memimpikan taman belajar kreatif

Edo on August 1st, 2008

“Tidak!. Yang harus disasar adalah anak SD!. kalau perlu anak TK!”

Itu sebuah potongan kalimat ketika kami berdebat : saya,  sahabat saya denmas dengan ndoro-ndoro penghuni dapur sebelah.

Ya. Kami dipertemukan oleh tema dan interest yang sama : Pendidikan. Dipertemukan  oleh seorang teman yang sekarang tengah melanglang buana di negara Paman Sam sana. Obrolan ini pulalah yang membuat saya dan teman-teman akhirnya punya “taman bermain” yang layak dibilang kantor lagi 4 bulan yang lalu. Obrolan itulah yang akhirnya membawa saya berkenalan dengan guru-guru hebat yang telah mengajari saya banyak hal. Sungguh, tidak pernah saya bermimpi berkesempatan untuk menimba ilmu dalam keseharian dari tokoh-tokoh yang selama ini cuma saya kenal di dunia blog. Menariknya, saya tidak pernah merasa “diajari”. Tapi dalam interaksi sehari-hari, selalu ada hal yang saya dapatkan. Semesta memang tengah berbaik hati kepada saya :)

Anyway, tentu saja saya tidak bisa melupakan kebaikan hati Mas Iman yang mengundang saya gathering beberapa waktu lalu. Moment itulah yang mengawali saya berkelana di semesta blogging. Dan epat yang telah menjerumuskan saya heheheh.

Kembali ke tema tadi.

Ceritanya kita sedang berdiskusi, berhayal  andai kita punya sedikit waktu membuat sebuah taman bermain. Sangat banyak portal pendidikan yang ada. Tapi ; mengutip bahasa ndoro sebelah ; masih “plat merah banget”. Sangat Pemerintah. Penuh dengan stratafikasi dan pemenjaraan pengetahuan atas nama kurikulum. Atau pemenjaraan dalam bentuk dimana seakan hanya murid dan guru lah yang berinteraksi dalam sebuah proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan mungkin iya. Tapi pembelajaran? hmmm… sepertinya saya juga tidak setuju. Leluhur saya mengajarkan saya untuk belajar dari alam yang terkembang.

Saya tidak tengah menghujat system pendidikan kita. Sudahlah. Memang begitu sistem yang dibentuk. Saya dan beberapa orang yang saat itu tengah berdikusi tidak dalam rangka sok pinter atau merasa lebih hebat dari puluhan profesor-profesor yang menghuni departemen yang katanya bertanggungjawab atas kecerdasan bangsa ini, lengkap dengan institusi dibawahnya. Sangat tidak. Kita justru ingin, berharap, berkhayal ingin memberikan alternatif  pelengkap saja, mengerjakan sudut-sudut kusam yang tidak terperhatikan oleh mereka, namun sangat esensial menurut kami. Anggap saja ini bentuk “community responsible”.

Perdebatan di kalimat yang mengawali posting ini ketika kami membicarakan, lalu area “usia belajar” mana yang ingin kita sentuh. Saya waktu itu berpendapat bahwa untuk mengenalkan konsep belajar melalui media internet ini yang harus dibidik adalah anak-anak di usia SMP-SMA. Mungkin ini dipengaruhi oleh aktifitas yang pernah saya lakukan bersama teman-teman saya dulu di Malang sewaktu menggarap JIS WAN di Malang. Dan ini diperkuat dengan argumentasi saya bahwa usia itulah yang sudah cukup “computer and internet minded“.

Ini bukan masalah computer and internet minded. Kita tengah berdiskusi tentang pendidikan. Dan kalau dirunut-runut, maka jika ingin menghasilkan “pembelajar” yang berkualitas harus dimulai dari akarnya, dalam hal ini masa kanak-kanak. Merubah mindset yang sudah kadung terbentuk dalam stuktur pendidikan kita akan sulit. Sehingga jika ingin membentuk pola, maka umur yang paling tepat adalah dimasa pertumbuhan mereka : anak-anak di usia Playgroup dan SD.

Ketika diskusi ini berlanjut, mendiskusikan area manakah yang paling “menyedihkan” dalam firm pola berfikir pembelajaran di usia dini, temanya menjadi mengerucut ke 1 tema sentral : Kreatifitas dan kemerdekaan berfikir.

Dulu, kakak tertua saya, seorang psikolog pernah berkomentar betapa beban pendidikan di usia dini terlalu berat bagi siswa di Indonesia. Menurut dia, sampai umur kelas 3 SD, adalah usia dimana anak-anak belum terkontaminasi, masih pure, penuh dengan rasa keingintahuan dengan masa pertumbuhan imajinatif yang luar biasa. Anak-anak diusia itu seharusnya tidak dibebani oleh apapun. Tidak perlu ada klasifikasi juara. Anak di umur itu belum waktunya dibebani target-target. Mereka masih mengenali dan memperluas cakrawala.

