Malam ini aku menonton sebuah film lama. Setelah melewati meeting panjang yang benar-benar melelahkan, kebingungan untuk menghibur dan mengistirahatkan isi kepala yang berakhir di warung kopi 24 jam di seputaran Kemang, langkah kaki saya berakhir di Posko teman-teman dikawasan Mampang. Seraya melepas lelah yang tak kunjung hilang, sebuah film di Trans TV akhirnya menjadi pilihan. Film itu berjudul Vertical Limit.

Film ini bercerita tentang sekumpulan pendaki gunung dan tebing yang tengah menaklukan gunung terdahsyat di muka bumi, Himalaya. Dengan berbagai motif, ada yang karena uang, ada yang karena hobi, ada yang karena dendam. Diawali dengan sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang sama-sama mencintai mendaki tebing, namun berakhir tragis dengan kematian sang ayah dan sekelompok pendaki lainnya. Lebih parah lagi, sang ayah, Royce Garret mati ditangan pisau sang anak, Peter Garret yang dipaksa olehnya untuk memotong tali agar pengait masih mampu menaham beban. Peristiwa ini menyebabkan kakak adik Peter dan Anne tidak bertegur sapa sekian lama. Peter yang hidup dihantui rasa berdosa atas kematian ayahnya, dan Anne yang membenci kakaknya yang dia anggap telah membunuh ayah mereka.

Cerita lalu bergeser ke gunung Himalaya, sekian tahun kemudian. Sekelompok pendaki berkumpul, atas inisiatif seorang milyader yang ingin meluncurkan perusahaan penerbangannya di puncak gunung. Dan disinilah berbagai cerita berlanjut. Sang milyader yang keras kepala memaksakan diri terus naik dalam kondisi cuaca yang ekstrim, sehingga mereka terjebak. Peter, yang mengetahui adik terkasihnya, Anne terjebak bersama sang Milyader, mengorganisir tim penyelamatan yang beranggotakan dirinya sendiri, Mogomentry Wick sang legenda Himalaya, Malcom dan Cyril, sepasang adik kakak yang unik, Kareem; seorang Muslim yang baik karena saudaranya Hasan ikut terjebak, dan Monique, seorang perawat yang perkepribadian unik.

Khas film Holiwood, film ini sarat aksi yang menguras adrenalin. Dan satu lagi, sarat nilai. Banyak sekali pesan dalam film ini. Namun, kali ini saya ingin melihat dari satu sudut lain : Cinta.
Ya..

Cinta yang menyebabkan Ayah Peter memaksa Peter memotong tali yang menggantung nasib mereka di tebing tinggi. Dia rela mati, mengurangi beban tali yang menggantung nasib mereka, agar kedua anaknya dapat melanjutkan hidup mereka. Cinta seorang ayah kepada anak-anaknya.

Cinta yang menghilangkan trauma Peter bertahun-tahun mendaki setelah sekian lama tidak berani menyentuh tebing setelah kematian ayahnya. Cinta seorang kakak kepada adiknya.

Cinta yang membuat Wick bertahan selama 4 tahun, menunggu moment kembalinya orang yang dia yakin telah menyebabkan kematian istrinya. Cinta seorang suami kepada istrinya.

Kecintaan  pada hobi mereka sebagai pendaki gunung pula lah yang mempertemukan Peter dengan Monique. Cinta pada lawan jenis.

Dan cinta pula yang menyebabkan Hakeem, seorang Muslim Pakistan tetap menjalankan ritual sholat di puncak dingin Himalaya, dalam perjalanan penyelamatkan 3 pendaki gunung yang terjebak. Cinta kepada Tuhan

Cinta membuat orang pantang menyerah. Menciptakan dendam yang tak terpadamkan.

Cinta bisa sangat indah. Bisa sangat menyeramkan.

So. Apakah kita masih memiliki cinta? Cinta seperti apa yang masih kita miliki?

5 Responses to “Vertical Limit : Bicara Cinta di Batas Ketinggian”

  1. dari sekian yang berpuluh-puluh wanita ituh…hanya 4 yang saya cintai, dan itu serasa melebihi cinta kepada sang penguasa alam, mangkanya ndak ada yang berkah kekekeke….
    jadi kapan pak edo akan segera menuntaskan jalan percintaannya? :-D

  2. Beuh…
    semaLem nonTon juga yaaa…

    waLaupun unTuk kesekian kaLinya…
    Tapi fiLm ini ga pernah Bosen aku TonTon…
    Dan sekaRang Lagi mo DownLoaD filmnya….

    semua saRat akan makna n pesan moRaL…
    manTaBz Dah pokoknya…

    aDa saTu Lagi…
    fiLm sejenis…
    namun saya Lupa juduLnya….
    pemeRan uTamanya sylvester stylone…

  3. ada satu lagi film yang sejenis do. K2. Udah pernah nonton? vertical limit ini emang gak pernah membosankan untuk ditonton.

  4. #epat : nggg… 4 yah? kayaknya aku cuma kenal 3. yang satu jelas aku kenal banget kekeke. satunya sapa pe? kekeke

    #jongqy : owh.. yah. gw inget tuh. tapi bagusan ini deh..

    #dudi : nah. durung tau aku. cari ah..

  5. what a coincidence,,searching vertical limit and urang awak

    nice inpoh….

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>