Pemimpin dan Kepentingan
“Saya bangga sekali berdiri di sini malam ini. Sebagai seorang ibu yang bangga, sebagai demokrat yang bangga, sebagai senator New York yang bangga, dengan bangga saya mendukung Senator Barack Obama,” “Sahabatku, waktunya kini berjuang demi tanah air yang kita cintai. Tak masalah anda telah memilih saya atau Barack (Obama), waktunya sekarang untuk bersatu dalam satu partai dengan tujuan tunggal,”
“Barack Obama adalah calon saya dan dialah yang semestinya menjadi presiden kita,” kata Hillary. “Kita satu tim dan tak seorang pun boleh berpangku tangan. (Maka itu) Pemilu ini adalah pertaruhan demi masa depan kita. Ini adalah pertarungan yang mesti kita menangkan,”
“Kita tak menginginkan empat tahun lagi (kesalahan) dari delapan tahun (kesalahan semasa kepemimpinan Bush)”
“Kita harus terus jalan (berjuang). Tapi sebelum kita melenggang, kita mesti memilih dulu Barack Obama. Mari pilih Barack Obama dan Joe Bidden demi masa depan negeri kita,”
Tulisan diatas adalah sedikit potongan pidato Hilary Clinton dalam pelaksanaan konvensi partai demokrat di Denver, USA. Hilary, pesaing terberat Obama dalam pertarungan calon presiden partai Demokrat,menghabiskan waktu, energi dan uang yang tidak sedikit, bahkan sangat sering mengeluarkan komentar yang menjatuhkan pesaingnya dimasa pertarungannya, menyerukan persatuan bagi seluruh pemilih partai Demokrat, bahkan seluruh rakyat Amerika Serikat.
Saya hanya bisa berkomentar : All of my respect to you, Hilary. Begitulah pemimpin seharusnya. Berjuang sekuat tenaga dimasa pertarungan, legowo dan secara gentle mengakui kekalahan ketika akhir perhitungan menyatakan lawannyalah yang menang, dan menyerukan PERSATUAN ketika mereka harus berhadapan dengan pesaing berikutnya.
Hilary. Politikus. Negarawan. Pemimpin. Hilary bahkan dimata saya menunjukkan kelasnya kepada Rakyat Amerika Serikat bahkan dunia siapa dia. Jika sebelumnya Obama menang atas Hilary, menurut saya saat ini Hilary lah yang menang. (pidato Hillary dapat dilihat disini )
Mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi di negara kita tercinta, Negara Kesatuan bernama Republik Indonesia. Hampir seluruh partai besar pecah.Mari kita mulai dengan 3 gerbong partai besar di masa orde baru : PPP, Golkar dan PDI.
PPP sebagai partai “hijau” yang berbasiskan Islam, secara logis memiliki kekuatan yang tidak kecil di negara yang mayoritas beragama Islam. Sekarang? hitung saja ada berapa partai berbasiskan Islam yang mengikuti pemilu. PKB, PAN, PKS, PBB, PBR dan banyak partai lainnya semakin mempertegas bahwa ideologi Ketuhanan tidak mampu menyatukan mereka dalam 1 suara kuat. Partai berbasiskan agama ini malah berada dalam komposisi terbesar dalam jumlah partai yang ada di Indonesia.
Golkar, partai terbesar dalam sejarah republik ini pasca runtuhnya orde baru 1997-1998 terpecah belah. Meski politikus senior, Akbar Tandjung setengah mati mengangkat kembali Golkar dari keterpurukan dan mampu membawa Golkar dari partai yang dicaci maki menjadi juara pada pemilihan legislatif pada tahun 2004, membuka fenomena baru dengan konvensi yang dia gagas, tak kuasa mempertahankan upayanya ketika Jusuf Kalla baik. Sekarang? lihat saja ada berapa banyak partai yang secara prinsip berisikan tokoh-tokoh golkar. Hanura, Gerindra, 2 partai kuda hitam saat ini dipimpin oleh tokoh-tokoh golkar yang juga muncul pada saat konvensi partai Golkar pada pemilu 2004, Wiranto dan Prabowo. Partai Demokrat yang tiba-tiba besar juga bisa dibilang sebagai pecahan dari Partai Golkar, mengingat “basicnya” yang tidak mengacu pada warna hijau (partai berbasis agama) ataupun merah (nasionalis). Internal Golkar sendiri meski tak terlihat juga terkelompok atas Akbarian -orang-orang yang loyal dan percaya dengan model pendekatan ala Golkar konvensional namun terus tumbuh menyesuaikan diri dengan tren keterbukaan dan perkembangan kehidupan berpolitik- dengan pengikut Jusuf Kalla yang hadir ketika mendekati pilpres 2004. Hal ini masih ditambah dengan perseteruan antara pengurus Golkar dengan tokoh-tokoh muda dan vokal seperti Yuddy Chrisnandi dan Ferry Mursyidan Baldan bahkan dengan politisi senior seperti Fadel Muhammad. Kebijakan suara terbanyak serta keputusan untuk meniadakan konvensi yang hadir belakangan ini juga diprotes oleh banyak pihak di internal Golkar sendiri.
