Idol
first of all, i miss writing
Malam ini, setelah hampir seminggu penuh aku baru pulang jam 2-3 pagi, hari ini aku pulang lebih cepat, jam 12.30 tengah malam. Dari sore aku sudah berniat untuk pulang sebelum mengantuk, melakukan rutinitas jumat malam : mencuci pakaian
Ya, aktifitas ini sudah menjadi rutinitas yang menghibur disela rutinitas kerja. Ucapan ibunda tercinta 23 tahun lalu itu masih terngiang dipikiranku
“Belajarlah untuk mencuci sendiri pakaianmu, setidaknya pakaian dalam. Masak kayak gitu aja ngga bisa. Sambil mandi toh bisa dilakukan. Tidak berat kok. Selama sesuatu itu bisa kamu kerjakan sendiri, kerjakanlah sendiri. Tidak perlu meminta bantuan orang lain. Kelak, ketika kamu sudah punya istri, itu akan sangat bernilai baginya..”
Ibuku, wanita tercantik di keluargaku karena dialah satu-satunya wanita. Karena kami, 6 bersaudara semuanya laki-laki. Mengurusi 6 anak lelakinya yang nakal-nakal, mengurus “rumah gadang” milik leluhur kami, lengkap dengan keluarga besar (karena keluarga nenek dan adik nenekku tinggal disitu) sekaligus membantu bapak mencari nafkah sejak jam 2 pagi, semua dijalani tanpa keluhan. Wanita luar biasa. Guru terbaik yang pernah aku miliki. My Idol. Aku memiliki kecintaan luar biasa pada dunia pendidikan. Dan meski ibuku hanya lulusan SMA, tapi beliau dimataku adalah guru sebenar-benarnya, yang mengajari tanpa mengajari, menyuruh tanpa menyuruh. Hanya memberi teladan. Ketika dunia pendidikan kita sibuk dengan konsep KTSP nya, KBK, Home schooling, dan berbagai istilah keren lainnya, aku sudah mengalaminya dari kecil. jauh sebelum pakar-pakar pendidikan bicara dengan istilah nyelimetnya. Tanpa perlu studi banding ke luar negeri. Benar-benar representatif pepatah lama urang awak “Alam takambang jadi guru”. Itulah yang beliau ajarkan.
Kini, aktifitas itu jadi kegiatan refreshingku. Kegiatan yang menyenangkan, tanpa paksaan.
Dimataku, beliau lebih hebat daripada pakar pakar pendidikan yang sekarang ada dan memimpin republik ini, yang mengurusi departemen katanya pendidikan nasional. Lebih jago daripada profesor terbaik di negeri ini. Berlebihan? Terserah. Aku yang merasakan, aku yang menjalani. Jelas terdengar naif jika aku membandingkan ibuku dengan mentri pendidikan yang mengurusi puluhan juta rakyat Indonesia. Tapi bukankah pendidikan terbaik ada dan dimulai dari rumah?
Anyway, aku tidak tengah ingin membahas tentang Indonesian Idol yang sudah dimulai kompetisinya, seperti bahasan tulisanku sebelumnya. Aku tiba-tiba terlintas ingin menulis tentang ini setelah aku menonton film (sambil menunggu rendaman cucianku) salah satu idolaku, Adam Sandler. Film itu berjudul Big Daddy. Ditulisan terpisah aku akan mengulasnya. Tapi satu tema ini ingin ku bahas terpisah.
Film ini bercerita tentang seorang pemuda 30an bernama Sam (Sonny Koufax), seorang pemuda yang divisualisasikan sebgai simbolitas kegagalan : Tidak bertanggungjawab, jorok, berantakan, tidak punya rencana masa depan, hanya bekerja 1 hari dalam seminggu sebagai penjaga pintu tol, tidak pernah dipercaya oleh orangtuanya, pemabuk, pemadat, suka nongkrong di cafe striptease, dan puluhan simbolitas pemuda tanpa masa depan, sampah masyarakat. Suatu ketika, seorang ibu “menitipkan” anaknya (Julian) didepan rumah Sam, dan Sam yang saat itu tengah ditinggal pacarnya mengambilnya.
Dia “melampiaskan kemarahannya” tentang segala hal melalui Julian. Memberontak tentang cara lingkungan terdekat mengajarinya dari dulu hingga sekarang. Dan diapun lalu dihujat. Seiring waktu yang berjalan, kecintaannya terhadap Julian tanpa sadar meninggi. Ketika dinas sosial lalu membawa Julian kepada orang tua angkatnya yang baru, Sam berupaya keras untuk menggambil hak asuhnya.
Dalam sebuah adegan persidangan, ketika semua saksi yang dibawanya tidak sama sekali membantunya untuk mendapatkan hak asuh, dia memanggil dirinya sendiri sebagai saksi, dan meminta ayahnya, orang yang paling tidak mempercayainya sebagai orang yang menanyainya. Dengan bahasanya sendiri, dia mampu menjelaskan bahwa segala wujud “kebencian” yang disampaikan ayahnya adalah bentuk “kecintaan” yang luar biasa. Dan saat itu, semua orang diruangan tersebut menelepon ayah masing-masing.
Lalu ada apa dengan Idol?
