Ide Konyol
Tulisan kali ini ada kaitannya dengan ajakan berbuat salah yang saya sampaikan di tulisan sebelumnya.
Beberapa waktu lalu, saya dengan beberapa teman berkeinginan membuat sebuah portal musik dengan segmen tertentu. Saya memang suka musik. Tapi saya bukan musisi. Ide ini sebenarnya telah muncul lama. Tapi tidak berani saya jalankan karena saya tidak terlalu memahami dan tidak bergaul dengan komunitas musik. Tidak faham ruhnya. Bagaimana caranya agar komunitas tersebut bisa berbagi melalui media portal. Apa harapan mereka. Atau jangan-jangan mereka tidak butuh? Akhirnya, ide ini terbengkalai lama.
Sewaktu saya pindah ke kantor baru, guru di dapur sebelah mengajak saya untuk membuat portal pendidikan. Saya lalu mencoba membuat beberapa konsep. Hari ini, hampir 4 bulan sejak ide itu tercetus. Dan terus terang belum terealisir heheheh.. Aktifitas mengebulkan dapur menyebabkan rencana ini molor terus.
Beliau pula yang “menghidupkan” kembali ide tentang portal musik tersebut. Lagi-lagi, saya tersandung karena tidak ada yang menjalankan. Saya ya bisanya cuma ngecap heheheh. Tanpa ada thinker yang benar-benar mengerti tentang musik dan bergaul dengan para musisi, serta orang-orang yang mau terlibat mengurus operasionalnya, tentu saja tidak ada gunanya. Sampai, sebuah moment ketika saya berdiskusi dengan seorang teman, kita ingat ada seorang sahabat berkecimpung di area tersebut. Begitu pula dengan adiknya. Singkat cerita, akhirnya dimulailah rencana tentang pengembangan portal musik tersebut. Semangat itu muncul. Eforia-pun terjadi.
Karena ide ini dibangkitkan oleh orang yang sama dengan yang mengajak saya membuat portal pembelajaran, saya pun kulonuwun kepada beliau. Beliau menyambut baik. Tapi sayapun lalu dicela heheheh..
“Ayo! Ndi portal belajar-e. Iku durung mari wes ate nggarap iki” (Ayo. mana portal belajarnya. Yang itu aja belum beres udah mau ngerjain yang lain).
Saya lalu ngeles. Karena untuk portal belajar tim nya belum ada. Sedangkan untuk portal musik, tim nya ada. Ndoro sebelah tetap “keukeuh“. Pokoknya, kalau portal belajar tidak muncul, portal musik tidak akan di support. Tapi ok. Mungkin ndoro tengah mengajarkan saya untuk step by step dalam menjalankan ide dan konsisten.
Saya mengembalikan ini kepada team. Yang tidak disangka, team musik malah tidak patah semangat. Mereka malah membantu saya untuk menuntaskan ide soal portal pembelajaran. Tujuannya tentu saja agar portal musik bisa jalan. Whew, jelas saya senang sekali dengan situasi ini.
Jujur, awalnya saya agak ragu. Why? yah, gimana yah. Teman-teman saya ini anak musik dengan aliran indie. Yang kebayang oleh saya seperti anak-anak punk. Cerita-cerita beberapa teman pun menegaskan perspektif saya tentang mereka. Lha, apa ya mereka ngerti dan peduli soal pendidikan? Apa mereka cukup punya pemahaman? Lha dia kan masih sekolah, dan kayaknya belum lulus? Tapi, tentu saja tidak saya ungkapkan (sekarang ketahuan deh hehehe). Sederhananya, saya under estimate. Ada kesombongan dalam diri saya yang merasa telah bergelut di dunia pendidikan beberapa tahun terakhir.
Dan apa yang terjadi?
Sungguh, ketika 3 hari kemudian teman- teman indie saya ini menyampaikan konsep mereka, saya merasa di smack down. Tiba-tiba saya merasa mengkerut seperti liliput.
