidak perlu mengamankan website kita. Yang terjadi seharusnya depkominfo sebagai institusi yang paling berkompeten menjalankan mekanisme yang benar di system mereka. So, daripada ditangkapi, kenapa para hacker lokal kita tidak diajak untuk mengamankan system di negeri ini?

Daripada sibuk memblok content porno, kenapa kita tidak mendorong lahirnya content-content local yang berkualitas? Saya jadi ingat omongan Mario Teguh di acara Business Art pada hari Kamis minggu lalu. Saat ini Pak Mario Teguh bilang :

“Daripada sibuk memikirkan kekurangan kita, kelemahan kita, lebih baik kita sibuk mempertajam kelebihan dan keunggulan kita”

Ini bukan berarti kita tidak perlu meminimalisir akses terhadap content-content yang tidak benar. Jelas tetap perlu. Tapi ini masalah mind set. Membangun adalah mind set positif. Menutup adalah mind set negatif. Ini pendapat saya. Kenapa kita begitu sulit untuk berpositive thinking?
Andai saja para Founding Father bangsa ini masih ada….

Andai orang-orang sekualitas mereka ada saat ini…

Popularity: 4% [?]

9 Responses to “Andai saja para pendiri bangsa Ini masih ada..”

  1. Pasti gara-gara postingan lu ini semuanya jadi tambah rame :-P

    pokokmen awakmu do! hahahaha

  2. #epat : nanti kita klarifikasi di padang mahsyar ya pe :)

  3. Andai saja para pendiri bangsa kita masih ada, tentu mereka bakal sedih melihat:
    *KBRI KBRI kita di LN berdiri di lokasi elit, padahal di dalam negeri sendiri banyak yang kelaparan dan sengsara hanya untuk dapatin minyak goreng

    *betapa mudah sekali orang orang yang menamakan wakil wakil rakyat itu mengadakan acara penghabisan duit negara dengan dalih “studi banding”, studi banding kok bawa bawa istri segala, SPJ melimpah ruah…..

    *pemerintah kita dengan mudah mengorbankan nasib para peternak unggas demi sebuah MOU dengan perusahaan farmasi pemroduksi obat flu burung,

    *bencana karena kesalahan manusia dengan mudah diklaim sebagai bencana alam*tragedi lapindo*

    dunia sudah edann…………

  4. #sita : hehehe.. wellcome to our beloved country. tapi belum berfikir untuk ganti warga negara kan? :)
    yah, bagaimanapun juga, kita tetap harus fokus pada solusinya. inilah republik katanya indonesia. tapi disinilah kita hidup saat ini. dengan segala kapasitas yagn kita miliki, saya fikir akan lebih baik kita memfokuskan energi kita untuk terlibat dalam memberesi sampahnya. daripada cuma jadi bagian dari sampah itu sendiri :)

    anyway, salam kenal sita..

  5. seng nggarai rame iku lak lambene roy suryo .,, apa maksudnya tunggu aksi saya?ngomong ngono?ancen iso tah ndoleki sopo seng ngehack?

    basically seh emang energi positif harus dipelihara dan prasangka positif adalah sah-sah saja kok.
    Asal om roy bisa menjaga apa yang diomongkannya aja,kok iso nyalahno blogger lho :))hahahahha

    Jarene pakar tapi kok maen ancem2an nang media,bener kasus KPU ndhisik karena koar webnya udah secure(nyombong) akhire jebol juga.
    Saya berbicara di luar lingkup orang-orang dunia IT jadi tidak ada kepetnigan saya dengan UU ITE tersebut, saya cuma orang yang kebetulan punya blog saja (blogger)dan mencari ilmu juga dari blog2 orang.

    salam damai

  6. # rendra : kekekkeke.. no comment ah. males. ngabisin energi ren. ngapain juga diladenin, ntar malah tambah ngetop kekekek…
    mending mencoba menyampaikan hal yang bermanfaat, daripada mumet mikirin statement yang tidak bermanfaat :)
    btw, lumayan tapi ren, buat refreshing kekekkekeke

  7. heheh
    Daripada sibuk memblok content porno, kenapa kita tidak mendorong lahirnya content-content local yang berkualitas? Saya jadi ingat omongan Mario Teguh di acara Business Art pada hari Kamis minggu lalu.


    ya ini perilaku sebagian besar internetter indonesia, prinsipnya daripada sibuk melahirkan content lokal, lebih baik sibuk liat liat content porno apalagi sekarang ada penyedia content indonesia girl only ya tau sendirilah mas di mana tempatnya, ya itu sudah mindset (mindset apa si artinya), seperti perang candu saja saya pikir …. orang kita terus menerus dicekoki kenikmatan maya akibatnya kreatifitas menjadi sempit, wawasan mendangkal sehingga akibatnya seperti ini, ada peraturan yg mau mengatur porno pornoan di internet indonesia tapi reaksi yang ada malah negatif saya malah berpikir nanti kalo porno porno ini semakin merajalela bisa bisa ada pasukan berani mati demi pornograpi, ato front pembela pornographi. Sekarang yg ditunggu ya aksinya pak nuh, aksinya para admin, aksinya om tjokro, aksinya chachak

    weleh padahal duluna juga kolektor ulung nih … kekekeek tapi ya orang harus berubah ke arah positif

  8. #pemulung : eh, jangan bongkar rahasia dong. mau mas nya ngendon dipenjara gara-gara koleksi :)
    pa kabar jerman nih? heheheh
    jangan lupa pulang kl dh kelar yah :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Blokir Content Porno Bukan Soal Mindset « Tukang Ketik 2.0

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>