Mari Berbuat “Salah”!
Dalam sebuah acara, seorang Mario Teguh bicara
“Andai anda diberi kesempatan untuk mengembalikan waktu kemasa lalu, dan diberi kesempatan untuk mengawali kembali sesuatu, diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, apakah yang akan anda lakukan?”
Hampir semua orang memilih untuk memperbaikinya. Memilih untuk tidak melakukan kesalahan yang pernah dia lakukan. Memilih mengambil alternatif yang lain.
Lalu sang motivator menyampaikan sesuatu yang tidak terduga “Jika saya yang diberi pilihan itu, maka saya akan memilih untuk mengulang kesalahan yang sama, lalu melakukan percepatan dalam recoverynya. Tidak ada yang menjamin bahwa melakukan yang sebaiknya akan memberikan hasil yang lebih baik…” (anyway, saya pernah membahas dengan perspektif yang lain disini)
Banyak orang takut berbuat salah. Semua orang ingin menjadi yang sempurna. Tanpa kesalahan. Padahal, ketika kita memilih jalan tersebut, menurut saya kita telah menghilangkan sisi manusia kita yang jelas jelas tidak sempurna. Satu hal lagi yang sangat berbahaya menurut saya, ketakutan berbuat salah tanpa sadar kita bisa terjerumus pada penyakit yang jauh lebih berbahaya : Takut berbuat.
So? nikmatilah ketidak sempurnaan itu. Agar sadar bahwa ada yang maha sempurna.
Saya sering melihat lingkungan disekeliling saya kehilangan percaya diri untuk menyampaikan pendapat, ide, berkreasi, hanya karena takut salah. Takut tidak berkualitas. Takut di ejek idenya remeh dan tidak layak. mereka kehilangan confidence nya. Justru kita terjebak pada kesalahan yang sebenarnya.
Dan saya hanya bisa bilang. Hey, segala sesuatu yang hebat itu dimulai dari yang biasa-biasa saja!
Malam ini saya tengah menikmati performance teman-teman musisi di sebuah cafe dibilangan Kemang. Ini kali kedua saya nangkring disini. Dan dikunjungan pertama saya telah jatuh cinta. Kali ini saya nongkrong bareng epat, oon dan susee.
Apa yang saya senangi dari performance mereka?
They play with heart. Asik banget. Semua orang ditempat ini sepertinya bisa menyanyi dan bermain musik. Sumpah bikin saya tidak pede heheheh. Semua pengunjung cafe ini adalah bagian dari alunan musik itu sendiri.
Mereka juga berani mendobrak pakem. Istilah kerennya, berimprovisasi. Nyaris tidak ada yang bermain dengan pakem penyanyi aslinya. Semua orang berkesempatan untuk ekspresif. Solo. Nge-jam. Dan mereka jadi perform.
So apa hubungannya dengan judul posting ini?
Dalam live performance yang saya lihat, sesekali mereka terpleset. Tapi menurut saya hal itu wajar-wajar saja, karena sangat banyak yang ikut berkontribusi nge-jam bersama. Hampir setiap meja diajak ikut bermain. Belum lagi mereka suka saling “mengerjai” dengan memainkan musik seenak mereka, lari dari not not yang seharusnya. Dan teman-teman bermusiknya harus menyesuaikan diri agar musik itu tetap pada harmoninya. Its completely live performance!. Great performance…
But you know what? Kesalahan dan ketidak sempurnaan itulah yang membuat permainan mereka tidak hanya indah di teling, tapi juga nyaman untuk dinikmati. Kekurangan itulah justru menjadi bumbu pelengkap yang membuat penampilan mereka sempurna. Kesempurnaan itu hadir atas ketidaksempurnaan.
Menariknya lagi, sebagaimana yang saya ulas di depan, kualitas mereka terlihat dari bagaimana mereka memperbaiki kesalahan tersebut. Disini saya hanya bisa bilang, mereka benar-benar musisi. Mereka bermain musik dengan seluruh jiwa dan raga mereka. Musik telah menyatu bersama mereka.
So, tiba-tiba, masih sambil mendengarkan mereka bernyanyi, sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, saya tiba-tiba ingin mengajak semua kita untuk berani berbuat salah. Seperti iklan salah satu sabun cuci di TV, kotor itu baik. Jangan pernah takut untuk mengungkapkan apapun. Tidak ada itu yang namanya remeh dan ngga penting. Kata seorang teman, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini :). Toh, pada prinsipnya, secara hakiki tidak ada manusia yang ingin berbuat salah. Defaultnya kita ingin menjadi lebih baik. Namun, perjalanan hidup terkadang telah membuat paca bersih itu penuh debu.
So, sekali lagi. Mari berbuat salah!
*btw, namanya juga provokasi hehehe.. sepertinya saya pernah pula menulis melalui sudut pandang yang lain disini.
ps : thank to Endah dan Rhesa untuk penampilannya yang mengesankan. Im falling in love with you guys :). I learned something from both of you today
tulisan terkait :
- epat
- susee
Popularity: 6% [?]
dan Tuhan pun telah berbuat kesalahan terbesar keduaNya…. dengan menciptakan edo! hahahaha….
but eniwei, gw setuju bro. luna maya pun ndak akan keliyatan cantik jikalau tidak ada pembandingnya
hihihi…gak nyambung yoh? 
#epat : pancet ae
Dan saya hanya bisa bilang. Hey, segala sesuatu yang hebat itu dimulai dari yang biasa-biasa saja!
mmm.. kalo menurut hamba, segala sesuatu bermula dari sebuah chaos malah…
Nice post. Tapi ati2. Ajakan ini bisa berbahaya jika ada org yg menariknya ke titik ekstrim. Misal, org lulusan ilmu administrasi dgn berani membangun jembatan tanpa ilmu yg memadai. Itu sih bukan berani salah, tapi sebuah ketololan!
Mungkin perlu diperjelas, sebelum kita berani berbuat salah, kita harus belajar dulu bagaimana berbuat yg benar. Kalo udah belajar dgn baik dan benar, gak usah takut untuk berbuat salah dalam praktek nyatanya. Se-salah2-nya org yg udah belajar (dgn baik dan benar), pasti masih dalam zona yg bisa diperbaiki.
#bee : hehehe.. makanya bee, aku memberi tautan ke tulisan ku sebelumya kekekke. supaya ngga salah kaprah hueihueihie
sayangnya di banda aceh gak ada live music do *gak fokus sama tulisanmu*
#dudi : ancen lagi gak fokus tha? kekeke
pancen bener Dho, ning kene yen ra wani berbuat salah ra mangan hehe……..[memang kerjaane trial]
salah adalah biasa, tapi jangan sampai salah pada kesalahan yang sama.. dengan begitu kita akan selalu berkembang.thanks inspirasinya…
sangat menginspirasi sekali, terima kasih banyak mas Edo atas sharingnya.
^____^ Cheers >< Lies Daryanti
yes, I agree ….
using the sms it was unfair, it’s better straight from the jury