Parahnya, orang tua ikut membebani anak-anak dengan kebanggaan mereka sendiri yang dititipi pada sang anak. Tidak sedikit orang tua yang sejak kecil telah membebani anaknya dengan les ini dan itu, harus juara ini dan itu dengan iming-iming hadiah. Tanpa disadari, kreatifitas mereka terkungkung, anak-anak Indonesia telah dididik dari kecil untuk berorientasi hasil dan bukan proses belajar itu sendiri, dibebani target kebanggaan orang tua mereka untuk bergosip ketika arisan.

Dari beberapa artikel yang saya akhirnya telusuri pun, usia sampai kelas 3 SD itu adalah usia “mengisi”, bukan “membentuk. Tidak perlu takut sebenarnya jika melihat anak-anak kecil nakal, belum beretika karena memang belum waktunya mereka seperti itu. Usia tersebut proses belajarnya masih sangat alamiah, didorong oleh rasa keingintahuan yang luar biasa.

Issue yang menarik memang. Namun ketika kami mencoba memformulasikan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses ini melalui sebuah portal, ternyata tidak sesederhana yang saya fikirkan. Ternyata lebih mudah untuk membuat portal untuk orang-orang di usia yagn sudah firming. Bahasa kerennya, market analysis nya lebih mudah dilakukan karena secara general lebih mudah untuk mengukurnya. Tapi, show must go on lah. Kami juga tidak mencoba untuk membuat segala sesuatunya sempurna. Fenomena komunitas di ranah blogsphere membuat kami optimis akan banyak masukan, kritik, bahkan cemoohan. Tapi entah itu berupa masukan, kritikan ataup[un cemoohan adalah sebuah kontribusi? Kita tidak akan pernah tau mana yang baik dan mana yang tidak jika tidak ada yang menyikapi bukan?

So, taman bermain itu tengah kami siapkan. Sesuatu yang berbeda. Lebih komprehensif. Lebih mengena. Dan dikelola dengan baik. Saya sangat berharap ada masukan dari rekan-rekan blogger, terutama pak/ibu guru yang juga doyan nge-blog (atau blogger yang doyan ngajar? hehehe) tentang ide ini. Pak Sawali,  om math, bangaip yang saya tau sangat peduli dengan pendidikan, seperti halnya kang kurtubi, kang-guru, idham, om khalid dan teman-teman jardiknas lain dan banyak lagi orang-orang yang peduli dengan pendidikan di negeri ini.

8 Responses to “memimpikan taman belajar kreatif”

  1. wah kebetulan banget Do, aku dalam beberapa hari ini sempat mengamati anak SD di depan sekolahan yang sekarang aku lagi belajar, disini anak2 SD tidak ada yang dapat nilai 10, 8, 7 or 5 dll, cuma lingkaran, kotak, dan segitiga apa artinya, mereka tidak dituntut nilai berapa tetapi yang dituntuk adalah pemahaman mereka terhadap apa yang mereka pelajari linkaran artinya paham, kotak artinya sedikit kurang paham, segitiga artinya sedikit paham.Dan yag hebat tak pernah ada PR seperti waktu kita jaman SD dulu. Mereka sampai usia SD hanya diajarkan logika berpikir dan tidak ditarget harus bisa menulis apaan.

  2. do, beberapa catatan aneh dan sinis dalam posting ini:
    1. koen durung duwe anak kok koyok ngerti ae.
    2. kakean wacana dan konsep do…
    3. coba jalan2 ke sekolah semut beriringan, sppqt, averouse dll.

    hehehe, ojo mecucu.

  3. #YY : wah, lucu juga tuh yud. apa nama sekolahnya yud?

    #wandi : yah. memang ini wacana wan. wacana yang ingin diwujudkan. thank buat advicenya untuk berkunjung ke sekolah-sekolah yang disebutkan tadi.
    tulisan ini juga ingin menimba ilmu dari orang-orang yang mengerti dunia pendidikan yang ada bertumpah ruah di dunia maya. contohnya ya seperti dirimu yang sudah kenyang jalan-jalan dan menjalankan.
    anggep aja ini cuma pelengkap wan. dan berharap orang-orang yang mengerti seperti dirimu mau berbagi untuk memperkuat wacana dan ikut menjalankannya.
    anyway, thank for comment. at least tulisan ini bisa mengajak tokoh sekelas wandi berkunjung kesini :)

  4. tak kampleng lho do!