“Do, menurut gw nama gelispinter itu ngga bagus. Lu kan bilang ini portal buat anak TK dan SD. Lu ngomong soal kreatifitas dan keberanian. Lha, nama portalnya aja udah memberikan beban buat anak. Dan nama tersebut sangat tidak menunjukkan dunia kanak-kanak”
“Layoutnya ngga anak-anak banget do. Ngga menarik. Harusnya lebih banyak gambar. Warnanya juga harus full color nih. Memancing kreatifitas”
“Mending pake konsep rumah pohon, Do. Rumah pohon itu dikenali baik oleh anak-anak di desa maupun di kota. Anak-anak kecil menurutku mengimpikan punya tempat rahasia dimana mereka”
“Harus ada konsep yang mengangkat nilai-nilai sportifitas dan kebersamaan Do. Anak-anak sekarang maenannya Playstation, Wii, etc. Maenan sekarang semakin mempertegas sisi individualitas. Maen mereka ke mall. So, konsepnya harus berhubungan dengan “kembali ke alam”
Bla..bla..bla..
Teman saya ini, 6 tahun dibawah saya, gondrong, selalu datang dengan celana sobek dan kaos oblong, kuliah ngga beres-beres, bicara hampir 1 jam tentang perspektif dia tentang portal belajar yang saya ingin buat bersama teman-teman lainnya.
Sempat saya tanya. Bagaimana dia bisa memahami itu. Dia cuma jawab, karena dia merasa sebagai produk gagal dari pendidikan. Dan yang paling nyelekit
“yah, Do, googling dong. Katanya orang IT heuiheiuhiehe”…
Terakhir, seorang teman saya yang lain bicara
“Yah, kan elu yang bilang Do. Justru atas ketidaktahuan dia tentang sesuatu, dia jadi lebih merdeka dalam melihat. Dia tidak dibentengi oleh apa-apa yang dia ketahui. Dia merdeka Do. Dia telah berfikir out of the box…”
Well… saya seperti orang bodoh didepan dia hehehe..
Sepertinya tidak sedikit orang seperti saya. Merasa berpengalaman, lalu secara sadar tidak sadar meremehkan orang lain. Apa yang saya ketahui telah membatasi kemampuan saya untuk melihat diluar batas. Berapa banyak guru yang menganggap muridnya tidak bisa apa-apa? berapa banyak politisi yang mengganggap masyarakat tidak tau apa-apa? Berapa banyak orang tua yang menganggap anaknya hanya anak-anak yang tidak bisa apa?
Seperti katak didalam tempurung, yang ketika tempurungnya dibuka, loncatannya tetap hanya setinggi tempurung yang sebelumnya menaunginya. Perasaan berpengalaman telah mengungkung kita. Dan yang lebih parah, melahirkan kesombongan.
Teman saya, bukan profesor, kuliah tidak lulus, belum pernah jadi pendidik/guru, tidak pernah jadi konsultan pendidikan, tidak pernah tau tentang perkembangan konsep home scholling dan sebagainya, masih jomblo (oh ya. tapi gitu gitu anaknya ganteng lo ehehhe) telah mengajari saya tentang pendidikan anak.
Well, pernahkan ada merasa seperti saya?
Saya menjadi berfikir. Seberapa sering saya belakangan ini melecehkan orang. Menganggap orang lain tidak mengerti apa-apa. Menganggap saya lebih hebat dari orang lain. Pemikiran saya terus berlanjut. Seberapa sering saya lalu melecehkan ide orang lain, menganggap pekerjaan orang lain jelek, lalu akibatnya dia jadi takut memberikan ide, takut berpendapat, takut berbuat. Sudah berapa orang yang akibat kesombongan saya kehilangan keberanian untuk berpendapat dan berbuat. Sudak berapa ide yang saya matikan akibat ke-sok-berpengalaman nya saya.
