dosa intelektual

Edo on May 2nd, 2008

Dalam beberada diskusi, termasuk tulisan yang pernah di tulis oleh Pak Dhe, ada sebuah movement bijak saya fikir agar blogger berada dalam posisi yang pas. Menghujat, memaki, dan berbagai aktifitas “serangan” lainnya terhadap orang-orang yang tidak menyampaikan informasi dengan benar dan cenderung salah hanyalah akan membuat positioning blogger dan hacker semakin jelek. Apalagi yang dihadapi adalah orang yang paham betul psikologis komunikasi dan informasi dalam perspektif media dan masyarakat luas. Masalahnya lagi, seperti mas ryo bilang di blognya, beberapa tokoh blogger dan hacker lebih memilih hanya sebagai pengantar informasi dan tidak ingin menjadi celeb. Padahal, masyarakat kita menyenangi selebritas :) . Nah, disinilai dilemanya. Disatu sisi, kita tidak ingin masyarakat mendapatkan informasi yang salah, tapi disatu sisi membiarkan orang yang menyampaikan informasi yang tidak tepat dan tak mampu berbuat apa apa.

Saya hanya berfikir, orang pintar itu punya “dosa intelektual” ketika dia tidak menjalankan amanat dan berkah intelektualnya. Ketika dia hanya diam, maka dia sebenarnya tidak bisa “bersembunyi” atas itu. Ketika kita kadung tahu sesuatu dan tidak menjalankannya, maka itu sebenarnya sebuah bentuk “dosa pasif” :)

Hal ini berlaku juga untuk orang kaya yang tidak memanfaatkan kekayaannya dengan benar, dan orang berkuasa yang justru memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas, atau tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk membantu yang lemah.

Barusan saya baca blog mas DBU, salah satu guru media saya hehehe.. Beliau menulis tentang terminologi hacker dan cracker. So, karena saya kadung tahu, saya tiba-tiba merasa perlu menyebarluaskannya agar semakin banyak yang tahu. So, mas DBU, minta ijin yah saya link disini hehehhe..

Menyebarkan informasi yang benar adalah bentuk elegan untuk melawan penyebar informasi salah. Sehingga harapannya, masyarakat akan semakin tahu mana yang benar mana yang salah. Begitulah petuah Pak Dhe yang saya pahami. Semoga bermanfaat…

11 Responses to “dosa intelektual”

  1. Memberikan kritik membangun memang bagus, dan memberi kritik tetaplah harus ada etikanya, dan kepada siapa kritik itu diberikan, agar kritikan itu sesuai dengan tujuannya.

    Kita memang harus bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat, bahkan memberikan saran pada orang lain, yang kita sendiri sebetulnya merupakan orang yang tak ahli dalam bidang itu, sebaiknya juga dihindari.

  2. Ya ya, setiap elemen, tidak saja intelektual, selayaknya berperan sesuai kapasitasnya. Yang perlu dihindarkan, terjebak pada pemikiran yang benar menurut versi sendiri, tanpa memberi ruang buat lainnya. Siapa yang bisa mencap sesuatu ‘dosa’ atau ‘pahala’? Hanya Allah yang Mahatahu.

  3. tak hanya disitu, batasan antara benar dan salah itu sendiri terkadang sangatlah tipis. Benar menurut kita, bukan pasti, benar versi orang lain. Semuanya terletak dalam pikiran, dan pikiran yang paling bebas, mandiri dan tolerirlah pemenangnya.

  4. Halah, halah… dari dulu gw juga bilang apa! Baca lagi komen2 gw terkait masalah ini. :P Ya ini contoh bukti kalo org Indonesia demen ama yg namanya seleb. Kalo org biasa yg bilang, pasti dipertanyakan dulu, kadang cenderung diabaikan dan gak penting. Tapi apa pun yg dibilang sama seleb, tau2 mendadak dangdut penting. Salah benar gak penting, yg penting itu omongannya seleb. Bukan begitu? :P

  5. Wah, tapi kok Pak Dhe nya sendiri juga menghujat ya. Menuduh petrus, preman, dst.

    Ini seperti orang-orang Islam Liberal yang sebal dengan ekstrimis literalis, tapi kemudian mereka membalasnya dengan hal yang sama juga — penafsiran Quran yang ngawur, misinformasi, penghujatan, bahkan sampai pemfitnahan.

    Postingnya juga kontradiktif, seperti :

    bahwa blog, karena disiarkan terbuka dan bisa dibaca oleh siapa pun, sejatinya adalah media massa juga. Dan …., karena keluasan eksposure dan kekuatan penetrasinya, amat sangat powerful.

    Namun selanjutnya : Hayah, sudah tahu blog tidak dipercaya

    Dan yang jelas melupakan banyak fakta, bahwa RS sendiri adalah salah satu bully paling parah di dunia IT. Priyadi sudah merasakan sendiri. Chusnul Mariyah juga sudah kena batunya — ketika RS dengan seenaknya menyebutkan bahwa sistim KPU berlebihan & sebetulnya cukup dengan Excel (holy cow…), CM kelepasan emosi dan salah ucap, dan langsung ditembak ke pengadilan oleh RS. Very dirty play.

    Saya sendiri sejak kecil adalah korban bully, dan sangat menyebalkan melihat semua orang mentoleransi para bully ini. Ternyata ketika saya dewasa, bully juga tetap saya temukan dimana-mana.

