Feel Guilty
Saya cengar cengir membaca tulisan Mas Iman tentang perasaan bersalah nya (heheh.. sorry kalau sok tau mas. ini cuma pendapat saya belaka :p) terhadap anaknya Abel. Perasaan telah kehilangan moment dari perjalanan hidup si anak.
Hal pertama yang muncul dipikiran saya ketika membaca tulisan mas iman justru bukan tentang mas Imannya, tapi tentang Abel, anak mas Iman. Gile, jika saya tidak salah, Abel baru kelas 4 SD. Dan anak seumur itu membuat tulisan tentang Ibu Kartini, dengan bahasa Inggris yang sepertinya masih lebih baik daripada saya, lengkap dengan analisanya? Whew.. hehehhe, tiba-tiba ada perasaan malu yang hadir di kepala ini. Bahasa Inggris gw kalah men dari anak mas Iman yang baru kelas 4 SD hiuehiuehiue…
Perasaan berikutnya adalah sebuah fenomena. Ya, inilah generasi berikutnya. Ada sebuah akselerasi luar biasa digenerasi sekarang. Saya tidak akan lagi kaget jika saya dalam sebuah moment “dikalahkan” oleh seorang anak yang umurnya jauh di bawah saya. Ya, siap-siap saja wahai para sesepuh. Generasi telah bergeser cepat :).
Dan perasaan berikutnya, saya membayangkan apa yang ada dipikiran anak saya nanti. Kayaknya dia juga akan komplain ngelihat bapaknya demen banget kerja hehehe…
Kembali ke topik.
Saya jadi ingat, topik ini pernah diangkat di Majalah Swa beberapa waktu lalu. Waktu itu, para eksekutif papan atas kita seperti Emirsyah Satar, Rusdi Kirana, Hermawan Kertajaya dan lain sebagainya ditanya perasaannya tentang bagaimana perasaan mereka kepada keluarga, yang sebagai konsekwensi atas tanggungjawab mereka sering mereka tinggalkan. Ada 1 jawaban yang sama : Merasa Bersalah.
Saya tidak bisa berkomentar tentunya. Pertama, saya belum punya anak :). Kedua, saya juga belum jadi eksekutif. Apalagi papan atas heheheh.. Namun, saya belajar banyak dari cerita-cerita ini. Dalam kenyataannya toh ada yang berhasil mengelola dengan baik, adapula yang gagal.
Ada beberapa nilai yang saya dapat dari beberapa cerita tersebut. Pertama, perasaan bersalah itu adalah bentuk perasaan tanggungjawab. Selama perasaan ini masih hadir, maka itu adalah indikasi bahwa mereka masih menjadi ayah atau ibu yang baik.
Kedua, saya justru sering melihat, ada kebanggaan dari dari anak-anak mereka terhadap orangtua mereka. Ini menunjukkan masih ada komunikasi yang baik diantara mereka.
Ketiga, komentar si mbok venus dan Bu Enny menurut saya sangat menarik
“sepertinya ini problem semua orang. juragan saya juga jarang banget ketemu si precil2. padahal dia kerjanya juga di sini2 aja. lha anak2 berangkat sekolah, juragan blm bangun. juragan pulang kerja (biasanya dini hari), anak2 udah tidur.
you’re not alone, mas iman. and this doesn’t make you a lousy father, anyway. you do what you have to do. lha mau begimana lagi?”
“Mas Iman, percayalah kualitas lebih baik. Disaat mas Iman punya waktu, manfaatkan sebaik-baiknya bersama anak-anak.Jenis kerjaan saya lebih sibuk (sering tugas keluar daerah) dibanding suami, karena sebagai dosen, walau sibuk, suami lebih mudah dicari posisinya setiap saat. Saya pernah merasa bersalah, sampai suatu ketika membaca karangan anak saya….ternyata dia bangga sekali sama ibunya.. “walau ibu sibuk, ibu selalu meluangkan waktu disamping saya”. Oleh karena itu ada hal-hal prinsip yang tak boleh saya langgar, dimanapun saya berada, minimal sekali sehari, saya telepon anak-anak. Memang pulsa jadi membengkak, karena kadang anak dengan semangat cerita tentang sekolahnya…padahal saya lagi ada di Sorong….
Popularity: 2% [?]
Lho! Kok malah komentar saya yang di qoute.
Perasaan bersalah tentu ada, cuma selalu berpikir andai kata terjadi apa-apa, dan saya tak punya uang untuk melanjutkan pendidikan anak-anak, saya akan lebih merasa berdosa. Mungkin juga karena latar belakang yang kedua orang tua bekerja di luar rumah, membuat saya dan adik-adik sejak kecil sangat mandiri…bahkan ingin kuliah jauh, juga karena ingin mandiri. Setelah dewasa pun, selalu ada keinginan tahu lebih banyak.
Kebetulan saya ketemu suami yang siap mendukung, yang mendorong saya terus untuk mengejar karir. Dan saat memutuskan mengambil S2, saya diskusi dulu dengan anak-anak dan suami, justru merekalah yang memompa semangatku. Jadi Edo, memilih isteri atau suami akan sangat menentukan dalam karir kita selanjutnya. Pasangan yang baik, tak hanya meminta namun juga memberi, mendorong pasangannya agar mencapai hal yang membanggakan seluruh keluarga. Suami saya juga bangga lho,saat saya dapat hadiah 25 tahun bekerja, bangga saat tahu saya termasuk “The Big Five” dalam pendidikan Sespibank (pelatihan untuk bankir Indonesia), karena keberhasilan saya juga atas dorongannya.
#edratna : hehhe. maksud saya, komentar ibu perlu didengar banyak orang menurut saya. at least, im agree with that.

saya memandang, keluarga perlu dilihat dalam sebuah pandangan yang utuh. ibaratnya sebuah orkestra, komposisi yang dimainkan oleh keluarga mampu menghasilkan harmoni yang bagus
apa lagi jika hidup dilihat sebagai sebuah kesatuan, dan perlu dimaknai secara utuh.
btw, thank ya bu buat advicenya. perlu nih buat kita yang muda-muda