rumput dan jati diri

Edo on August 14th, 2008

“Rumput tetangga selalu lebih hijau…”

Quote ini tentu sangat kita kenal. Dimana apa yang dimiliki oleh orang lain selalu terlihat lebih baik. Sometimes ini dapat membuat kita terpacu, ketika melihat kelebihan orang lain dan ingin seperti mereka.  Namun disisi lain juga bisa menjerumuskan. Karena hanya akan menumbuh-kembangkan rasa iri hati, dengki, dan sebagainya. Dan salah satu impact yang paling fatal menurut saya adalah : jadi kehilangan jati diri.

Ingatan saya kembali kemasa kecil. Semasa SD, semasa TK. Saya memang dibesarkan dalam berbagai kesulitan. Ingat betapa irinya saya melihat banyak teman-teman diantar ke sekolah oleh orang tuanya. Saya? Hmm… boro-boro. Himpitan ekonomi membuat orang tua jelas tidak punya waktu mengantar saya sekolah. Yang ada saya bahkan harus ikut bangun pagi, menyiapkan gorengan, kacang ijo dan ketan hitam untuk diantar ke kantin beberapa sekolah, sebelum saya sendiri sekolah.

Hal ini berlanjut sampai SMA. Uang 2000 perak untuk naik angkutan (SMA saya berjarak cukup jauh dari rumah) jarang saya gunakan. Sayang, mending buat jajan. Atau untuk menyewa komik dipersewaan. Maklum, jika jaman SD saya suka menggunakan uang iuran ngaji untuk sewa komik (sampai 8 bulan!. Saya ingat ibu saya bengong ketika guru ngaji  bilang, saya sudah 8 bulan tidak bayar iuran ngaji kekekkeke. nakal banget dah) maka di SMA tidak ada dana yang bisa  “alihkan” penggunaannya. Saya lebih memilih jalan kaki ke sekolah. Beruntunglah kampung halaman sangat sejuk. Berjalan kaki di sana justru sangat nyaman. Begitupula ketika banyak teman ikut kursus ini itu. Saya? hehehhe.. ngga ngimpi deh :).

Mundur di akhir SMP,  saya mengenal yang namanya pertama kali jatuh cinta (kalau suka sama perempuan, sudah dari jaman kelas 5 SD hehehe). Dan wanita yang bikin saya jatuh cinta adalah anak salah seorang dokter spesialis terkenal di Sumatera Barat. Cantik jelas. Dan kaya. Berkenalan dengannya membuat saya mengenal kehidupannya. Kembali, rasa iri itu hinggap. Keluarganya sangat harmonis. Hangat. Pendidikan mereka pun diperhatikan dengan baik. Berbagai kursus yang berbiaya tidak rendah dia ikuti sampai waktu buat “kencan” nyaris tidak ada. 8 tahun di Amerika membuat bahasa Inggrisnya cas cis cus. Udah gitu kok ya masih kursus bahasa Inggris aja. Sesekali belajar bersama (mau pake alesan apa lagi biar bisa bareng coba?) membuat saya mengenal keluarganya dengan baik. Ketika kita sudah tidak backstreet lagi (hehehe.. maklum. beberapa tahun dilarang euy pacaran) saya mulai sering berkumpul dengan keluarganya. Berbagai hal dibahas di meja makan. Senyum, cinta kasih, terhampar dirumah itu.Dalam hati, saya cuma bisa bilang “enak sekali yah, hidupnya…”.

Saya jarang membawa wanita ini kerumah. Malu. Ngga pede. Padahal rumah sering jadi markas nongkrongnya anak-anak. Dia cuma pernah datang 2 kali, itupun waktu lebaran hehehhe. Dan satu ketika, dia tiba-tiba nyelutuk “Enak banget kamu ya Ed…”.

Nah lo. Saya bengong. Lha kok bisa? Rumah gue meski ngga jelek tapi jelas rumah tua di lingkungan pasar nan padat dan kumuh. Lu tajir, gue ngga. Kemana-mana diantar jemput, gue jalan kaki. Dan sejuta alesan lainnya. Saya bertanya padanya, kok bisa? Lalu dia menjawab.