    Salah satunya adalah kolega saya.
    Saya pikir, ok kita sekarang sudah dewasa, jadi kita coba selesaikan secara dewasa juga. Bullsh*t – by definition; mentalitas bully adalah mentalitas yang sama apakah umur mereka kecil ataupun besar. Mereka hanya merespons ke satu bahasa – kekerasan :-( (kalau tidak, maka berarti mereka sudah bukan bully lagi)
    Karena itu kemudian saya bersikap tegas kepada kolega saya tersebut, dan barulah dia berhenti menginjak-injak saya.

    RS adalah kasus yang sama.
    Kalau kita diamkan, maka dia akan terus menginjak-injak kita. Kita harus menjadi lebih kuat dari ybs, maka barulah dia akan berhenti menginjak-injak kita.

    At face value; memang akan terkesan bahwa yang dilakukan oleh para blogger adalah emosional dan “preman”. Tapi coba itu Pak De cek lagi damage dari tindakan2 RS selama ini, baik yang masyhur (Priyadi, CM, dst) maupun yang di balik layar (JAUH lebih besar lagi – krn itu skrg ada gerakan di balik layar dari big players yg melanjutkan apa yg sudah dimulai di dialog blogger kemarin ini) –maka akan jelas bahwa reaksi blogger secara individu sebetulnya masih pas-pasan / belum terlalu mencukupi. Hanya karena kemarin sudah mulai terkoordinasi maka jadi mulai ada dampaknya.

    Cukup menyebalkan malah dituduh sebagai preman, padahal saya tahu kawan2 di acara dialog blogger kemarin bekerja tanpa pamrih & justru mempertaruhkan banyak hal & beresiko cukup besar dengan mengadakan acara tsb.

    Saya kira Pak De perlu turun dari menara gadingnya dan periksa situasi sebenarnya secara lebih jelas lagi, sebelum menghakimi orang lain sebagai preman dst.

    Talk (and judging others) is cheap & easy.

  6. Menyebarkan informasi yang benar adalah bentuk elegan untuk melawan penyebar informasi salah.

    Setuju sekali, ini adalah amar ma’ruf.

    Namun kalau memang sudah diperlukan, kita juga ingat bahwa nahi mungkar juga perlu dilakukan.

    Walaupun itu pahit, tidak menyenangkan kita, dan/atau sebetulnya malah beresiko besar untuk diri kita sendiri.

  7. Ketika dia hanya diam, maka dia sebenarnya tidak bisa “bersembunyi” atas itu. Ketika kita kadung tahu sesuatu dan tidak menjalankannya, maka itu sebenarnya sebuah bentuk “dosa pasif”

    Saya kira sebetulnya blogger tidak mau diam, tapi :

    1. Mereka kalah dari segi kemampuan komunikasi & PR (RS memang luar biasa cerdas dalam hal ini, kita harus akui)

    2. Banyak yang low profile — saya kebetulan tahu beberapa blogger yang diminta menjadi narasumber pasca acara dialog kemarin, dan mereka menolak karena sungkan.

    Ada yang akhirnya bersedia diwawancara, tapi kaget ketika tahu akan ditulis sebagai “pakar”, dan keberatan.

    Ini secara moral baik sekali. Namun secara keseluruhannya, memang akhirnya cenderung merugikan semua pihak.
    Tapi, apakah kita tega menyalahkan orang-orang baik seperti ini ? :)

    Setelah bersusah payah, akhirnya saya dan beberapa kawan-kawan berhasil menemukan beberapa alternatif nara sumber, dan kita langsung relay ke kawan-kawan wartawan. Mudah-mudahan dapat membantu mereka dalam tugasnya sehari-hari.

    Yang narsum untuk topik fotografi (baca: sekali-sekali pornografi / foto seleb, huehehe) baru saya dapatkan beberapa hari yang lalu. Ketika saya relay ke kawan wartawan, dia girang sekali :)

    Yah, inilah perjuangan beberapa kawan-kawan yang peduli soal ini. Dan sambil dituduh preman oleh orang-orang yang tidak tahu / tidak mau tahu :)

  8. edo Han!
    *pokokmen!â„¢

  9. #edratna : setuju bu :)

    #ersis : hehehe.. jebakannya kan memang disama bang :) . tapi juga pemikiran tersebut perlu diimbangi. bahwa jangan sampai keraguan kita atas segala sesuatu yang tidak pasti membuat kita justru terjebak menjadi orang yang tidak berani berbuat. saya fikir, orang yang berbuat meski salah masih jauh lebih baik daripada orang yang tahu benar tapi tidak berbuat apa-apa.

    #SQ : jelas. setuju. toh cuma ada 1 kebenaran yang hakikat dan mutlak. namun, hidayah berupa “alat ukur” : pikiran, hati, indra adalah hidayah yang harus digunakan sebaik-baiknya. toh, dalam kerangka islam misalnya, manusia diberi “ruang” oleh yang maha kuasa untuk melakukan ijtihad. tinggal, seberapa mau kita menyediakan porsi waktu untuk belajar :)

  10. #bee : heehe.. ya iya lah bee. ente kan gak “quotable”. kamu sih bertemannya dengan “tukang kebun” wakakkaka

  11. adipati kademanganMay 6th, 2008 at 17:00

    ndlongop thok gak ngerti opo2.
    *duso tah aku iki*

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>