  5. Aku termasuk salah satu yg kurang sepakat jika anak2 kecil (emang ada anak besar? :P ), yaitu usia pra-sd, udah dikenalkan teknologi (dalam hal ini internet dan alat2 digital). Terlalu dini menurutku. Di usia2 seperti itu, pendekatan dan interaksi langsung yg personal jauh lebih bermanfaat bagi mereka. Kegiatan2 seperti bermain pasir, kejar2-an, petak umpet, main bola, tebak2-an, lego, dlsb, lebih bagus. Lagipula di usia2 seperti itu, tidak hanya kecerdasan yg perlu dikembangkan, tapi juga kemampuan motorik dan kognitifnya jgn sampe terabaikan. So, menurutku, internet baru perlu dikenalkan di usia sekitar 10 th, atau kelas 3 SD, ke atas. Atau, kalo perlu, bisa dimulai di usia sekitar 12 th, atau kelas 5 SD, ke atas. Tergantung kesiapan si anak untuk menerima internet.

    > [i]Dari beberapa artikel yang saya akhirnya telusuri pun, usia sampai kelas 3 SD itu adalah usia “mengisi”, bukan “membentuk”. Tidak perlu takut sebenarnya jika melihat anak-anak kecil nakal, belum beretika karena memang belum waktunya mereka seperti itu. Usia tersebut proses belajarnya masih sangat alamiah, didorong oleh rasa keingintahuan yang luar biasa.[/i]

    Paragraf di atas kok kesannya kontradiktif ya. Mengisi, kecuali etika? :P Apakah pengetahuan ttg etika, norma, batasan2 bukan bagian dari proses belajar? Apakah sesuatu yg alamiah itu gak ada batasan? Apakah mereka (anak2 itu) gak perlu tau tentang adanya batasan?

    Aku kurang sepakat juga dgn beberapa org ttg metode pendidikan anak. Ada yg gak suka memberi batasan krn itu dianggap kekangan bahkan ancaman pada anak. Menurutku gak begitu. Anak perlu tau sejak dini bahwa segala sesuatu ada resiko, batasan, dan tanggung jawabnya, tanpa harus itu menjadi kekangan dan ancaman. Dari situ, ortu bisa mulai memasukkan konsep “benar” dan “salah” serta “baik” dan “buruk”. Ini adalah dasar/fondasi untuk pendidikan moral dan akhlak.

    Mendidik anak itu gampang2 susah. :D Apalagi di usia dini. Contoh hasil pendidikan terbaik adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah SAW. Bagaimana beliau berdua telah mengerti dasar2 ajaran Islam, bahkan mengajarkannya pada org dewasa, di usia yg sangat dini (sekitar 3 th). :)

  6. idem ama bee, gw juga ga sepakat anak2 di usia SD udah dikenalin ma kompie, apalagi internet. tapi tuntutan jaman ga bs kita hindari sih, misal nih, di sekolah gurunya udah ngajarin komputer, kita bisa protes? trs lingkungan, ketika anak2 kecil pada ngomongin komputer, internet, sementara anak kita bengong kaga ngarti, trs ngerengek ke ortunya, apa iya kita bilang “ojo maen komputer disik le..mengko wae nek wes es em pe…” apa ya begitu?

    sementara di luar negeri, fenomena “pengaruh internet thd anak2″ makin meresahkan, betapa dampak internet begitu dahsyat bagi anak2, terutama terhadap mentalitas dan perilaku si anak.

  7. wah tapi klo aq tipe orang yang merasa beruntung di kenalkan dengan komputer saat usia dini (read : 4 tahun). walaupun awalnya hanya game kemudian masuk ke internal command & external command nya DOS setidaknya saya termasuk anak yang cukup beruntung dimana ketika kelas 3 SD sudah bisa menggunakan dBase III + dan bisa membuat aplikasi menggunakannya. Yang kemudian membentuk diri saya sekarang (read : yang terlalu cinta ke kompie ). Tapi dulu saya masih bisa membagi waktu antara di depan komputer dengan permainan tradisional yang melatih kemampuan motorikku walaupun sampe kelas 3 eSeMPe masih suka mandi di kali (dulu masih bersih) tapi aq dah ngerti soal penggunaan komputer , trouble shooting. tapi ya seperti kata mas Bee ngedidik anak itu gampang2 susah klo sekarang seh aq dah belikan Anakku 1 buah iBook dan klo dia nanti dah bisa milih biarkan dia memilih jadi programmer, pro gamers ato jadi seperti anak anak kebanyakan (hahaha pilihan yang sulit). Intinya Mas Edo nikah dan punya anak dulu biar wacana yang di buatnya lebih maknyus dan dukung prakteknya gak cuma sudut pandang dan teori teori thok.. Piss love and Kayang…

  8. wah, bisa berbagai pengalaman nich!

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>