alkisah : pengadilan akhir masa

Edo on April 3rd, 2008

Alkisah, ketika bumi sudah kiamat, kehidupan berakhir, dan proses keadilan yang seadil-adilnya dijalankan. Terjadilah sebuah proses peradilan yang melihatkan seorang pakar keilmuan (PI), jurnalis/wartawan (J), pemilik bisnis media (PM), dan Rakyat Jelata (RJ). Keempat orang ini dihisab oleh Sang Maha Adil, Sang Maha Esa (SME).

SME : Hai pakar, tahukah engkau, sebagai makhluk mulia yang Ku ciptakan, yang pintar, cerdas. Tahukah engkau, bahwa engkau mengemban amanat layaknya amanat yang kulimpahkan kepada para nabi dan rasul untuk menyampaikan kebenaran, seperti tugas para Da’i, para Uztadz. Tahukah engkau, jika apa yang kau sampaikan tidak benar, dan itu diikuti oleh umat manusia yang mendengarkannya, lalu mereka berbuat dosa, maka dosa seluruh umat yang mendengarkan dan mengamalkan apa yang kau sampaikan, maka dosanya kau ikut menanggungnya? Tahukah engkau bahwa saat ini engkau Aku hisab, dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kau sampaikan?

PI : (dengan berkeringan dingin, sang pakar bicara ) : Wahai Sang Maha Tahu, Engkau kan melihat sendiri, saya adalah orang yang menyampaikan. Saya menyampaikan apa yang dibutuhkan oleh rakyat jelata. Saya hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh para wartawan kepada saya. Merekalah yang bermain wahai Tuhan. Mereka memelintir omongan saya. Mereka sendiri yang bertanya pertanyaan-pertanyaan yang menjebak dan aku hanya menjawab. Pertanyaan mereka memang semua negatif, makanya saya jawab negatif pula.

Dan lagi ya Tuhan, memang seperti itulah jawaban yang diinginkan rakyat jelata. Mereka tidak ingin saya jawab yang biasa-biasa saja. Tidak menarik bagi mereka. Dan mereka seperti itu karena ulah media ya Tuhan. Media telah mencekoki mereka dengan infortainment, berita-berita yang kontroversial. Berita-berita yang mendekatkan diri pada fitnah. Bereka yang tak peduli lagi pada kebenaran, bukan aku ya Tuhan. Saya hanya korban ya Tuhan…

Tuhan lalu beralih kepada sang wartawan.

SME : Hai jurnalis, tahukan engkau bahwa tugasmu itu layaknya para sahabat-sahabat nabi yang menuliskan kata-kata sang nabi, para pembawa pesan, yang menyampaikan pesan itu pada umat manusia. Tahukan engkau jika berita yang engkau kabarkan itu tidak adil, tidak benar, dan membuat apa yang kau sampaikan diikuti dan di-iya-kan oleh umat manusia, maka engkaupun akan menanggung akibatnya?

Dan kau dengan sendiri tadi ucapan sang pakar. Ini hanya ulah kalian para pekerja media

J : Tidak benar itu Tuhan. Dia berbohong. Dia yang setiap saat mengirimkan SMS kepada saya untuk meliput kegiatan dia. Bukan keinginan kami. Dia yang gila popularitas. Kamipun aslinya muak ya Tuhan. Tapi kami tidak punya pilihan. Rakyat jelata menginginkan dia. Hanya dia yang dianggap quotable oleh rakyat jelata. Rakyat jelata yang salah.

Dan tentang kenapa kami lebih mencari berita seperti itu, karena kami dituntut oleh atasan kami Ya Sang Maha Mengetahui. Atasan kamipun ditekan oleh pemilik perusahaan ini. Mereka perlu mengejar oplah Tuhan. Jika kami tidak mampu menghasilkan berita yang menjual, maka nasib kami akan teraniaya. Kami akan dipecat. Akan kami beri makan apa anak-anak kami?

Bagaimana kami bisa memberitakan yang benar jika kami ditekan seperti itu? Engkau tahu berapa rupiah yang kami terima untuk tanggungjawab yang sebesar ini ya Tuhan. Engkau Tahu. Saya ini hanya korban ya Tuhan…

Dan Tuhanpun lalu beralih pada sang pemilik media.