“Iya. Kamu enak. Orang tuamu tidak pernah melarang kamu ngapain. Ikut ini itu, pulang jam berapa aja, terserah. Naik gunung seenak udel gak dimarahin. Trus kamu pinter, so ngga harus ikut kursus ini itu yang membosankan. Kamu tiap hari bisa pulang bareng teman-teman, jalan kaki dan nongkrong di jam gadang sampe sore sementara aku pulang sekolah udah dijemput dan harus kursus, bla bla bla…” Tiba-tiba dia nyerocos panjang lebar tentang betapa indahnya hidup saya. Dan saya? cuma bisa bengong ngga habis pikir.

Saya ingat betul peristiwa itu.

Ya, mereka memang seperti membebaskan saya berbuat apa saja. Sebenarnya bukan karena orang tua percaya atau bagaimana. Tapi mungkin karena mereka tahu saya orangnya keras kepala. Makin dilarang makin jadi. Pernah  dilarang nginep dirumah teman, saya malah ngga pulang 1 minggu dan nginep dirumah teman tiap hari. Pernah dilarang naik gunung, dan selama 4 hari saya digunung dan bolos sekolah. Pernah ibu mengingatkan untuk tidak baca komik, dan persis 1 hari sebelum ujian saya sewa komik 20 biji dan seharian cuma baca komik. So sebenarnya bukan dibebasin, tapi karena mereka capek. Lagian, ibu dan bapak sangat sibuk. Ya, buat cari makan tentunya. Untung 4 kakak saya di umur tertentu dibawa sama om atau tante yang kaya-kaya sehingga tidak membebani keluarga. So cuma saya yang dari kecil sampai SMA di kampung. Hampir setiap hari pulang jam 9-an malem paling cepat, selain karena saya ikut seabreg ekstrakurikuler mulai dari OSIS, PMR, Pramuka, dll, nongkrong bersama teman-teman adalah kegiatan favorit.

Saya juga baru “ngeh” betapa adil Tuhan. Saya tidak ikut kursus ini itu. Ngga mampu bayar. Jarang beli buku (karena emang ngga mampu beli hehehe), nyatet juga jarang (Saya baru rajin nyatet pas SMA karena tiba-tiba beberapa teman wanita pengen pinjem buku catetan kekekkeke). Tempat duduk favorit meja paling belakang dekat pintu keluar supaya kalau lagi malas, guru tidak melihat saya keluar kelas. Alhamdulillah memang, saya relatif tidak pernah lepas dari 3 besar. Lomba matematika udah langganan dari SD. Dapat angka 7 ulangan matematika bisa bikin saya uring-uringan seharian. Yah, alhamdulillah emang ngga bego-bego amat.

Oh ya. (semoga ini tidak dilihat sebagai pembelaan) sebenarnya saya ngga nakal-nakal banget sih. Cuma sekali lagi memang keras kepala. Kalau ibu datang ke kamar untuk mengecek apakah saya belajar atau tidak, saya malah baca komik. Dan ketika beliau tidur, baru belajar. Tengah malem. Makanya, kalau saya susah tidur sampai sekarang sepertinya memang sudah bawaan dari jaman dulu.

Omongan “pacar monyet” dulu itu membuat saya berfikir. Ya. Kapan saya terakhir kali mensyukuri hidup?.

Saya memang tidak dibesarkan dalam cinta kasih dalam perspektif pada umumnya. Tidak ada yang namanya ulang tahun dirayakan. Tidak ada yang namanya dianter kesekolah. Tidak ada yang namanya diberi hadiah meski tiap cawu atau semester selalu juara kelas, atau dapat beasiswa, atau menang lomba karya ilmiah, olimpiade matematika, dan berbagai prestasi lainnya. Tidak ada yang namanya orang tua menemani ketika saya mengambil raport,  dan berbagai macam hal yang saya lihat diberikan oleh orang tua lainnya pada anak-anak mereka. Lucunya, saya tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang.

Buat saya, mereka telah mengajari banyak hal. Tanpa bicara, tanpa meminta. Mereka justru telah mengajari saya tentang banyak hal yang saat ini saya rasakan jauh lebih esensial dan fundamental. Mereka mengajari dengan perbuatan, dengan peristiwa. Entah itu peristiwa baik ataupun tidak baik. Bahkan dalam pertengkaran,  saya telah diajari. Tentang hidup.

