antara cinta, rokok dan karir

Edo on April 21st, 2008

Hari ini aku tergelitik setelah membaca tulisan yang oleh tim dagdigdug dinyatakan sebagai blog pilihan terbaik. Dan ya, menurut saya tulisan ini memang pantas untuk mendapatkan itu.

Tulisan tersebut bercerita tentang keputusan temannya, seorang perokok berat yang akhirnya berhenti total setelah menikah, walaupun sebelumnya sang teman bersikeras bahwa tidak ada yang bisa merubahnya. Juga bercerita tentang keputusan sheva, bintang AC Milan yang menarik omongannya atas kecintaannya pada AC Milan dan akhirnya pindah ke Chelsea dengan alasan keluarga, meskipun sebagai akibat keputusannya itu sinarnya memudar, pundi-pundi uangnya menipis. Diakhir tulisan, penulis menyatakan :

Tak mudah memang mendapatkan cinta yang sempurna… Biasanya selalu ada sisi yang tak menyenangkan untuk dijalani… Terpulang kepada kita untuk mau tetap bersetia demi cinta itu sendiri atau mengubah haluan demi kesenangan saat ini…

Tulisan menarik. Sangat bagus. Dalam. Bermakna. Andai saja saya seorang wanita, pasti saya akan mengimpikan mendapatkan pasangan seperti ini untuk mendampingi hidup saya :). Wanita mana yang tidak akan tersanjung ketika pasangannya mau meninggalkan apapun demi dia dan keluarga?

Namun izinkan saya memberikan perspektif yang mungkin anomali, dan tidak akan disukai oleh para wanita yang membaca blog ini. Tulisan inipun bukan sebuah wujud ketidaksetujuan atas tulisan mas/mbak injury time. Justru saya setuju. Tulisan saya ini hanya sebuah perspektif lain. Tidak lebih.

Salah satu “inside” yang saya tangkap dari tulisan tersebut adalah tentang pentingnya keluarga diatas segalanya. Dalam perspektif tertentu, saya sangat setuju. Saya punya prinsip yang sama tentang hal yang satu ini. No doubt about that.
Namun jujur saja, tulisan itu juga “menyentil” saya. Sebagai orang yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan memang hobi kerja. Tiba-tiba wajah-wajah orang terdekat saya muncul. Dan saya berfikir “apa yang ada dipikiran mereka? Saya egois? Saya tidak peduli dengan mereka dan lebih mempedulikan karir saya?”.

Saya berfikir lamat-lamat. Mendiskusikanya dengan diri sendiri. Men-set kejujuran. Ya. Tanpa kejujuran terhadap diri sendiri, maka solusi yang ditemukan akan palsu. Yang hadir hanyalah ego, excuse, pembenaran atas tindakan. Saya mengembalikannya pada nilai terdalam : nurani.

Menurut pendapat saya, kita tidak bisa membolak balik kesimpulannya secara sakleg. Bahwa keluarga adalah penting, jelas saya setuju. Tapi bahwa orang yang “terlihat” lebih mempedulikan karir berarti tidak atau kurang mencintai keluarganya? Sepertinya tidak bisa dijustifikasi seperti itu. Ini kembali kepada niat dan sebuah pertanyaan mendasar :

“What are you living for?”

Dan pertanyaan “untuk apa dan siapa kamu hidup” tersebut bisa dilanjutkan dengan

“Apa yang kamu cari dalam hidup?”

“Untuk apa dan siapa kamu bekerja?”

“Apa tujuan hidupmu?”

Jika subyek Sheva lalu digantikan dengan Bung Karno dan Bung Hatta misalnya, apa yang akan terjadi? Apakah peristiwa tersebut juga terjadi pada mereka? Apa yang akan terjadi, ketika Bu Fatmawati menginginkan Pak Karno untuk tidak menjadi (karir) presiden karena itu artinya waktu untuk keluarga akan terkuras habis, dan Bung Karno meng-iya-kannya? Akan adakah Republik ini?

Apa yang akan terjadi pada negeri ini ketika Ki Hajar Dewantara yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan untuk republik ini, meninggalkan banyak hal dikeluarganya, tidak menjalankan niat sucinya?