Ya. Tiba-tiba timbul pertanyaan difikiranku. “Ada berapa banyak anak yang mengidolakan lingkaran terkecilnya?”. Apa perspektif idol dimata kita? Lebih banyak mana remaja yang mengidolakan Britney Spear, Justin Timberlake, Dewi Persik, Inul, dan banyak tokoh lainnya daripada mengidolakan ayah, ibu, atau kakaknya? Bagaimana dengan acara-acara belakangan ini memberikan “definisi baru” tentang idol?
Wajar sebenarnya ketika anak-anak kecil mengidolakan Doraemon misalnya, atau remaja mengidolakan Delon atau Che Guevera. Akupun begitu. Ketika aku kecil, aku masih ingat aku begitu mengidolakan Gaban, Sariban, Megaloman atau Voltus. Ketika semasa aku SMP Iwan Fals meluncurkan album yang ada lagu tentang Founding Father , Mohammad Hatta, saat itu aku begitu mengidolakan mereka bedua. Begitupulan ketika aku mulai mengidolakan Soekarno ketika aku kuliah, Don Corleone, Bill Gates, dan sebagainya. Hanya saja pertanyaanku : Dimana posisi Ibu, Bapak atau kakak mereka? Kenapa mereka harus mencari “kiblat” begitu jauh? Ada apa dengan peran Ayah ataupun Ibu?
Idol artinya adalah panutan. Sebuah role model. Sebuah impian. Ketika seorang anak mengidolakan penyanyi yang bergoyang seperti orang tengah bersenggama atau tokoh pemberontakpengemar ganja dan sebagainya, dimana posisi orang tua? Buat saya si anak tidak salah. Apa yang dia anut hanya bentuk “pertumbuhan” yang dia alami.
Aku masih ingat obrolan keponakan ku, anak dari kakak tertuaku (idolaku berikutnya) sekitar 10 tahun lalu di beranda rumahnya. Saat itu mereka masih sangat kecil. Jundi, keponakan pertamaku masih berumur 9 tahun. Dia tengah berdiskusi dengan Aisyah (8 tahun) dan Milah (6 tahun). Jundi, bertanya pada adik-adiknya
Jundi : Uni (panggilan mereka untuk Aisyah), nanti kalau mau sudah besar mau jadi apa?
Aisyah : Mau jadi bidan
Jundi : Kenapa?
Aisyah : Biar bisa bantu orang sakit. Biar nanti kalau ummi (panggilan mereka pada ibunya) melahirkan, ummi ngga kesakitan, dan uni bisa membantunya.Kalau kakak?
Jundi : Kakak pengen seperti Abi (panggilan mereka untuk kakakku, ayah mereka). Menjadi bapak yang bertanggungjawab
Di waktu yang lain, ketika lebaran tahun 1999, ketika aku benar-benar sudah mampu menghidupi diriku sendiri aku memberikan uang kepada ponakan-ponakanku itu. Kala itu Jundi masih berumur 10 tahun. Aku bilang padanya
Aku : Kakak, duitnya ditabung ya. Mana tabunganmu?
Jundi : Iya om Ed. Tapi tabungan kakak lagi ngga ada. Dipinjem sama Abi.
Aku : Loh. Kok bisa?
Jundi : Ngga apa apa Om Ed. Kasihan Abi, lagi ngga punya uang. Abi kan udah kerja keras. Toh Abi juga kerja buat kita-kita
Saat itu juga, leherku rasanya tercekat. Tak mampu lagi berkata-kata. Dia tidak berkata-kata seperti itu seperti omongan anak kecil di sinetron yang berkata-kata tanpa nyawa. Atau omongan seorang anak kecil yang hadir di televisi yang disampaikan dengan mata yang kosong. Matanya bicara. Tetap mata seorang anak kecil. Tidak ada kesan “sok dewasa” sedikitpun. Tidak kehilangan energi kanak-kanak yang memang harusnya ada didalam tubuh seorang yang masih berumur 10 tahun.
Entah apa yang dilakukan oleh kakakku sehingga kalimat seperti itu bisa keluar dari seorang anak kecil berumur 10 tahun.
bahkan saat ini, ketika aku menuliskan posting ini, tidak hanya pada waktu mendengarkan obrolan mereka, aku masih merinding dan merasa malu pada mereka…
Kelak, semoga suatu saat nanti, ketika aku memiliki anak, disela semua idola yang akan mereka miliki disetiap rentang umur mereka, aku berharap aku ada di listing idola mereka. Dan ketika mereka besar, mereka tidak hanya menjadi panutan bagi anak-anak mereka, cucu-cucuku nantinya, tapi juga mampu menjadi panutan bagi masyarakat dan negaranya.
(gambar diambil dari : www.allposters.com)
Popularity: 4% [?]
idol idol terbentuk karena pola budaya dan konsumerisme ( pada umumnya ).
beruntung sekali mereka yang memiliki pola pikir idol yang lain. Ayah, kakek, kakak.
Yeah,.saya percaya kamupun bisa menjadi idol bagi merek mereka
…mulailah menjadi idola dari keluargamu Do ..mulailah dari istri-istrimu….
terus kapan rabbi (menikah) nya Do … !!!!
#iman : yup, sepertinya begitu mas. ada kontekstual yang bergeser tentang idol sebagai impact konsumerisme. idol sepertinya bergeser menjadi area-area materialis.
#angus : yuk? would you gus? :p
beruntunglah yang jadi istrimu,
pengen coment banyak nich tentang “mengidolakan” tp nguantuuuukkkkkkkkk besok2 lg dech
#v3 : i hope…