Saya ingat betapa saya sering sebal ketika lagi jalan kaki lalu ada teman bilang “duh panas banget nih” atau “duh pegel nih”. Atau kalau misal kita ada latihan PBB (latihan baris berbaris gitu deh) harus sampai malem karena udah deket waktu lomba dan ada yang bilang “duh, jangan malem dong, takut nih” atau “ngga bole sama mama” . IMHO, Ih, manja banget sih!. Begitu pula ketika saya misal harus jalan keluar kota dan ada yang tanya “ih, ngga takut kamu? emang punya sodara disana?“.  Tanpa disadari perjalanan hidup itu telah membuat saya survive. Dan itu adalah hasil didikan mereka.

Sesekali saya  melihat orang tua bertengkar. Biasanya saya berpihak pada Ibu. Suatu ketika, saat saya SMP, saya sering diajak ibu untuk acara reuni teman-teman SMA nya. Weh, pada hebat hebat euy mereka. Ada yang jadi dokter, asisten ahli gubernur, pengusaha sukses, paling rendah camat. Cuma ada 2 orang yang tidak “jadi” : ibu dan satu lagi temannya. Disana, saya baru tahu bahwa ternyata ibu “kembang sekolah” dijamannya. Aktifis, ketua OSIS, pintar dan cantik dengan rambut yang dikepang dua. Lucu juga mendengar orang udah tua-tua begitu pada curhat betapa hampir semua mereka pernah jatuh cinta pada ibu ehehhe.

Waktu pulang saya bertanya,

“Ma, kok dulu milih papa sih? coba milih Om anu, atau Om anu, kita kan sekarang ngga susah kayak gini. Kaya, ganteng, berkuasa…”.

Dengan santai ibu menjawab :

” Kalau mama kawin sama mereka, yang lahir belum tentu kamu Ed. Dan mama belum tentu punya anak-anak hebat kayak kalian..”

Well, could you imagine what that i feel at the moment?

Terlalu banyak hal yang saya rasakan dalam hidup. Tapi terus terang, mereka, orang tua saya, adalah guru terbaik yang pernah saya punya, tanpa sering mengajari, tanpa sering macem-macem. Meskipun saya jarang mendapatkan apa yang pada umumnya diperoleh anak-anak diusianya dari orang tua mereka. Mereka mungkin jarang memberikan apresiasi, tapi saya tahu mereka bangga akan saya. Mereka jarang mengajari, namun memberikan pelajaran hidup sepanjang hidupnya. Mereka jarang mengungkap kata cinta. Tapi saya sampai saat ini dapat merasakan cinta yang luar biasa dari mereka. Saya percaya, sepanjang hidup mereka, mereka memperhatikan saya, dan kakak adik saya.

Apakah saya mengidolakan mereka?

Jelas. Not only them. Saya juga sangat mengidolakan kakak-kakak. Kakak pertama jangan ditanya. One of my role model. Berdiskusi dengannya tidak pernah membosankan, dan alam pemikirannya seperti samudra yang tidak pernah cukup untuk saya gali. Yang nomor tiga, saya selalu kagum akan kegigihan dan ketekunannya. Atas ketidak-pedean nya pada diri sendiri (selalu merasa paling bodo dan ngga ganteng hehehe), dia adalah satu-satunya anggota keluarga bergelar doktor dan sudah menginjakkan kakinya diberbagai penjuru dunia. Bikin sirik aja. Kalau yang nomor 2 dan 4, saya selalu kagum atas kemandirian, dan kecintaan mereka yang luar biasa pada keluarga. Dua kakak saya ini nyaris pernah mencicipi profesi apa saja, mulai dari kenek angkutan sampai tukang angkat batu. Soal sayang sama orang tua? Hmm… i’m not sure i can be like them. Menelepon mama mungkin hampir tiap hari, walaupun sering bikin masalah juga hehehe.. Dan jangan coba-coba bikin masalah dengan keluarga kami, terutama ibu dan bapak. Karena mereka tidak segan untuk berbuat yang kadang membuat saya bergidik.

Am i proud of them? Off course.

Namun atas berbagai peristiwa yang saya alami, seberapa besarpun pengaruh mereka atas hidup, saya menyadari bahwa saya adalah saya, mereka adalah mereka. Saya memang belajar banyak hal atas mereka. Dan sama halnya dengan proses pembelajaran yang saya alami di berbagai episode dalam hidup ini, mereka adalah warna. Siapa saya tetap saja ditentukan oleh saya sendiri.