Apa yang terjadi ketika Putera Sampoerna tidak mau membesarkan Sampoerna Group karena mengurusi perusahaan sebesar itu dengan berbagai varian bisnisnya akan menyita waktu untuk keluarganya? Bagaimana nasib ratusan ribu karyawan Sampoerna Group? Berarti pula, tidak akan ada Sampoerna Foundation yang memberikan kontribusi yang tidak kecil terhadap dunia pendidikan kita?

Apa yang akan terjadi ketika Matthew Boulton, seorang insinyur dan pengusaha, orang yang berada dibalik proses industrialisasi penemuan fenomenal James Watt dengan mesin uapnya pada tahun 1775, yang menyebabkan lahirnya revolusi industri dunia, memutuskan untuk tidak menjalankan usahanya yang telah memberikan pencerahan pada sejarah hidup umat manusia, membuka lapangan kerja yang menghidupi jutaan umat manusia; dengan alasan tidak ingin perhatiannya pada keluarga terganggu?
Apa yang akan terjadi jika Muhammad Rasullullah, menolak menerima amanah sebagai “The Messenger of God”, karena waktunya terkuras habis untuk memikirkan nasib ummat dan mengabaikan keluarganya?

Dan pertanyaan berikutnya adalah, apakah benar mereka tidak memprioritaskan keluarganya? Apakah mereka tidak mencintai keluarga, istri dan anak-anaknya?

Saya mengidolakan beberapa tokoh yang saya sebut diatas. Saya juga mengidolakan Don Vito Corleone, tokoh mafia legendaris yang sepak terjangnya dapat kita lihat di film God Father. Kesimpulan saya? Bahkan seorang Don Corleone, seorang mafia yang identik dengan kebengisan, tak berprikemanusiaan, berdarah dingin, dimata saya adalah seorang family-man. Tak percaya? Tonton saja film nya. Sama halnya dengan tulisan saya sebelumnya tentang film Big Daddy, ayah Sam yang sangat “career minded” dan terlihat sangat tidak mempercayai dan mendukung anaknya, ternyata sangat mencintai putranya. Toh, ketika Sam disidang untuk kasus pengasuhan anak dan tuduhan penculikan, dia hadir memberikan dukungan “dengan caranya sendiri”.

So? bahkan seorang mafia kelas kakap pun sangat mencintai keluarganya!.

Lalu, apa kuncinya?

Kuncinya ada pada tujuan hidup, dan niatan dalam menjalankan sesuatu. Karena 2 faktor ini sangat menentukan.

Kenapa misalnya banyak kasus pengusaha kakap yang keluarganya berantakan, broken home, anaknya menjadi pemadat, pengkonsumsi narkoba, dan sebagainya? Atau kasus tokoh publik papan atas, politikus handal, pengacara hebat, dan tokoh-tokoh lainnya yang juga berantakan keluarganya? Apa yang salah pada mereka?

Buat saya, jika saya harus menyampaikan salah dan benar menurut pendapat saya, maka yang salah adalah pada tujuan dan niatnya. Jika tujuannya adalah untuk simbol-simbol kebendaan seperti harta, kekuasaan dan sebagainya, maka waktu akan menjawab dan membalasnya.

Atau, permasalahannya adalah dalam menjaga konsistensi niat baiknya. Bisa saja niatnya baik ketika mengawali, namun “kebablasan” dan tidak terkendali ketika menjalankannya. Ya. Tidak sedikit orang baik yang terpleset karena tidak mampu menjaga konsistensi dan goyah oleh godaan banyak hal.

Dan faktor penting berikutnya adalah keseimbangan. Contoh keseimbangan yang saya sukai adalah : Pasangan hidup itu sendiri.