Beberapa hari yang lalu saya bercerita kepada seorang sahabat tentang hal ini. Dia cuma tersenyum. Lalu bicara.
“Yah. Itu lah budaya kita Do. Budaya yang telah menyebabkan bangsa ini semakin lama untuk bangkit. Ketika ada temannya yang ngomong inggris di ejek, dicap sok kebarat-baratan. padahal dia sedang belajar bahasa inggris dan ingin mengasahkan. Ketika ada orang yang berbuat baik, di cap sok baik dan punya tendensi. Kita mencela orang tidak konsisten, sementara kita sendiri lupa apakah kita sudah konsisten atau belum. Kita sepertinya memang tengah terjebak dalam energi negatif Do. Lebih senang melihat negatifnya daripada positifnya. Yang lebih menyedihkan lagi, negara ini katanya negara dengan penduduk Muslim terbesar di Dunia. Padahal di kitab suci kita jelas jelas disebutkan, belum tentu yang mengolok-olokkan lebih baik daripada yang diolok-olokkan”
Pelajaran ini pulalah yang menyebabkan saya membuat tulisan yang terdahulu, selain peristiwa live performance yang saya tonton.
Ya. Tidak ada gunanya punya 1000 ide tapi tidak atupun yang dijalankan. Lebih baik punya 1 ide tapi langsung dijalankan. Tidak ada yang namanya ide konyol. Semua ide adalah penting. Tidak ada jaminan bahwa orang yang berpengalaman lebih hebat dari yang tidak berpengalaman. Kadang, saya malah berfikir pengalamanlah yang menyebabkan kita tidak kreatif. Pengalaman telah memenjara kita dari kemungkinan masuknya hal-hal baru.
So, mengutip gaya ndorokakung
“Kisanak, sudah berapa orang yang anda matikan semangatnya hari ini?”
Popularity: 5% [?]
dua orang tadi malam saya matikan semangatnya do kekeke biar saya bisa selamat dari kerusakan
….belum tentu yang mengolok-olokkan lebih baik daripada yang diolok-olokkan
gw bangeeeeeeeeeeet……
endonesah sekali
semua perbuatan selalu dicari-cari cacat nya dan kekurangannya untuk kemudian diejek.
Saya menjadi berfikir. Seberapa sering saya belakangan ini melecehkan orang. Menganggap orang lain tidak mengerti apa-apa. Menganggap saya lebih hebat dari orang lain.
Hihihi… jadi ingat berkali-kali saya melakukan kesalahan ini juga
Dan kemudian saya terbukti keliru secara cukup spektakuler.
Cuma kadang saya juga melakukan ekstrim kebalikannya — terlalu memberi kepercayaan terhadap penadpat orang lain tanpa mencernanya secara kritis.
Hasilnya juga sama parahnya
Jalan di tengah itu memang tidak mudah ya.
Hm… seringkali kita luput!
baca ini, tenanan, hati jadi tambah kisut!
“hidup itu persaingan, kadang kita harus mites mereka, hanya untuk sekedar kita mampu bertahan di zona aman” itu kata teman sebelah saya mas, weh… tambah ngeri
#epat : hmm.. no comment deh heheh
#keringet : wah, maap win
#adipati : yap. dan sepertinya bukan sebuah budaya yang perlu dita banggakan
#pudakonline : hehehe.. ngga ikut2 ah. takut ama hukum alam :). memang sih, dalam realitanya kadang baik secara sengaja atau tidak kita “mematikan” orang lain. Tapi saya fikir, ngga usah diniatin lah. Jalankan saja. Mending fokus untuk memberikan yang terbaik, tanpa berniat untuk mematikan siapapun. Dan if in case, kita ternyata “mematikan” orang lain, ya, serahkan pada yang Kuasa saja heheheh
#sufehmi : hehehe.. bukannya hal paling menarik dalam hidup adalah “mencari komposisi” yang pas mas
nyantai dulu mas
http://idekonyol.wordpress.com