Saya juga tidak bisa men-judge bahwa pola dan cara mereka mendidik yang menurut saya tepat, dapat saya terapkan ke anak-anak saya nanti misalnya. Atau konsepsi yang saya pahami dari mereka, bisa saya generalisir terhadap orang lain. Setiap generasi memiliki masa-nya sendiri. Setiap induvidu, dan peristiwa, memiliki ceritanya sendiri. Itulah salah satu ke-Maha-Dahsyat-an Nya dimata saya, Sang Maha Sutradara yang mampu menciptakan cerita yang tak pernah sama.

Saya merasakan bahwa tidak ada yang bisa dipaksakan. Justru perlu banyak parameter lain agar kita dapat menemukan kombinasi yang tepat untuk setiap hubungan dan peristiwa. Toh ada banyak orang yang berhasil atas berbagai fasilitas yang berlimpah yang mereka rasakan, sebagaimana juga ada banyak orang yang rusak atas fasilitas yang berlebihan tersebut. Begitu pula orang-orang yang mengalami peristiwa hidup seperti saya.

Saya selalu meyakini 1 hal, bahwa default-nya semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. So, disinilah pentingnya mengenali diri sendiri, yang terus berevolusi dalam pencarian jati diri.

So? Always learning, be your self, and understand each other.

Ah..

Sepertinya hari ini saya sedang mellow. Tiba-tiba saya rindu dengan mereka.

I love you Mom… Dad…  Wish all the best for both of you…

Popularity: 2% [?]

16 Responses to “rumput dan jati diri”

  1. adipati kademanganAugust 14th, 2008 at 8:02 am

    Wow benar - benar sampeyan ituh mas Edo, keren banget perjuangan masa kecilnya. Ketika masih di kampus, mendengar sampeyan ngomong, ndak ada yang berani menyela ataupun berbisik-bisik. Sangat membius
    Ternyata rumput sampeyan lebih hijau daripada rumput saya.

  2. wehh, aku jadi inget keluarga di indo, dadi merasa kesepian deh disini hikhikk [melow nehh], btw kapan mo nyetak anak Do.
    Ojo lali nikah disik, ojo keenakan dewean mengko ra iso nikmati hijaunya rumput sendiri lhooo hihihih

  3. Ya, ya, ya… you’re unique, just like everyone else. ;)

  4. begitu baek latar belakangmu do, jadi sedikit heran… :-D

  5. hiks….

  6. ijo ga ijo, setidaknya kita masih punya rumput.. wkwkwkw

  7. jarang ngerumput sih lu do. Makanya ajak epat ngerumput dulu. Kalo masalah rumput tetangga, epat juga udah nyobain tuh. Gak enak kata dia :))

  8. #adipati : hush. dilarang ngomong ospek kekeke

    #YY : lha, awakmu dek ndi to yud?

    #bee : pesen yang ketangkep itu ya bee? bolee heheh

    #epat : masalahnya cuma 1 pe. cuma 1 organisasi yang gw ngga pernah ikut : remaja masjid. makanya gw ngga kayak lu, yg hidupnya penuh dengan nilai2 kebaikan. secara lu mantan ketua remas. jadi jangan samakan lah gw ama elu pe :p

    #keringet : rumput yang mana win? yang di jkt or yang di…

    #dudi : itu dia masalahnya dud. lagian epat ngga pernah ngajak gw ngerumput. malah ngajak nge-anggur kekekeke…
    gak enak? gak enak kok diterus2no kekeke

  9. sayah!
    hader….!
    hobi kok ngerumput….tetangga pula hahaha

  10. lagi ngrumput di negeri orang

  11. Hmm.. cerita yang bagus untuk gw, yang masih harus belajar jadi ortu untuk 2 balita ganteng ;-).

  12. Simpulan … bahwa saya adalah saya, mereka adalah mereka … salam

  13. #epat : “rumput” yang mana pat? hehehhe

    #fitri : halo mbak fitri. makasih sudah berkunjung :)

    #ersis : kesimpulan saya tetap uda, seperti yang saya tulis diatas. Always learning, be your self, and understand each other.

  14. Kok hampir mirip cerita gua ya kikikiki cm sy waktu sekolah ga pernah jd bintang kelas .tp alhamdulillah aq dah gawe,..yah walau hanya seorang [ S U P]

  15. Kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan.

Trackbacks/Pingbacks

  1. mensyukuri cobaan dan musibah

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>