PDI?. Bahkan dimasa reformasi partai ini sudah pecah menjadi PDI dan PDIP. PDIP yang makin populer sebagai partai tertindas, korban orde baru, partai rakyat kecil, pasca reformasi juga tidak mampu mempertahankan kebesarannya. Beberapa think tank dan loyalis PDIP seperti Roy BB Janis, Sophan Sophian dan Laksamana Sukardi mempelopori Partai Demokrasi Pembaharuan, bahkan kakak kandung ketua PDIP, Sukmawati membuat partai PNI Marhaenisme.
Belum lagi perpecahan di partai-partai pasca reformasi. PKB masih belum tuntas dengan PKB versi Gus Dur vs Muhaimin-nya. Sebelumnya sudah ada PKNU dan Partai Persatuan Nahdatul Ummah. Lalu ada Partai Matahari Bangsa yang meskipun tidak menyatakan sebagai sempalan PAN, tapi berisikan banyak pentolan dari Muhammadiyah yang meski menyatakan tidak terlibat dengan PAN tapi punya ikatan kuat dengan PAN.
Well, yang jelas ada 44 partai bertarung untuk tahun 2009.
Diluar itu? Tentu kita sudah mulai terbiasa dengan berita “lucu” seputar kasus korupsi di berbagai lembaga pemerintahan dan juga DPR. Belum lagi berbagai cerita konflik di Pilkada, isu-isu soal black campaign, dan sebagainya.
Inilah potret negara yang “katanya” negara kesatuan.
Amerika sendiri adalah negara yang secara general dianggap “setan” oleh mayoritas bangsa kita. Amerika adalah simbol penindasan, anti demokrasi, kapitalisme, anti Islam, otoriter dan sederet simbol buruk lainnya. Tapi mengikuti proses demokrasi di negara adidaya ini, pertunjukan yang ditunjukkan oleh Hilary dalam pidatonya, terlepas hal tersebut hanyalah simbolis, tapi bukankah itu justru menunjukkan nilai-nilai yang seharusnya kita miliki? Meletakkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, gentle, legowo mendukung calon yang menang dalam konvensi dan berbagai nilai lainnya?
Saya bukan American-isme. Apalagi pro Amerika. Saya bahkan lebih senang membaca posting mas Iman tentang Founding Father kita. Tapi ijinkan saya untuk mengutip sedikit potret ini, sekedar untuk belajar apa itu kepemimpinan, apa itu demokrasi. Atau mungkin apapun yang datangnya dari mereka tidak juga boleh dipelajari?
Sebentar lagi pemilu diselenggarakan di republik ini. Mungkinkah hal tersebut terjadi di negeri kita?
Popularity: 5% [?]
moco panjang-panjang, sepertinya kesimpulane cuman “woi para pemimpin indonesia, liyaten ituloh si hillary”, ngono kah? hehehe
tapi kebiasaan memecah diri saat kehilangan kekuasaan itu bukti bahwa para pemimpin2 kita ( eh elu kali :p ) adalah pemimpin sejati. pokoknya selalu dan harus memimpin, bagaimana pun itu caranya meskipun harus mendirikan gerombolan baru.
eh definisi pemimpin itu apa seh? wahahaha….
yang penting kan statusnya pemimpin mas, seperti halnya pemimpin UPPTI dan Rektor. Keduanya berstatus pemimpin *meski kalah pamor*
#epat : nggg.. kl buat gw sih sebenarnya yang pertama pesennya gini pe “do, kl jagi pemimpin kayak gitu ya, jangan kayak pemimpin2 partai di indonesia..” heheheh
definisi pemimpin? ah.. tapi becanda. di wiki aja pe kekekke
#adipati : hehehe.. suami di rumah juga pemimpin sam. bahkan kata Tuhanku setiap kita itu pemimpin. nah, kaconya kita suka melakukan klasifikasi itu. padahal dalam konteks struktur, menurutku bukan masalah pamornya yang penting. toh itu cuma fungsi distribusi. kalau perspektifnya pamor, kelas, ujung-ujungnya bisa terjebak pada kalah-menang
PKB, PAN dan disusul PKS belakangan, secara tegas dan terbuka sudah menyatakan diri bukan partai Islam.
Meskipun dalam pandangan saya pribadi, PKS masih kental suasana keislamannya.
Caleg serta pengurus PKB dan PAN banyak yang non muslim kok.
#wandi : wah, thank buat koreksinya :). setuju. walaupun tetap tidak bisa menghilangkan kesan “hijau”nya. buatku, meski tidak berlandaskan agama, PKB dan PAN masih sangat kentara. Yang lebih penting sebenarnya bukan dasar. Partai yang berlandaskan agama tapi mampu membawa nilai universal dalam implementasinya bahkan masih lebih bagus daripada partai yang ngakunya nasionalis tapi sangat sempit menggunakan agama dalam implementasinya
Yah edo, sepikiran gini kita yak..gw juga donlod complete speech text nya en nonton pidato Bu Clinton ini di Reuters..keren bangeeeeeet…kapan yak kita bisa punya pemimpin2 yang legowo menghadapi kekalahan kayak ibu satu ini..
#tamansari : hehehe…. gw baru aja menghabiskan nonton speech mereka sampai jam 12 tadi malem. sumpah merinding gw!
btw, ada ngga ya yang punya rekaman pidato bung karno on audio visual?