Saya melihat, hampir semua tokoh besar, didampingin oleh pasangan yang hebat pula. Lihat peran Ibu Fatmawati dalam karir Soekarno. Lihat betapa Pak Harto yang begitu luarbiasa, tiba-tiba goyah dan runtuh pasca meninggalnya Ibu Tien. Terakhir, saya melihat sendiri dengan mata kepala saya betapa besar peran Ibu Krisnina terhadap bangkitnya kembali seorang Akbar Tandjung ke panggung politik. Saya kebetulan dan beruntung mendapatkan kesempatan itu, ketika saya mendapatkan undangan dan menghadiri acara beliau ketika peluncuran website beliau. Dalam sebuah tulisan yang saya baca di website beliau, Bu Nina pernah berkata, dan itu diulang ketika diminta memberikan sambutan acara ulang tahunnya yang bersamaan dengan peluncuran website itu sendiri. Kalimat beliau kira-kira begini :

” Saya adalah istri kedua Bang Akbar. Kecintaannya pada politik dan Indonesia melebihi apapun”

Dan saya melihat, ucapan itu keluar dalam senyum. Ada keikhlasan disitu.

Saya berani bertaruh. Bahwa keluarga tokoh-tokoh besar ini juga tidak merasa kehilangan perhatian ayah mereka. Saya percaya Ibu Megawati, Guruh Soekarno Putra, Ibu Sukmawati dan anak-anak Bung Karno lainnya, atau ibu Meutia Hatta akan berkata :

“Ayah kami adalah seorang Family-Man”

yang jelas, mereka tidak akan bilang ayah mereka arogan sebagaimana komentar Dani Ahmad tentang Bung Karno :)

Intinya? Ada kepercayaan yang luar biasa, dukungan yang tak terhitung nilainya, keikhlasan yang dalam dari seorang istri untuk “diduakan” oleh suaminya, karena percaya, sang suami menjalankan itu untuk sebuah cita-cita mulia. Dan tentu saja, si suami sadar dan tidak mensia-siakan kepercayaan dan dukungan sang istri, dan membalasnya dengan memberikan yang terbaik yang ia miliki.

So?

Semua berpulang pada masing-masing kita. Sayangnya, kadang kita terlalu terlena oleh kata bernama Cinta itu sendiri. Terlalu indah, sehingga bisa memabukkan. Padahal, selama semua diposisikan pada tempatnya, kecintaan pada pekerjaan, kecintaan pada keluarga, dan kecintaan lainnya, memiliki posisi dan porsi yang berbeda.

Saya ingat omongan kakak saya beberapa waktu lalu

” Aneh sebenarnya ketika kurikulum pendidikan di negara ini disusun prosentasenya dengan (misal) 30% teori dan 70% praktek. Seharusnya adalah 100% teori dan 100% praktek”

Mungkin tulisan ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumnya.

Popularity: 6% [?]

12 Responses to “antara cinta, rokok dan karir”

  1. “arogan”nya soekarno menurut dani itu kan konotasinya positif, ntah kenapa kok malah dikomentari sukmawati seperti itu. lha wong dua2nya (baik dani maupun sukmawati) itu “fans”nya soekarno. :D

    so, jadi kapan punya rencana mau-akan berkeluarga ? :P

  2. oh iya, tebakan saya mungkin mbak sukmawati dimintai komentarnya sama wartawan, “menurut mas dani, pak soekarno itu arogan, bagaimana menurut mbak?” kalo hanya ditanya seperti itu, ya nggak salah juga mbak sukmawati mencak-mencak … hehehehe
    jempol deh buat wartawan endonesa :D

  3. #dheche : hehehe.. masalahnya, arogan itu kadung identik dengan label negatif che.. padahal mungkin yang dimaksud “arogan” oleh dani achmad adalah “berwibawa” atau “berkarakter” :). Dani berbicara didepan publik, maka dia harus faham perspektif publik. kl di sisi sukmawati, aku mah percaya dia paham maksud dani hehehe. but, problemnya ketika ini sudah masih diarea publik, dan dia harus meluruskan positioningnya. media emang paling pinter muter2in sesuatu :p

  4. Apa yang terjadi ketika Putera Sampoerna tidak mau membesarkan Sampoerna Group karena mengurusi perusahaan sebesar itu dengan berbagai varian bisnisnya akan menyita waktu untuk keluarganya?

