juaranya? Tetap Indonesia

Edo on May 18th, 2008

Ya. Itu kesimpulan saya. apapun yang terjadi dengan pertarungan Piala Uber yang mempertemukan Indonesia vs Cina, buat saya juaranya tetap Indonesia :)

Sejak 1 hari sebelumnya saya sudah berupaya mencari tiket. Tapi tidak ketemu. Besoknya, seorang teman berniat baik untuk antri dari pagi. jam 5 subuh dia sudah meninggalkan rumah untuk antri tiket. Kesimpulan? Ketika saya bertemu dengannya di Istora jam 4 sore, dan dia masih belum mendapat tiket!

Well, heboh sekali memang eforia orang yang ingin menonton langsung. I the other side, im proud. Kata siapa orang Indonesia sudah kehilangan nasionalismenya. Kata siapa kita sudah tidak peduli dengan bangsa ini. Lihat di Istora. Tumpukan orang lebih dari 4 kali kapasitas istora sendiri hehehhe..

Yah, awalnya ngga pengen pake calo. Tapi hasrat dan rasa penasaran begitu kuat. Penawaran yang saya dapat? 500 ribu untuk tiket VIP yang aslinya berharga 150rb, dan 300rb untuk tiket kelas I seharga 75rb!.

Seperti kata pribahasa. Makin sulit didapat, makin penasaranlah saya. Katanya waktu itu masih akan dibuka 1 sesi lagi penjualan tiket. Dan ternyata dibuka hanya 5 menit! Boro-boro mau beli di calo, yang ada calo nanya “Mas punya tiket lebih?” Nah lo hihihi..

Rada-rada putus asa, dan sudah merelakan diri untuk hanya menonton via Giant Screen, tiba-tiba seorang tukang parkir menghampiri. Negosiasi terjadi. jadilah saya mendapatkan 2 tiket seharga 225rb per tiket.

Well. Meski tidak seperti pas nonton bola dulu, tapi tetep seru. Mungkin karena yang nonton banyak cewe nya. Tidak seperti di lapangan bola yang memang matoritas cowok, dan suporter bola yang memang relatif lebih terkoordinir untuk melakukan koor.

Malam ini suara saya serak-serak gak jelas gara-gara kemaren habis berteriak. Apalagi waktu ganda putri pertama kita turun, dan sempat terjadi pertarungan sengit. Whew, itu istora suasananya keren abis. Sayang kita tetap kalah. Saya yakin akan berbeda jika ganda kita menang. Dan itu pasti menimbulkan psikologi berbeda bagi tunggal kedua kita, Firdasari.

But, as i said, the winner was still Indonesia. Saya cuma bisa menyumbang doa dan suara. Merekalah pejuangnya. Bagi saya, mereka telah memberikan oleh-oleh indah diperayaan 100 tahun kebangkitan Indonesia.

Kemaren malam sangat menyenangkan. Bahkan ketika makan pulang dari nonton, dan ketemu dengan sesama penonton lainnya (ketahuan dari baju yang di pakai. Beli di stadion heheheh) kita yang tidak saling kenal bisa bertegur sapa dengan nyamannya.  Andai ada yang saya agak “kurang nyaman”, tidak ada dari panitia yang mengkoordinir untuk sekedar menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai pembangkit semangat. Saya tidak tahu apakah ini memang standard sebuah kompetisi Internasional. Bahkan ketika akhir, yang diputarkan adalah lagu We Are The Champion. Akan lebih indah jika lagu Indonesia Raya yang di putar. Atau lagu apalah yang mengingatkan kita pada bangsa ini. Malah suporter sendiri yang secara sporadis membawakan lagu-lagu kita.

Sebuah titik awal telah tergaris. Saya yakin pebulutangkis putri kita akan lebih mampu bicara dikemudian hari. Sebuah generasi baru. Justru di tim Putra yang harus hati-hati agar tunas baru bisa hadir dan tumbuh.

Anyway, sekarang saya punya idola baru. Si cantik Firdasari dan si bandel Polii hehehhe.

Maju terus Indonesia!

Popularity: 3% [?]

2 Responses to “juaranya? Tetap Indonesia”

  1. mana foto-fotonya?

  2. adipati kademanganMay 19th, 2008 at 5:43 pm

    saya kecewa banget dengan Taufik hidayat, titik

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>