SME : Hai Pemilik Media. Apa yang Ku sampaikan kepada mereka berdua sebelumnya berlaku juga padamu. Bahkan lebih dahsyat. Kamu yang mengendalikan ini semua. Kamu yang menyebabkan ini ada. Sadarkah engkau?

PM : Wahai Tuhan. Aku ini berniat baik. Aku ingin rakyat jelata ini menjadi pintar. Makanya ku fasilitasi sebuah wadah agar rakyat jelata mendapatkan informasi. Dan Engkau pasti tahu Tuhan. Ada berapa banyak orang yang ku pekerjakan. Mereka hidup atas jerih payahku Tuhan, atas kebaikan dan kepedulianku. Naif sekali omongan para wartawan tadi. Jika mereka memang menganggap gaji yang mereka terima kecil, aku toh tidak memaksa. Mereka yang mengemis-ngemis datang ke kantorku memohon pekerjaan. Mereka tahu konsekwensinya. Jika mereka memang tidak merasa layak, mereka bisa mencari ditempat lain.

Saya hanya memfasilitasi ya Tuhan Yang Maha Besar. Para wartawan itulah yang mencari berita. Mereka yang mengabarkan. Aku tidak mungkin mengawasi semua. Aku telah diperalat oleh mereka ya Tuhan. Kebaikanku telah dibalas dengan air tuba. Ini fitnah wahai Tuhan!.

Dan omongan si pakar tadi sangat naif. Dia bukan siapa-siapa sebelum kami mengangkat mereka. Publikasi kamilah yang membesarkan dia. Sekarang dia menjelek-jelekkan ku. Dia lupa diri. Dialah yang salah Tuhan. Dialah sang sumber informasi. Kami hanya memfasilitasi. Dialah yang lupa diri karena hanyut dalam popularitasnya. Dialah yang paling salah ya Tuhan!

Aku ingin memberitakan yang baik-baik ya Tuhan. Tapi ketika aku memberitakan yang baik, rakyat jelata tidak mau baca. Tidak mau dengar. Tidak mau lihat. Sementara aku harus menghidupi sekian banyak orang. Saya hanya orang baik yang jadi korban ya Tuhan. Rakyat Jelata lah yang salah.

Semua mata lalu menunjuk pada rakyat jelata. Semua tangan tertuju padanya.

Rakyat jelata hanya terdiam. Bingung. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka.

SME : Wahai manusia. Ini adalah pengadilanKu. Pengadilan seadil-adilnya. Oleh Aku, yang menciptakan kalian semua. Betapa menyedihkannya kalian, bahkan kepada-Ku, yang menciptakan kalian, yang kalian bilang sebagai Sang Maha Tahu, Sang Maha Kuasa, Sang Maha segalanya. Dan kalian masih ingin memutarbalikkan fakta dan membohongiku?

Dan pengadilan Tuhan pun berjalan…

Popularity: 4% [?]

7 Responses to “alkisah : pengadilan akhir masa”

  1. Keliatan banget dari jawaban PI, dia bukan PI yg sebenarnya, dia cuman PI gadungan, PI yg gak kredibel. So, yg dihukum seharusnya adalah para PI yg sebenarnya, yg asli, yg kredibel, mengapa semua informasi salah dibiarkan beredar begitu saja tanpa koreksi. :P Ah, jadi Tuhan memang enak! :D

  2. anu..
    om edo..
    anu..
    keknya om edo kenal Tuhan deh. titip pesen donk. Lulusin saya cepetan getu ya..

    hi3x.

    [kabur]

  3. adipati kademanganApril 4th, 2008 at 9:28 am

    SME : menghadap ke rakyat jelata
    “Sekarang apa alasanmu terhadap kalimat lontaran dari orang2 tadi ?”

  4. #bee : hehehe… ada2 aja ente bee.. :p

    #antoub : ok feb. Tuhan ku mah pengasih penyayang. Btw, Tuhan kita sama kan? :)

    #adipati : *masih diem. karena semakin bingung…

  5. owh, jadi nanti seperti itu toh di padang mashar?
    pokokmen ntar apapun pertanyaannya cuman satu jawaban gw, edo Han!
    huehehehehe

  6. Wow berkelana ke masa depan ncih …

  7. #epat : nanti kita klarifikasi ya pe :)

    #ersis : hehhe… lagi menghayal uda..

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>