    Saya melihat, hampir semua tokoh besar, didampingin oleh pasangan yang hebat pula. Lihat peran Ibu Fatmawati dalam karir Soekarno. Lihat betapa Pak Harto yang begitu luarbiasa, tiba-tiba goyah dan runtuh pasca meninggalnya Ibu Tien.

    Dua buah statement yang “sekali lagi dalam sudut pandang saya” sangatlah unique. Yang satu terlihat anda begitu antusias utk menjalankan karir/mimpi anda secara one man show, dilain sisi anda berharap pula pasangan anda mendukung anda yang “butuh” pengertian. terlihat anda begitu dominan dalam ke”mauan” sampai2 bermimpi mendapatkan pasangan yang sekilas seperti “the yes wife”. Namun disisi lain anda juga berharap istri anda seperti “yang anda bayangkan” yaitu harus kuat … harus hebat … harus mengerti anda..harus mampu mendukung anda … serasa anda tidak mencari istri tetapi mencari asisten/sekretaris pribadi … hehehehe

  5. #angus :hehehe.. terima kasih atas sudut pandangnya dan perhatiannya mas angus. karena pointnya kepada “saya”, maka izinkan saya buat memaknainya yah? :)

  6. Ketika kita berhasil memperoleh Cinta, maka cinta-cinta yg lain juga akan kita peroleh. Kasihan org2 yg mengejar begitu banyak cinta dgn harapan akan beroleh Cinta. Padahal semua org tau, anak tak akan pernah bisa melahirkan ibunya. ;)

  7. #bee : nice quote, bee :)

  8. cinta? cinta laura maksudnya? :)

  9. #edo: bukan, bukan berwibawa / berkarakter. arogan ya arogan. Indonesia butuh orang arogan. kurang sombong apa soekarno di mata amerika atau malaysia pd saat itu … hehehehe

  10. #dheche : huakakkaka.. iyo che. setubuh. ini cuma masalah kontekstualnya saja. hehehhe…
    btw, pro ahmad dani nih? hihihi

  11. #dheche : huakakkaka.. iyo che. setubuh. ini cuma masalah kontekstualnya saja. hehehhe…
    btw, pro ahmad dani nih? hihihi.
    aku mending pro..cold aja che, jaga-jaga kalau lagi flu hihi

  12. Edo,
    Maaf jika jarang kesini….yang membuat jarang adalah lama sekali membuka situsmu, jika udah bisa, mau menulis komentar juga lambat lagi…padahal saya udah mencoba disaat kondisi jaringan internet lagi nyaman. Mudah2an kali ini berhasil.

    Bagi saya, setiap orang mempunyai pilihan, dan ada risiko atas pilihan tsb. Seperti saya memilih suami menjadi dosen, gajinya sedikit, tapi dia menyenangi baca buku,bisa diajak diskusi, dan wawasannya luas. Dia juga mau menggantikan momong anak disaat saya sibuk. Dan juga mau menerima kekurangan isterinya, yang tak pandai dalam urusan rumah tangga.

    Tapi saya mungkin tak akan menyukai suami yang bergerak dibidang politik, memang menggairahkan, tapi jantungannya lebih tinggi. Jadi pilihan apapun, semua mempunyai pertimbangan sendiri yang tak bisa diperdebatkan. Juga banyak perempuan yang telah belajar sampai perguruan tinggi, tapi memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, ini juga sah-sah aja…saya juga melihat banyak contoh ini disekitar tempat tinggalku. Tapi saya akan menolak pilihan tsb, karena saya termasuk orang yang selalu berpikir tentang risiko. Bagaimana jika suami meninggal muda, dan saya tak punya keahlian apa-apa, sedang anak-anak membutuhkan biaya untuk meneruskan pendidikannya (maklum saya dari keluarga kecil, yang benar-benar telah berpandangan pada konsep keluarga inti, sehingga tak mungkin menggantungkan pada keluarga lain jika terjadi apa-apa)….walau ada juga yang mengatakan, Allah swt akan melindungi.

    Hmm bagi saya pilihan apapun , terserah pada masing-masing orang, justru disinilah indahnya…nahh kalau semua memilih hal sama, nggak seru kan?

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>